"Kamu bisa lihat sendiri giginya bermasalah, 'kan? Tahu kenapa?" Timmy melemparkan setumpuk laporan ke arah kakakku dengan penuh amarah."Karena dia bekerja terlalu keras selama bertahun-tahun! Usianya masih muda, tapi imunitas tubuhnya menurun drastis sampai terkena leukemia!"Kakakku tiba-tiba mengangkat kepalanya dengan air mata yang mengalir deras. "Apa kamu bilang?""Tapi dia nggak pernah berniat untuk mengobati dirinya sendiri. Ketidakpercayaan dan dinginnya sikapmu membuatnya lebih putus asa daripada penyakit itu sendiri!"Timmy memandangnya dengan penuh penghinaan, lalu melemparkan sebuah kotak paket ke hadapannya. "Tahu apa yang ada di dalam ini? Surat kepemilikan rumah atas namamu dan seluruh tabungannya!""Bahkan saat dia menyerah sama pengobatan, dia masih memikirkanmu, kakak yang berengsek ini! Kamu malah membuangnya begitu saja! Apa yang membuatmu pantas menerima semua ini?!"Di tengah teriakan penuh amarah Timmy, kakakku berdiri dengan tatapan kosong. Setelah itu, dia me
Udara di ruangan itu mendadak terasa membeku. Kakakku tertegun, matanya penuh kebingungan saat berbalik, "Mana mungkin ....""Aku nggak melakukannya, Kak!" Fifi menggelengkan kepala dengan mata penuh air mata. "Kakak harus percaya padaku.""Bukti sudah jelas! Semua sandiwara ini nggak akan mengubah kenyataan!" teriak Timmy dengan marah.Namun, melihat ekspresi tak berdaya Fifi, kakakku langsung mengesampingkan keraguannya, lalu berbalik dan memeluknya untuk menenangkan, "Aku percaya padamu. Jangan takut ....""Pfft!" Sebuah pisau bedah kecil tiba-tiba ditancapkan ke dada kakakku."Sial!" Timmy yang melihat punggung kakakku goyah, langsung panik dan mengeluarkan pistolnya. "Fifi, jangan bergerak!"Kakakku menatap Fifi dengan wajah penuh ketidakpercayaan. "Ken ... kenapa ....""Karena aku mencintaimu, Kak." Fifi buru-buru mencabut pisau dari dadanya dan mengarahkannya ke leher kakakku, senyumnya berubah menjadi kejam."Dulu, akulah yang duluan menyukaimu. Tapi siapa sangka kakakku merebu
Sekarang, tidak akan ada lagi yang mengganggunya. Namun, Fifi menunjukkan ekspresi cemas dan memanggilnya dengan hati-hati, "Kak, apa Suzanne benar-benar dalam masalah?""Hmph, bahkan kalau dia dalam masalah, lalu kenapa? Bajingan seperti itu pantas mendapatkan akhir yang buruk, bukankah begitu?"Kakakku meniup tangan Fifi untuk memastikan tangannya tidak sakit. "Sudah malam. Pergi istirahat, aku yang akan bereskan meja ini.""Nggak, Kak. Kamu sudah lelah sekali belakangan ini. Hal kecil seperti ini biar aku saja yang urus."Fifi langsung membawa mangkuk sup ke dapur. Namun begitu dia tiba di dapur, ekspresinya langsung berubah menjadi dingin dan kejam, seperti sedang memikirkan sesuatu dengan cepat.Sementara itu, kakakku merasa sangat tersentuh oleh perhatian Fifi. Saat itulah, ketukan pintu kembali terdengar. Namun kali ini, ritmenya sangat berbeda ... pelan, lambat, dan terasa sangat aneh.Fifi segera keluar dari dapur, dengan ekspresi waspada di matanya."Biar aku yang buka pintun
Kurir itu menyerahkan sebuah kotak seukuran buku catatan kepada kakakku. "Ini paket Anda, tolong tanda tangan di sini.""Fifi, kamu beliin sesuatu untukku, ya?" Kakakku menandatangani paket itu, lalu membawanya kembali ke dalam rumah.Mata Fifi sempat menunjukkan sedikit keraguan, tetapi dia tetap tersenyum manis. "Nggak, Kak. Sebenarnya aku memang berencana menggunakan uang beasiswa untuk membelikan hadiah untukmu, tapi aku belum sempat memilih.""Uangmu itu simpan saja untuk masa depan, buat jadi mas kawin nanti. Jangan dihabiskan untuk hal-hal yang nggak perlu di Kakak." Barulah kakakku memperhatikan nama pengirim di paket itu. Nama itu adalah namaku.Wajah kakakku langsung berubah menjadi dingin. Dia membuka pintu lagi dan melemparkan paket itu keluar tanpa ragu. Aku melayang di dekatnya, menyaksikan semua itu. Rasanya seperti ada ribuan jarum menusuk hatiku Mungkin ... mati sebenarnya lebih baik.Kakakku kembali ke meja makan.Dengan wajah penasaran, Fifi bertanya, "Kenapa dibuang
"Tarah! Kak, tebak ini apa!" Fifi berlari kecil ke dapur sambil membawa sebuah mangkuk kecil untuk merebus sup.Kakakku sebenarnya sudah tahu, tapi dia tetap berpura-pura terkejut dan tersenyum, "Apa itu? Wanginya enak sekali.""Ini sup akar ginseng yang kumasak untukmu." Fifi membuka tutup mangkuk itu dengan wajah penuh perhatian. "Akhir-akhir ini kamu sering lembur, tubuhmu pasti capek. Kamu harus menjaga kesehatanmu.""Maaf ya, Fifi. Akhir-akhir ini Kakak jarang meluangkan waktu untukmu." Kakakku menerima mangkuk kecil yang diambilkan Fifi, terlihat sangat tersentuh.Fifi menopang dagunya dengan kedua tangan. "Nggak apa-apa, Kak. Cepat diminum." Kakakku mengangguk dan mulai menyeruput sup itu. Saat itulah, bel pintu berbunyi. Fifi sedikit mengernyitkan dahi.Kakakku segera meletakkan mangkuk itu. "Kamu pasti capek habis jalan-jalan. Duduk saja, aku yang buka pintunya.""Permisi, maaf mengganggu, Pak Darren!" Orang di luar pintu mengenakan kaus oblong dan celana pendek. Di tangannya
Timmy buru-buru memberikan ponsel dan MP3 itu kepada kakakku untuk dilihat. Namun, kakakku menepisnya hingga jatuh ke tanah dengan marah."Kamu benar-benar nggak ngerti apa yang kubilang?! Aku sudah bilang, apa pun yang terjadi sama dia, nggak ada hubungannya denganku! Sekarang, aku mau pergi menemani adikku nonton film. Kalau kamu masih terus memaksaku, aku akan ....""Darren!" Timmy turun dari mobil dan berteriak keras memanggil nama lengkap kakakku."Kematian Yani membuatmu terus hidup dalam penderitaan, aku bisa mengerti itu." Mata Timmy memerah karena marah, tinjunya mengepal semakin erat. "Tapi sekarang Suzanne mungkin dalam bahaya! Memastikan keamanannya adalah tugas kita sebagai polisi. Ini dua hal yang sama sekali berbeda!""Lihatlah dirimu sekarang! Di mana sosok ahli forensik yang selalu tenang itu?"Kakakku hanya tertawa dingin. "Kalau menurutmu ada orang lain yang lebih tenang, suruh saja dia yang membantu menyelesaikan kasus ini. Aku nggak mau lagi."Dia mengeluarkan kart