LOGINTentu saja Tirta yang tidak sadarkan diri juga tidak tahu hal ini.Hanya Genta yang diam-diam memperhatikan manusia burung itu. Dia sedang mempertimbangkan untuk memurnikan manusia burung di dalam Cincin Penyimpanan.Genta berkata, "Dua rangka tulang ini anggota Klan Sayap Suci yang pernah kulihat. Seharusnya mereka kabur dari Bintang Alkaid ke bumi karena alasan tertentu. Sayangnya, planet ini nggak cocok ditinggali Klan Sayap Suci.""Bagi mereka, udara di sini seperti racun mematikan. Kalau kultivasi mereka makin tinggi, racunnya makin mengerikan. Jadi, mereka juga kesulitan untuk hidup sekalipun mereka sudah mencapai tingkat pembentukan dewa semasa hidup. Mereka akan perlahan diracuni sampai mati," lanjut Genta.Genta menambahkan, "Kemungkinan besar wanita dari Klan Sayap Suci yang diculik Tirta itu keturunan mereka. Hanya saja, entah kenapa dia datang ke dunia fana."Elisa dan lainnya tidak memahami ukiran peta bintang di dinding batu. Namun, Genta tahu jelas itu adalah peta alam s
Elisa memandangi ukiran-ukiran di dinding batu. Dia berucap dengan ekspresi terkejut, "Sepertinya ini peta bintang. Aku lihat gambar Bintang Biduk, tapi aku nggak paham gambar yang lain .... Mungkin ini peninggalan dua orang itu."Elisa menambahkan, "Mereka pasti ingin mengungkap sesuatu. Sayangnya, gambar ini susah dipahami. Sangat sulit memahami artinya."Alis Luvia berkerut. Entah apa yang dipikirkannya.Tentu saja Kamala juga bingung.Kala ini, Althea tiba-tiba menunjuk gambar Bintang Biduk dan berkata, "Eh ... kalian lihat tujuh Bintang Alkaid ini. Sepertinya ukirannya lebih jelas dari bintang yang lain. Di sekitarnya juga ada garis yang melingkari bintang-bintang itu."Selesai bicara, Althea tanpa sadar maju dan menyentuh ukiran itu. Dia melanjutkan, "Selain itu ... di sebelah kiri Bintang Alkaid juga ada ukiran segi empat. Ukirannya sangat kecil seperti kuku ibu jari, tapi sangat jelas kalau dilihat dari dekat."Elisa maju. Dia juga bisa melihat ukiran itu dengan jelas.Elisa ti
Di atas meja batu, terdapat dua rangka tulang ramping yang terlihat seperti bentuk tubuh manusia. Rangka tulang itu seperti diukir. Tampak kilau warna berpendar pada rangka itu saat terpancar cahaya.Seharusnya itu rangka tulang pria dan wanita. Yang satu ukurannya besar, yang satu lagi ukurannya kecil. Sepertinya itu bukan rangka tulang manusia biasa karena di belakangnya ada sepasang sayap.Hanya saja, sekarang tidak ada daging yang menutupi rangka itu. Yang tersisa hanya sepasang tulang sayap.Pada meja batu itu juga terdapat kotak yang terbuat dari batu. Kotak itu dipenuhi debu yang tebal.Melihat dua rangka tulang itu, Luvia berkomentar, "Seharusnya mereka itu orang yang membuka gua ini dulu. Entah mereka sudah mati berapa lama. Aku rasa kemampuan mereka semasa hidup pasti sangat mengerikan."Padahal Luvia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menebas gunung ini. Namun, gunung ini tidak bisa hancur sedikit pun.Althea menanggapi, "Sehebat apa pun mereka, bukannya mereka tetap
Jadi, Elisa dan lainnya yang menganggap tempat ini berbahaya membawa Tirta pergi ke daerah gunung terpencil di tengah kegelapan malam. Jaraknya ratusan kilometer dari Organisasi Publikasi.Di daerah gunung ini sama sekali tidak ada bangunan atau manusia. Bahkan tumbuh-tumbuhannya tidak tinggi. Kemungkinan tidak ada kultivator yang tinggal di tempat ini.Elisa dan lainnya berniat membuka gua yang tersembunyi untuk merahasiakan keberadaan mereka. Dengan begitu, mereka tidak perlu takut ketahuan biarpun ada kultivator yang datang.Beberapa wanita itu memang tahu ada tokoh hebat di dalam tubuh Tirta yang melindungi mereka. Namun, mereka tidak mungkin terus merepotkan Genta.Ting! Ting! Saat Elisa sudah memilih satu tempat dan hendak membuka gua dengan Pedang Terbang, tiba-tiba terjadi sesuatu yang aneh.Percikan api menyembur. Pedang Terbang Elisa terpental begitu menebas gunung. Bahkan ujung pedangnya menjadi bengkok.Alis Elisa berkerut. Dia berucap, "Kenapa bisa begini? Gunung di sini s
Althea merasa tidak tenang jika tidak menanyakan keberadaan ketiga kultivator itu.Kamala melihat mereka memang tidak berniat jahat, bahkan mereka memperhatikan Tirta dengan tulus. Jadi, dia baru menceritakan kejadian sebenarnya, "Ketiga orang itu dibunuh Tirta ... eh, salah ... sepertinya bukan dia. Tadi ... sepertinya seorang senior yang sangat hebat tiba-tiba muncul di tubuh Tirta.""Senior itu membunuh tiga kultivator tingkat pembentukan jiwa dalam sekejap dengan tubuh Tirta, lalu ... senior itu menghilang. Oh iya. Sebenarnya tadi Tirta terluka parah. Seharusnya senior itu yang mengobatinya," lanjut Kamala.Mendengar cerita Kamala, Elisa dan lainnya kaget. Althea bertanya, "Senior yang sangat hebat membunuh tiga kultivator tingkat pembentukan jiwa dalam sekejap? Ini ...."Luvia langsung tahu alasannya. Dia berbicara dengan ekspresi kagum, "Pantas saja kita tiba-tiba nggak bisa merasakan energi tiga orang itu. Ternyata senior di dalam tubuh Tirta yang bertindak. Kultivator tingkat p
Itulah sebabnya Genta menghabiskan waktu yang agak lama. Kalau tidak, Vikrama dan lainnya pasti mati lebih cepat.Setelah memastikan tidak ada kesalahan, Genta baru mendarat dan menghampiri Kamala.Kamala melihat tiga kultivator tingkat pembentukan jiwa dibunuh tanpa bisa melawan. Dia yang ketakutan bertanya dengan suara bergetar, "Kamu ... Tirta, 'kan?""Tentu saja bukan, tapi kamu nggak usah tahu. Dia sangat lelah. Kamu jaga dia dan biarkan dia istirahat dengan baik," pesan "Tirta". Selesai bicara, dia memejamkan mata dan tubuhnya jatuh ke arah Kamala.Kamala berteriak. Awalnya dia tidak berani memapah Tirta karena takut. Alhasil, Tirta langsung jatuh ke dalam pelukan Kamala.Wajah Tirta terbenam di dada Kamala yang lembut. Tirta masih tidak sadarkan diri. Dia tidak bisa mengerahkan tenaga sedikit pun.Kala ini, dada Kamala menjadi penopang agar Tirta tidak jatuh. Untung saja, dada Kamala berisi. Kalau tidak, Tirta pasti langsung jatuh ke lantai.Posisi ini sangat aneh. Kamala merasa
Arum berpikir, seandainya adiknya yang tidak berguna itu memiliki setengah kemampuan Tirta, mana mungkin dia akan kalah setelak itu?"Dasar nggak berguna! Kamu kalah telak! Gimana kamu akan menjelaskannya kepada Bos?" tegur Ehsan yang merasa senang di atas penderitaan Hafid."Aku nggak percaya kamu bi
Tirta menggunakan pisau untuk mengambil sesuatu yang berwarna merah. Benda itu berkilauan dan ukurannya sebesar telapak tangan."Itu ... sisik ular?" tanya Susanti dengan terkejut. Meskipun dilumuri darah, Susanti tetap tahu benda apa itu."Benar. Aku nggak nyangka seekor ular bisa mendatangkan bencan
"Kasino kalian begitu besar, masa nggak bisa menerima kekalahan?" Ekspresi Tirta tetap terlihat tenang saat menegur."Nggak mau menerima kekalahan ya? Kasino macam apa ini? Lain kali jangan datang lagi!""Benar, kasino ini mau menipu uang orang! Jangan ada yang datang kemari lagi!"Orang-orang yang kal
"Tapi kamu harus pikirkan dengan baik. Kita ini hanya berdua, mereka ada belasan orang. Kemungkinan juga semuanya bawa senjata.""Kamu nggak mengira mereka akan langsung menyerah hanya dengan kamu mengatakan kamu ini polisi, 'kan? Aku bukan takut, aku cuma bicara kenyataan saja," ucap Tirta."Lalu ...







