MasukDashel mengangkat alis. “Kalian ini bicara apa?”“Papa lihat sendiri!” Liam menunjuk jas yang dikenakan ayahnya. “Kalau Papa ganteng begini, nanti semua orang malah lihat Papa sama Mama. Terus kita gimana?”Dashel menahan tawa. “Memangnya kalian mau bersaing sama Papa?”“Bukan bersaing!” Lucas buru-buru membela diri. “Kita juga harus kelihatan keren di depan tamu!”“Ya sudah, kalian juga rapikan baju masing-masing. Jangan sampai kalah rapi sama Papa.”Kedua anak itu langsung sibuk memeriksa pakaian mereka sendiri. Dashel menggeleng geli melihatnya.Namun, ketika teringat bahwa Lenora sedang menunggunya di kamar rias, senyumnya kembali mengembang.“Sudah, sekarang Papa mau menjemput Mama kalian.”Tanpa menunggu komentar kedua putranya, Dashel melangkah keluar kamar.Begitu pintu kamar rias terbuka, Dashel langsung berhenti.Tampak Lenora sedang berdiri sambil menggendong Lily. Gaun putih yang dikenakannya tampak anggun, dan senyum lembut di wajahnya membuat Dashel tak mampu segera meng
Dua minggu berlalu begitu cepat. Pagi itu, kediaman keluarga Bradley tampak berbeda dari biasanya. Bunga-bunga putih dan krem menghiasi sudut ruangan, sementara rangkaian bunga segar mempercantik lorong menuju ruang utama.Tak ada pesta besar atau para tamu yang memenuhi halaman. Sesuai kesepakatan, Dashel dan Lenora memilih menikah secara sederhana, hanya dihadiri keluarga dan kerabat terdekat.Di kamar rias … Lenora duduk di depan cermin sambil memandangi pantulan dirinya. Gaun pengantin putih dengan potongan sederhana membuat penampilannya terlihat anggun. Riasan tipis di wajahnya juga tak banyak mengubah penampilan alaminya.Meskipun sudah berusaha tenang sejak pagi, jantungnya tetap berdebar setiap kali teringat bahwa sebentar lagi dia akan resmi menjadi istri Dashel.Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Tiga kepala kecil mengintip dari baliknya sebelum ketiganya masuk dengan wajah penuh rasa ingin tahu.Begitu melihat Lenora, Liam dan Lucas langsung berseru hampir bersamaa
Dewi menggenggam tangan Lenora sambil mengusap punggungnya dengan lembut. Di atas meja ruang keluarga kediaman Bradley, semangkuk sup hangat dan berbagai hidangan kesukaan Lenora sudah tersaji. Dewi bahkan menyiapkan beberapa makanan tambahan, seolah ingin menebus waktu bertahun-tahun yang terlewat tanpa kehadiran wanta itu.“Makan yang banyak, ya, Sayang. Mama lihat kamu lebih kurus dibanding dulu.” Dewi menatapnya penuh perhatian. “Selama ini kamu makan teratur, kan?”Lenora mengangguk kecil. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat perhatian yang diberikan Dewi kepadanya.“Terima kasih, Tante. Rasanya masih seperti mimpi bisa kembali ke sini.”Dewi tersenyum, lalu menepuk lembut tangan Lenora. “Hey, jangan tante, tapi mama! Sekarang kamu sudah pulang. Jangan sungkan kalau butuh apa-apa, ya.”Tak jauh dari mereka, Dashel bersandar di sofa sambil memperhatikan keduanya. Sebelum memasuki rumah tadi, ia sudah berpesan kepada seluruh anggota keluarga dan para pekerja rumah tangga agar t
Jemari Lenora gemetar. Ponsel yang menempel di telinganya terasa dingin dan licin oleh keringat. Di seberang saluran, napas Bu Lia terdengar memburu dan putus-putus."Mama ... Mama di mana sekarang?" suara Lenora bergetar, berusaha menahan panik."Di Jakarta, Nak! Di dekat... dekat Jalan Melati! Mama takut, Lenora. Tolong!"Lenora membalikkan badan, menatap Dashel yang berdiri di dekatnya. Batinnya berkecamuk antara rasa cemas sebagai anak dan kecurigaan atas kebetulan lokasi yang disebutkan ibunya—tahu, itu adalah rumah Gladys."Dash..." Lenora menelan ludah, matanya yang merambang menatap pria itu. "Mamaku butuh aku. Aku harus ke sana sebentar. Tolong..."Dashel menghela napas panjang. Manik hazel-nya menatap Lenora dalam-dalam, membaca ketakutan dan kebingungan di wajah wanita itu. Tanpa banyak bicara, pria itu mengangguk pelan."Ayo," sahut Dashel singkat, meraih kunci mobilnya.Ketika mobil mereka berhenti di pinggir jalan sepi yang ditunjukkan, sosok Bu Lia terlihat merapat di su
Di seberang saluran telepon, suara Dewi terdengar begitu sarat akan kecemasan seorang ibu."Dashel, dengarkan Mama," tegur Dewi dengan nada menasihati yang amat serius. "Kalau kamu memang mau menikah lagi, Mama izinkan. Tapi tolong, jangan pernah bayang-bayangi calon istri kamu dengan almarhumah Lenora! Kasihan perempuan itu kalau cuma kamu jadikan pelampiasan karena mirip!"Di dalam mobilnya yang melaju di jalan tol menuju Semarang, Dashel justru terkekeh rendah. Suara baritonnya terdengar amat tenang dan santai, menikmati kepanikan ibunya."Dashel! Kamu jangan kurang ajar, ya! Mama lagi bicara serius!" geram Dewi semakin kesal."Mama tenang aja," sahut Dashel dengan nada menggoda. "Akhir minggu ini, Dashel bakal bawa calon istri Dashel ke rumah. Mama siapkan penyambutan yang hangat, ya."Dewi menahan napas. "Dashel, kamu—""Dashel jamin, Mama bakal senang banget dapat menantu baru ini," sela Dashel mantap sebelum mengakhiri panggilan secara sepihak.Dashel meletakkan ponselnya di da
Di kediaman megah keluarga Bradley, tiga bocah kembar melompat dari mobil, disambut angin sore yang dingin.Diana merentangakan tangan dengan cepat dan berlutut di hadapan ketiga keponakannya sebelum mereka melangkah masuk. Ia menatap Lucas, Liam, dan Lily bergantian."Dengar Tante, ya," bisik Diana. "Kalian jangan sampai bilang ke Oma sama Opa kalau Mama Lenora masih hidup. Mengerti?"Lily mengedipkan matanya dengan polos. "Kenapa, Tante Di? Kasihan Oma nggak tahu Mama udah pulang.""Nanti Oma sama Opa kaget banget, Sayang. Bisa-bisa Oma pingsan," jelas Diana, memasang wajah iba pada dua bocah laki-laki di sampingnya. "Kalian bisa simpan rahasia, kan?"Lucas menepuk dadanya, bersikap dewasa. "Tenang aja Tante Di! Aku kan agen rahasia!""Liam juga! Bibir Liam terkunci rapat kaya brankas Papa!" timpal Liam sambil memperagakan gerakan mengunci bibirnya dengan jemari kecilnya."Pintar," puji Diana, lega. "Ayo masuk."Ketiga bocah itu langsung berlari menuju pintu utama yang terbuka lebar







