LOGIN“Ngomong-ngomong, sebelum Veel kambuh, apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang buat dia marah?”
Jay menyadari ada sesuatu yang tidak beres saat dia meninggalkan anaknya. Apalagi, Jay sempat melihat ekspresi wajah kedua mertuanya yang seolah menyembunyikan sesuatu. Naluri Jay mengatakan, kambuhnya Veel pasti dipicu oleh emosinya. Padahal, selama ini Veel bukan anak yang mudah tersulut amarah. Kedua perawat saling bertukar pandang, ragu untuk bicara. Perawat bernama Della akhirnya membuka mulut. “Nyonya Diana memprovokasi Nona Veel sampai dia marah. Kami sudah berusaha menghentikannya, tapi Nyonya malah bilang…” “Dia bilang apa?” desak Jay, tidak sabar. Della menelan ludah sebelum menjawab pelan, “Nyonya bilang, Nona Muda adalah anak pembawa sial.” Della menunduk, suaranya semakin pelan. “Bukan cuma itu, Tuan Jay…” Jay yang sudah mengepalkan tangan, menahan diri. Dia menatap tajam. “Terus, apa lagi?” Perawat satunya yang bernama Nina memberanikan diri melanjutkan. “Nyonya Diana bilang, Anda dan Nyonya Lisa akan segera bercerai. Katanya, Nyonya Lisa udah nggak tahan punya anak yang sakit-sakitan. Jadi, Nyonya Lisa akan membuang Nona Veel.” Dunia Jay seakan berhenti sesaat. Ibu mertuanya ini memang benar-benar kurang ajar! “Sialan!” desis Jay, rahangnya mengeras. “Kok ada Nenek yang tega ngomong gitu ke Cucunya sendiri? Apalagi, Nyonya Diana tau kondisi Nona Veel,” ujar Dokter Idris. Usai mengomentari sikap Diana, Dokter Idris menoleh ke arah Jay. Dia melihat wajah tampan Jay merah padam. “Oh, maaf Tuan Muda. Mulut saya nggak bisa direm. Saya cuma heran aja. Bisa-bisanya Nyonya Diana ngomong gitu ke anak 5 tahun,” ujarnya buru-buru menjelaskan. “Tapi, kami denger sendiri, Tuan,” ujar Della cepat. “Nyonya Diana bilang, Nyonya Lisa nggak menginginkan Nona Veel lagi. Katanya, hidup Nyonya Lisa hancur karena harus terus mengurus anak yang nggak akan pernah sembuh.” “Katanya, Nyonya Lisa jadi bahan gunjingan di kantor gara-gara Nona Veel,” tambah Nina. Napas Jay memburu. Emosi menerjang dirinya. Bukan hanya karena marah, tapi juga karena bayangan wajah putrinya yang rapuh. Veel selama ini selalu tersenyum walau tubuhnya lemah. Dia bahkan jarang mengeluh meski rasa sakit merayap setiap hari. “Terus?” tanya Jay, suaranya rendah dan bergetar. “Setelah mendengar semua perkataan Neneknya, Nona Veel langsung gemetar,” jawab Della. “Wajahnya pucat. Dia terus-menerus ngomong, Mama nggak mau aku! Papa sama Mama mau pisah gara-gara aku! Akulah anak pembawa sial.” Della meniru gerakan Veel. Sementara Nina mengangguk. Jay memejamkan mata sejenak, seolah menahan ledakan emosi di dalam dirinya. Ini tidak bisa dibiarkan! “Kami mencoba menenangkan Nona,” lanjut Nina, “tapi Nona Muda mudah panik. Napasnya sesak dan detak jantungnya nggak stabil. Terus, langsung kambuh.” Tangan Jay mengepal erat-erat. Matanya berkilat tajam. “Kurang ajar,” ucap Jay parau. Jay berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Dia melangkah cepat ke luar ruangan. Langkahnya panjang dan penuh amarah. Di ujung lorong rumah sakit, dia melihat sosok yang dicarinya. Nyonya Diana, duduk dengan anggun, seolah tidak terjadi apa-apa. Di sebelahnya, Beni duduk memainkan ponsel. “Mama!” panggil Jay tajam. Nyonya Diana menoleh perlahan. “Kenapa teriak-teriak gitu? Ini rumah sakit, bukan hutan.” Jay berhenti tepat di hadapannya. “Mama bilang apa tadi sama Veel?” “Apa maksudmu?” jawabnya santai, menyilangkan kaki. “Jangan pura-pura nggak lupa!” bentak Jay dengan suara bergetar. “Mama bilang sama anakku kalo aku dan Lisa akan bercerai? Mama bilang, Veel anak pembawa sial dan Lisa nggak menginginkan dia lagi? Bener begitu?” Nyonya Diana mendengus kecil. “Terus kenapa? Memang kenyataannya gitu kan. Cepat atau lambat dia akan tau. Iya kan, Pa? Toh, kalian udah daftarin berkas perceraian kan?” Diana menoleh pada suaminya, meminta dukungan. Beni langsung mengangguk setuju. “Tapi, nggak gitu caranya dan nggak sekarang!” potong Jay. “Veel itu masih kecil. Dia lagi sakit. Jangan libatkan dia ke dalam permasalahanku dan Lisa.” Veel terlahir cantik. Dia mewarisi gen kedua orang tuanya. Bola mata jernih hazel kemerahan, bulu mata yang lentik, alis tebal dan rambut hitamnya yang lurus benar-benar mirip Jay. Sementara bibirnya yang mungil dan dagunya yang runcing berasal dari Lisa. Awalnya, Diana dan Beni sangat menyukai Veel. Selain cantik, Veel juga cerdas untuk anak-anak seusianya. Namun sejak setahun lalu Veel divonis kanker tulang stadium akhir, semuanya berubah. Mereka tidak lagi menyayangi Veel. Bahkan mereka membujuk Lisa agar menceraikan Jay dan membiarkannya merawat Veel. Nyonya Diana mencibir. “Kalo nggak gitu, terus gimana? Dan kalo Veel nggak dikasih tau sekarang, terus kapan? Nunggu dia mati?” “Lagipula, Lisa itu masih muda. Hidupnya masih panjang, Jay. Apa kamu pikir dia akan selamanya mau terikat sama anakmu yang sakit-sakitan itu?” Diana masih ingin berbicara, tetapi Jay membentaknya. Sialnya, Beni tidak membantunya menghadapi Jay. Mata Jay memerah. “Cukup, Ma.” “Tapi itu fakta,” lanjut Nyonya Diana tanpa rasa bersalah. “Veel sekarang udah kanker stadium akhir. Kamu denger sendiri kata Dokter, kan? Dia itu… udah sekarat.” Jay gemetar. “Dan jujur aja,” tambah Nyonya Diana dengan nada meremehkan, “Veel udah… bau tanah.” Plak! Suara tamparan menggema di lorong. Beberapa orang menoleh kaget. Jay menurunkan tangannya perlahan. Napasnya memburu. “Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi.” Nyonya Diana memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak tak percaya. Diana berteriak, “Kamu berani menampar ibu mertuamu sendiri?!” “Aku berani ngelakuin apa aja demi melindungi anakku,” jawab Jay dingin. “Veel bukan pembawa sial. Dia bukan beban. Kalo Lisa udah nggak mau merawat Veel, aku sendiri yang akan merawatnya.” Jay menatap lurus ke mata Diana. “Mulai sekarang, kalian jangan jagain Veel lagi.” Nyonya Diana tertawa pendek, meski pipinya masih terasa panas akibat tamparan Jay. “Bagus,” ujarnya sinis. “Memang seharusnya dari dulu kamu yang urus anakmu sendiri. Jangan seret-seret keluarga Cole kalo akhirnya cuma jadi beban.” Jay menahan diri. Tangannya masih bergetar. Amarahnya masih meluap. “Beban?” Jay mengulangi kata-kata Diana. “Buat Mama, cucu Mama sendiri dibilang beban?” “Realistis saja, Jay,” sahut Diana dingin. Diana berkata lagi, “Veel nggak punya masa depan. Dokter juga udah angkat tangan. Untuk apa terus menghamburkan waktu, uang, dan perasaan?” Beni menambahkan, “Lisa itu perempuan karier. Dia CEO perusahaan keluarga Cole. Harusnya dari awal, kamu sadar. Perbedaan diantara kalian itu bagaikan langit dan bumi.”Helena masih tidak terima dipermalukan oleh Clara. Dia menarik jas suaminya.“Sayang, aku nggak mau tau. Kamu harus mengembalikan harga diriku di depan semua orang,” rengek Helena. “Helen, ini kan kamu sendiri yang cari gara-gara sama Nona Besar Clara. Seandainya kamu bisa nahan diri, semuanya nggak bakalan kacau begini,” balas Irwan, tidak senang. Helena melotot. Irwan yang cinta mati padanya, mengapa sekarang berubah?Hanya dengan beberapa kata, biasanya Irwan akan selalu menuruti keinginan Helena. Tapi sekarang? Mengapa suaminya seolah takut menghadapi Clara?Helena mengerutkan kening. “Suamiku, kamu bentak aku?”Merasa terlalu berlebihan, Irwan segera memeluk istrinya. “Bukan, Sayang. Tapi, keluarga Cole nggak bisa menyinggung Nona Besar Clara. Kalo diaー”Irwan masih ingin menyangkal dan menjelaskan alasan pada Helena, tapi Regan memotong kalimatnya. “Kakak ipar, asal kamu tau. Bahkan kalo kekuatan keluarga Cole dan keluarga Gray digabung, masih belum mampu menandingi dengan k
Tepuk tangan yang awalnya terdengar pelan, semakin lama semakin menyebar.Bukan karena hadiah mewah itu. Tapi karena pria yang baru saja merusak semua prasangka di ruangan itu.Ya! Jay berhasil membuat separuh tamu undangan percaya pada kemampuannya. Stevani berjalan mendekati Jay. Wajahnya berseri-seri dan tampak senyum mengembang di bibirnya. “Anak muda, kamu adalah…”Stevani belum pernah bertemu dengan Jay. Tapi ketika melihat interaksi Jay dengan Nenek Melati dan Olivia, dia bisa menyimpulkan bahwa pria muda di depannya ini adalah salah satu menantu keluarga Cole. Tapi, entah menantu dari keluarga cabang yang mana! Stevani harus memastikannya dulu.Jay sedikit membungkuk. Ketika dia hendak membuka mulut, seorang wanita telah lebih dulu menjawabnya.“Dia adalah Cucu menantu Nyonya Besar. Namanya Tuan Jay Issac, suami Nyonya Lisa.”Sesuai dugaan Stevani. Jay adalah menantu keluarga Cole yang hina. Stevani berseru, “Oh, ya ampun! Jadi, kamu suami Lisa?”Jay mengangguk. Lalu, dah
Diana mencubit pinggang anak keduanya. “Oliv, cepat kasih kotak hadiah Nenek. Mama mau Nenek lupain masalah Lisa dan Regan.”Olivia Coleーadik Lisa yang berusia 22 tahun, mengangguk. “Oke, Ma. Aku akan alihkan perhatian Nenek.”Olivia maju mendekati Nenek Melati. Dia memiliki kulit putih cerah dengan fitur wajah mungil. Rambut hitam panjang Olivia berjuntai hingga pinggang. Ujung rambutnya bergelombang. Tapi sayang, riasan wajahnya terlalu tebal seperti topeng. Jadi, penampilan Olivia terkesan lebih dewasa daripada gadis seusianya.Olivia membawa kotak hadiah kayu cendana tua berwarna merah gelap. Dia tersenyum manis. Semua mata terpaku pada Olivia. “Nenek, buat apa marah-marah begini? Seharusnya malam ini Nenek bahagia. Karena semua cucu, menantu dan kolega datang untuk merayakan acara ulang tahunmu.” Olivia melirik Veel. Lalu bergantian melirik Jay. Dia tersenyum sinis. “Jangan sampai seseorang mencuri kebahagiaan Nenek dan merusak pesta.”Jay mengepalkan tangan erat-erat, mena
Semua orang mengalihkan perhatian pada Jay dan Veel. Saking terkejutnya, Nenek Melati langsung berdiri. “Cicitku yang cantik, kemarilah!”Sejak pesta ulang tahunnya dimulai, Nenek Melati tidak tersenyum. Dia hanya membalas senyum tipis pada tamu yang datang menyapa. Selebihnya, dia enggan berbicara ataupun sekedar basa-basi. Seorang wanita memberikan komentar. “Nona, lihatlah! Nyonya Besar yang dari tadi bersikap dingin dan murung, sekarang dia bisa tersenyum lebar.”Jika dilihat-lihat, seharusnya dia adalah asisten wanita cantik yang berdiri di sebelahnya. Seorang Nona Muda berkata, “Itu pasti karena cicitnya sudah datang. Aku denger-denger, Nyonya Besar sangat menyayangi Cicit dan Cucu menantunya. Tapi Rizka, yang mana Cucu menantu Nyonya Besar?”Nona Muda celingukan, mencari-cari sosok Cucu menantu Nenek Melati. Asisten menimpali, “Betul, Nona Clara. Aku juga penasaran dengan kehebatan pria itu sampai-sampai dia bisa menaklukkan hati Nyonya Besar yang dingin. Tapi dia justru n
Baru sampai di ambang pintu aula, Jay sudah disuguhi pemandangan yang mencekik. Dia akhirnya mengerti situasi. Jay menatap Dokter Idris. “Pergi ambil hadiah Nenek.”Lalu, tatapan Jay jatuh pada wajah mungil putrinya. “Kalian jangan masuk sebelum aku panggil. Aku mau ngasih kejutan mereka.”Hatinya sakit melihat kebersamaan Lisa dan Regan. Apalagi, di sini ada Veel. Kenapa dua orang itu tidak tahu malu dan tidak bisa menahan diri?Di mana sosok Nenek Melati yang selalu menegakkan keadilan?Pikiran Jay melayang. ‘Ternyata Lisa dan Regan udah nggak tahan untuk mengumumkan hubungan mereka.’ Perawat Della menatap Dokter Idris dengan ragu. Karena Dokter Idris diam saja, dia memberanikan diri. “Tapi, Tuan…”Melihat perubahan ekspresi Jay, Della akhirnya paham. Jay pasti memiliki rencananya sendiri. Dokter Idris melirik Della. “Ayo!” Tidak ada yang memperhatikan kehadiran Jay dan anaknya. Semua mata tertuju pada bintang utama hari iniーNenek Melati. “Ayah, kenapa Ibu dan Paman Regan gan
Jay memeriksa nadi Veel. Dia mengeluarkan tenaga dalamnya lagi. Perlahan tapi pasti, Jay mengobati Veel dengan kemampuannya. Setelah satu jam, tenaganya terkuras habis. Dia meminum air putih hangat dan langsung tidur di sofa panjang. Pagi harinya. Dokter Idris sudah datang memeriksa Veel. Dia sengaja tidak membangunkan Jay. “Nona Muda, ayo minum pil dulu.”Sesuai pesan Jay semalam, setiap pagi Veel harus minum Pil Penyembuh Seratus Ramuan Sumsum Naga dalam keadaan perut kosong. Gunanya sebagai terapi penunjang untuk mempercepat penyembuhan kanker tulang anaknya. “Iya, dokter.”Mendengar suara-suara samar di dalam ruangan, Jay akhirnya terbangun. Dia menatap Dokter Idris. “Selamat pagi, Veel sayang,” sapa Jay. Dia bergegas menghampiri anaknya. “Ayah, hari ini ulang tahun Nenek Melati. Apa kita akan pergi ke sana?”Suasana berubah canggung. Dokter Idris langsung berbisik, “Tuan, Kamu yakin bawa Nona Muda ke pesta ulang tahun Nyonya Besar? Kamu tau sendiri, gimana perlakuan kelua







