Beranda / Romansa / Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku / Bab 144: Dianggap Main-main

Share

Bab 144: Dianggap Main-main

Penulis: NACL
last update Tanggal publikasi: 2026-10-13 22:50:48

Di kediaman megah keluarga Bradley, tiga bocah kembar melompat dari mobil, disambut angin sore yang dingin.

Diana merentangakan tangan dengan cepat dan berlutut di hadapan ketiga keponakannya sebelum mereka melangkah masuk. Ia menatap Lucas, Liam, dan Lily bergantian.

"Dengar Tante, ya," bisik Diana. "Kalian jangan sampai bilang ke Oma sama Opa kalau Mama Lenora masih hidup. Mengerti?"

Lily mengedipkan matanya dengan polos. "Kenapa, Tante Di? Kasihan Oma nggak tahu Mama udah pulang."

"Nanti Oma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 146: Awal dan Akhir

    Jemari Lenora gemetar. Ponsel yang menempel di telinganya terasa dingin dan licin oleh keringat. Di seberang saluran, napas Bu Lia terdengar memburu dan putus-putus."Mama ... Mama di mana sekarang?" suara Lenora bergetar, berusaha menahan panik."Di Jakarta, Nak! Di dekat... dekat Jalan Melati! Mama takut, Lenora. Tolong!"Lenora membalikkan badan, menatap Dashel yang berdiri di dekatnya. Batinnya berkecamuk antara rasa cemas sebagai anak dan kecurigaan atas kebetulan lokasi yang disebutkan ibunya—tahu, itu adalah rumah Gladys."Dash..." Lenora menelan ludah, matanya yang merambang menatap pria itu. "Mamaku butuh aku. Aku harus ke sana sebentar. Tolong..."Dashel menghela napas panjang. Manik hazel-nya menatap Lenora dalam-dalam, membaca ketakutan dan kebingungan di wajah wanita itu. Tanpa banyak bicara, pria itu mengangguk pelan."Ayo," sahut Dashel singkat, meraih kunci mobilnya.Ketika mobil mereka berhenti di pinggir jalan sepi yang ditunjukkan, sosok Bu Lia terlihat merapat di su

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 145: Dimanja Dokter Tampan

    Di seberang saluran telepon, suara Dewi terdengar begitu sarat akan kecemasan seorang ibu."Dashel, dengarkan Mama," tegur Dewi dengan nada menasihati yang amat serius. "Kalau kamu memang mau menikah lagi, Mama izinkan. Tapi tolong, jangan pernah bayang-bayangi calon istri kamu dengan almarhumah Lenora! Kasihan perempuan itu kalau cuma kamu jadikan pelampiasan karena mirip!"Di dalam mobilnya yang melaju di jalan tol menuju Semarang, Dashel justru terkekeh rendah. Suara baritonnya terdengar amat tenang dan santai, menikmati kepanikan ibunya."Dashel! Kamu jangan kurang ajar, ya! Mama lagi bicara serius!" geram Dewi semakin kesal."Mama tenang aja," sahut Dashel dengan nada menggoda. "Akhir minggu ini, Dashel bakal bawa calon istri Dashel ke rumah. Mama siapkan penyambutan yang hangat, ya."Dewi menahan napas. "Dashel, kamu—""Dashel jamin, Mama bakal senang banget dapat menantu baru ini," sela Dashel mantap sebelum mengakhiri panggilan secara sepihak.Dashel meletakkan ponselnya di da

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 144: Dianggap Main-main

    Di kediaman megah keluarga Bradley, tiga bocah kembar melompat dari mobil, disambut angin sore yang dingin.Diana merentangakan tangan dengan cepat dan berlutut di hadapan ketiga keponakannya sebelum mereka melangkah masuk. Ia menatap Lucas, Liam, dan Lily bergantian."Dengar Tante, ya," bisik Diana. "Kalian jangan sampai bilang ke Oma sama Opa kalau Mama Lenora masih hidup. Mengerti?"Lily mengedipkan matanya dengan polos. "Kenapa, Tante Di? Kasihan Oma nggak tahu Mama udah pulang.""Nanti Oma sama Opa kaget banget, Sayang. Bisa-bisa Oma pingsan," jelas Diana, memasang wajah iba pada dua bocah laki-laki di sampingnya. "Kalian bisa simpan rahasia, kan?"Lucas menepuk dadanya, bersikap dewasa. "Tenang aja Tante Di! Aku kan agen rahasia!""Liam juga! Bibir Liam terkunci rapat kaya brankas Papa!" timpal Liam sambil memperagakan gerakan mengunci bibirnya dengan jemari kecilnya."Pintar," puji Diana, lega. "Ayo masuk."Ketiga bocah itu langsung berlari menuju pintu utama yang terbuka lebar

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 143: Habis Tak Bersisa

    Kepanikan menyeruak di taman belakang. Gina berteriak sambil memboyong tubuh Hartono yang terkulai lemas menuju mobil untuk dilarikan ke rumah sakit. Para tamu undangan berbisik-bisik. Mereka melangkah cepat meninggalkan kediaman mewah itu dengan pandangan sarat cemooh.Di tengah kekacauan itu, Dashel melangkah masuk ke rumah, menaiki tangga menuju lantai dua. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong keras pintu kamar Gladys hingga terbuka lebar.Gladys yang terduduk di kursi roda di tepi jendela tersentak. Wajahnya pucat pasi saat mendapati sosok Dashel berdiri di ambang pintu."Dashel?! Mau apa kamu ke sini?! Keluar!" jerit Gladys, jemarinya bergetar mencengkeram pegangan kursi rodanya.Dashel tak peduli. Pria itu tetap melangkah maju, memangkas jarak dengan tatapan mata hazel yang begitu dingin dan menusuk."Kamu sudah membuat aku dan Lenora terpisah selama lima tahun," ujar Dashel."Itu ... itu karena aku cinta sama kamu, Dash!" adu Gladys, air matanya mulai mengalir. "Aku cuma mau kamu

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 142: Pesta Ulang Tahun

    Beberapa hari kemudian, kediaman mewah keluarga Hartono sudah disulap megah. Karpet merah membentang dari pintu utama hingga ke area taman belakang, dihiasi ribuan bunga segar dan cahaya lampu gantung kristal yang elegan.Gina melangkah anggun masuk ke kamar putri tunggalnya. Ia menatap Gladys yang masih duduk termenung di kursi roda."Yakin kamu nggak mau turun, Sayang? Udah lah, datang aja," paksa Gina sambil membelai lembut bahu putrinya. "Orang-orang udah lupa sama kejadian itu. Gak bakal ada yang berani bully kamu."Gladys menghembuskan napas berat, matanya menyipit, takut. "Bukan gitu, Ma. Aku ... aku cuma takut Dashel atau keluarganya datang."

  • Dokter Dashel, Jangan! Ada Suamiku   Bab 141: Berpisah Lagi

    Dashel merapatkan tubuhnya di balik sofa, menahan napas ketika pintu ruang kerja Gina terdorong terbuka.Dua orang karyawan kebersihan melangkah masuk membawa perlengkapan sapu dan kain lap. Suara obrolan mereka terdengar samar di dalam ruangan yang hening."Minggu depan Dokter Gina ulang tahun, kamu udah siapin kado belum?" tanya salah satu karyawan sambil menyapu lantai."Belum, nih. Bingung mau kasih hadiah apa, Dokter Gina kan udah punya semuanya," sahut temannya sambil mengelap area meja kerja.Langkah kaki mereka makin mendekat ke arah sofa. Dashel menggepalkan tangannya, menyusutkan tubuhnya seminimal mungkin. Tepat saat sapu terulur nyaris menyentuh ujung sepatunya, suara dering telepon bergema dari lantai bawah."Telepon di bawah tuh, yuk turun dulu!" ajak salah satunya terburu-buru.Keduanya bergegas keluar dan menutup pintu kembali. Dashel menghembuskan napas lega yang sempat tertahan. Tanpa membuang waktu, ia bangkit dan melangkah cepat menuju lukisan besar yang menutup d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status