로그인Setelah berjalan 100 meter lebih, sebuah gerbang batu raksasa tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Di kedua sisi gerbang batu itu terdapat dua lampu minyak yang telah menyala tanpa pernah padam selama bertahun-tahun. Apinya berkobar perlahan, memancarkan cahaya redup.Sebelum mereka menyentuh gerbang batu, tampak riak keemasan pucat terus menyebar, seolah hendak mendorong mereka semua menjauh.Bisa dibayangkan, jika mereka mendekat lagi, formasi di tempat ini pasti akan menyerang mereka tanpa ampun."Jurang itu ada di balik gerbang batu ini. Dulu kami ber-18 bekerja sama untuk menutupi Gunung Batu serta seluruh titik buta yang mengelilingi jurang dengan formasi. Bahkan seekor lalat pun nggak akan bisa terbang keluar.""Dengan kata lain, tanpa kehadiran satu orang saja dari 18 Orang Suci dunia awani, gerbang batu ini nggak akan bisa dibuka.""Tapi keadaan sekarang sudah berbeda. Seharusnya aku bisa membukanya dengan mudah seorang diri.""Kalian jangan mendekat dulu. Biar aku coba lihat s
"Wah, hebat sekali. Sekarang kamu makin berani padaku ya! Dasar bajingan! Aku akan mengulitimu hidup-hidup!"Selvi sempat tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka Tirta akan berani bersikap seperti itu. Sesaat kemudian, amarahnya langsung membara. Dia mengangkat kaki jenjangnya dan melayangkan serangan mematikan tepat ke selangkangan Tirta!"Selvi, jangan marah! Aku cuma bercanda. Sudah, sudah! Kita pergi menjelajahi harta rahasia bawah tanah bersama saja! Lebih penting urusan utama!" Tirta buru-buru menghindar sambil berteriak."Aku tetap harus menghajarmu dulu!" Selvi merasa sangat geram.Setelah berhasil mengejar Tirta, Selvi menghajarnya habis-habisan. Sejam kemudian, Selvi kembali ke atas tembok kota dengan tenang, sementara Tirta turun dengan langkah pincang. Wajahnya juga sudah babak belur."Tirta ... kamu nggak apa-apa?" Priya buru-buru maju dengan ekspresi khawatir."Cuma luka kecil. Nggak perlu dibesar-besarkan." Tirta menyeringai dan berkata dengan sok hebat. Sayangnya, den
"Kalau aku bilang kali ini aku nggak pakai racun itu, kamu percaya?" Tirta menyipitkan mata."Hehe. Kalau nggak pakai, kurasa kamu bahkan nggak akan bisa menyentuh satu jarinya!" Jade mencibir.Alis Tirta terangkat, menunjukkan ekspresi tidak senang. Dia menegakkan tubuh dan berkata, "Mau coba lagi? Biar kamu tahu pedang pusakaku yang ini masih tajam nggak.""Ehem ... apa itu tadi? Aku nggak bilang apa-apa kok." Jade sepertinya teringat sesuatu yang mengerikan. Dia langsung terdiam dan bersembunyi di belakang Priya."Tuan Tirta, setelah menemani Senior Selvi menjelajahi harta rahasia di bawah Kota Suci nanti, apa rencanamu?" Priya tersenyum lembut sambil bertanya."Kembali ke Istana Samara, lalu pulang ke kampung halamanku untuk lihat-lihat. Aku sudah cukup lama nggak pulang. Sudah waktunya pulang dan menemui para istriku," jawab Tirta setelah berpikir sejenak."Aku boleh ikut?" Priya sempat ragu sebelum bertanya."Tentu saja boleh. Itu adalah dunia tanpa kultivator, tanpa pertarungan
Sebenarnya, Selvi juga memiliki perasaan terhadap Tirta.Hanya saja, dia sendiri tidak mau mengakuinya. Namun, selama tiga hari tiga malam ini, setiap kali membayangkan Tirta bermesraan dengan Jade, hatinya terasa sangat tidak nyaman, bahkan waktu seolah berjalan begitu lambat.Selvi tahu bahwa hatinya sudah benar-benar kacau. Karena itu, hari ini dia bersikeras meminta Tirta memberikan kepastian hubungan mereka.Sedangkan mengenai formasi, formasi itu juga memiliki efek serangan. Jika situasi hari ini tidak sesuai dengan harapannya, Tirta tidak akan luput dari pelajaran yang akan diberikannya.Namun, melihat keadaan sekarang, Tirta ternyata langsung lulus dari ujian Selvi.Wusss! Selvi langsung mengaktifkan formasi. Riak-riak tak kasatmata menyebar dan membungkus seluruh ruang privat.Sejak saat itu, apa pun suara yang ada di dalam, orang-orang di luar tidak akan mengetahuinya."Hehehe. Selvi, kamu wangi sekali." Seiring tubuh mereka semakin dekat, Tirta mengeluarkan tawa genit."Jang
"Ehem .... Senior sudah begitu tulus mengundangku, tentu saja aku harus menyetujuinya." Tirta tanpa sadar mundur dua langkah sambil melindungi bagian selangkangannya."Huh, jangan memasang wajah seolah-olah kamu terpaksa dan nggak rela. Memangnya aku sudi buang-buang waktu untuk bicara omong kosong denganmu?""Kamu tahu siapa aku, 'kan? Aku adalah Jangkrik Suci, salah satu kultivator dengan pencapaian tertinggi di seluruh dunia awani saat ini.""Kamu mendapat kesempatan untuk berduaan denganku di satu ruangan, ini adalah kehormatan bagimu, ngerti?" Selvi menggertakkan gigi putihnya. Dadanya yang berisi terus naik turun."Tentu saja aku tahu. Aku cuma nggak tahu apa yang ingin Senior bicarakan. Tapi aku akan menjawab semuanya dengan jujur." Menghadapi tatapan Selvi yang begitu penuh gairah, Tirta justru tanpa sadar tidak berani menatap matanya."Nggak ada yang perlu dibicarakan. Aku hanya ingin tanya, apa kamu benar-benar menyukaiku?" Selvi kembali mendekat dua langkah. Jarak mereka kin
"Kalaupun Senior Selvi marah, seharusnya dia nggak akan melakukan apa-apa kepada Tuan Tirta, 'kan?"Menatap punggung Tirta yang menghilang di tikungan jalan Kota Suci, Priya tiba-tiba merasa seperti sedang melepas seorang kesatria menuju medan maut. Entah Tirta akan kembali dengan selamat atau tidak."Semoga saja Senior Selvi nggak melakukan apa-apa ke Tuan Tirta."Priya tidak lagi memikirkannya dan beralih memperhatikan gadis berambut putih yang berada dalam pelukannya.Kebetulan, saat itu juga Jade membuka kedua matanya. Tatapannya tampak bingung dan kosong."Nona, kamu nggak apa-apa?" tanya Priya."Aku nggak apa-apa. Hiks. Seandainya tahu begini, aku nggak akan datang. Sakit sekali, benar-benar nggak berperikemanusiaan. Aku ingin pulang ...." Tak lama kemudian, kesadaran Jade kembali sepenuhnya. Dia langsung menangis terisak-isak."Nggak apa-apa, Nona. Tuan Tirta adalah orang baik. Dia akan bertanggung jawab padamu." Priya menghiburnya."Hiks, hiks, hiks .... Memangnya kamu tahu dia
"Gila .... Wanita ini kelihatannya cantik, tapi kejam banget!""Aku bahkan bisa mendengar suara sesuatu pecah tadi. Untung tadi aku nggak coba mendekatinya!""Cuma kejam nggak cukup. Yang dia pukul itu Doddy.""Ayahnya punya saham di semua toko emas lantai ini. Dia kaya dan punya pengaruh besar!""A
Begitu Tirta melangkah masuk, Mauri, Saad, dan Susanti pun mengikuti. Situasi mendadak ini membuat para penari di ruang privat buru-buru memakai pakaian mereka, lalu berdiri di samping tanpa berani bergerak. Sekalipun Saad dan lainnya tidak bersuara, mereka bisa menebak identitas pendatang ini."Kali
Pada akhirnya, suasana di kantor polisi menjadi sunyi senyap. Dari ibu kota provinsi, yang tersisa hanya Amal yang tidak sadarkan diri dan Budi yang mengikuti di belakang Tirta tanpa mengatakan apa pun sejak tadi.Lutfi menyuruh pengawalnya untuk mengangkat Amal ke tumpukan sampah yang tidak jauh dar
"Dasar jalang ...." Melati memegang kepalanya yang terasa agak pusing sambil kembali ke ruang privat dengan wajah berlinang air mata.Ketika melihat air mata Melati dan bekas tamparan di wajahnya, Tirta segera bertanya, "Kak, kamu kenapa? Siapa yang menamparmu?"Wanita lainnya bergegas menghampiri. Me







