MasukJika di rumah Thomas kesibukan dipenuhi urusan berkas dan perhiasan, maka di kediaman Soedirja pertempurannya tak kalah menegangkan. Mode darurat militer resmi diberlakukan sejak fajar!Seluruh anggota keluarga Soedirja duduk melingkar di ruang tengah dengan ponsel masing-masing yang menempel di telapak tangan. Baterai powerbank berderet di atas meja bagaikan amunisi perang. jangankan sempat minum teh santai, untuk sekadar melangkah ke kamar mandi saja mereka tidak punya waktu!"Papa! Ini daftar kolega jenderal purnawirawan sudah di-WhatsApp semua belum?!" teriak Danu dengan mata merah menatap layar ponselnya yang tak berhenti berdenting. Jemarinya menari-nari di atas papan ketik secara brutal, mengirimkan ratusan surat undangan digital."Sudah! Tapi grup mantan alumni AKABRI belum!" sahut Hartono tak kalah heboh. Sang Jenderal yang biasanya tampil rapi, kini hanya mengenakan kaos singlet putih dan sarung yang terikat melenceng. Rambutnya acak-acakan, kacamata bacanya melorot di ujung
“Apaan sih, Rayan?! Jangan teriak-teriak!” sahut Rebecca dari seberang telepon. Suaranya tak kalah panik, bahkan napasnya terdengar memburu. “Aku baru selesai pakai riasan tipis! Ini Bang Danu sama Bang Arya dari tadi mondar-mandir kayak satpam kompleks, ngawasin setiap langkahku!”“Bagus! Suruh abang-abangmu itu minggir sedikit. Aku sudah sampai di depan gerbang rumahmu dua menit lagi!”Rayan langsung memutuskan sambungan.CKIIIIEEEK!Ban mobil sport itu berdecit keras saat berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Soedirja.Tanpa mematikan mesin, Rayan langsung melompat keluar. Kemeja yang sebelumnya baru terkancing separuh kini sudah tertata rapi. Namun, gurat kelelahan dan ketegangan masih terlihat jelas di wajah tampannya.Di teras rumah, Danu dan Arya berdiri tegap sedangkan tangan mereka sibuk dengan ponselnya. Tatapan mereka tertuju pada Rayan dengan sorot mata tajam.“Apa kau ingin mengatakan bahwa pernikahan dadakan ini batal?” celetuk Danu dingin sambil melirik jam tan
Sejak fajar bahkan belum menyingsing sempurna, suasana di kediaman keluarga Thomas sudah seperti medan perang yang kacau balau. Kesibukan tingkat tinggi terjadi secara mendadak, semuanya berpacu gila dengan waktu hanya gara-gara keputusannya yang terlampau nekat: mempercepat tanggal pernikahan menjadi sangat mendesak!Rayan sendiri bolak-balik di ruang tamu dengan ponsel menempel di telinga, kemejanya bahkan belum terkancing rapi. "Halo! Apakah berkas dari kelurahan sudah selesai?! Saya butuh surat rekomendasi nikah itu ditandatangani jam delapan pagi ini juga! Tidak ada kata esok!" gertak Rayan dengan napas memburu sebelum mematikan telepon secara sepihak."Rayan! Kamu ini benar-benar bikin aku senam jantung pagi-pagi!" omel Thomas yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan tumpukan dokumen legal dan map tebal di tangannya."Papi harus sabar, tidak boleh emosi," kata Rayan menenangkan. "Sabar katamu?" Thomas memandang Rayan dengan kesal.Thomas terpaksa mengandalkan seluruh konek
Berikut adalah kelanjutan Bab 451 yang dikemas lebih menggemaskan, nakal, sekaligus penuh godaan manis di antara kecemasan dan rasa sakit Devan:BAB 451: Ujian Tubuh Tuan Devan"Alicia... kamu ini berniat membersihkan tubuhku atau mau berbuat mesum, sih?!" sembur Devan dengan wajah memerah padam bagai kepiting rebus.Bagaimana tidak kesal bercampur panik? Setelah dengan tenang membuka baju pasien, jemari lincah Alicia tanpa ragu sedikit pun melucuti celana hingga pria tegap itu kini benar-down pasrah tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh bagian bawahnya!"Tubuhmu ini sudah dua hari tidak tersentuh air, Devan. Kotor, bau keringat, dan harus dibersihkan total," sahut Alicia santai dengan wajah sok polos dan profesional, padahal sudut bibirnya mengukir senyum penuh kemenangan."Tapi tidak perlu sampai polos begini juga, Dokter Alicia!" desis Devan serak, menahan napasnya seraya berusaha menutup area intimnya dengan salah satu paha, walau pergerakan sekecil apa pun langsung memicu
Wajah Devan benar-benar terlipat kesal. Pria itu bahkan sengaja membuang mukanya ke arah dinding, sama sekali tidak mau memandang wajah Alicia yang duduk di samping brankar rumah sakit."Mau sampai kapan marahnya?" tanya Alicia seraya menghela napas panjang, memandangi calon suaminya itu. Kalau Devan sudah merajuk dengan mode sulk seperti ini, membujuknya memang jauh lebih sulit daripada menaklukkan tender miliaran rupiah.Devan tak menjawab. Pria itu hanya mendengus halus dengan bibir yang makin cemberut."Pernikahan kita itu cuma ditunda sebentar, Devan. Bukan dibatalkan," bujuk Alicia lagi dengan suara selembut mungkin."Kenapa harus ditunda?!" sembur Devan akhirnya memutar sedikit lehernya, menatap Alicia dengan raut melas bercampur sebal. "Padahal aku bisa! Aku ini mampu!"Bayangkan saja, Devan sudah berulang kali menghafalkan kalimat ijab kabul di depan cermin sampai tenggorokannya kering, mempersiapkan mentalnya agar tidak gugup di hadapan penghulu. Namun nyatanya, pernikahan i
Jawaban singkat Rebecca bagaikan petir di siang bolong yang seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan di ruang tamu tersebut.Sofia bernapas lega sambil mengusap dadanya, sementara Thomas menyunggingkan senyum kemenangan tipis.Di sisi lain, Rayan—pria kaku yang malam ini bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi mendapatkan restu keluarga calon istrinya—seketika merasakan beban berat di pundaknya menguap begitu saja. Telapak tangannya yang tadi dingin dan berkeringat perlahan mengendur. Kepercayaan dirinya yang sempat menghilang pun kembali.Hartono terdiam sejenak.Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.Anak muda zaman sekarang memang seperti ini?Mengapa mereka begitu suka membuat keputusan mendadak yang bisa membuat orang tua terkena serangan jantung?"Rebecca, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Kalau boleh Papa tahu, sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Hartono sambil menahan denyutan di pelipisnya."Dua hari yang lalu, Pa..." jawab Rebecca polos.Hartono langs







