Share

Chapter 6

Author: Papa Buaya
last update publish date: 2026-02-28 05:52:50

Jay sampai di ruang perawatan Veel bersama Dokter Idris. Martinus sudah lebih dulu pergi.

Jay melihat kedua mertuanya sudah kembali. Wajah mereka menyembunyikan sesuatu. Namun, Jay tidak peduli. 

Seorang perawat mematikan lampu merah yang berkedip. Perawat satunya lagi sudah berdiri di samping Dokter Idris, bersiap membantu.

“Dokter, tolong periksa anak saya,” pinta Jay pada Dokter Idris. 

Tatapan mereka beradu sesaat, lalu Jay mengangguk singkat.

Dokter Idris menoleh pada perawat. Perawat itu segera mendekati kedua mertua Jay.

Perawat berkata, “Tuan dan Nyonya, silakan tunggu di luar.”

Kedua mertua Jay tidak membantah. Mereka keluar dengan patuh.

Pandangan Jay tertuju pada Veel yang terbaring lemah. “Menjauhlah dari ranjang!”

Kedua perawat dan Dokter Idris terkejut. Mereka melihat Jay sudah lebih dulu memeriksa denyut nadi Veel dengan gerakan cepat dan terlatih.

Dokter Idris berniat mengambil alih. “Tuan, biar saya yangー”

Jay menghentikan pemeriksaannya dan melirik sinis. 

“Kamu nggak ngerti perintahku?!” bentak Jay. “Kalo kamu menghalangi pengobatanku, nyawa Veel nggak akan tertolong.”

Dokter Idris berada dalam posisi sulit. Jay memang seorang dokter, tetapi dia bukan bagian dari tim medis yang menangani kanker tulang Veel.

Tidak ingin menyinggung pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, Dokter Idris membungkuk hormat di hadapan Jay.

“Tuan, Anda nggak paham kondisi Nona Muda. Tolong jangan gegabah.”

Kedua perawat ikut menundukkan kepala. Mereka adalah perawat senior yang Jay rekrut dari Issac Hospital Pusat di kota Redlock. Jadi, mereka berdua sudah tahu identitas Jay yang luar biasa. 

“Benar, Tuan. Kami juga akan merawat Nona Muda dengan segenap hati,” tambah salah satu dari mereka. 

Karena Jay masih terdiam, Dokter Idris berkata lagi, “Saya akan melakukan yang terbaik. Sayaー”

Jay tidak membalas ucapan Dokter Idris. Sorot matanya tajam dan seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Veel yang terbaring pucat di atas ranjang.

Jay berbisik di telinga putrinya, “Veel, bertahanlah sebentar. Ayah akan menyembuhkan kamu.” 

Monitor di samping ranjang menunjukkan denyut yang tidak stabil. Napas Veel pendek, bahkan terputus-putus. 

Jay mengangkat tangan kanan putrinya, merasakan suhu kulitnya. Lalu dia menekan ringan pada arteri radialis. 

Jay memahami sesuatu. ‘Detaknya lemah dan ritmenya kacau.”

Dokter Idris menelan ludah. “Tuan, mohon izin. Saya—”

Jay mengangkat tangan tanpa menoleh. Isyarat tegas agar tidak ada yang mendekat.

Kamar perawatan 317 mendadak sunyi. Hanya suara mesin monitor yang memecah ketegangan.

Jay menyibakkan selimut. Tangannya menengadah. “Senter!”

Dokter Idris hanya bisa menurutinya. Dia memberikan senter yang dibutuhkan Jay.

Jay memeriksa pupil Veel dengan senter kecil. Refleksnya lambat. Dia mengerutkan kening, lalu memejamkan mata sejenak seolah sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Di dalam benak Jay, muncul lembaran-lembaran teknik medis yang dia dapatkan dari kitab medis kuno.

‘Integrasi anatomi modern dan stimulasi saraf tradisional,’ gumam Jay, dalam hati.

Jay membuka mata.

“Siapin alkohol swab dan jarum akupunktur ukuran 0,25 milimeter.”

Meskipun ragu, perawat pertama refleks bergerak. “Baik, Tuan.”

Karena pagi ini terlalu sibuk mengurusi Lisa dan nenek Melati, Jay belum sempat membeli perlengkapan jarum akupuntur.

Dokter Idris mematung. “Akupunktur? Anda mau melakukan akupuntur saat kondisi Nona Veel kritis begini?”

Jay akhirnya menoleh. Tatapannya dingin. “Teknik Harmonisasi Anatomi Meridian.”

Dokter Idris terdiam. Dia pernah mendengarnya. Itu adalah metode eksperimental yang menggabungkan stimulasi titik saraf dalam dengan pemetaan vaskular presisi tinggi.

Belum sempat Dokter Idris bertanya, Jay melanjutkan, “Metode Inti Meridian.”

Kedua perawat saling pandang. Mereka belum pernah melihat metode akupuntur Inti Meridian secara langsung.

Jay menerima jarum yang telah disterilkan. Tangannya tidak gemetar sedikit pun.

Jay memulai dari titik di antara ibu jari dan telunjuk tangan Veel. “Hegu,” gumamnya. 

Jarum menembus kulit dengan sudut presisi. Titik Hegu mempengaruhi respons sistem saraf dan membantu regulasi sirkulasi juga respons otonom. Jay tahu, titik Hegu cocok untuk menstabilkan kondisi kritis.

Monitor berdetak sedikit lebih teratur.

Lalu Jay berpindah ke titik Neiguan di pergelangan tangan bagian dalam. “Stabilisasi irama jantung dan sirkulasi perifer.”

Jay seolah berbicara pada dirinya sendiri. Padahal, dia mengikuti petunjuk yang ada di dalam benaknya. 

Dokter Idris tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Teknik Jay bukan sekadar menusukkan jarum. Setiap sudut, kedalaman, dan durasi tekanan dihitung berdasarkan denyut nadi yang dia rasakan langsung.

Jay menekan ringan di area bawah tulang selangka. Lalu menusukkan jarum di titik Yunmen. Setelah itu, dia bergerak cepat ke titik Zusanli di kaki.

“Dia mengalami penurunan energi sistemik karena stres berlebih,” ujar Jay tenang. 

Perawat kedua berbisik pada Dokter Idris, “Tuan Jay bahkan baca kondisi Nona Muda tanpa lihat hasil lab. Ini… mustahil.”

Dokter Idris mengangguk pelan.

Jay memejamkan mata lagi. Satu tangan tetap memegang pergelangan Veel. 

Dia menarik napas dalam, lalu menekan dua titik sekaligus. Yaitu Baihui di puncak kepala dan Danzhong di tengah dada dengan menggunakan teknik tekanan ritmis.

Dua detik berlalu. Monitor berbunyi lebih stabil.

Beep! Beep! Beep!

Irama yang tadi kacau mulai membentuk pola yang lebih teratur.

Perawat pertama terperanjat. “Detak jantungnya naik, stabil di angka 92!”

Tekanan darah yang tadi menurun, perlahan merangkak naik.

Jay belum berhenti. Dia memutar jarum dengan teknik rotasi mikro. Yaitu gerakan halus yang hampir tidak terlihat. 

“Aktivasi ulang jalur neurovaskular perifer,” katanya pelan.

Tangan kecil Veel yang tadi dingin mulai terasa hangat. Jay lega. 

Dokter Idris melangkah mendekat tanpa sadar. “Ini… ini seperti mengaktifkan kembali sistem saraf parasimpatis secara manual. Anda benar-benar hebat, Tuan.”

Jay menarik satu per satu jarum dengan gerakan halus. Lalu menekan bekas titiknya menggunakan kapas steril.

Beberapa detik kemudian, Veel menarik napas lebih dalam. Dada kecilnya naik turun dengan ritme yang jauh lebih stabil.

Kelopak mata Veel bergerak pelan. Lalu, terbuka perlahan. 

“Ayah…” 

Perawat kedua menutup mulutnya. “Nona Muda sudah sadar…”

Jay membungkuk cepat, menggenggam tangan putrinya. “Anak Ayah, Tenang ya. Ayah selalu di sini temani kamu, Veel pintar.”

Veel tersenyum. Dia selalu merasa aman saat Jay bersamanya.

Monitor kini menunjukkan angka-angka yang jauh lebih baik. Saturasi oksigen meningkat dan irama jantung stabil.

Dokter Idris memeriksa ulang dengan stetoskop. Setelah beberapa saat, dia menatap Jay dengan wajah tercengang.

“Kondisinya stabil. Ini … mustahil.”

Jay berdiri tegak. Wajahnya tetap dingin, tetapi setidaknya anaknya selamat. 

“Nggak ada yang mustahil kalo kamu paham anatomi tubuh lebih dari sekadar angka di monitor,” ujarnya datar.

Kedua perawat langsung membungkuk dalam-dalam. “Tuan luar biasa.”

Dokter Idris pun menunduk. “Saya akui. Saya belum pernah melihat teknik kayak gitu seakurat ini. Tapi…”

Dokter Idris ragu-ragu. Tapi, dia juga penasaran. 

“Tapi, Anda bukan lulusan Dokter Pengobatan Kuno. Anda Dokter Farmakologi Klinis. Gimana bisa Anda—”

Jay menatap Veel yang kini tertidur dengan napas teratur. “Ini baru stabilisasi awal. Besok aku akan meninjau ulang seluruh protokol terapinya.”

Jay berjalan ke arah wastafel, mencuci tangan. Di belakangnya, Dokter Idris masih berdiri terpaku.

Jay berujar, “Mulai sekarang, aku akan mengobati anakku sendiri. Jangan sampai ada yang tahu hal ini. Paham?”  

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 38

    Kali ini, reaksi Lisa bukan pura-pura. Itu adalah reaksi yang nyata.Lisa menoleh cepat ke arah Riani.“Apa aku pernah buat keputusan kayak gitu? Aku nggak merasa menghentikan dana pengobatan Veel. Aku sudah melakukannya sesuai permintaan Nenek.”Riani terlihat terkejut. Dia langsung membuka tablet di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri data.“Saya… saya nggak menemukan perintah resmi dari Anda, Bu,” jawabnya gugup.Melati menyipitkan mata.“Jadi kamu nggak tau?” suaranya rendah, tapi mengandung tekanan.Lisa menggeleng cepat. Lalu melirik jam tangannya. “Ini udah waktunya rapat harian. Aku—”Melati geram. “Apa nyawa anakmu nggak lebih penting daripada rapat? Asal kamu tau, Lisa. Kantor akan terus beroperasi tanpa kamu.”Lisa menjadi serba salah. Dia memang akan bercerai dengan Jay. Tapi Veel?Lisa telah bersusah payah untuk mendapatkan pengakuan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya, baru beberapa tahun ini dia mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari keluarga Cole.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 37

    Gedung utama Grup Cole berdiri di pusat kota Blackridge, tinggi, modern, dan terlihat dingin.Fasadnya didominasi kaca gelap yang memantulkan langit seperti cermin, membuat gedung itu tampak tak tersentuh dan berjarak.Logo Cole Group terpampang besar di bagian atas dengan desain minimalis namun tegas, melambangkan kekuasaan dan kontrol.Mobil hitam sedan berhenti tanpa suara di pintu samping.Pandu Darma menoleh ke belakang. “Nyonya, kita sudah sampai.”Liora turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Melati.“Silakan, Nyonya.”Melati turun perlahan. Hari ini, dia tidak ingin disambut oleh siapapun di kantor. Dia ingin melihat… apa yang sebenarnya terjadi!Begitu memasuki lobi, suasana langsung terasa berbeda. Melati langsung masuk ke lift menuju lantai 17, di sanalah ruangannya berada. Di Lantai 17. Beberapa karyawan yang melihatnya tampak terkejut. Ada yang buru-buru menunduk. Ada juga yang saling bertukar pandang. Seolah… mereka menyembunyikan sesuatu.Begitu melewati ruangan

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 36

    Keesokan hari di Mega Kemuning. Liora datang ke kamar Melati. Wajahnya lesu dan tatapannya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia berdiri di depan Melati. “Nyonya Besar,” sapa Liora.“Gimana? Yang ku suruh cari info, udah dapat belum?”Liora mengangguk. “Ini data yang Anda minta.”Liora menyerahkan sebuah dokumen hitam berisi data-data yang diinginkan Melati.“Bagus,” kata Melati. Melati meminum teh dengan anggun. Setelah kejadian semalam di pesta ulang tahunnya, Melati meminta Liora untuk menyelidiki keluarga Domani dan keluarga Boni. Karena Melati merasa, kedua keluarga tersebut sangat dekat dengan Jay. Melati hanya ingin menyelamatkan pernikahan cucunya. Jay adalah pria pendiam dan setia. Jadi Melati sangat yakin, Jay tidak pandai menggoda wanita. Sambil menundukkan kepala, Liora mulai melaporkan pekerjaannya. “Saya udah suruh anak buah menyebar dan mencari Nona Veel ke seluruh penjuru Issac Hospital. Tapi, mereka nggak menemukannya. Saat bertanya ke bagian administrasi, me

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 35

    “Tapi, diantara empat keluarga itu…”Jay tetap berdiri di depan jendela. Cahaya kota memantul samar di matanya yang gelap. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.Jay menggeleng tipis.“Yang lain… masuk akal. Keluarga Boni, Domani, Winata… mereka punya motif.”Dia berhenti sejenak.“Tapi keluarga Cole? Aku nggak yakin. Mereka nggak punya bisnis di kota Redlock. Nggak terlibat bisnis kotor.”Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan lebih berat.Martinus sedikit mengangkat kepala. “Tuan Muda, semua bukti—”“Aku bilang, nggak mungkin.”Kali ini tegas. Tidak keras, tapi tidak bisa dibantah.Dokter Idris melirik Jay sekilas. Dia tahu… ini bukan sekadar analisis. Ini sesuatu yang lebih dalam.Jay berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.“Keluarga Cole saat itu baru naik,” lanjutnya. “Mereka belum punya posisi untuk masuk ke lingkaran atas itu.”Martinus membuka salah satu berkas lagi, mencoba tetap objektif. “Justru karena itu, Tuan.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 34

    Setelah menyelimuti Veel dan memastikannya tidur nyenyak, Jay masuk ke ruang kerja yang terletak di ujung koridor Utara villa. Di sana, Martinus sudah menunggunya. “Tuan Muda,” sapa Martinus. Jay datang bersama Dokter Idris. Sementara Della sudah pergi beristirahat di kamarnya yang terletak di sebelah kamar Veel. Jay duduk di meja kerja. “Kapan sampai?” tanya Jay. Dia membakar rokok. “Dua jam lalu,” jawab Martinus.Mata Jay fokus menatap sebuah kotak hitam di depannya. Martinus menyodorkan kotaknya. “Semua ini adalah bukti terakhir yang didapatkan mata-mata kita sebelum tewas.”Asap rokok mengepul pekat di udara. Jay tidak langsung menyentuh isi kotak itu. Tatapannya diam, seolah sudah menebak bahwa apa yang ada di dalamnya… bukan sesuatu yang sederhana.Jay menjepit rokok di sela-sela bibirnya. Akhirnya, dia membuka kotaknya perlahan.“Ehm?” Isinya bukan rekaman modern. Tidak ada CCTV ataupun file digital yang mencolok.Yang ada… justru hanyalah potongan masa lalu.Dahi Dokter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 33

    “Dokter Hazel, makasih untuk bantuanmu malam ini.”Jay berkata dengan tulus. Dia berdiri di sisi mobil “Jangan sungkan begitu, Tuan Jay,” balas Hazel, ramah. “Udah larut. Ayo bawa Veel kembali ke rumah sakit.”Sesuai dengan rencana awal, Jay tidak membawa Veel kembali ke rumah sakit. Tetapi, membawanya pulang ke perumahan elite Bukit Rajawali Emas. Jay menggeleng. “Aku mau bawa Veel Pulang ke rumah kami.”Hazel sedikit bingung. Sebab menurut laporan dari asistennya, Jay dan Lisa sedang menghadapi perceraian. Apalagi, Jay sudah membawa Veel keluar dari rumah keluarga Cole. Jadi sebenarnya, ke mana Jay akan membawa anaknya pulang? Hazel tidak percaya. “Rumah? Maaf, kalo aku lancang. Tapi, bukannya selama ini kamu dan Veel tinggal di siniーdi rumah keluarga Cole? Dan, pengobatan Veelー”Jay tertawa pelan. “Aku punya rumah sederhana di tengah kota. Kalo nggak keberatan, nanti aku akan atur waktu untuk undang kamu datang makan bersama kami. Gimana?”“Mengenai pengobatan Veel, Dokter Idr

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 16

    Kamar Jay berada di lantai dua yang menghadap ke danau. Seperti kata Boy, pemandangan di sini benar-benar indah dan suasananya begitu tenang.Jay duduk di bawah jendela yang terbuka. Dia sedang mengamati beberapa gambar di layar laptop. Pak Umar datang mendekat. “Tuan, air rendaman sudah siap. Bat

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 20

    Issac Hospital.Lisa: Jay, di mana kamu?! Apa hakmu menghalangiku bertemu putriku sendiri?”Lisa: Kamu bener-bener brengsek!Jay sudah sampai di rumah sakit. Dia membaca chat dari istrinya tanpa niat untuk membalasnya. Dia mendengus dingin. Jay mengantongi ponselnya.“Setelah buang anakmu sendiri,

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 21

    Tidak ingin Jay salah paham, dan merasa direndahkan, Hazel langsung berkata, “Tuan, Jay. Dengan kemampuanmu, aku ingin mengundangmu secara pribadi ke acara lelang barang antik di salah satu konsorsium keluarga Domani.”Konsorsium properti milik keluarga Domani dikenal sebagai salah satu jaringan bi

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 22

    Jay memeriksa nadi Veel. Dia mengeluarkan tenaga dalamnya lagi. Perlahan tapi pasti, Jay mengobati Veel dengan kemampuannya. Setelah satu jam, tenaganya terkuras habis. Dia meminum air putih hangat dan langsung tidur di sofa panjang. Pagi harinya. Dokter Idris sudah datang memeriksa Veel. Dia se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status