MasukSuhu di dalam laboratorium bawah tanah Krossvane terasa pengap, kontras dengan hawa sedingin es yang melanda permukaan ibu kota. Getaran akibat pusaran dimensi di atas membuat dinding-dinding beton berlapis timbal di ruang riset itu retak, menjatuhkan debu-debu putih ke atas meja laboratorium. "Duke Aslan, tahan pipa hidrolik utama ini! Jangan biarkan tekanannya turun!" teriak Catherine di antara kebisingan mesin. Gadis itu tidak lagi menangis. Rambut pirangnya diikat asal-asalan ke belakang, wajahnya coreng-moreng oleh oli hitam dan keringat. Jemarinya bergerak dengan kecepatan gila, menyatukan sirkuit-sirkuit perak kompresor cadangan Krossvane generasi terbaru yang ukurannya dua kali lebih besar dari yang digunakan Ashyel di Oakhaven. Aslan berdiri di sisi mesin, kedua tangan kekarnya mencengkeram pipa besi raksasa yang bergetar hebat. Mengabaikan sirkuit mananya yang menjerit kesakitan karena dipaksa menjadi penahan beban mekanis, sang Duke mengalirkan mana kegelapannya untuk m
Suhu di dalam Aula Dewan Tetua yang telah hancur total tidak lagi sekadar dingin, melainkan telah menyentuh titik beku yang mematikan. Udara bergetar hebat dalam frekuensi yang menyakitkan telinga. Sisa-sisa pilar marmer dan atap bangunan yang hancur akibat ledakan gelombang kejut dimensi kini melayang-layang di udara, seolah-olah hukum gravitasi di tempat itu telah mati bersama hilangnya raga Viscount Ashyel. Duke Aslan masih berlutut di tempatnya. Kedua telapak tangannya menempel pada lantai marmer yang retak, namun tangannya kini kosong. Tidak ada lagi tubuh hangat sang alkemis yang bisa ia dekap dalam pelukannya. Hanya ada sisa-sisa partikel uap tipis berwarna biru keperakan yang beraroma mint dan belerang. Partikel itu perlahan menguap, menyelinap di antara jemarinya yang bergetar hebat, sebelum akhirnya lenyap tak berbekas ke dalam hampa. "Ashyel..." Suara Aslan terdengar sangat pelan, hampir berupa bisikan lirih yang langsung tertelan oleh gemuruh mengerikan dari pusaran di
Rantai bayangan hitam pekat milik Duke Aslan menyeret tubuh Marquess Volkan yang sudah tak berdaya, melewati gerbang emas Istana Dalam yang biasanya dijaga ketat. Logam mulia pada gerbang itu kini penyok, menjadi saksi bisu sapuan badai mekanis yang tak terbendung. Di belakang mereka, ratusan pengawal internal Krossvane yang dipimpin langsung oleh Arthur dan Catherine berkuda dengan formasi barisan yang rapat. Senjata-senjata mekanis bersistem uap pneumatik di tangan mereka terkancing kokoh dalam posisi terkokang, siap memuntahkan peluru korosif kapan saja.Penampilan mereka yang dingin, berlumur debu perbatasan, dan sepenuhnya tanpa kompromi seketika melumpuhkan mental serta keberanian para ksatria penjaga istana yang tersisa. Tidak ada yang berani mengangkat senjata; mereka semua mundur ke dinding dengan napas tertahan.Sementara itu, di dalam Aula Dewan Tetua, suasananya sangat gaduh bagai pasar malam. Puluhan bangsawan tinggi dari Faksi Volkan, Faksi Netral, hingga perwakilan wil
Hening mencekam seketika mengunci pelataran kompleks laboratorium Krossvane. Ratusan ksatria dari Ordo Pengawal Kekaisaran terpaku di tempat, tangan mereka yang memegang gagang pedang mendadak basah oleh keringat dingin. Aura mana kegelapan milik Duke Aslan tidak hanya menurunkan suhu udara, tetapi juga menekan sirkuit mana di dalam tubuh mereka, membuat aliran energi mereka tersendat bagai air yang membeku.Marquess Volkan mengeratkan cengkeramannya pada jubah bulunya. Ego dan ambisi politiknya yang telanjur membubung tinggi menolak untuk runtuh begitu saja di hadapan dua pemuda ini."Ashyel! Aslan!" Volkan berteriak, mencoba mengusir getaran ketakutan dari suaranya sendiri. "Kalian pikir kalian bisa melawan seluruh Ordo Pengawal Kekaisaran? Komandan! Jangan gentar! Mereka hanya berdua! Eksekusi perintah penyitaan sekarang juga!"Komandan berbaju zirah emas, yang dikenal sebagai Sir Galahad sang Pemecah Tembok, menggeram. Ia menarik pedang besarnya yang dialiri mana atribut tanah ber
Asap hitam tipis membubung dari barikade darurat di depan gerbang utama Laboratorium Pusat Krossvane di ibu kota. Bau hangus dari gesekan peluru statis dan sisa-sisa sihir pembatas yang hancur masih melekat pekat di udara. Suasana begitu mencekam, sedingin es yang siap retak kapan saja. Ratusan ksatria berbaju zirah perak mengkilap dari Ordo Ksatria Pengawal Kekaisaran telah mengepung seluruh kompleks riset, berdiri rapat dengan perisai berat membentuk barisan barikade yang rapat, dipimpin langsung oleh perwakilan Faksi Marquess Volkan."Arthur! Menyingkirlah! Ini adalah perintah resmi penyitaan aset demi keamanan kekaisaran pasca-ledakan!" seru seorang komandan berbaju zirah emas, suaranya menggema penuh keangkuhan di antara desau angin ibu kota.Arthur berdiri di garis depan dengan napas terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Pedangnya sudah terhunus, kedua tangannya bergetar bukan karena takut, melainkan karena kelelahan setelah menahan tiga gelombang provokasi kecil sebe
"Lucia!"Aslan melompat dari atap sesaat setelah jaring kegelapannya hancur berkeping-keping. Lengannya yang kokoh menangkap tubuh sang Saintess sebelum gadis itu menghantam tanah berbatu. Wajah Lucia sepucat kain kafan, sementara sirkuit mananya bergetar hebat akibat rebound energi murni yang dipaksakan. Darah segar yang mengalir di sela bibirnya kontras dengan jubah suci putihnya yang kini ternoda debu.Di langit, pusaran ungu yang sempat tertahan kini mengancam turun seperti air bah yang siap menenggelamkan Oakhaven. Tekanan atmosfer meningkat drastis, membuat dada siapapun terasa sesak. Batuan kristal di kulit warga yang baru saja meredup, kini mulai memancarkan pendaran aneh lagi, seolah merespons panggilan dari langit."Ashyel! Kompresornya tidak akan kuat menahan gelombang kedua! Batas toleransi tekanannya sudah habis!" teriak Aslan sembari menahan denyut mana kegelapannya agar tidak lepas kendali dan melukai warga sekitar.Ashyel tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju
Pagi itu, langit di atas kediaman Liora tampak abu-abu, seolah turut merasakan beratnya perpisahan. Di depan gerbang utama, sebuah kereta kuda hitam mewah dengan ukiran singa perak khas keluarga Krossvane telah menunggu. Di sampingnya, berdiri seorang ksatria tegap dengan zirah yang berkilau tert
Suara roda kereta kuda yang menggilas jalanan berbatu menuju kediaman Liora terdengar seperti detak jam kematian bagi siapa pun yang mendengarnya. Langit sore yang berwarna jingga kemerahan menambah kesan dramatis pada bangunan megah bergaya Gothic tersebut. Biasanya, kediaman ini penuh dengan ta
Suasana di dalam tenda utama mendadak mencekam, hanya menyisakan suara deru napas berat sang Duke dan dentingan alat medis darurat yang dibawa Ashyel. Bau anyir darah yang tadinya menusuk, kini perlahan tertutup oleh aroma peony yang tenang dari tubuh gadis di depannya. Aslan mencengkeram pingg
Setelah keributan di depan cermin mereda, Ashyel-yang jiwanya kini telah ditempati Labella-melangkah keluar dari kamar. Ia harus segera menyusun rencana sebelum algojo datang mengetuk pintu. Di ruang tamu utama, ia disambut oleh suasana yang lebih mirip rumah duka. Viscount Bastian van de Liora







