로그인Binatang iblis yang jumlahnya tak terhitung itu berdesakan begitu rapat hingga seolah memenuhi seluruh cakrawala.Di belakang satu binatang iblis, masih ada binatang iblis lain yang lebih kuat. Pemandangan yang begitu mengguncang ini membuat Tirta sulit percaya bahwa semua itu benar-benar nyata.Kalaupun seluruh kultivator di dunia awani dikumpulkan di sini, mereka tetap tidak akan mampu menandingi para binatang iblis ini.Terlebih lagi, sekarang Pedang Penumpas Dewa tampaknya sudah kehilangan efeknya. Bahkan Tirta pun mulai merasakan kepanikan dan kegelisahan seolah tidak ada lagi tempat untuk meminta pertolongan."Sebenarnya mati bersama suamiku juga bukan hal yang buruk. Tapi di kehidupan berikutnya, tolong jangan gunakan peta hartamu itu lagi ya? Aku belum puas hidup, tapi sudah harus mati seperti ini. Sayang sekali."Irena menatap langit dengan mata kosong, merasakan keputusasaan yang mendalam."Aku juga nggak nyangka akan diteleportasi ke tempat seperti ini. Mungkin memang sudah
Di dalam Paviliun Ufuk, selain Bahadir, semua murid bergelimpangan di tangga panjang yang berlumuran darah. Tidak ada satu pun yang masih hidup."Ayah, aku nggak bisa pergi begitu saja .... Aku ... aku punya banyak obat suci penyembuh luka ....""Aku akan menyelamatkanmu ... lalu membalas dendam kepada Sodam!"Priya terkejut sekaligus murka. Dia hendak mengeluarkan obat-obatan penyembuh luka dari cincin penyimpanannya.Namun tepat pada saat itu, Sodam memegang pedang panjang yang masih meneteskan darah sambil berjalan mendekat dari belakang Priya dengan senyum dingin di wajahnya. Di belakang pria itu, sekelompok ahli Sekte Bulan Berdarah berpakaian hitam mengikuti."Hehe. Priya, aku memperlakukanmu dengan tulus selama ini, tapi kamu berkali-kali menginjak harga diriku!""Kamu lebih memilih dekat dengan si pecundang itu daripada mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Aku pasti akan bikin kamu merasakan akibat dari mengkhianatiku!""Pengawal! Cincang pemimpin Paviliun Ufuk di depan mata
"Kamu memang bukan laki-laki! Aku benar-benar nyesal tidur sama kamu. Kalau dulu aku tahu, aku nggak akan percaya omong kosongmu!"Hati Tirta langsung kacau. Dia bahkan tidak sempat membedakan apakah ini kenyataan atau bukan. Dengan cepat, dia berlari menghampiri suara itu."Nabila, jangan marah dulu. Aku datang! Cepat buka kakimu, biar aku bantu!"...."Irena, sebenarnya kamu pergi ke mana? Selama kamu hilang, Ketua Muda Sekte Bulan Berdarah sudah datang berkali-kali ke Dinasti Pembunuh untuk menuntut penjelasan. Aku sampai pusing dibuatnya.""Sekarang karena kamu sudah pulang, kamu harus menikah dengan dia secepatnya."Di dalam aula yang gelap gulita, tergantung tengkorak-tengkorak putih yang tampak begitu menyeramkan dan seorang lelaki tua bertubuh tinggi dengan jubah hitam. Dia adalah Tsabit, kakek Irena sekaligus pemimpin Dinasti Pembunuh."Nggak, Kakek Buyut. Aku nggak suka Ketua Muda Sekte Bulan Berdarah itu. Aku sudah punya orang yang kusukai. Jangan paksa aku! Aku nggak mau ni
Saat ini, demi menahan Tirta dan yang lainnya di tempat ini, lalu memanfaatkan binatang jurang raksasa untuk membunuh mereka, Sodam terpaksa menggunakan benda itu.Kalau tidak, kebencian akibat kehilangan satu lengan serta keputusasaan yang menggerogoti hatinya tidak akan pernah bisa dilampiaskan.Swush! Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Pasir Ilusi Seribu Wujud memancarkan cahaya indah nan memukau yang terus berjalin.Cahaya itu kadang berubah menjadi kupu-kupu yang menari dengan anggun, kadang menjadi burung foniks yang mengepakkan sayapnya, kadang berubah menjadi naga sejati yang menjelajah sembilan lapis langit. Benar-benar sesuai namanya, bisa berubah dalam ribuan wujud.Pada akhirnya, cahaya itu berubah menjadi jaring raksasa tipis yang menutupi langit. Dengan kecepatan luar biasa, jaring itu menyelimuti Tirta dan yang lainnya.Sodam sama sekali tidak peduli apakah serangannya berhasil atau tidak. Dia langsung menghancurkan sebuah Jimat Teleportasi yang telah disimpannya diam-
Di belakang mereka yang sejak tadi sunyi, dari arah lautan hitam tak berujung, tiba-tiba terdengar raungan rendah yang menyerupai auman harimau dan lenguhan banteng.Suara-suara itu mengingatkan mereka pada binatang buas purba. Rasanya mereka seperti berada di dunia liar zaman kuno yang dipenuhi raungan bersahutan berbagai makhluk aneh."Auuuu ....""Roarrr!""Grrr!"Bukan hanya ratusan ekor, bukan pula ribuan ekor, melainkan puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan tak terhitung jumlahnya monster iblis yang meraung bersamaan.Suara itu memiliki daya tembus yang luar biasa. Guncangannya membuat bumi dan langit bergetar. Deburan tsunami terdengar makin jelas dari kejauhan dan makin dahsyat. Itu adalah suara air laut hitam yang meluap dan menerjang daratan.Bau amis menyengat bercampur dengan aura-aura kuat yang mendekat dengan kecepatan tinggi.Hutan lebat yang sebelumnya dilalui Tirta dan yang lainnya sampai berguncang hebat akibat suara itu. Pepohonan bergetar, daun dan ranting berguguran t
Setelah tiba di sisi Tirta, Priya tersenyum tipis. Senyumannya merekah bak bunga yang bermekaran."Santai saja, namaku Tirta. Cuma nama biasa," balas Tirta dengan sopan.Memang begitulah dirinya. Jika orang lain bersikap sopan padanya, dia akan membalasnya lebih sopan lagi."Tuan Tirta ya? Namaku Priya. Salam kenal. Kekuatanmu begitu luar biasa, tapi kamu tetap rendah hati. Aku belum pernah lihat orang sepertimu. Gimana kalau berkunjung ke Paviliun Ufuk kami dulu?" Priya membuka bibir merahnya dan sengaja melemparkan ajakan.Krek! Mendengar perkataan itu, Sodam yang sedang memimpin jalan di depan langsung mengepalkan tangannya erat-erat. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa."Nggak perlu sampai begitu ...." Tirta baru saja hendak menolak ketika tiba-tiba teringat sesuatu. Kemudian, dia bertanya, "Oh ya, apa di sekte kalian ada formasi teleportasi yang bisa langsung menuju Istana Samara?""Kalau ada, aku bersedia menyediakan batu spiritual yang dibutuhkan untuk mengaktifkan formasi itu
Suara ini terdengar sangat menusuk telinga. Apalagi, orang itu sepertinya merasa senang atas penderitaan mereka.Melati dan lainnya segera menoleh untuk melihat. Tampak Elvi sekeluarga menghampiri dengan senyuman gembira.Di belakang mereka, terlihat pula seorang pria tua beruban yang mengenakan mante
"Hahaha ...." Putro tidak segan-segan mengejek keputusan Afrian. Aina juga tidak mungkin melewatkan kesempatan ini untuk mengejek Tirta.Dia menyindir Tirta, "Kalau mau mati, langsung bilang saja. Kenapa malah nyeret orang lain? Kamu ini benar-benar orang baik ya."Bahkan beberapa orang di samping mer
"Jangan beri aku kesempatan. Kalau nggak, kamu yang akan menyesal!" seru Alicia. Dia tahu tidak ada jalan untuk kabur lagi sehingga berhenti meronta-ronta dan membiarkan Tirta membawanya.Tirta hanya melemparkan batu ke titik akupunktur Alicia, jadi wanita itu masih bisa berjalan dengan bebas sesaat
Irene malah menyetujui persyaratan yang begitu tidak adil. Hal ini membuat Afrian tertegun sejenak, lalu menoleh pada Tirta. "Tirta, bagaimana menurutmu?"Tirta mengangguk. "Aku nggak keberatan. Lagi pula aku nggak akan kalah. Biarkan orang kampungan ini membuka wawasannya." Bisa memenangkan satu tri







