LOGINTatapan Modeus sangat dingin. Dia menyipitkan matanya, lalu membentak seraya memancarkan niat membunuh yang intens, "Nyalimu besar sekali! Beraninya kamu menegur seniorku! Apa kamu sudah bosan hidup? Kalau aku membunuhmu dan anggota sektemu memanggil sekte yang kalian andalkan, memangnya mereka bisa melawanku?"Ucapan Modeus membuat tetua Sekte Pedang Raksasa gemetaran. Tetua Sekte Pedang Raksasa ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya dia tidak melontarkan sepatah kata pun.Dua tetua dari Sekte Prabu dan Sekte Morta refleks mundur sesudah melihat situasi ini. Mereka takut dihabisi di tempat.Gorgon melambaikan tangannya seraya mengingatkan, "Modeus, nggak usah perhitungan dengannya."Modeus baru mundur. Tekanan yang dirasakan tetua Sekte Pedang Raksasa baru berkurang. Dia diam-diam merasa lega.Gorgon bicara lagi, "Maksudku, kemampuan pelakunya jauh lebih hebat dari kalian. Bahkan kami juga nggak mampu melawannya. Sekalipun kalian mencari sekte yang kalian andalkan, juga nggak bergu
Sekarang masalah Sekte Kebebasan dan Organisasi Publikasi sudah selesai. Tidak ada lagi orang yang dikhawatirkan Tirta di dunia misterius, jadi dia tidak perlu buru-buru.....Saat Tirta dan lainnya dalam perjalanan menuju gunung tinggi itu, sekelompok tamu tak diundang berkumpul di Organisasi Publikasi lagi.Di antara orang-orang itu, ada kultivator yang berasal dari Sekte Prabu, Sekte Morta, dan Sekte Pedang Raksasa. Vikrama, Zelia, dan Cakra juga berasal dari sekte itu.Mereka adalah tetua tingkat pembentukan jiwa yang menjadi pemimpin tim. Setidaknya kemampuan mereka sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap kedua.Murid dari berbagai sekte mengikuti di belakang mereka. Jumlah murid dari setiap sekte sekitar 30 lebih orang.Tiga tetua tingkat pembentukan jiwa berkumpul. Mereka melayang di udara sambil membahas sesuatu. Ketiga tetua tampak sedih dan juga marah.Tentu saja, ada juga tim yang memancarkan aura kegelapan. Mereka sudah mendarat di tanah dan mengamati penyebab kematia
Mungkin saja ucapan Wyasa malah memicu amarah orang yang bertindak secara diam-diam itu.Melihat sikap Wyasa, Tirta berteriak dengan sikap sombong, "Kamu mau kabur setelah berlagak? Apa yang kamu pikirkan waktu bersikap begitu? Kamu bilang kami pecundang yang bisa dibunuh dengan mudah. Aku rasa kalian yang pecundang."Tirta memerintah, "Neiva, maju! Habisi pria tua itu!"Sikap Tirta benar-benar arogan. Namun, Tirta bukan orang yang memedulikan citranya.Whoosh! Neiva tidak menyahut, melainkan menanggapi perintah Tirta dengan tindakan. Seberkas cahaya emas ditembakkan dari Cincin Penyimpanan. Walaupun terlihat sangat tipis seperti rambut, kecepatannya sangat tinggi dan kekuatannya sangat dahsyat.Seketika, cahaya emas itu sudah mengejar Wyasa. Padahal kemampuan Wyasa lebih tinggi satu tahap dari Galih, tetapi cahaya emas tetap bisa membunuhnya dengan mudah.Syut! Kepala Wyasa terbang. Tubuhnya masih terus maju karena daya dorong yang kuat.Murid wanita itu menjerit dengan ekspresi panik
Galih mendarat dan melayangkan serangan telapak tangan yang dahsyat. Kecepatannya terlalu tinggi sehingga api membara di telapak tangannya. Dia bagaikan dewa api yang mengamuk. Auranya sangat mengintimidasi.Sebelum serangan telapak tangan Galih yang membara mendarat, angin serangan telapak tangan yang kencang menekan Elisa dan lainnya. Mereka merasa sesak dan tidak bisa berdiri dengan stabil.Elisa berseru, "Kultivasinya sudah mencapai tingkat apa? Setidaknya dia sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap keempat, 'kan? Tirta, kita harus segera kembali ke gua untuk sembunyi!"Elisa menahan tekanan yang besar sambil menarik Tirta kembali ke gua.Luvia dan lainnya juga sependapat. Mereka belum menyadari gua sudah disegel Neiva.Galih yang makin mendekat berteriak, "Huh! Kalian sudah membunuh putraku, tapi masih berniat kabur dari kendaliku? Jangan mimpi!"Tirta sama sekali tidak panik. Dia segera memanggil Genta di dalam hati, 'Kak, tolong aku!'Genta membalas, "Kamu nggak mau mengas
"Oke, Tetua," sahut murid wanita itu.Kemudian, Wyasa dan Galih terbang dengan berubah menjadi dua cahaya. Mereka membawa murid wanita itu untuk mencari Tirta.Hanya saja, mereka harus pergi ke Sekte Kebebasan terlebih dahulu. Dengan begitu, mereka baru bisa mencari Tirta dengan mengikuti tanda yang ditinggalkan murid pria itu.Dari Sekte Kebebasan, mereka butuh beberapa waktu untuk sampai di Organisasi Publikasi. Saat mereka sampai di wilayah Organisasi Publikasi, Tirta sudah membunuh dua tetua Sekte Asura.Genta juga mengerahkan kekuatan dahsyat untuk membunuh Vikrama, Cakra, dan Zelia. Murid pria Sekte Ambara yang berubah menjadi burung gereja juga langsung mati terkena gelombang kekuatan Genta. Hal ini karena jarak murid pria dengan area pertarungan terlalu dekat.Alhasil, tanda yang ditinggalkan murid pria itu juga hilang. Sekarang tempat ini kosong, hanya tersisa mayat-mayat murid Sekte Asura yang tergeletak di tanah. Elisa dan lainnya sudah membawa Tirta pindah.Galih melayang d
Hanya saja, gambaran yang ditunjukkan bukan lokasi yang akurat seperti saat Althea menyelidiki keberadaan Tirta. Tampak puncak gunung yang menjulang tinggi diselimuti kabut dan tidak terlihat apa pun lagi.Tidak ada puncak gunung ikonik yang ditemukan. Di sekeliling tempat itu hanya ada kabut.Luvia memandangi cermin itu dan mengerjap. Dia bergumam seraya mengernyit, "Tempat apa itu? Sepertinya aku nggak pernah lihat tempat seperti itu di dunia misterius."Hati Elisa bergejolak. Dia terus memandangi cermin dengan perasaan gelisah. Elisa bicara terbata-bata, "Aku ... juga nggak pernah lihat. Tirta, kamu ... tahu tempat apa itu?"Tirta menggeleng dan menyahut, "Nggak tahu, tapi sudah jelas itu puncak gunung yang sangat tinggi. Seharusnya gunung setinggi itu nggak banyak di dunia misterius. Mungkin kita bisa menemukannya dalam waktu sehari atau dua hari."Althea tidak bisa mempertahankan tekniknya lagi. Dia menyimpan cerminnya, lalu menenangkan mereka, "Apa yang dibilang Tirta benar. Loka
Itu sebabnya, wanita misterius itu merasa sangat marah pada Tirta. Bahkan, sedikit rasa simpatinya terhadap pemuda itu pun langsung lenyap.Tirta berusaha menjelaskan dengan putus asa, "Kak, kamu salah paham! Aku nggak berniat mengambil keuntungan darimu .... Tolong percayalah padaku sekali ini saja
Karena sepanjang perjalanan dia menggendong Tirta yang dalam kondisi kaku, begitu melepaskan tubuh Tirta, Elisa langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan melemparkannya ke dalam kolam renang!"Melepaskan pakaiannya akan membantu Tirta menurunkan suhu lebih cepat. Selain itu, ini juga akan memudah
Kimmy tidak berharap kepada Azhar lagi. Dia memohon kepada Tirta hanya karena tidak ingin melihat Azhar mati dibunuh Tirta.Kurnia melihat Tirta sekilas, lalu menggeleng kepada Azhar dan menjelaskan, "Azhar, kamu nggak bisa menyinggung Pak Tirta. Jangankan merebut Kimmy darimu dan melumpuhkanmu, bia
Setelah keluar dari Desa Persik, kesadaran Filda mulai pulih. Dia duduk di kursi belakang sambil terus menyeringai dingin menatap Tirta."Kamu terlalu banyak bicara! Kamu pikir aku akan memberimu kesempatan untuk melapor polisi?" Tirta tiba-tiba menginjak rem, menghentikan mobilnya.Kemudian, dia tu







