FAZER LOGIN"Kenapa? Memangnya sulit diwujudkan? Kalau aku memindahkan cukup banyak mata air spiritual, nadi spiritual, dan obat spiritual ke sini, seharusnya beres, 'kan?"Tirta merasa reaksi mereka terlalu berlebihan."Ini bukan soal sulit atau nggak. Ini sudah seperti mimpi di siang bolong. Kamu tahu setandus apa energi spiritual di dunia ini?""Bahkan nggak sampai sepersepuluh dari dunia awani. Ini ibarat danau yang sudah kering.""Kalaupun kamu memindahkan banyak mata air spiritual dan obat spiritual ke sini, semuanya tetap akan tercerai-berai, nggak akan bisa bertahan.""Itu karena dunia ini nggak punya sumbernya. Dengan kata lain, sumber asal dunia ini sudah mulai runtuh.""Kalau aku jadi kamu, aku mending mencari dunia lain yang energi spiritualnya melimpah, daripada susah payah melakukan sesuatu yang akhirnya sia-sia." Irena menggeleng."Kak Yumika, apa benar seperti itu?" tanya Tirta sambil berpikir."Secara teori memang begitu. Tapi kalau cuma membangun satu kawasan kecil dan menopangny
"Aku nggak akan kasih kamu kesempatan itu," ujar Tirta yang bisa menebak isi pikirannya."Aku nggak punya niat seperti itu. Jangan nilai aku dengan pikiran jahatmu," kata pembunuh wanita itu dengan panik."Cih, mau membela diri saja ngomongnya berantakan. Kelihatannya otakmu jadi tumpul karena terlalu lama berkultivasi. Ngomong-ngomong, suamimu ini bahkan belum tahu siapa namamu." Tirta mengangkat dagunya yang putih bersih, lalu bertanya."Namaku Irena." Di bawah tekanan Tirta, pembunuh wanita itu akhirnya menjawab."Irena, hm ... namamu mirip sekali sama nama Kak Irene." Tirta mengingat nama itu. Dia melirik ke arah Yumika dan melihat wanita itu hanya memejamkan mata untuk memulihkan diri tanpa melakukan apa pun. Karena itu, dia juga tidak mengatakan apa-apa kepadanya.Sebenarnya, setelah kemampuan berpikirnya pulih sedikit, Yumika juga sedang memikirkan masa depannya.Namun, dilihat dari sikap Tirta, dalam waktu dekat dia tidak mungkin bisa meninggalkan sisi pria itu. Dia hanya bisa
Sesepuh tua yang terakhir berkata demikian."Kalau begitu, kamu yang urus." Setelah berpikir sejenak, sesepuh tua berjanggut seperti singa itu akhirnya mengangguk dan memberi perintah."Baik."Sang pemimpin pun meninggalkan aula leluhur dan mulai membuat pengaturan.....Pada saat yang sama, jauh di sebuah gurun di bumi, Tirta sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia awani.Saat ini, dia sedang menikmati kehidupan yang sangat nyaman, diapit dari kedua sisi. Meskipun kedua wanita itu sebenarnya sangat enggan, dengan pedang kecil di tangannya, Tirta merasa bisa melakukan apa saja dan tidak peduli pada hal lain.Tubuh mereka yang sebelumnya sudah mengalami siksaan selama sebulan penuh dan belum sempat pulih, kini kembali dipaksa menerima tekanan yang sama. Ini benar-benar seperti luka yang ditaburi garam.Bukan hanya tubuh dua wanita itu yang tak mampu bertahan, bahkan tekad mental mereka pun nyaris runtuh sepenuhnya."Kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Cepat h
"Kami minta orang dengan sopan. Tapi, mereka bukan hanya menolak menyerahkan orangnya, malah menghina kami dengan kata-kata. Kami mohon Ketua Sekte menegakkan keadilan bagi kami dan kembalikan nama baik Sekte Formasi Surgawi."Begitu kembali, para murid dari Sekte Formasi Surgawi itu langsung menemui ketua sekte yang sedang mengurung diri untuk kultivasi dan menjelaskan seluruh kejadiannya. Ekspresi satu per satu dari mereka masih terlihat marah."Oh? Ternyata terjadi hal seperti itu?" kata ketua sekte yang terlihat cukup terkejut."Masalah ini sangat penting. Kamu nggak berani berbohong sedikit pun," jawab puluhan murid itu secara serempak, bahkan bersedia bersumpah.Tatapan ketua sekte itu terlihat sedang berpikir. "Ini terlalu aneh. Murid perempuan itu bernama Arshala, dia tadinya adalah murid dari Kak Ganesh. Meskipun dia kehilangan pelindung setelah Kak Ganesh meninggal, dia juga nggak perlu meninggalkan sekte kita dan bergabung dengan sekte lain.""Satu-satunya penjelasannya adal
Shindy berjalan masuk ke dalam aula utama. Saat melihat Suryana dan yang lainnya ternyata juga berada di sana dengan ekspresi yang terlihat cukup tenang, dia tidak bisa menahan diri dan tersenyum sinis. Dia merasa seolah-olah mereka sedang mengejeknya karena bencana sudah di depan mata, tetapi dia masih belum menyadarinya.Namun, saat menghadapi Afifah, Shindy langsung berkata dengan ekspresi penuh kasih dan khawatir, "Kepala Istana, aku mau lapor murid yang diterima Tetua Suryana ini sebenarnya adalah pengkhianat dari Sekte Formasi Surgawi. Saat aku pergi ke Rawa Besar untuk mencari muridku, aku lihat sendiri orang-orang dari Aula Penegak Hukum Sekte Formasi Surgawi minta orang itu dari Tetua Suryana.""Saat itu, aku juga sudah langsung menasihatinya agar jangan sampai hubungan dari dua sekte tanah suci besar ini rusak hanya karena seorang pengkhianat. Tapi, aku nggak menyangka Tetua Suryana bukan hanya nggak mendengarkan, dia malah menatap orang-orang dari Sekte Formasi Surgawi denga
Pembunuh wanita itu langsung memelotot dengan marah.Namun, begitu pembunuh wanita itu selesai berbicara, Tirta tanpa basa-basi langsung membungkam mulutnya sampai rahangnya hampir terlepas. "Celaka .... Ternyata tempat ini bukan bumi, kali ini benar-benar gawat ...."Pada saat yang bersamaan, Yumika juga sudah sadar dan mendengar seluruh percakapan keduanya dengan jelas."Tirta ini sebenarnya pakai cara apa sampai bisa membawaku ke tempat asing seperti ini? Apa aku masih bisa kembali ke Istana Samara? Saat ini, apa Yudha si binatang itu sudah menyebarkan aibku? Aku benar-benar kehilangan kesucianku padanya. Kalau tahu akan jadi begini, lebih baik dulu aku nggak terima tugas ini dari Guru," gumam Yumika yang pikirannya benar-benar kacau.Namun, setelah menyadari Yumika sudah bangun, Tirta malah langsung menggendong pembunuh wanita itu dan berjalan mendekat. Dia berniat mempererat hubungan sekaligus menambah rasa cinta mereka. "Kak Yumika, jangan takut. Mulai sekarang, aku yang akan mel
Melihat hal ini, Aaris juga tidak sanggup menerimanya. "Nggak mungkin ... bahkan kakak senior Pak Panji juga nggak bisa mengalahkannya?""Guru ... maaf. Aku telah membuatmu malu ...," ucap Bima sambil menahan rasa sakitnya setelah melihat kondisi Tirta. Dia merasa sangat bersalah."Nggak memalukan. Ka
Mendengar hal itu, Lukman mengira dirinya salah dengar. Mengapa Tirta bisa membunuh seseorang di depan mata kepala kepolisian tanpa ditahan? Siapa sebenarnya bocah ini? Apa dia benar-benar sehebat itu?"Pak Mauri, kamu ini polisi yang adil dan baik. Kenapa kamu malah nggak mengambil tindakan apa pun
Kangga juga mengira Tirta hanya bicara omong kosong. Tirta pasti hanya menipu mereka supaya pengujian dilakukan ulang. Namun, Riza tidak mungkin menyetujuinya."Begini saja, aku telepon seseorang dulu. Kamu tunggu sebentar." Tanpa memberi Riza kesempatan untuk berbicara, Tirta sudah menghubungi nomor
Saba tentu tahu alasan mereka terkejut. Setelah melakukan akupunktur dan minum obat buatan Tirta, Saba merasa sekujur tubuhnya sangat segar. Langkahnya juga terasa ringan. Dia tidak terlihat seperti pria tua 100 tahun lagi. Dia dipenuhi energi seperti anak muda."Hehe. Kenapa? Aku nggak mirip dengan





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

