Compartilhar

Chapter 5

Autor: Papa Buaya
last update Última atualização: 2026-02-09 07:32:50

Tiga jam berlalu.

Jay duduk di tepi ranjang. Tangannya mengepal, lalu mengendur.

“Kita … kita omongin ini nanti,” ujar Jay, pelan.

Lisa terbaring. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Dia menatap langit-langit kamar, lalu perlahan menoleh ke arah Jay. Dia canggung, bingung dan merasa bersalah.

Jay beranjak membersihkan diri.

Ketika Jay sudah sampai di depan kamar mandi, Lisa duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

Lisa berucap, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita berhubungan intim.”

“Oh ya, satu lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku akan daftarin berkas perceraian lagi.”

Jay membalas, “Baru selesai bercinta, kamu udah ngomongin masalah perceraian. Segitu nggak sabaran, ya.”

Dia langsung mendorong pintu kamar mandi dan masuk.

Jay menyalakan shower. Dia berdiri di bawahnya. “Nggak kusangka, staminaku bener-bener kuat. Sampai sekarang, aku nggak ngerasain capek sama sekali. Ini pasti berkat darah naga.”

Kalau bukan karena melihat Lisa yang kepayahan, mungkin Jay tidak akan berhenti menyetubuhinya.

30 menit kemudian.

Jay telah rapi. Dia sempat membaca pesan yang masuk dari Dokter Idris yang merawat Veel. Detik berikutnya, wajah Jay berubah masam.

Jay buru-buru turun menemui Melati, meninggalkan Lisa sendirian.

Jay menunduk hormat. “Nek, aku pamit mau ke rumah sakit. Veel pasti nyariin ayahnya.”

Karena tujuannya sudah tercapai, Melati tidak menahan Jay.

“Pergilah, Jay. Sampaikan salam sayang buat Veel. Kalian harus datang ke ulang tahun Nenek Minggu depan. Oke? Bawa bubur kesukaan Veel ini. Nenek yang buat sendiri.”

Liora memberikan bungkusan berisi bubur kepada Jay.

Jay menerimanya. “Makasih, Nek. Veel pasti suka. Tapi, acara ulang tahun Nenekー”

Melati tidak suka penolakan. Jadi, dia buru-buru meminta Liora mengantar Jay.

“Lio, anter Jay ke depan. Pandu yang anterin kamu ke rumah sakit.”

“Baik,” ucap Liora.

….

Sesampainya di Issac Hospital, Jay langsung menemui Dokter Idris. Di dalam ruangan, Martinus Lumowa sudah duduk menunggunya.

Jay menyipitkan mata. “Martin, kok kamu di sini? Aku kan udah bilang, jangan berkeliaran di sekitarku.”

Martinus berdiri. “Maaf, Tuan Muda. Tadi Nona Veel kambuh dan dia sendirian. Jadi, saya bantu panggil Dokter Idris.”

Martinus Lumowa adalah asisten Jay. Dulunya, Martinus adalah orang kepercayaan mendiang ayahnyaーKhalid Issac. Sejak tragedi racun 22 tahun silam, Martinus berada di sisi Jay sebagai asisten.

Dahi Jay berkerut. “Terus sekarang Veel gimana? Mertuaku ke mana?”

Dokter Idris berdiri. “Tuan Muda Jay, jangan marah dulu. Dua perawat sudah menjaga Nona Veel. Mertua Anda pulang. Dan, Martin ke sini mau kasih laporan.”

Jay duduk berhadapan dengan Dokter Idris. “Laporan kan bisa via telepon, nggak perlu datang ke sini.”

Dokter Idris kembali duduk. Sementara Martinus masih berdiri di sisi Jay.

Martinus mulai memberikan laporan. “Jantung Tuan Morgan melemah. Tangannya sempat bergerak sedikit. Tapi, tim Dokter sudah berhasil menstabilkannya. Menurut Anda, apa kita harus pulang ke Redlock?”

Tahun ini, Jay berusia 34 tahun. Identitasnya tidak sesederhana yang keluarga Cole ketahui.

Jay memang yatim piatu. Namun dia bukan seorang tuna wisma dan pengangguran seperti yang Adrian katakan dulu kepada keluarganya.

Jay Issac adalah Dokter farmakologi terbaik dari kota Redlock di utara negara Valcon State. Dia adalah Tuan Muda kedua keluarga Issac yang cerdas dan dingin.

Jay frustasi. “Apa kamu bilang?! Jantung Morgan sempat melemah?! Kok bisa? Kalian nggak memantau dia?”

Ketika Jay berusia 12 tahun, Kakak laki-lakinya yang bernama Morgan Issac mengalami keracunan. Morgan selamat dari keracunan itu. Namun, mengalami kerusakan otak permanen dan hidup dalam kondisi vegetatif selama bertahun-tahun.

Bukan hanya Morgan yang keracunan. Kedua orang tuanya juga mengalami hal serupa dan nyawa mereka tidak tertolong.

Sejak itulah, Jay menjadi yatim piatu dan menanggung beban keluarga Issac yang luar biasa.

Martinus mengeluarkan ponsel. “Silakan, Tuan Muda. Ini foto terakhir Tuan Morgan yang Tim Dokter ambil.”

Jay melihat dengan seksama wajah kakaknya. Hatinya perih.

“Ada datanya, nggak?”

“Ada, Tuan Muda. Dokter Rowan sudah update data terbaru,” jawab Martinus cepat.

Martinus membuka file data di ponsel. Lalu, membiarkan Jay membacanya.

5 menit kemudian, pandangan Jay kosong. Dia harus membuat keputusan secepatnya!

“Ini sulit. Aku nggak mungkin pulang ke Redlock. Veel butuh aku di sini. Tapi aku juga nggak mau Morgan kenapa-kenapa.”

Ini keputusan sulit! Jay berpikir keras.

Kerutan di dahi Jay semakin dalam. “Morgan bisa kolaps kapan aja. Veel bisa kambuh tanpa aku tau. Dan Lisa bisa datang menghasut Veel yang masih kecil.”

Martinus memberanikan diri bertanya, “Maaf, Tuan Muda. Apa Anda sudah resmi bercerai sama Nyonya Lisa?”

Jay menggeleng.

Martinus jengkel, sama seperti Dokter Idris. Karena mereka tahu sikap buruk Lisa dan keluarganya terhadap Jay. Namun, mereka tidak bisa apa-apa.

Jay sudah merasakan kehilangan orang tua yang dia cintai. Jadi, walaupun mertua dan istrinya bersikap buruk, dia tidak mempermasalahkan. Dia tetap bersikap hormat kepada Tuan dan Nyonya Besar keluarga Cole.

“Martin, kamu pulang duluan ke Redlock. Kalo kondisi Morgan udah bener-bener stabil, baru balik ke sini,” perintah Jay.

Jay bangkit dan hendak pergi. Namun, Martinus menahannya.

“Nggak bisa, Tuan Muda. Saya akan tetap di sisi kamu. Saya nggak bisa tinggalin kamu.”

Jay menatap asistennya. Walaupun sudah berusia 30 tahun, Martinus tetap betah hidup menjomblo. Bahkan, dia jarang mengambil cuti tahunan.

Jadi bisa dikatakan, Martinus nyaris tidak pernah pergi dari sisi Jay.

Jay terpaksa meninggikan suara. “Kamu bantah aku?!”

Martinus menunduk. “Saya nggak berani, Tuan.”

“Kalo gitu, pergilah! Jangan khawatir. Masih ada Toni. Walaupun dia nggak ngerti urusan data internal, tapi dia masih bisa diandalkan.”

Toni Sarwono, Presdir Issac Hospital cabang Kota Blackridge yang berpengaruh. Tidak ada yang tahu, Issac Hospital adalah rumah sakit milik Jay.

Selama ini keluarga Cole mengira, Lisa lah yang membiayai semua pengobatan Veel. Padahal Jay yang menyediakan fasilitas canggih untuk putrinya.

Dokter Idris berseru, “Tuan, tombol merah di ruangan Nona Veel menyala!”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 5

    Tiga jam berlalu.Jay duduk di tepi ranjang. Tangannya mengepal, lalu mengendur. “Kita … kita omongin ini nanti,” ujar Jay, pelan.Lisa terbaring. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil. Dia menatap langit-langit kamar, lalu perlahan menoleh ke arah Jay. Dia canggung, bingung dan merasa bersalah.Jay beranjak membersihkan diri. Ketika Jay sudah sampai di depan kamar mandi, Lisa duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.Lisa berucap, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita berhubungan intim.”“Oh ya, satu lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku akan daftarin berkas perceraian lagi.”Jay membalas, “Baru selesai bercinta, kamu udah ngomongin masalah perceraian. Segitu nggak sabaran, ya.”Dia langsung mendorong pintu kamar mandi dan masuk.Jay menyalakan shower. Dia berdiri di bawahnya. “Nggak kusangka, staminaku bener-bener kuat. Sampai sekarang, aku nggak ngerasain capek sama sekali. Ini pasti berkat darah naga.”Kalau bukan karena melihat L

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 4

    “Nek, biar aku ke dapur dan memasak untuk Nenek,” ujar Jay, sopan.Melati tersenyum. Di antara anak, menantu dan cucunya, Jay tetaplah yang terbaik. Selain tulus, lembut dan pengertian, Jay memang cucu menantu idaman. “Duduk aja dulu, Jay. Temani Nenek ngobrol. Nenek kangen banget sama kamu dan Veel. Sejak Veel sakit, kamu jarang banget datang ke sini.”Mereka berada di ruang tengah. Melati mengeluhkan sikap Jay yang sekarang jarang mengunjunginya. Meskipun memiliki kesibukan, usia senja seperti Melati memang kerap merasa kesepian.“Astaga! Maaf, Nek. Aku nggak bermaksud buat Nenek kecewa. Tapiー”Melati berseru memotong kalimat Jay, “Ah, Liora udah datang!”Liora datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup sarang burung walet. Dia meletakkan nampan di atas meja.Liora membentuk gestur hormat.“Tuan Jay, Nyonya Lisa, silakan dinikmati supnya mumpung masih hangat,” ujar Liora. Liora Tan adalah salah satu orang kepercayaan Melati, selain Pandu Darma. Sebelumnya, Liora mendapatkan kaba

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 3

    Sekarang sudah pukul 08:55 pagi. Saat Jay tiba di kantor pencatatan sipil, dia melihat mobil Lisa sudah terparkir. Jarak antara rumah sakit dan kantor pencatatan sipil hanya butuh jalan kaki selama 10 menit saja. Pintu mobil terbuka. Lisa turun ditemani Riani. Sambil berjalan, Riani menatap Jay tajam. “Pak Jay, kamu nyaris terlambat. Kami pikir, kamu berubah pikiran.”Jay tidak menghiraukan perkataan Riani. Dia tahu, selama ini Riani lah yang mengenalkan Regan pada istrinya. Riani juga yang mendekatkan Lisa dan Regan. Bahkan, dia membujuk beberapa kata pada nenek Lisa untuk menerima Regan menjadi cucu menantu keluarga Cole. Jay membalas tatapan Riani. “Jangan-jangan, ide perceraian ini berasal dari kamu ya?”Riani tersenyum. Saat Jay ingin berkata lagi, Lisa berbicara.Lisa berkata, “Jay, kenapa kamu nolak uang kompensasi perceraian dariku? Apa jumlahnya kurang? Tinggal bertahun-tahun sama kamu, nggak kusangka … ternyata kamu matre juga.”Di dokumen perceraian semalam, terdapat d

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 2

    “Astaga. Aku … nggak mau mati sekarang. Putriku masih membutuhkanku.”Mata Jay masih tertutup. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Ingatannya dipenuhi wajah putrinya.“Kalo aku harus mati … aku rela tukar hidupku demi kesembuhan Veel cantik.”Veel Issac, putri kecil Jay yang cantik dan pintar. Demi apapun, dia sangat menyayangi anak semata wayangnya. Nyawa Jay sudah di ujung tanduk. Bukannya memohon keselamatan untuk diri sendiri, Jay malah memikirkan dan memohon kehidupan untuk putrinya. Dia benar-benar ayah yang baik.Jay merasakan kepalanya berdengung. Darah terus mengalir dari mulut, hidung dan kepala. Dia tidak bisa mendengar apapun lagi. Mungkin inilah akhir hidupnya!“Veel, anak Ayah ….”Beberapa menit berlalu. Tanda-tanda keajaiban datang!Jay memakai kalung giok berukiran naga kecil yang sangat sederhana. Warnanya abu kehijauan. Itu adalah kalung peninggalan orang tuanya yang dia pakai sejak kecil. Giok yang terkena darah Jay bercahaya. Tali kalung yang terbuat dari benan

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 1

    “Jay Issac, aku udah anterin Istri kamu pulang dengan selamat.”Dari dalam mobil sport hitam yang terparkir di depan villa besar, seorang pria gagah dan tampan menghembuskan asap rokok. Dia Regan Gray, Tuan Muda kedua keluarga Gray yang angkuh. Sosoknya menjulang bak serigala di puncak rantai makanan, menyeringai penuh kemenangan ke arah Jay. Hujan mengguyur Kota Blackridge seperti air mata langit yang berkabung. Langit malam ini kelam seperti takdir yang seakan mengepung Jay Issac dari segala arah. Lisa ColeーIstri Jay, duduk di kursi penumpang dengan keadaan setengah mabuk. Parasnya yang cantik sedikit memerah karena pengaruh alkohol. Regan menatap Jay yang berdiri di depan pintu utama. Lalu, membuang puntung rokok yang masih menyala.Regan tersenyum licik. “Jay, bisa nggak kamu bawa Lisa ke dalam rumah? Atau kamu mau aku aja yang bawa dia ke kamar kalian?”Jay segera melangkah cepat membawa payung, mendekati mobil Regan. Dia mengulurkan tangan, hendak membuka pintu mobil, namun t

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status