Share

Bab 231

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2026-03-23 15:35:24

Mobil melaju membelah jalanan malam.

Lampu kota berpendar samar di balik kaca jendela.

Namun di dalam mobil itu—

suasana justru terasa lebih dingin.

Alicia duduk di kursi penumpang.

Wajahnya cemberut.

Tatapannya lurus ke depan.

Tidak sekali pun ia menoleh ke arah pria di sampingnya.

Sementara Thomas—

diam.

Kedua tangannya menggenggam kemudi dengan tenang.

Namun pikirannya…

tidak setenang itu.

Ia mencoba menyusun kata.

Mencari cara.

Bagaimana memulai percakapan dengan wanita yang ia paksa duduk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Surtinah Surtinah
minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin .........
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 462

    Di sudut meja area keluarga yang mulai tenang, Charlotte duduk berhadapan dengan Sofia. Riuk-pikuk pesta, denting dentang piring, dan tawa para tamu seolah mengabur di sekitar mereka. Charlotte menatap paras anggun wanita di hadapannya dengan binar mata yang penuh kerinduan—kerinduan seorang anak pada sosok ibu yang pernah memberinya kehangatan tiada tara."Mami... terima kasih," lirih Charlotte dengan suara bergetar.Sofia yang sedang memegang cangkir tehnya menoleh pelan. "Untuk apa?""Karena... karena Mami tidak mengusirku," bisik Charlotte menundukkan kepala. "Dulu... dulu aku begitu keras kepala, tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Tapi sekarang... sekarang aku sudah bisa menerimanya, Mi."Sofia hanya diam. Pikirannya sempat menerawang ke masa lalu yang penuh luka. Sejujurnya, ia tak lagi berminat untuk mengorek lembaran lama yang telah terkubur rapi bersama bahagianya kehidupan barunya sekarang. Namun melihat ketulusan dan kepasrahan di wajah Charlotte, Sofia memilih tetap

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 461

    Aroma cairan antiseptik bercampur wangi Bunga Lili yang memenuhi kamar VIP ruang perawatan tak mampu menenangkan gejolak di dada Devan. Pria jangkung itu berbaring dengan posisi miring di atas bangsal dengan dahi berkerut tajam, matanya tak lepas menatap jam dinding yang berdetik dengan sangat lambat.Pukul empat sore lewat sepuluh menit."Lama sekali..." gumam Devan gusar. Ia berbalik miring ke kanan, meringis sebentar karena bahunya yang diperban sedikit tertarik, lalu berbalik miring ke kiri. Gerakannya persis seperti cacing yang kepanasan."Bukankah di sana banyak artis? Itu artinya banyak aktor tampan? Apa ada yang menganggu Alicia?" Devan semakin gelisah. Sangat tidak tenang! Padahal Alicia pamit pergi ke resepsi pernikahan Rayan dan Rebecca cuma untuk menyapa dan menyerahkan kado mewakili dirinya yang masih terbaring. Tapi ini sudah jam berapa? Kenapa gadis itu belum memunculkan batang hidungnya juga?!"Jangan-jangan di sana dia ketemu cowok lain? Atau jalanan macet terus dia

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 460

    "Bagaimana kehidupanmu sekarang?" tanya Alicia sambil menatap dalam-dalam paras Charlotte yang tampak berbeda dari yang ia ingat.Charlotte menyunggingkan senyum tipis—sebuah ukiran bibir yang dipaksakan demi membungkus rapi kepahitan hidupnya yang kian hancur. "Hidupku sekarang... sudah sangat baik."Padahal, jauh sebelum melangkah ke ballroom ini, Charlotte dipenuhi keraguan besar. Ia sama sekali tak yakin Rayan akan mengizinkannya masuk. Namun, demi mempertahankan sisa harga dirinya di hadapan keluarga yang pernah ia khianati, Charlotte tetap bersiap mati-matian. Perhiasan imitasi berkilau yang melekat di leher dan jemarinya sengaja ia beli, semata-mata agar mereka percaya bahwa kehidupannya baik-baik saja dan tak perlu mengasihaninya.Alicia memandang detail perhiasan itu, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Sebagai wanita, ia mengerti betul apa yang sedang berusaha disembunyikan Charlotte."Alicia... maafkan aku," lirih Charlotte lagi, matanya mulai memerah."Hmm... bukankah tadi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 459

    Charlotte berdiri di depan pintu utama ballroom dengan kepala menunduk dalam-dalam. Setiap kali ada tamu penting yang melintas, ia makin merapatkan tubuhnya, tak berani menatap wajah siapa pun. Rasa malu yang teramat sangat menyergap hatinya. Bagaimana jika ada pengunjung klub malam tempatnya bekerja dulu yang mengenalinya di sini? Di tengah orang-orang terpandang ini, ia merasa begitu kecil dan asing.Gadis itu menunggu dengan gelisah. Jantungnya berdegup tak karuan antara harapan kecil dan ketakutan akan diusir. Namun, kalaupun harus diusir... ia sudah siap pasrah.Klek.Pintu kayu berukir megah itu mendadak terbuka lebar. Pria bertubuh tegap yang tadi membawa kadonya berjalan melangkah ke arahnya."Nona Charlotte, Anda diperbolehkan untuk masuk," ujar petugas itu sopan.DEG!Dada Charlotte berdesir hebat. Ia tak menyangka pintunya benar-benar dibukakan. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menatap petugas itu. "T-terima kasih..."Tanpa membuang waktu satu detik pun, Charlotte me

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 458

    Penjaga keamanan bertubuh tegap itu melangkah cepat menerobos riuhnya para tamu di dalam ballroom mewah. Ia berjalan lurus menuju pelaminan, mendekati Rayan, lalu membisikkan pesan serta menyerahkan kotak kado dari Charlotte.Rayan terdiam sejenak. Tangannya yang menggenggam kotak kado itu terasa begitu berat. Pandangannya bergulir perlahan menatap pintu besar di ujung ballroom yang tertutup rapat. Seketika, dadanya dihantam rasa sesak yang berdenyut nyeri.Bagaimanapun juga... Charlotte adalah adiknya. Di dalam tubuh gadis itu mengalir darah yang sama dari ayah mereka, Tonny. Rayan kembali teringat saat pertama kali melihat Charlotte yang kebingungan di klub malam dulu—seorang gadis muda yang rapuh dan hanya menjadi korban dari keegoisan orang tua mereka."Sayang... aku permisi menemui Mami dan Alicia sebentar, ya?" bisik Rayan lembut pada Rebecca.Rebecca menatap wajah suaminya yang mendadak serius, lalu mengangguk paham sambil tersenyum lembut. "Iya, Mas. Pergilah."Rayan turun dar

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 457

    Rebecca menatap Rayan dengan mata berkaca-kaca. Perjuangan gila, rusuh, dan bikin sesak napas selama tiga hari terakhir akhirnya bermuara indah di titik ini.Rayan memutar tubuhnya, meraih jemari Rebecca untuk disalami, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat nan dalam di dahi istrinya di hadapan ribuan pasang mata.Jujur saja, meskipun hanya kecupan di kening, namun jantungnya sudah berdebar dengan kencang. "Terima kasih sudah tidak pingsan, Istriku," bisik Rayan terkekeh halus di telinga Rebecca, membuat pipi sang pengantin wanita seketika memerah sempurna.Rebecca tersenyum tipis di sela-sela matanya yang mulai basah. "Terima kasih sudah memilihku, Rayan."Di tengah riuh rendah ucapan selamat dari para tamu undangan, Rayan menggenggam tangan Rebecca erat-erat. Di barisan keluarga, Sofia masih terus menyeka air matanya, sesekali tertawa kecil saat melihat putranya yang biasanya kaku dan dingin, kini tampak begitu lembut memperlakukan istrinya. Sebuah hari baru, sebuah lembaran baru,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status