Teilen

Chapter 7

last update Veröffentlichungsdatum: 28.02.2026 13:26:18

“Ngomong-ngomong, sebelum Veel kambuh, apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang buat dia marah?”

Jay menyadari ada sesuatu yang tidak beres saat dia meninggalkan anaknya. Apalagi, Jay sempat melihat ekspresi wajah kedua mertuanya yang seolah menyembunyikan sesuatu.

Naluri Jay mengatakan, kambuhnya Veel pasti dipicu oleh emosinya. Padahal, selama ini Veel bukan anak yang mudah tersulut amarah.

Kedua perawat saling bertukar pandang, ragu untuk bicara.

Perawat bernama Della akhirnya membuka mulut. “Nyonya Diana memprovokasi Nona Veel sampai dia marah. Kami sudah berusaha menghentikannya, tapi Nyonya malah bilang…”

“Dia bilang apa?” desak Jay, tidak sabar.

Della menelan ludah sebelum menjawab pelan, “Nyonya bilang, Nona Muda adalah anak pembawa sial.”

Della menunduk, suaranya semakin pelan. “Bukan cuma itu, Tuan Jay…”

Jay yang sudah mengepalkan tangan, menahan diri. Dia menatap tajam. “Terus, apa lagi?”

Perawat satunya yang bernama Nina memberanikan diri melanjutkan. “Nyonya Diana bilang, Anda dan Nyonya Lisa akan segera bercerai. Katanya, Nyonya Lisa udah nggak tahan punya anak yang sakit-sakitan. Jadi, Nyonya Lisa akan membuang Nona Veel.”

Dunia Jay seakan berhenti sesaat. Ibu mertuanya ini memang benar-benar kurang ajar!

“Sialan!” desis Jay, rahangnya mengeras.

“Kok ada Nenek yang tega ngomong gitu ke Cucunya sendiri? Apalagi, Nyonya Diana tau kondisi Nona Veel,” ujar Dokter Idris.

Usai mengomentari sikap Diana, Dokter Idris menoleh ke arah Jay. Dia melihat wajah tampan Jay merah padam.

“Oh, maaf Tuan Muda. Mulut saya nggak bisa direm. Saya cuma heran aja. Bisa-bisanya Nyonya Diana ngomong gitu ke anak 5 tahun,” ujarnya buru-buru menjelaskan.

“Tapi, kami denger sendiri, Tuan,” ujar Della cepat. “Nyonya Diana bilang, Nyonya Lisa nggak menginginkan Nona Veel lagi. Katanya, hidup Nyonya Lisa hancur karena harus terus mengurus anak yang nggak akan pernah sembuh.”

“Katanya, Nyonya Lisa jadi bahan gunjingan di kantor gara-gara Nona Veel,” tambah Nina.

Napas Jay memburu. Emosi menerjang dirinya. Bukan hanya karena marah, tapi juga karena bayangan wajah putrinya yang rapuh.

Veel selama ini selalu tersenyum walau tubuhnya lemah. Dia bahkan jarang mengeluh meski rasa sakit merayap setiap hari.

“Terus?” tanya Jay, suaranya rendah dan bergetar.

“Setelah mendengar semua perkataan Neneknya, Nona Veel langsung gemetar,” jawab Della. “Wajahnya pucat. Dia terus-menerus ngomong, Mama nggak mau aku! Papa sama Mama mau pisah gara-gara aku! Akulah anak pembawa sial.”

Della meniru gerakan Veel. Sementara Nina mengangguk.

Jay memejamkan mata sejenak, seolah menahan ledakan emosi di dalam dirinya.

Ini tidak bisa dibiarkan!

“Kami mencoba menenangkan Nona,” lanjut Nina, “tapi Nona Muda mudah panik. Napasnya sesak dan detak jantungnya nggak stabil. Terus, langsung kambuh.”

Tangan Jay mengepal erat-erat. Matanya berkilat tajam.

“Kurang ajar,” ucap Jay parau.

Jay berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Dia melangkah cepat ke luar ruangan. Langkahnya panjang dan penuh amarah.

Di ujung lorong rumah sakit, dia melihat sosok yang dicarinya. Nyonya Diana, duduk dengan anggun, seolah tidak terjadi apa-apa. Di sebelahnya, Beni duduk memainkan ponsel.

“Mama!” panggil Jay tajam.

Nyonya Diana menoleh perlahan. “Kenapa teriak-teriak gitu? Ini rumah sakit, bukan hutan.”

Jay berhenti tepat di hadapannya. “Mama bilang apa tadi sama Veel?”

“Apa maksudmu?” jawabnya santai, menyilangkan kaki.

“Jangan pura-pura nggak lupa!” bentak Jay dengan suara bergetar.

“Mama bilang sama anakku kalo aku dan Lisa akan bercerai? Mama bilang, Veel anak pembawa sial dan Lisa nggak menginginkan dia lagi? Bener begitu?”

Nyonya Diana mendengus kecil. “Terus kenapa? Memang kenyataannya gitu kan. Cepat atau lambat dia akan tau. Iya kan, Pa? Toh, kalian udah daftarin berkas perceraian kan?”

Diana menoleh pada suaminya, meminta dukungan. Beni langsung mengangguk setuju.

“Tapi, nggak gitu caranya dan nggak sekarang!” potong Jay. “Veel itu masih kecil. Dia lagi sakit. Jangan libatkan dia ke dalam permasalahanku dan Lisa.”

Veel terlahir cantik. Dia mewarisi gen kedua orang tuanya. Bola mata jernih hazel kemerahan, bulu mata yang lentik, alis tebal dan rambut hitamnya yang lurus benar-benar mirip Jay. Sementara bibirnya yang mungil dan dagunya yang runcing berasal dari Lisa.

Awalnya, Diana dan Beni sangat menyukai Veel. Selain cantik, Veel juga cerdas untuk anak-anak seusianya. Namun sejak setahun lalu Veel divonis kanker tulang stadium akhir, semuanya berubah.

Mereka tidak lagi menyayangi Veel. Bahkan mereka membujuk Lisa agar menceraikan Jay dan membiarkannya merawat Veel.

Nyonya Diana mencibir. “Kalo nggak gitu, terus gimana? Dan kalo Veel nggak dikasih tau sekarang, terus kapan? Nunggu dia mati?”

“Lagipula, Lisa itu masih muda. Hidupnya masih panjang, Jay. Apa kamu pikir dia akan selamanya mau terikat sama anakmu yang sakit-sakitan itu?”

Diana masih ingin berbicara, tetapi Jay membentaknya. Sialnya, Beni tidak membantunya menghadapi Jay.

Mata Jay memerah. “Cukup, Ma.”

“Tapi itu fakta,” lanjut Nyonya Diana tanpa rasa bersalah.

“Veel sekarang udah kanker stadium akhir. Kamu denger sendiri kata Dokter, kan? Dia itu… udah sekarat.”

Jay gemetar.

“Dan jujur aja,” tambah Nyonya Diana dengan nada meremehkan, “Veel udah… bau tanah.”

Plak!

Suara tamparan menggema di lorong. Beberapa orang menoleh kaget.

Jay menurunkan tangannya perlahan. Napasnya memburu. “Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi.”

Nyonya Diana memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak tak percaya.

Diana berteriak, “Kamu berani menampar ibu mertuamu sendiri?!”

“Aku berani ngelakuin apa aja demi melindungi anakku,” jawab Jay dingin.

“Veel bukan pembawa sial. Dia bukan beban. Kalo Lisa udah nggak mau merawat Veel, aku sendiri yang akan merawatnya.”

Jay menatap lurus ke mata Diana. “Mulai sekarang, kalian jangan jagain Veel lagi.”

Nyonya Diana tertawa pendek, meski pipinya masih terasa panas akibat tamparan Jay.

“Bagus,” ujarnya sinis. “Memang seharusnya dari dulu kamu yang urus anakmu sendiri. Jangan seret-seret keluarga Cole kalo akhirnya cuma jadi beban.”

Jay menahan diri. Tangannya masih bergetar. Amarahnya masih meluap.

“Beban?” Jay mengulangi kata-kata Diana. “Buat Mama, cucu Mama sendiri dibilang beban?”

“Realistis saja, Jay,” sahut Diana dingin.

Diana berkata lagi, “Veel nggak punya masa depan. Dokter juga udah angkat tangan. Untuk apa terus menghamburkan waktu, uang, dan perasaan?”

Beni menambahkan, “Lisa itu perempuan karier. Dia CEO perusahaan keluarga Cole. Harusnya dari awal, kamu sadar. Perbedaan diantara kalian itu bagaikan langit dan bumi.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 38

    Kali ini, reaksi Lisa bukan pura-pura. Itu adalah reaksi yang nyata.Lisa menoleh cepat ke arah Riani.“Apa aku pernah buat keputusan kayak gitu? Aku nggak merasa menghentikan dana pengobatan Veel. Aku sudah melakukannya sesuai permintaan Nenek.”Riani terlihat terkejut. Dia langsung membuka tablet di tangannya. Jari-jarinya bergerak cepat menelusuri data.“Saya… saya nggak menemukan perintah resmi dari Anda, Bu,” jawabnya gugup.Melati menyipitkan mata.“Jadi kamu nggak tau?” suaranya rendah, tapi mengandung tekanan.Lisa menggeleng cepat. Lalu melirik jam tangannya. “Ini udah waktunya rapat harian. Aku—”Melati geram. “Apa nyawa anakmu nggak lebih penting daripada rapat? Asal kamu tau, Lisa. Kantor akan terus beroperasi tanpa kamu.”Lisa menjadi serba salah. Dia memang akan bercerai dengan Jay. Tapi Veel?Lisa telah bersusah payah untuk mendapatkan pengakuan kakek dan neneknya. Sampai akhirnya, baru beberapa tahun ini dia mendapatkan kepercayaan dan pengakuan dari keluarga Cole.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 37

    Gedung utama Grup Cole berdiri di pusat kota Blackridge, tinggi, modern, dan terlihat dingin.Fasadnya didominasi kaca gelap yang memantulkan langit seperti cermin, membuat gedung itu tampak tak tersentuh dan berjarak.Logo Cole Group terpampang besar di bagian atas dengan desain minimalis namun tegas, melambangkan kekuasaan dan kontrol.Mobil hitam sedan berhenti tanpa suara di pintu samping.Pandu Darma menoleh ke belakang. “Nyonya, kita sudah sampai.”Liora turun lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Melati.“Silakan, Nyonya.”Melati turun perlahan. Hari ini, dia tidak ingin disambut oleh siapapun di kantor. Dia ingin melihat… apa yang sebenarnya terjadi!Begitu memasuki lobi, suasana langsung terasa berbeda. Melati langsung masuk ke lift menuju lantai 17, di sanalah ruangannya berada. Di Lantai 17. Beberapa karyawan yang melihatnya tampak terkejut. Ada yang buru-buru menunduk. Ada juga yang saling bertukar pandang. Seolah… mereka menyembunyikan sesuatu.Begitu melewati ruangan

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 36

    Keesokan hari di Mega Kemuning. Liora datang ke kamar Melati. Wajahnya lesu dan tatapannya berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia berdiri di depan Melati. “Nyonya Besar,” sapa Liora.“Gimana? Yang ku suruh cari info, udah dapat belum?”Liora mengangguk. “Ini data yang Anda minta.”Liora menyerahkan sebuah dokumen hitam berisi data-data yang diinginkan Melati.“Bagus,” kata Melati. Melati meminum teh dengan anggun. Setelah kejadian semalam di pesta ulang tahunnya, Melati meminta Liora untuk menyelidiki keluarga Domani dan keluarga Boni. Karena Melati merasa, kedua keluarga tersebut sangat dekat dengan Jay. Melati hanya ingin menyelamatkan pernikahan cucunya. Jay adalah pria pendiam dan setia. Jadi Melati sangat yakin, Jay tidak pandai menggoda wanita. Sambil menundukkan kepala, Liora mulai melaporkan pekerjaannya. “Saya udah suruh anak buah menyebar dan mencari Nona Veel ke seluruh penjuru Issac Hospital. Tapi, mereka nggak menemukannya. Saat bertanya ke bagian administrasi, me

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 35

    “Tapi, diantara empat keluarga itu…”Jay tetap berdiri di depan jendela. Cahaya kota memantul samar di matanya yang gelap. Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani menyela.Jay menggeleng tipis.“Yang lain… masuk akal. Keluarga Boni, Domani, Winata… mereka punya motif.”Dia berhenti sejenak.“Tapi keluarga Cole? Aku nggak yakin. Mereka nggak punya bisnis di kota Redlock. Nggak terlibat bisnis kotor.”Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan lebih berat.Martinus sedikit mengangkat kepala. “Tuan Muda, semua bukti—”“Aku bilang, nggak mungkin.”Kali ini tegas. Tidak keras, tapi tidak bisa dibantah.Dokter Idris melirik Jay sekilas. Dia tahu… ini bukan sekadar analisis. Ini sesuatu yang lebih dalam.Jay berbalik dari jendela. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang tertahan di dalamnya.“Keluarga Cole saat itu baru naik,” lanjutnya. “Mereka belum punya posisi untuk masuk ke lingkaran atas itu.”Martinus membuka salah satu berkas lagi, mencoba tetap objektif. “Justru karena itu, Tuan.

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 34

    Setelah menyelimuti Veel dan memastikannya tidur nyenyak, Jay masuk ke ruang kerja yang terletak di ujung koridor Utara villa. Di sana, Martinus sudah menunggunya. “Tuan Muda,” sapa Martinus. Jay datang bersama Dokter Idris. Sementara Della sudah pergi beristirahat di kamarnya yang terletak di sebelah kamar Veel. Jay duduk di meja kerja. “Kapan sampai?” tanya Jay. Dia membakar rokok. “Dua jam lalu,” jawab Martinus.Mata Jay fokus menatap sebuah kotak hitam di depannya. Martinus menyodorkan kotaknya. “Semua ini adalah bukti terakhir yang didapatkan mata-mata kita sebelum tewas.”Asap rokok mengepul pekat di udara. Jay tidak langsung menyentuh isi kotak itu. Tatapannya diam, seolah sudah menebak bahwa apa yang ada di dalamnya… bukan sesuatu yang sederhana.Jay menjepit rokok di sela-sela bibirnya. Akhirnya, dia membuka kotaknya perlahan.“Ehm?” Isinya bukan rekaman modern. Tidak ada CCTV ataupun file digital yang mencolok.Yang ada… justru hanyalah potongan masa lalu.Dahi Dokter

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 33

    “Dokter Hazel, makasih untuk bantuanmu malam ini.”Jay berkata dengan tulus. Dia berdiri di sisi mobil “Jangan sungkan begitu, Tuan Jay,” balas Hazel, ramah. “Udah larut. Ayo bawa Veel kembali ke rumah sakit.”Sesuai dengan rencana awal, Jay tidak membawa Veel kembali ke rumah sakit. Tetapi, membawanya pulang ke perumahan elite Bukit Rajawali Emas. Jay menggeleng. “Aku mau bawa Veel Pulang ke rumah kami.”Hazel sedikit bingung. Sebab menurut laporan dari asistennya, Jay dan Lisa sedang menghadapi perceraian. Apalagi, Jay sudah membawa Veel keluar dari rumah keluarga Cole. Jadi sebenarnya, ke mana Jay akan membawa anaknya pulang? Hazel tidak percaya. “Rumah? Maaf, kalo aku lancang. Tapi, bukannya selama ini kamu dan Veel tinggal di siniーdi rumah keluarga Cole? Dan, pengobatan Veelー”Jay tertawa pelan. “Aku punya rumah sederhana di tengah kota. Kalo nggak keberatan, nanti aku akan atur waktu untuk undang kamu datang makan bersama kami. Gimana?”“Mengenai pengobatan Veel, Dokter Idr

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 16

    Kamar Jay berada di lantai dua yang menghadap ke danau. Seperti kata Boy, pemandangan di sini benar-benar indah dan suasananya begitu tenang.Jay duduk di bawah jendela yang terbuka. Dia sedang mengamati beberapa gambar di layar laptop. Pak Umar datang mendekat. “Tuan, air rendaman sudah siap. Bat

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 20

    Issac Hospital.Lisa: Jay, di mana kamu?! Apa hakmu menghalangiku bertemu putriku sendiri?”Lisa: Kamu bener-bener brengsek!Jay sudah sampai di rumah sakit. Dia membaca chat dari istrinya tanpa niat untuk membalasnya. Dia mendengus dingin. Jay mengantongi ponselnya.“Setelah buang anakmu sendiri,

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 21

    Tidak ingin Jay salah paham, dan merasa direndahkan, Hazel langsung berkata, “Tuan, Jay. Dengan kemampuanmu, aku ingin mengundangmu secara pribadi ke acara lelang barang antik di salah satu konsorsium keluarga Domani.”Konsorsium properti milik keluarga Domani dikenal sebagai salah satu jaringan bi

  • Dokter Ilahi Jay Issac    Chapter 22

    Jay memeriksa nadi Veel. Dia mengeluarkan tenaga dalamnya lagi. Perlahan tapi pasti, Jay mengobati Veel dengan kemampuannya. Setelah satu jam, tenaganya terkuras habis. Dia meminum air putih hangat dan langsung tidur di sofa panjang. Pagi harinya. Dokter Idris sudah datang memeriksa Veel. Dia se

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status