MasukMatahari pagi menyiram ibu kota dengan cahaya yang terlalu terang untuk kota yang baru saja sekarat. Asap tipis masih membubung dari tumpukan puing, berbaur dengan deru kereta kuda militer dan denting sekop para prajurit yang mulai membersihkan jalanan. Kehidupan berdenyut kembali, namun dengan ritme yang pincang.Di bawah tanah, hawa dingin laboratorium Krossvane terasa berbeda. Bukan lagi dingin yang protektif, melainkan dingin yang mati. Langkah kaki Aslan dan Catherine bergema konstan saat mereka menyusuri lorong beton. Namun, langkah mereka terhenti tepat di depan pintu besi ruang penyimpanan utama.Dua baris rantai baja tebal melilit tuas pintu, dikunci dengan segel lilin merah berlambang burung maritim—simbol otoritas yudisial tertinggi kekaisaran. Empat orang prajurit dengan zirah perak berdiri tegak di depannya, menondongkan tombak secara horizontal."Ruang ini berada di bawah yurisdiksi penuh Dewan Kekaisaran. Siapa pun dilarang masuk,"
Bau mint dan belerang perlahan terbawa angin sore, digantikan oleh aroma tanah basah dan debu beton yang memenuhi udara. Di sepanjang jalan utama ibu kota, jutaan serpihan kristal dimensi yang sebelumnya memenuhi langit kini jatuh perlahan, berkilauan ketika terkena cahaya matahari yang mulai menembus awan. Pemandangan itu terlihat indah. Namun semua orang tahu, keindahan tersebut lahir dari sesuatu yang hampir membawa mereka menuju kematian. Pintu-pintu bunker bawah tanah dan tempat perlindungan sihir mulai terbuka dengan suara derit yang berat. Satu per satu, warga keluar dengan langkah ragu. Beberapa masih gemetar. Sebagian lainnya bahkan belum berani percaya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Kemudian terdengar tangisan. Seorang ibu berlari memeluk anaknya yang ditemukan di dekat barikade. Beberapa prajurit saling merangkul dengan pelindung dada yang retak. Ada pula warga yang langsung berlutut di jalan, mengucap syukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup. Ta
Suhu di dalam laboratorium bawah tanah Krossvane terasa pengap, kontras dengan hawa sedingin es yang melanda permukaan ibu kota. Getaran akibat pusaran dimensi di atas membuat dinding-dinding beton berlapis timbal di ruang riset itu retak, menjatuhkan debu-debu putih ke atas meja laboratorium. "Duke Aslan, tahan pipa hidrolik utama ini! Jangan biarkan tekanannya turun!" teriak Catherine di antara kebisingan mesin. Gadis itu tidak lagi menangis. Rambut pirangnya diikat asal-asalan ke belakang, wajahnya coreng-moreng oleh oli hitam dan keringat. Jemarinya bergerak dengan kecepatan gila, menyatukan sirkuit-sirkuit perak kompresor cadangan Krossvane generasi terbaru yang ukurannya dua kali lebih besar dari yang digunakan Ashyel di Oakhaven. Aslan berdiri di sisi mesin, kedua tangan kekarnya mencengkeram pipa besi raksasa yang bergetar hebat. Mengabaikan sirkuit mananya yang menjerit kesakitan karena dipaksa menjadi penahan beban mekanis, sang Duke mengalirkan mana kegelapannya untuk m
Suhu di dalam Aula Dewan Tetua yang telah hancur total tidak lagi sekadar dingin, melainkan telah menyentuh titik beku yang mematikan. Udara bergetar hebat dalam frekuensi yang menyakitkan telinga. Sisa-sisa pilar marmer dan atap bangunan yang hancur akibat ledakan gelombang kejut dimensi kini melayang-layang di udara, seolah-olah hukum gravitasi di tempat itu telah mati bersama hilangnya raga Viscount Ashyel. Duke Aslan masih berlutut di tempatnya. Kedua telapak tangannya menempel pada lantai marmer yang retak, namun tangannya kini kosong. Tidak ada lagi tubuh hangat sang alkemis yang bisa ia dekap dalam pelukannya. Hanya ada sisa-sisa partikel uap tipis berwarna biru keperakan yang beraroma mint dan belerang. Partikel itu perlahan menguap, menyelinap di antara jemarinya yang bergetar hebat, sebelum akhirnya lenyap tak berbekas ke dalam hampa. "Ashyel..." Suara Aslan terdengar sangat pelan, hampir berupa bisikan lirih yang langsung tertelan oleh gemuruh mengerikan dari pusaran di
Rantai bayangan hitam pekat milik Duke Aslan menyeret tubuh Marquess Volkan yang sudah tak berdaya, melewati gerbang emas Istana Dalam yang biasanya dijaga ketat. Logam mulia pada gerbang itu kini penyok, menjadi saksi bisu sapuan badai mekanis yang tak terbendung. Di belakang mereka, ratusan pengawal internal Krossvane yang dipimpin langsung oleh Arthur dan Catherine berkuda dengan formasi barisan yang rapat. Senjata-senjata mekanis bersistem uap pneumatik di tangan mereka terkancing kokoh dalam posisi terkokang, siap memuntahkan peluru korosif kapan saja.Penampilan mereka yang dingin, berlumur debu perbatasan, dan sepenuhnya tanpa kompromi seketika melumpuhkan mental serta keberanian para ksatria penjaga istana yang tersisa. Tidak ada yang berani mengangkat senjata; mereka semua mundur ke dinding dengan napas tertahan.Sementara itu, di dalam Aula Dewan Tetua, suasananya sangat gaduh bagai pasar malam. Puluhan bangsawan tinggi dari Faksi Volkan, Faksi Netral, hingga perwakilan wil
Hening mencekam seketika mengunci pelataran kompleks laboratorium Krossvane. Ratusan ksatria dari Ordo Pengawal Kekaisaran terpaku di tempat, tangan mereka yang memegang gagang pedang mendadak basah oleh keringat dingin. Aura mana kegelapan milik Duke Aslan tidak hanya menurunkan suhu udara, tetapi juga menekan sirkuit mana di dalam tubuh mereka, membuat aliran energi mereka tersendat bagai air yang membeku.Marquess Volkan mengeratkan cengkeramannya pada jubah bulunya. Ego dan ambisi politiknya yang telanjur membubung tinggi menolak untuk runtuh begitu saja di hadapan dua pemuda ini."Ashyel! Aslan!" Volkan berteriak, mencoba mengusir getaran ketakutan dari suaranya sendiri. "Kalian pikir kalian bisa melawan seluruh Ordo Pengawal Kekaisaran? Komandan! Jangan gentar! Mereka hanya berdua! Eksekusi perintah penyitaan sekarang juga!"Komandan berbaju zirah emas, yang dikenal sebagai Sir Galahad sang Pemecah Tembok, menggeram. Ia menarik pedang besarnya yang dialiri mana atribut tanah ber
Ashyel menendang pintu ruang kerja Duke dengan ujung sepatunya karena kedua tangannya sibuk memegang nampan besar. BRAKK! Aslan yang sedang fokus memetakan strategi militer di atas meja kayu besarnya tersentak. Pena bulunya mencoret kertas dokumen penting karena kaget. Ia mendongak, matanya ber
Ashyel sedang mencuci tangannya saat Aslan masuk ke ruangan medis. Wajah pria itu lebih kaku dari biasanya, seolah ada badai yang sedang tertahan di balik mata merahnya. "Kita tidak akan pergi," ucap Aslan tanpa basa-basi, meletakkan surat undangan itu di meja kayu yang penuh dengan botol obat.
Kegembiraan Ashyel luntur seketika saat kereta kuda mereka memasuki distrik bawah kota yang kumuh. Di sana, di sebuah gang yang berbau sampah dan air limbah, ia melihat pemandangan yang menghancurkan insting medisnya. Tiga orang preman jalanan bertubuh besar sedang menendang sekumpulan anak-anak.
Keheningan Istana Krossvane di jam lima pagi terasa sangat menekan, seperti beratnya beban yang dipikul oleh pemiliknya. Labella, yang kini mendiami tubuh Ashyel, terbangun dengan peluh dingin yang membanjiri lehernya. Mimpi tentang cairan hitam itu terasa terlalu nyata untuk dianggap sekadar







