LOGIN"Bunuh Kamil si anjing tua pengkhianat itu. Bunuh siapa pun yang berniat memusnahkan Istana Samara. Lindungi Istana Samara. Bertarung hingga tetes darah terakhir," seru Suryana berkali-kali, lalu menjadi orang pertama yang menerjang maju."Kami rela menumpahkan tetes darah terakhir demi Istana Samara!""Bunuh!""Bertarung sampai mati, pantang mundur!""Bunuh Kamil si anjing tua pengkhianat!"Swing swing swing!Para tetua dan murid yang dipenuhi semangat mengabdi pada Istana Samara segera mengikuti Suryana untuk menyerbu. Berbagai artefak beterbangan dan memancarkan cahaya berwarna-warni serta aura yang menjulang ke langit, tetapi yang paling terasa adalah niat membunuh yang meluap-luap. Seluruh langit dan bumi seolah-olah dipenuhi olehnya."Ja ... jangan bunuh aku!" seru Kamil yang hendak mundur. Namun, tangan Ditto malah menepuknya dari belakang dan mendorongnya langsung ke tengah medan pertempuran. Hanya dalam sekejap mata, tubuhnya sudah dihantam artefak yang memenuhi langit hingga
"Guru, karena Tetua Kamil nggak mau bantuan kita, aku rasa sebaiknya kita pergi saja. Biarkan Tetua Kamil selesaikan semua ini sendirian," kata Parus, Ketua Sekte Formasi Surgawi, sambil menggelengkan kepala dan ekspresi kecewa."Baik," jawab Ditto sambil menganggukkan kepala dan hendak berbalik pergi bersama rombongannya."Tunggu. Senior, jangan pergi. Aku akan ikuti saran Senior. Lagi pula, apa yang Senior bilang memang masuk akal. Dengan kemampuanku sendiri, aku memang nggak sanggup tundukkan mereka. Paling-paling nanti aku bina lagi murid-murid dan para tetua kepercayaanku. Nggak akan butuh waktu lama, Istana Samara akan kembali berjaya," kata Kamil yang segera menghentikan orang-orang itu.Kamil tentu saja tidak ingin Istana Samara yang akan segera diwariskan padanya hanya tinggal nama. Namun, jika Ditto dan yang lainnya benar-benar pergi, dia bisa langsung menebak para tetua dan Tetua Agung Istana Samara itu pasti akan membunuhnya hingga tak bersisa. Bahkan menghancurkan jiwa spi
"Hehehe. Tetua Kamil, ternyata kepalamu masih jernih, nggak kehilangan akal sehat hanya karena omongan menyesatkan anak itu. Sebaliknya, kalau kamu benar-benar dengarkan ucapannya, nasibmu justru akan sangat mengenaskan," kata Ditto yang tetap tersenyum, meskipun hatinya memandang rendah Kamil."Benar. Tetua Kamil, kamu kerja sama dengan kami untuk balas dendam dengan tekad sebesar itu, kami tentu saja nggak akan biarkan kamu dirugikan. Sebaliknya, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk penuhi keinginanmu. Seperti yang kamu bilang, ada beberapa hal yang nggak bisa kembali lagi begitu dimulai," kata Ketua Sekte Formasi Surgawi yang juga berbicara dengan nada menenangkan.Guru dan murid itu saling melengkapi ucapan satu sama lain. Ditambah lagi Kamil memang sudah lama mengincar posisi Ketua di Istana Samara, dia tidak mungkin masih ingin mendengarkan ucapan Adinda."Terima kasih, para senior. Terima kasih juga pada semua rekan. Begitu aku jadi Ketua, Istana Samara pasti akan menjalin hub
Arshala berkata dengan ekspresi serius, "Nova, aku mengerti perasaanmu. Tapi, dalam keadaan seperti sekarang, tetap tinggal di sini juga nggak akan banyak membantu. Sebaliknya, kalau kita tertangkap, nasib kita akan sangat mengenaskan. Jadi, kita hanya bisa ikuti kata Guru. Kalau dalam satu jam dia nggak datang, kita hanya bisa pergi. Soal suami kita ... aku yakin dia akan temukan kita."Nova menjawab dengan tak berdaya, "Baiklah. Kita memang terlalu lemah. Selain pergi, kita nggak punya pilihan lain."Nivia masih terlalu muda, sehingga tidak bisa memberikan pendapat. Dia hanya bisa mengikuti keputusan kedua gadis itu.Ketiga gadis itu pun segera berangkat menuju formasi teleportasi terbesar di dalam sekte.....Di depan gerbang gunung, sekitar tiga puluhan tetua dan Tetua Agung telah berkumpul di sana. Selain itu, ada pula beberapa murid yang sangat berbakat yang datang dengan penuh amarah, membuat tempat itu dipenuhi orang."Tetua Kamil, selama ini Ketua perlakukan kamu dengan sangat
"Guru memang sudah pertimbangkan semuanya dengan matang. Kalau begitu, kita biarkan saja anjing ini tetap hidup untuk sementara ini. Tapi, orang ini benar-benar sangat bodoh. Setelah nanti kita kuasai Istana Samara sepenuhnya, lebih baik dia tetap dibunuh," kata Ketua Sekte Formasi Surgawi. Hatinya tergerak, sehingga dia segera mengirim transmisi suara sebagai tanda setuju."Masalah sekecil itu, lakukan saja sesuai situasinya," kata Ditto.Perlu diketahui, saat ini Bakrie masih belum kembali ke markas Dinasti Pembunuh. Oleh karena itu, di antara tiga puluhan kultivator tingkat semi pencapaian agung itu, masih ada tujuh atau delapan pembunuh dari Dinasti Pembunuh yang ikut serta....."Gawat, Ketua. Tetua Kamil bawa orang-orang dari Sekte Formasi Surgawi dan Dinasti Pembunuh untuk menyerang Istana Samara. Mohon Ketua segera ambil tindakan," kata dua murid penjaga gunung yang segera berlari ke aula utama di puncak Istana Samar dengan ekspresi cemas. Saat itu, Kamil memimpin sejumlah besa
"Posisi itu harusnya jadi milikku. Guru yang sudah sia-siakan masa mudaku, permainkan perasaanku, dan bahkan hancurkan masa depanku," teriak Kamil hingga urat-urat di dahinya menonjol, wajahnya memerah, dan ekspresinya ganas.Tak lama kemudian, nada bicara Kamil tiba-tiba menjadi lemah dan dipenuhi kepedihan. Dia berkata sambil mengepalkan tangannya dengan erat, "Tapi, aku terlalu mencintainya. Meskipun dia perlakukan aku seperti itu, aku tetap rela menerimanya. Hanya saja, saat dia mencapai akhir hayatnya, aku malah nggak berani datang jenguk dia.""Peristiwa itu hampir jadi iblis dalam hatiku. Bukan hanya kekuatanku nggak berkembang dalam waktu yang sangat lama, bahkan justru merosot. Saat akhirnya aku tersadar, aku sudah bukan tandingan Afifah si gadis kecil itu lagi. Sejak saat itu, posisi Ketua benar-benar lepas dari tanganku. Tapi kali ini, para senior bisa mengepung Istana Samara bersama-sama dan beri aku kesempatan lagi, jadi ...."Sebelum Kamil selesai berbicara, Ditto sudah t
Tirta sudah cukup membuat Nabila tidak tahan. Apalagi sekarang ditambah dengan bantuan Agatha dan Susanti. Nabila yang belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini sebelumnya kehilangan kendali. Pikiran Nabila melayang.Nabila memeluk Tirta sambil tidak berhenti menggeleng dan berteriak, "Jangan ..
"Bukannya sekarang sudah saatnya kamu memenuhi janjimu dengan membiarkan aku melakukannya lewat belakang?" tanya Tirta.Saat bicara, Tirta sengaja mengangkat pinggangnya untuk merangsang bagian tubuh Nabila yang belum pernah disentuhnya itu.Sementara itu, Ayu dan Elisa yang juga berada di tempat me
Irene berujar, "Aku ... aku juga bisa kok. Meskipun sebenarnya aku nggak pernah terpikir buat benar-benar bersama Tirta. Bagaimanapun, aku dan dia sudah punya ikatan perasaan sejak dulu. Aku juga berharap dia bisa cepat pulih. Hanya saja, orangnya banyak banget. Aku takut ... takut nanti aku ...."I
"Nggak. Paman, aku cuma merasa malu nggak antar Pak Tirta. Nggak apa-apa. Lagi pula, sebentar lagi Pak Tirta akan pergi ke ibu kota," sahut Marila.Tiba-tiba, Marila merasa tidak ada gunanya dia tetap tinggal di Provinsi Naru. Jadi, dia berniat kembali ke ibu kota. Marila melanjutkan, "Paman, aku ra







