LOGINJay sampai di ruang perawatan Veel bersama Dokter Idris. Martinus sudah lebih dulu pergi.
Jay melihat kedua mertuanya sudah kembali. Wajah mereka menyembunyikan sesuatu. Namun, Jay tidak peduli. Seorang perawat mematikan lampu merah yang berkedip. Perawat satunya lagi sudah berdiri di samping Dokter Idris, bersiap membantu. “Dokter, tolong periksa anak saya,” pinta Jay pada Dokter Idris. Tatapan mereka beradu sesaat, lalu Jay mengangguk singkat. Dokter Idris menoleh pada perawat. Perawat itu segera mendekati kedua mertua Jay. Perawat berkata, “Tuan dan Nyonya, silakan tunggu di luar.” Kedua mertua Jay tidak membantah. Mereka keluar dengan patuh. Pandangan Jay tertuju pada Veel yang terbaring lemah. “Menjauhlah dari ranjang!” Kedua perawat dan Dokter Idris terkejut. Mereka melihat Jay sudah lebih dulu memeriksa denyut nadi Veel dengan gerakan cepat dan terlatih. Dokter Idris berniat mengambil alih. “Tuan, biar saya yangー” Jay menghentikan pemeriksaannya dan melirik sinis. “Kamu nggak ngerti perintahku?!” bentak Jay. “Kalo kamu menghalangi pengobatanku, nyawa Veel nggak akan tertolong.” Dokter Idris berada dalam posisi sulit. Jay memang seorang dokter, tetapi dia bukan bagian dari tim medis yang menangani kanker tulang Veel. Tidak ingin menyinggung pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, Dokter Idris membungkuk hormat di hadapan Jay. “Tuan, Anda nggak paham kondisi Nona Muda. Tolong jangan gegabah.” Kedua perawat ikut menundukkan kepala. Mereka adalah perawat senior yang Jay rekrut dari Issac Hospital Pusat di kota Redlock. Jadi, mereka berdua sudah tahu identitas Jay yang luar biasa. “Benar, Tuan. Kami juga akan merawat Nona Muda dengan segenap hati,” tambah salah satu dari mereka. Karena Jay masih terdiam, Dokter Idris berkata lagi, “Saya akan melakukan yang terbaik. Sayaー” Jay tidak membalas ucapan Dokter Idris. Sorot matanya tajam dan seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Veel yang terbaring pucat di atas ranjang. Jay berbisik di telinga putrinya, “Veel, bertahanlah sebentar. Ayah akan menyembuhkan kamu.” Monitor di samping ranjang menunjukkan denyut yang tidak stabil. Napas Veel pendek, bahkan terputus-putus. Jay mengangkat tangan kanan putrinya, merasakan suhu kulitnya. Lalu dia menekan ringan pada arteri radialis. Jay memahami sesuatu. ‘Detaknya lemah dan ritmenya kacau.” Dokter Idris menelan ludah. “Tuan, mohon izin. Saya—” Jay mengangkat tangan tanpa menoleh. Isyarat tegas agar tidak ada yang mendekat. Kamar perawatan 317 mendadak sunyi. Hanya suara mesin monitor yang memecah ketegangan. Jay menyibakkan selimut. Tangannya menengadah. “Senter!” Dokter Idris hanya bisa menurutinya. Dia memberikan senter yang dibutuhkan Jay. Jay memeriksa pupil Veel dengan senter kecil. Refleksnya lambat. Dia mengerutkan kening, lalu memejamkan mata sejenak seolah sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh siapa pun. Di dalam benak Jay, muncul lembaran-lembaran teknik medis yang dia dapatkan dari kitab medis kuno. ‘Integrasi anatomi modern dan stimulasi saraf tradisional,’ gumam Jay, dalam hati. Jay membuka mata. “Siapin alkohol swab dan jarum akupunktur ukuran 0,25 milimeter.” Meskipun ragu, perawat pertama refleks bergerak. “Baik, Tuan.” Karena pagi ini terlalu sibuk mengurusi Lisa dan nenek Melati, Jay belum sempat membeli perlengkapan jarum akupuntur. Dokter Idris mematung. “Akupunktur? Anda mau melakukan akupuntur saat kondisi Nona Veel kritis begini?” Jay akhirnya menoleh. Tatapannya dingin. “Teknik Harmonisasi Anatomi Meridian.” Dokter Idris terdiam. Dia pernah mendengarnya. Itu adalah metode eksperimental yang menggabungkan stimulasi titik saraf dalam dengan pemetaan vaskular presisi tinggi. Belum sempat Dokter Idris bertanya, Jay melanjutkan, “Metode Inti Meridian.” Kedua perawat saling pandang. Mereka belum pernah melihat metode akupuntur Inti Meridian secara langsung. Jay menerima jarum yang telah disterilkan. Tangannya tidak gemetar sedikit pun. Jay memulai dari titik di antara ibu jari dan telunjuk tangan Veel. “Hegu,” gumamnya. Jarum menembus kulit dengan sudut presisi. Titik Hegu mempengaruhi respons sistem saraf dan membantu regulasi sirkulasi juga respons otonom. Jay tahu, titik Hegu cocok untuk menstabilkan kondisi kritis. Monitor berdetak sedikit lebih teratur. Lalu Jay berpindah ke titik Neiguan di pergelangan tangan bagian dalam. “Stabilisasi irama jantung dan sirkulasi perifer.” Jay seolah berbicara pada dirinya sendiri. Padahal, dia mengikuti petunjuk yang ada di dalam benaknya. Dokter Idris tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Teknik Jay bukan sekadar menusukkan jarum. Setiap sudut, kedalaman, dan durasi tekanan dihitung berdasarkan denyut nadi yang dia rasakan langsung. Jay menekan ringan di area bawah tulang selangka. Lalu menusukkan jarum di titik Yunmen. Setelah itu, dia bergerak cepat ke titik Zusanli di kaki. “Dia mengalami penurunan energi sistemik karena stres berlebih,” ujar Jay tenang. Perawat kedua berbisik pada Dokter Idris, “Tuan Jay bahkan baca kondisi Nona Muda tanpa lihat hasil lab. Ini… mustahil.” Dokter Idris mengangguk pelan. Jay memejamkan mata lagi. Satu tangan tetap memegang pergelangan Veel. Dia menarik napas dalam, lalu menekan dua titik sekaligus. Yaitu Baihui di puncak kepala dan Danzhong di tengah dada dengan menggunakan teknik tekanan ritmis. Dua detik berlalu. Monitor berbunyi lebih stabil. Beep! Beep! Beep! Irama yang tadi kacau mulai membentuk pola yang lebih teratur. Perawat pertama terperanjat. “Detak jantungnya naik, stabil di angka 92!” Tekanan darah yang tadi menurun, perlahan merangkak naik. Jay belum berhenti. Dia memutar jarum dengan teknik rotasi mikro. Yaitu gerakan halus yang hampir tidak terlihat. “Aktivasi ulang jalur neurovaskular perifer,” katanya pelan. Tangan kecil Veel yang tadi dingin mulai terasa hangat. Jay lega. Dokter Idris melangkah mendekat tanpa sadar. “Ini… ini seperti mengaktifkan kembali sistem saraf parasimpatis secara manual. Anda benar-benar hebat, Tuan.” Jay menarik satu per satu jarum dengan gerakan halus. Lalu menekan bekas titiknya menggunakan kapas steril. Beberapa detik kemudian, Veel menarik napas lebih dalam. Dada kecilnya naik turun dengan ritme yang jauh lebih stabil. Kelopak mata Veel bergerak pelan. Lalu, terbuka perlahan. “Ayah…” Perawat kedua menutup mulutnya. “Nona Muda sudah sadar…” Jay membungkuk cepat, menggenggam tangan putrinya. “Anak Ayah, Tenang ya. Ayah selalu di sini temani kamu, Veel pintar.” Veel tersenyum. Dia selalu merasa aman saat Jay bersamanya. Monitor kini menunjukkan angka-angka yang jauh lebih baik. Saturasi oksigen meningkat dan irama jantung stabil. Dokter Idris memeriksa ulang dengan stetoskop. Setelah beberapa saat, dia menatap Jay dengan wajah tercengang. “Kondisinya stabil. Ini … mustahil.” Jay berdiri tegak. Wajahnya tetap dingin, tetapi setidaknya anaknya selamat. “Nggak ada yang mustahil kalo kamu paham anatomi tubuh lebih dari sekadar angka di monitor,” ujarnya datar. Kedua perawat langsung membungkuk dalam-dalam. “Tuan luar biasa.” Dokter Idris pun menunduk. “Saya akui. Saya belum pernah melihat teknik kayak gitu seakurat ini. Tapi…” Dokter Idris ragu-ragu. Tapi, dia juga penasaran. “Tapi, Anda bukan lulusan Dokter Pengobatan Kuno. Anda Dokter Farmakologi Klinis. Gimana bisa Anda—” Jay menatap Veel yang kini tertidur dengan napas teratur. “Ini baru stabilisasi awal. Besok aku akan meninjau ulang seluruh protokol terapinya.” Jay berjalan ke arah wastafel, mencuci tangan. Di belakangnya, Dokter Idris masih berdiri terpaku. Jay berujar, “Mulai sekarang, aku akan mengobati anakku sendiri. Jangan sampai ada yang tahu hal ini. Paham?”Diana mencubit pinggang anak keduanya. “Oliv, cepat kasih kotak hadiah Nenek. Mama mau Nenek lupain masalah Lisa dan Regan.”Olivia Coleーadik Lisa yang berusia 22 tahun, mengangguk. “Oke, Ma. Aku akan alihkan perhatian Nenek.”Olivia maju mendekati Nenek Melati. Dia memiliki kulit putih cerah dengan fitur wajah mungil. Rambut hitam panjang Olivia berjuntai hingga pinggang. Ujung rambutnya bergelombang. Tapi sayang, riasan wajahnya terlalu tebal seperti topeng. Jadi, penampilan Olivia terkesan lebih dewasa daripada gadis seusianya.Olivia membawa kotak hadiah kayu cendana tua berwarna merah gelap. Dia tersenyum manis. Semua mata terpaku pada Olivia. “Nenek, buat apa marah-marah begini? Seharusnya malam ini Nenek bahagia. Karena semua cucu, menantu dan kolega datang untuk merayakan acara ulang tahunmu.” Olivia melirik Veel. Lalu bergantian melirik Jay. Dia tersenyum sinis. “Jangan sampai seseorang mencuri kebahagiaan Nenek dan merusak pesta.”Jay mengepalkan tangan erat-erat, mena
Semua orang mengalihkan perhatian pada Jay dan Veel. Saking terkejutnya, Nenek Melati langsung berdiri. “Cicitku yang cantik, kemarilah!”Sejak pesta ulang tahunnya dimulai, Nenek Melati tidak tersenyum. Dia hanya membalas senyum tipis pada tamu yang datang menyapa. Selebihnya, dia enggan berbicara ataupun sekedar basa-basi. Seorang wanita memberikan komentar. “Nona, lihatlah! Nyonya Besar yang dari tadi bersikap dingin dan murung, sekarang dia bisa tersenyum lebar.”Jika dilihat-lihat, seharusnya dia adalah asisten wanita cantik yang berdiri di sebelahnya. Seorang Nona Muda berkata, “Itu pasti karena cicitnya sudah datang. Aku denger-denger, Nyonya Besar sangat menyayangi Cicit dan Cucu menantunya. Tapi Rizka, yang mana Cucu menantu Nyonya Besar?”Nona Muda celingukan, mencari-cari sosok Cucu menantu Nenek Melati. Asisten menimpali, “Betul, Nona Clara. Aku juga penasaran dengan kehebatan pria itu sampai-sampai dia bisa menaklukkan hati Nyonya Besar yang dingin. Tapi dia justru n
Baru sampai di ambang pintu aula, Jay sudah disuguhi pemandangan yang mencekik. Dia akhirnya mengerti situasi. Jay menatap Dokter Idris. “Pergi ambil hadiah Nenek.”Lalu, tatapan Jay jatuh pada wajah mungil putrinya. “Kalian jangan masuk sebelum aku panggil. Aku mau ngasih kejutan mereka.”Hatinya sakit melihat kebersamaan Lisa dan Regan. Apalagi, di sini ada Veel. Kenapa dua orang itu tidak tahu malu dan tidak bisa menahan diri?Di mana sosok Nenek Melati yang selalu menegakkan keadilan?Pikiran Jay melayang. ‘Ternyata Lisa dan Regan udah nggak tahan untuk mengumumkan hubungan mereka.’ Perawat Della menatap Dokter Idris dengan ragu. Karena Dokter Idris diam saja, dia memberanikan diri. “Tapi, Tuan…”Melihat perubahan ekspresi Jay, Della akhirnya paham. Jay pasti memiliki rencananya sendiri. Dokter Idris melirik Della. “Ayo!” Tidak ada yang memperhatikan kehadiran Jay dan anaknya. Semua mata tertuju pada bintang utama hari iniーNenek Melati. “Ayah, kenapa Ibu dan Paman Regan gan
Jay memeriksa nadi Veel. Dia mengeluarkan tenaga dalamnya lagi. Perlahan tapi pasti, Jay mengobati Veel dengan kemampuannya. Setelah satu jam, tenaganya terkuras habis. Dia meminum air putih hangat dan langsung tidur di sofa panjang. Pagi harinya. Dokter Idris sudah datang memeriksa Veel. Dia sengaja tidak membangunkan Jay. “Nona Muda, ayo minum pil dulu.”Sesuai pesan Jay semalam, setiap pagi Veel harus minum Pil Penyembuh Seratus Ramuan Sumsum Naga dalam keadaan perut kosong. Gunanya sebagai terapi penunjang untuk mempercepat penyembuhan kanker tulang anaknya. “Iya, dokter.”Mendengar suara-suara samar di dalam ruangan, Jay akhirnya terbangun. Dia menatap Dokter Idris. “Selamat pagi, Veel sayang,” sapa Jay. Dia bergegas menghampiri anaknya. “Ayah, hari ini ulang tahun Nenek Melati. Apa kita akan pergi ke sana?”Suasana berubah canggung. Dokter Idris langsung berbisik, “Tuan, Kamu yakin bawa Nona Muda ke pesta ulang tahun Nyonya Besar? Kamu tau sendiri, gimana perlakuan kelua
Tidak ingin Jay salah paham, dan merasa direndahkan, Hazel langsung berkata, “Tuan, Jay. Dengan kemampuanmu, aku ingin mengundangmu secara pribadi ke acara lelang barang antik di salah satu konsorsium keluarga Domani.”Konsorsium properti milik keluarga Domani dikenal sebagai salah satu jaringan bisnis paling berpengaruh di kota Blackridge. Hotel-hotel mewah, resort eksklusif, hingga restorasi bangunan bersejarah berada di bawah kendali mereka.Hazel menyodorkan ponsel. “Tuan Jay, tolong berikan nomormu. Aku akan kirim undangan khusus by chat dan nanti kamu cuma tinggal scan barcode aja.”Jay memikirkan sesuatu. ‘Hemm… menurut informasi dari Toni, musuhku sangat tertarik sama barang antik. Mungkin kalo aku ke sana, bisa memancing ikan besar.’Jay mengambil ponsel Hazel. Lalu memasukkan nomor kontaknya. Dia juga mengambil kartu keanggotaan istimewa konsorsium keluarga Domani.Hazel berujar, “Oke, undangan sudah aku kirim. Aku akan menjemputmu nanti.”Jay menatap Hazel tanpa sungkan.
Issac Hospital.Lisa: Jay, di mana kamu?! Apa hakmu menghalangiku bertemu putriku sendiri?”Lisa: Kamu bener-bener brengsek!Jay sudah sampai di rumah sakit. Dia membaca chat dari istrinya tanpa niat untuk membalasnya. Dia mendengus dingin. Jay mengantongi ponselnya.“Setelah buang anakmu sendiri, sekarang mau ketemu Veel? Bahkan kamu mohon-mohon pun, aku nggak akan mengizinkan kamu menyentuhnya.”Jay membuka pintu ruang inap anaknya. Dia mendengar suara tawa renyah perempuan dari dalam. Seketika, darahnya berdesir. “Hihihi, ini lucu, Dok,” ujar Veel, tertawa.Jay melihat Dokter Idris duduk di kursi samping ranjang pasien. Sementara itu, seorang perempuan muda duduk di sisi Veel. Jay berdiri kaku, terpaku melihat keakraban kedua perempuan tersebut. ‘Ah, ternyata Dokter Hazel!’“Anak manis, apa benar usiamu 5 tahun? Kamu itu terlalu pinter untuk anak-anak seusiamu.”Dokter Hazel mencubit hidung Veel sambil tersenyum manis. Di tangannya, terdapat sebuah buku Dokter Cilik bergambar ed







