ANMELDENLenora melangkah cepat menaiki tangga sempit menuju lantai dua kosannya, napasnya terengah. Dashel setia mengikuti langkah wanita itu di belakangnya. Pria berpostur jangkung ini bahkan harus sedikit menunduk agar bahunya tidak membentur dinding tangga yang sempit, sementara tangannya terkepal menahan gejolak amarah melihat bagaimana wanita yang dicintainya harus berdesakan di tempat sesak ini.Sesampainya di depan pintu kamar paling ujung, Lenora membuka pintu, melepaskan sandalnya, lalu berbalik menatap Dashel."Kamu tunggu di sini. Jangan ikut masuk," tegasLenora.Dashel yang mengira ia akan langsung ditarik masuk ke dalam pelukan, pun mengerutkan kening tidak terima. Namun sebelum ia sempat mendesak, Lenora ke dalam.Tidak sampai dua menit kemudian, wanita hamil itu es batu terbungkus kain kasa."Buat lengan kamu yang kena pukul sapu tadi," kata Lenora, lalu menatap setelan jas mewah yang melekat di tubuh Dashel dari atas sampai bawah. "Kamu kenapa ke sini pakai jas rapi begini?
Malam itu, di rumah keluarganya, Dashel duduk tegak di kursi beludru di hadapan cermin besar. Di sampingnya, Diana berdiri memegang alat cukur elektrik dan gunting."Tenang aja, tanganku nggak bakal bikin kulit kamu lecet, Tuan. Bradley," ujar Diana menyeringai usai melihat raut tegang di wajah kembarannya."Jangan buat kulitku luka, Di. Kalau sampai ada goresan sedikit saja, kamu tahu akibatnya," ancam Dashel.Diana menepuk-nepuk pipi Dashel. Mulai menjalanakan misi mulianya."Astaga, lihat deh muka kamu kalau bersih gini. Asli, ketampanan kamu balik seratus persen. Mana ada dokter seganteng ini, cih."Dashel memutar bola matanya malas. Namun ia tetap diam membiarkan Diana merapikan potongan rambutnya menjadi rapi, bersih di sisi samping dan bervolume di atas. Janggut dan kumis tipis yang selama ini menghiasi rahang tegasnya dicukur bersih hingga kulitnya terasa licin dan segar.Selesai, Dashel menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Sosok berantakan selama empat bulan terakhir t
Beberapa saat sebelumnya...Selesai dengan urusan kuliahnya yang menguras tenaga, Lenora bergegas menuju gedung Pengadilan Agama. Pesan singkat dari pengacara, memintanya datang.. Ia tidak menyangka prosesnya akan berjalan secepat ini, terutama setelah ia dengan tegas dan tanpa ragu menolak segala bentuk mediasi.‘Ternyata inilah rasanya menggunakan jasa pengacara profesional yang mahal,’ batin Lenora sambil tersenyum tipis.Ia terkekeh pelan dalam hati, merasa ironis. Tidak pernah sekalipun terbayang dalam hidupnya bahwa ia akan menginjakkan kaki di tempat menyeramkan seperti ini—mengurus perceraian dari pria yang dulu ia nikahi dengan sejuta luka.Memikirkan itu hormon kehamilannya melonjak membuat lidahnya begitu sensitif dan mood-nya berubah-ubah dalam hitungan detik. Tenggorokannya terasa kering dan ngidam makanan yang asam segar. Kebetulan, tepat di seberang gedung pengadilan, ada seorang pedagang buah gerobakan. Lenora memborong cukup banyak mangga muda itu, bukan hanya untuk
Dashel terengah di depan pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Sudut bibirnya melengkung ke atas. Bahkan ia sempat menyugar rambutnya sedikit, tidak lain untuk merapikannya, berantakan akibat scrub operasi.Dashel mendorong pintu itu lebih lebar. Wanita berambut panjang duduk membelakanginya. Namun dari warna cokelat gelapnya yang sama persis seperti miliknya, membuat ia mendengkus dan mengepalkan tangan.“Mau apa kamu ke sini, Di?” tegur Dashel, suaranya terdengar jenuh.Wanita yang duduk membelakangi itu menoleh dengan senyum lebar. Diana—kembarannya.Dashel mendekat dan memukul lengan kembarannya pelan. “Kamu ini!”“Tentu jemput kamu, Dash. Sudah empat bulan ini kamu gak pulang ke rumah. Mama kangen sama kamu, pulang yuk,” bujuk Diana.Dashel menolak mentah-mentah. “Aku sibuk, jadwal operasi lagi padat-padatnya.”“Dash, kamu jangan begitu. Hidup bukan cuma tentang kerja. Kamu kurus banget, tahu gak?” Diana mulai menasihati panjang lebar, mengeluhkan kesehatan Dashel yang nampak sep
Empat bulan berlalu sejak malam penuh kebohongan yang menghancurkan hidup Gladys. Bahkan wanita itu mengundurkan diri dari rumah sakit, lantaran tak kuat menanggung cibiran dari seluruh staff di ruamh sakit.Di tempat lain, Lenora, sebagai mahasiswi baru yang usianya tidak lagi muda, harus berjuang ekstra keras beradaptasi. Terlebih, kehamilannya kini telah memasuki bulan-bulan krusial. Tiga janin tumbuh pesat di dalam rahimnya, membuat perutnya membuncit besar dan membuat gerakannya melambat. Napasnya sering kali tersendat, dan punggungnya terasa mau patah setiap kali ia harus duduk berjam-jam mendengarkan dosen.Lenora mengusap lembut perutnya yang buncit. Ia berbisik, "Sayang-sayang Ibu ... tolong, ya, kali ini jangan rewel. Bantu Ibu bertahan sebentar lagi, ya?" Selesai kelas, Lenora menjinjing tas laptop kesayangannya, alatnya untuk mencari uang. Jika ada waktu luang di sela-sela jadwal kuliah, ia selalu membuka laptopnya di perpustakaan untuk mengerjakan proyek freelance daring
Dashel mendengkus. Begitu mengenali wajah itu, darah Dashel jelas menjadi mendidih.Pria itu—Gio.Seseorang dari masa lalu Gladys yang wajahnya terukir jelas dalam ingatan Dashel. Pria yang dulu sering berkeliaran di dekat rumah lama mereka, berkedok sebagai "teman setia" yang selalu siap membantu Gladys di kala Dashel sibuk di rumah sakit.Gio sempat terperanjat melihat Dashel berdiri di hadapannya, bahkan berniat mengulurkan tangan untuk meraih lengan Dashel. Namun, karena jijik ia menepis kasar tangan itu."G-Gladys … di–dia apa benar dia keguguran?" tanya Gio terbata-bata, napasnya memburu cemas.Dashel menatap pria itu dari atas sampai bawah dengan senyum miring."Hm. Anak kalian sudah tiada," ujar Dashel, datar tanpa ekspresi.Tanpa mempedulikan wajah Gio yang langsung memucat, Dashel menoleh pada seorang perawat yang berjaga di meja informasi."Biarkan dia masuk!" perintah Dashelpada perawat itu.Mendengar izin dari wakil diretur, perawat mengangguk tegas.Sedangkan pria bernama







