LOGINAda yang merasa senang dan diam-diam merasa lega. Orang-orang ini merasa mereka tidak perlu dikorbankan lagi.Ada yang mengernyit. Mereka sangat kecewa karena tidak bisa mendapatkan teknik kultivasi yang ajaib itu.Dua tetua tingkat pembentukan jiwa memberanikan diri untuk berkomentar."Menurutku, kemungkinan besar orang itu sudah meninggalkan tempat ini. Sebaiknya kita kembali ke tempat masing-masing. Cuma menghabiskan waktu kalau kita terus mencarinya.""Benar, aku juga sependapat. Bagaimanapun, kita sudah mencari di begitu banyak tempat. Tapi, kita nggak menemukan jejak sedikit pun."Seketika semua orang menjadi heboh. Mereka hanya menunggu tetua yang cukup berkuasa setuju, lalu mereka bisa langsung pergi.Magani dari Sekte Zeru memandang ke arah timur. Dia tertawa sinis, lalu menanggapi, "Untuk apa kalian buru-buru? Bukannya masih ada satu tempat lagi yang belum kita cari?"Saat ini, mereka berjarak ratusan kilometer dari wilayah Sekte Mujarab. Yang paling menonjol adalah Gunung De
Kaki anjing hitam dijulurkan ke formasi. Dia terlihat seperti tahanan yang menunggu Tirta menyelamatkannya."Anjing sialan, kamu salah paham. Aku cuma kebetulan lewat," timpal Tirta.Ucapan Tirta bagaikan air dingin yang memadamkan semangat anjing hitam.Tirta meneruskan, "Oh iya. Bukannya kamu dan kucing putih berada di ibu kota? Kenapa kalian bisa datang ke sini? Bagaimana caranya kalian sampai di Gunung Dewi?"Anjing hitam bicara terbata-bata, "Um ... ini .... Aku ...."Kucing putih juga gemetaran. Dia berpura-pura menjilat bulunya dan tidak berani melihat Tirta.Tirta mendesak, "Kalian berdua kenapa? Apa kalian begitu takut karena melanggar aturan?"Anjing hitam ingin keluar, jadi dia terpaksa bicara jujur, "Oke. Aku beri tahu kamu kebenarannya ... kucing putih ini yang menghasutku. Kemudian, kami nggak sengaja datang ke sini. Tirta, kamu salahkan dia saja. Jangan salahkan aku."Tirta bertanya dengan ekspresi muram, "Kalau begitu, berarti kalian berdua berniat mengkhianatiku?"Kuci
Hati Elisa bergejolak. Perasaannya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Dia bergumam, "Orang tuaku ... ada di sini?"Luvia juga menarik kembali kesadaran spiritualnya dan berkata, "Tempat ini nggak bisa ditembus kesadaran spiritual. Kita harus turun untuk cari mereka."Setelah mendarat di puncak gunung, mereka baru menyadari puncak gunung ini sangat luas. Tidak sempit seperti yang terlihat dari atas.Bahkan tidak terlihat ujungnya. Kondisi yang aneh ini membuat Elisa dan lainnya kebingungan."Seharusnya juga karena simbol spasial," gumam Tirta. Dia berjalan di depan, lalu meminta Elisa dan lainnya mengikutinya.Whoosh! Bulu emas Neiva terbang kembali. Warnanya menjadi lebih gelap, tetapi Tirta tidak memperhatikannya.Kala ini, formasi Gunung Dewi beroperasi lagi. Puncak gunung menjadi makin luas, juga diselimuti kabut putih yang tidak bisa ditembus kesadaran spiritual.Sesudah menyadari kondisi ini, Elisa dan lainnya bergandengan tangan. Tirta berjalan di tengah dan mereka menyusuri jal
Neiva tertawa dan bercanda, "Sebenarnya aku juga nggak tahu alasannya. Tadi aku cuma bercanda denganmu. Kamu lanjut terbang saja. Mungkin sebentar lagi kamu akan sampai ke puncak gunung."Tirta mengakui kesalahannya sambil tersenyum, 'Kak Neiva, aku salah. Tadi aku yang nggak tahu diri dan bersikap sombong. Sekarang aku sudah memperbaiki kesalahanku, aku harap kamu mau memberi tahu aku alasannya. Aku jamin lain kali aku nggak berani mengulangi perbuatan yang sama lagi.'Neiva bertanya, "Benaran?"Tirta menjamin, 'Tentu saja benar. Aku bersumpah dengan kehormatanku!'Neiva menanggapi, "Oke ...."Tirta mengira Neiva akan memberi tahu alasannya. Ternyata, Neiva malah tertawa dan meneruskan, "Sekalipun omonganmu benar, aku juga nggak akan memberitahumu alasannya. Kamu begitu pintar. Seharusnya kamu bisa memahaminya."Tirta tidak berpura-pura lagi. Dia mengomel di dalam hati, 'Sialan! Manusia burung berengsek, kamu memang keterlaluan! Setelah kultivasiku melampauimu, aku pasti akan menyiksa
Tirta berucap, "Tapi, gunung nggak mungkin meninggi. Jadi, gunung ini bermasalah ...."Tirta mulai waswas, tetapi dia tidak merasakan energi yang berbahaya. Tirta menambahkan, "Kita coba terbang lagi. Aku mau lihat seberapa tinggi gunung ini."Tirta dan lainnya lanjut terbang selama hampir satu jam. Gunung-gunung lain tidak terlihat lagi. Mereka bisa melihat hampir seluruh wilayah dunia misterius.Udara juga menjadi dingin dan kadar oksigen menjadi rendah. Lapisan awan menjadi tipis. Saat mendongak, mereka memang masih tidak bisa melihat puncak Gunung Dewi. Namun, mereka melihat cahaya yang berkedip seperti kerikil besar.Tirta berujar, "Sialan, bahkan kita sudah melihat bintang. Tapi, kita masih belum sampai di puncak gunung? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa aku berhalusinasi?"Tirta sudah mengalami banyak hal. Namun, sekarang dia juga tercengang melihat kondisi Gunung Dewi.Tirta hendak bertanya kepada Genta, tiba-tiba suara Althea terdengar dari belakang. "Sayang, jangan panik. Coba
Gorgon memberi hormat dan berucap kepada semua orang, "Semuanya sudah siap, mohon kalian semua bekerja sama dengan kami untuk mencari kultivator tingkat pembentukan dewa itu dan menangkapnya. Begitu mendapatkan teknik kultivasinya, kami pasti akan membaginya dengan kalian. Kami pasti akan berusaha keras."Para tetua tingkat pembentukan jiwa memang tahu jelas Gorgon hanya bicara omong kosong, tetapi sekarang mereka terpaksa harus mengikutinya.Dalam sekejap, banyak tetua tingkat pembentukan jiwa terbang keluar dari Organisasi Publikasi. Cahaya terang terpancar dari tubuh mereka. Kultivator tingkat inti emas mengikuti di belakang dan kultivator tingkat pembentukan fondasi juga terpaksa ikut.Tim dengan jumlah anggota yang sangat besar itu melakukan pencarian di dunia misterius. Mereka tidak akan menyerah sampai menemukan kultivator tingkat pembentukan dewa itu.....Sementara itu, Tirta sudah tahu rencana Gorgon dan lainnya. Namun, sekarang dia belum menyadari pergerakan mereka.Kala ini
Shinta berujar dengan ekspresi tegas dan penuh percaya diri, "Nggak apa-apa. Selama bisa jadi lebih besar, jangankan geli, bahkan kalau sakit pun aku sanggup menahannya!"Mendengar itu, Tirta tidak lagi ragu. Jarum perak mulai ditancapkan satu per satu di beberapa titik akupunktur di dekat area dada
"Tirta, apa lukaku sudah bisa dibalut sekarang?" tanya Yanti. Dia akhirnya menyadari bahwa sikapnya tadi kurang wajar. Matanya menghindar, bahkan tak berani menatap Tirta secara langsung.Tirta menjawab, "Bisa, Bu Yanti. Lagian, bajumu sudah rusak dan nggak bisa dipakai lagi. Lebih baik dilepaskan s
"Benar begitu?" tanya Aiko dengan tidak percaya."Tentu saja. Tirta sekarang sangat kaya dan hebat. Apa kamu pernah melihat dia mencampakkan pacarnya? Satu pun nggak pernah, 'kan? Jadi, kamu berpikir terlalu jauh.""Mungkin Tirta terlalu sibuk belakangan ini, makanya nggak sempat menghubungimu. Sete
"Ini nggak ada apa-apanya. Tirta punya banyak kekasih," sindir Susanti."Aku ... ini nggak ada hubungannya denganku. Aku pergi ke dapur untuk lihat masakannya," timpal Nia. Dia takut terlibat permasalahan ini, jadi dia segera mencari alasan untuk keluar dari klinik.Sekarang hanya tersisa Tirta, Aga







