ANMELDENPukul sepuluh tepat, mereka tiba di kantor notaris Pak Wijaya.Hendra sudah menunggu di ruang rapat kecil, sebuah map cokelat tebal tergeletak rapi di depannya."Silakan duduk," ucap Pak Wijaya ramah, seorang pria tua berkacamata tebal yang duduk di ujung meja. Ia membuka map itu perlahan, menyusun lembaran dokumen dengan gerakan hati-hati."Kita mulai dengan pembacaan warisan almarhum Bapak Wisnu Prakoso," ucap Pak Wijaya, suaranya formal namun tenang. "Warisan yang beliau tinggalkan cukup sederhana. Sebuah rumah lama di kampung halaman, yang sudah lama tidak ditempati, dan satu kotak deposit di bank sesuai tanda terima yang Anda bawa."Nindy mendengarkan dengan saksama, tangannya menggenggam erat tangan Malik di bawah meja. Tidak ada kejutan besar dari poin itu, sesuai perkiraan mereka sejak awal.Pak Wijaya membalik lembar terakhir, matanya membaca sejenak sebelum akhirnya mendongak, ekspresinya berubah sedikit serius. "Ada satu klausul khusus yang perlu saya sampaikan soal kotak d
Beberapa saat kemudian, Malik bangkit, berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan map berkas yang dibutuhkan besok pagi—kartu identitas, kartu keluarga, buku nikah, surat tulisan tangan Wisnu, dan tanda terima kotak deposit.Nindy berdiri di depan cermin kamar, mengenakan piyama tidurnya sambil memainkan dua liontin separuh hati yang tergantung di lehernya.Malik kembali masuk, memeluk Nindy dari belakang, dagunya bersandar di puncak kepala istrinya. "Aneh banget ya, hidup kamu berubah total dalam hitungan bulan.""Iya," gumam Nindy pelan, matanya menatap pantulan diri mereka berdua di cermin. "Dari yang tadinya sendirian ngadepin semuanya, sekarang punya kamu, punya keluarga besar, punya anak yang bakal lahir sebentar lagi."Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kehangatan pelukan itu. Namun, pikiran Nindy kembali melayang ke percakapan dengan Rania tadi siang, ke amplop yang menunggu jawabannya besok pagi."Malik," panggil Nindy pelan, suaranya bergetar menahan sesuatu yang suda
"Kenapa harus nunggu sampai besok?" tanya Malik, sedikit tidak sabar."Karena kita nggak tahu berkas itu isinya apa," jawab Hendra tegas. "Bisa aja semua jawaban yang kalian cari udah ada di sana. Lebih baik satu pintu resmi dulu, daripada kalian ambil kesimpulan sendiri dari cerita orang yang belum jelas niatnya."Malik menghela napas, mengakui logika itu. "Bahar gimana? Masih ditahan?""Masih, dan bisa dimintai keterangan lewat jalur penyidik kalau memang perlu," jawab Hendra. "Tapi itu belakangan aja. Fokus kalian besok pagi ke notaris dulu."Setelah menutup telepon, Malik berdiri sejenak di balkon, menatap langit pagi yang mulai cerah. Ia kembali masuk, lalu dengan sengaja mematikan ponselnya tepat di depan Nindy."Hari ini nggak ada yang boleh keluar rumah," ucap Malik tegas, meletakkan ponsel yang sudah mati itu ke meja. "Dan nggak ada satu nama pun yang boleh disebut. Hari ini murni buat kita."Nindy menatap Malik lama, akhirnya mengangguk pelan, menghargai usaha suaminya untuk
Nindy menatap mata Rania lama, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi yang ia temukan hanya raut ketulusan yang sulit dibantah. "Terus, hubungan Anda sama saya sebenarnya apa? Saya butuh jawaban jujur sekarang."Rania terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. "Itu bukan jawaban yang bisa saya ucapin sendiri, Nindy.""Kenapa nggak bisa?" desak Nindy, suaranya mulai bergetar."Karena itu udah dititipin sama Bapak kamu, di satu tempat," jawab Rania pelan. "Dan saya udah nunggu dua puluh delapan tahun, supaya kamu sendiri yang buka jawabannya, bukan dari mulut saya."Kepala Nindy langsung terlempar ke ingatan soal tanda terima kotak deposit yang masih tersimpan rapi di laci Malik. Jantungnya berdebar kencang, mencoba menyambungkan semua kepingan yang mulai terasa saling berkaitan.Waktu terasa berjalan cepat, dan sebelum sepuluh menit itu benar-benar habis, Rania kembali membuka mulut, kali ini dengan suara yang jauh lebih pelan."Ada satu nama yang harus kamu tahu, Nindy," ucap Rania hati
"Nggak nyangka aja, secepat itu kamu move on dari Fajar," lanjut Yanti sambil menyeringai. "Apa kabar tuh mantan suami kamu? Denger-denger udah punya pacar baru juga, ya.""Fajar baik-baik aja, malah lebih bahagia sekarang," jawab Nindy tegas, tidak menunjukkan sedikit pun rasa terpancing. "Kalau nggak ada urusan lain, aku mau lanjutin aktivitasku."Yanti terlihat sedikit kecewa karena tidak berhasil memancing emosi Nindy seperti dulu. Malik yang berdiri di samping istrinya akhirnya angkat bicara, suaranya tenang namun tajam."Kalau ada waktu senggang buat ngomongin orang lain, mungkin lebih baik dipakai buat hal yang lebih berguna, Bu," ucap Malik sopan namun telak, membuat Yanti langsung terdiam tanpa bisa membalas.Yanti mendengus kesal, akhirnya membalikkan badan dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Nindy menghela napas lega, merasakan kemenangan kecil yang terasa begitu besar setelah semua yang pernah ia alami."Kamu keren banget tadi," puji Malik sambil tertawa kecil b
"Ini enak banget, Malik. Makasih," ucap Nindy sambil tertawa kecil di tengah tangisnya, menyendok bubur itu lagi dengan lahap.Malik menyandarkan dagunya di telapak tangan, memperhatikan istrinya makan dengan puas. Setelah beberapa suap, ia menghela napas, mengingat topik yang masih menggantung sejak kemarin sore."Nindy, soal surat itu," ucap Malik pelan, membuat Nindy langsung menghentikan suapannya. "Aku minta kamu jangan telepon nomor itu dulu sebelum hari Senin."Nindy mengernyit. "Kenapa harus nunggu selama itu?""Hendra belum selesai verifikasi soal rekening R.S itu," jelas Malik serius. "Dan Dokter Ratna udah kasih rambu jelas soal stres. Aku nggak mau kamu ambil risiko sebelum semuanya jelas."Nindy menghela napas, mempertimbangkan permintaan itu. "Oke, aku setuju. Tapi dengan satu syarat.""Syarat apa?" tanya Malik penasaran."Hari ini kita keluar, dan nggak bahas apa pun soal masa lalu," jawab Nindy tegas. "Aku pengin hari yang tenang, Malik. Cuma kita berdua."Malik tersen







