LOGINBab 6
Devan menurunkan ponselnya perlahan. Jemarinya masih bergetar. Kata-kata Vivienne, yang biasanya lembut… hari ini berubah jadi seperti pisau tipis. Ia mendengus, menyandarkan tubuh — dan langsung meringis karena pinggulnya kembali berdenyut. “Hari apa ini…” gumamnya dengan tawa pahit. Ia hanya ingin istrinya pulang. Hanya itu. Tapi justru pekerjaan yang selalu menang. Vivienne: “Jangan dramatis.” Kalimat itu terus berputar di kepalanya, seperti mengejek harga diri seorang suami. Detik itu, kesabarannya pecah. Notifikasi ponsel berbunyi lagi. “Tuan, salah seorang staf infotainment sudah di gerbang. Orang itu ingin melihat kondisi anda, terkait insiden treadmill.” — Satpam Mansion Devan mengusap wajah kasar-kasar. “Sempurna. Dunia benar-benar punya humor buruk hari ini.” Belum sempat bernapas, telepon masuk, dari asisten Vivienne. “Halo tuan, Nyonya mengirim vitamin, salep luka untuk anda. salap itu diantar langsung oleh salah seorang staf—” “Cukup.” Nada Devan turun satu oktaf, dingin membeku. “Aku tidak butuh itu.” “Ada pesan untuk Nyonya?” Devan terdiam sejenak. Lalu menjawab: “Tidak.” Klik. Hening. Dan semakin jelas, ia bukan prioritas. Devan menutup mata, meremas rambutnya. Lalu entah kenapa… wajah Alicia melintas di bayangannya. Si dokter ceroboh! Berani menyentuh dirinya semaunya. Melecehkan seorang CEO paling berpengaruh di kota ini, lalu.... Tapi faktanya, Alicia hadir, saat Vivienne memilih kariernya. Devan mengetukkan jarinya di meja. Satu tekad terpatri: “Aku akan buat dokter itu menyesal mengenal namaku.” Pinggulnya kembali nyeri. Ia berdiri pelan… dan meraih tongkat penopang miliknya. Jika Vivienne tidak peduli, maka, ia akan bersikap tegas. Harga dirinya sangat tinggi. meskipun mencintai Vivian, namun Devan bukan pria bodoh. --- Alicia turun dari taksi sambil mengusap bahunya yang pegal. Tubuhnya terasa remuk seperti baru digiling mesin laundry. Namun di antara rasa capek yang menumpuk… wajah Devan mendadak muncul dalam ingatannya, merah karena marah, atau malu? Alicia sendiri tidak yakin. Ia menutup wajahnya terburu-buru. “Ya Tuhan… tolong hapus memori itu dari pikiran ku,” gerutunya pelan. Ia mengibaskan tangan cepat-cepat. “Lupakan! Lupakan!” Rumah megah keluarganya sudah terlihat di depan. Besar. Mewah. Dan tetap saja terasa dingin. Tak ada yang menyambutnya pulang. Tak ada yang peduli apakah ia sudah makan atau belum. “Alicia? Kau pulang cepat?” Suara itu muncul seperti backsound drama sinis. Charlotte, berdiri dengan gaun putih mahal. Ia tampak sangat cantik, dengan perawat kecantikan perbulan bisa sampai 100 juta. Gaun yang dia gunakan, sudah pasti hasil perancang terbaik. Rambutnya sangat halus dan terawat. Berbeda jauh dengan Alicia. Alicia menatap Charlotte dengan jengkel. Apalagi ketika mengingat perkataan kedua orangtuanya di telepon. Bagi mereka, Alicia sangat kuat dan memiliki tulang besi berbeda dengan Charlotte yang sangat lemah. “Lembur terus capek, Lotte,” jawab Alicia dengan tersenyum sinis. Lotte, panggilan yang sengaja Alicia gunakan untuk anak pungut tersebut. Ekspresi Charlotte menegang sepersekian detik. Panggilan itu jelas menusuk harga dirinya yang tinggi. “Kamu kan dokter, harusnya sudah tahan,” ucap Charlotte, nada meremehkan tidak disembunyikan. Alicia hanya menarik napas dalam dan menjawab datar, “Aku juga manusia, tahu. Ah tapi ya sudahlah, kau tidak akan mengerti.” Charlotte mendesah, lalu duduk lagi tanpa perduli. "Papi dan Mami tidak di rumah, jadi kau makan sendiri," kata Charlotte dengan tersenyum. Alicia menganggukkan kepalanya. Seperti biasa, ia akan makan dengan menu favorit Charlotte, bukan favoritnya. Dan itu semua makanan sisa dari Charlotte. Bisa dikatakan, karena sudah terbiasa, ia juga sudah tidak menghiraukan hal seperti ini. Naik tidak makan, ia langsung ke kamar, Alicia memandangi ruangan yang tampak sempurna tapi kosong. Hampir semua barang di sini, sisa milik Charlotte. Barang yang sudah tidak ia inginkan, dialihkan ke Alicia. Rumah ini besar… Namun kadang terasa seperti gudang barang bekas Charlotte. Ia duduk di kasur, menarik napas panjang demi meredakan semuanya. Tiba-tiba, ia menutupi wajah dan tertawa lirih karena mengingat insiden tadi. “Oh Tuhan… aku benar-benar menarik celana pria itu…” Ia ingin tertawa, tapi rasa ingin menangis juga ikut muncul. Sehari itu benar-benar campur aduk. "Untung aja pasiennya ganteng dan gagah, kalau sempat tadi pria usia 50 tahun, suami orang pula, tamat riwayat aku." Alicia meraih buku diary yang ia simpan rapi di dalam laci. Buku itu adalah harta terpenting dari masa panti asuhan. Hadiah dari seorang pemuda yang menjadi donatur. Bersama buku itu, ia juga mendapat boneka Hello Kitty pertama yang masih ia peluk tiap malam. Bukan seperti boneka-boneka mahal lain di kamarnya sekarang… yang semuanya hanya sumbangan tak berperasaan dari Charlotte. Dengan pena berputar di jemarinya, Alicia menulis beberapa baris singkat. “Hari ini gila. Pasien cedera treadmill. Terus aku salah pegang bagian yang… tidak seharusnya kusebut lagi.” Ia menutup diary itu cepat-cepat karena pipinya kembali panas mengingat kejadian itu. Alicia rebah, tenggelam dalam kasur yang terlalu empuk untuk hatinya yang keras. Ia tertidur dengan napas pelan… Di rumah yang selalu mengingatkan bahwa ia tidak pernah benar-benar diinginkan. --- Sementara itu ditempat berbeda, seorang pria merasa hidupnya yang sudah porak-poranda. Apa lagi setiap kali mengingat Alicia. Yang membuat Devan jengkel, mengapa si Otong selalu beraksi setiap kali mengingat dokter bodoh tersebut. "Ah.... Sialan, mengapa hidup ku harus seperti ini?" Devan ingin protes dan mengamuk. Namun ponselnya justru berdering. Di sana muncul sebuah nama yang membuat jantungnya berdebar dengan cepat. "Kenapa semuanya harus datang secara bersamaan?" ---“Aku sempat berpikir… mungkin lebih baik aku menjauh. Supaya kamu aman.”Napas Alicia langsung tertahan.Devan menatapnya dalam-dalam dari balik layar.“Tapi semakin kupikirkan…” lanjutnya pelan.“Aku malah makin merindukanmu.”Kalimat itu diucapkan begitu saja. Tanpa dramatis.Justru karena itulah terasa begitu nyata.Pipi Alicia langsung memanas.“Kamu ini…” gumamnya.“Apa?”“Jangan bicara seperti itu.”“Kenapa?”Alicia menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.“Karena… aku jadi salah tingkah.”Devan tertawa pelan.Tawa rendah yang hangat.Ia sedikit mendekat ke kamera.“Lucu.”“Apa yang lucu?”“Kamu.”Alicia langsung memelototinya.“Devan!”“Iya?”“Kamu sengaja ya bikin aku nggak bisa tidur lagi?”Devan mengangkat bahu santai.“Aku cuma ingin memastikan kamu masih di sana.”“Masih di mana?”Devan menatapnya lebih dalam.“Masih di tempatku.”Alicia terdiam.Hatinya bergetar.Tempatku.Bukan villa.Bukan persembunyian.Tapi… di hatinya.Untuk mengalihkan rasa gugup, Devan tiba-tib
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.Di kamar luas mansion keluarga Alexander, Devan berbaring menatap langit-langit. Lampu sudah dipadamkan, tirai tertutup rapat, pendingin ruangan berdengung stabil—semua kondisi sempurna untuk tidur.Namun matanya tetap terbuka.Ia memejamkan mata, lalu membukanya lagi dengan kesal. Bayangan wajah Alicia terus muncul di pikirannya—tatapan matanya, cara ia menggigit bibir saat gugup, dan keberanian palsu yang ia tunjukkan untuk menutupi ketakutannya.Devan menghela napas panjang.Thomas bukan orang sembarangan. Pria itu memiliki jaringan luas dan uang yang tak terbatas. Jika ia sudah mencurigai sesuatu, bukan tidak mungkin nomor ponsel Devan sedang dipantau.Itulah sebabnya ia menahan diri.Padahal ia ingin sekali menelepon Alicia. Sekadar memastikan gadis itu baik-baik saja. Mendengar suaranya saja sudah cukup.Tapi bagaimana jika panggilan itu terlacak?Bagaimana jika justru karena dirinya Alicia ditemukan?Devan membalikkan tubuh dan meli
Malam itu, udara di Mansion Alexander terasa lebih dingin dari biasanya.Langkah kaki Devan terdengar berat ketika ia memasuki ruang keluarga. Jasnya masih melekat rapi di tubuh, tetapi wajahnya jelas menunjukkan kelelahan yang tak bisa disembunyikan.Luna yang sedang duduk anggun di sofa, membaca buku, langsung mendongak. Tatapannya terkejut.“Kamu pulang ke rumah?” tanyanya, alisnya terangkat tipis.Devan mengangguk singkat. “Iya.”Luna menutup buku itu perlahan. “Ada apa? Bukannya kamu sedang dalam misi menjaga Alicia?”Nama itu saja sudah cukup membuat rahang Devan menegang.“Iya,” jawabnya datar. “Tapi Thomas curiga. Kalau aku terus ke villa, itu justru akan membahayakan Alicia.”Luna mengamati putranya dengan seksama. “Jadi?”“Untuk sementara aku tidak boleh ke sana. Tidak boleh bertemu dengannya.”Kalimat terakhir itu terdengar seperti pengakuan yang menyakitkan.Luna menyandarkan punggungnya ke sofa. “Berarti sekarang kamu tidak bisa melindunginya secara langsung.”Devan menge
Namun Sofia tidak boleh terlibat sedih dan rapuh apa lagi di depan Alicia. “Alicia, kamu masih ingat Bu Rini sebelah rumah?” suara Sofia terdengar ringan.Alicia tersenyum. “Yang tiap pagi menyiram tanaman tapi sambil mengawasi semua orang yang lewat?”“Iya! Dia kemarin tanya, ‘Anaknya Bu Sofia kok jarang kelihatan?’ Aku sampai bilang kamu lagi sibuk kerja.” Sofia terkekeh pelan. “Padahal dia cuma mau tahu gosip terbaru.”Setelah mengatakan hal itu, Sofia terdiam. Ia baru menyadari yang sebenarnya ditanya oleh tetangganya itu, Charlotte. Bukan Alicia. Alicia tertawa kecil. “Bu Rini tidak pernah berubah.”“Belum lagi si kucing oren itu,” lanjut Sofia. “Tadi pagi dia masuk dapur, meloncat ke meja, bawa lari ikan goreng. Satu rumah heboh.”Kening Alicia langsung berkerut mendengar cerita ibunya. Mana mungkin kucing itu bisa masuk ke rumah. Si oyen memang dipelihara dengan baik. Namun ia memiliki tempat tersendiri. Sebuah rumah kucing, yang dibuat seperti kos-kosan dengan fasilitas leng
Thomas dapat merasakan sesuatu yang hancur di raut wajah wanita itu.Dan semua itu… terlihat sangat nyata.Sofia tiba-tiba tertawa lagi. “Alicia memang suka sembunyi karena takut dimarahi… Alicia memang begitu. Kalau salah.”Thomas memperhatikan dengan lebih tajam.Reaksinya tidak konsisten.Menangis.Tertawa.Berteriak.Semuanya terlalu spontan.Atau terlalu sempurna?Sofia tiba-tiba mendekat, memegang lengan Thomas.“Kamu tidak akan menyakitinya, kan?” bisiknya dengan tatapan kosong.Thomas terdiam.“Saya mencintainya,” jawabnya pelan.Sofia mengangguk cepat. “Iya, iya… kamu orang baik. Alicia hanya takut. Dia memang sering takut.”Ia lalu kembali tersenyum. "Alicia, maaf ya waktu acara kamu, mami gak datang. Sebenarnya mami benar-benar tidak tahu acara itu. Tonny tidak memberi tahu mami." Sofia berkatadengan nada lirih seperti orang kehilangan arah.Thomas mundur satu langkah.Matanya menyapu ruangan sekali lagi.Tidak ada tanda keberadaan Alicia.Tidak ada kegugupan yang mencuriga
Pagar rumah Sofia terbuka perlahan.Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan. Hening turun bersama langkah kaki yang mantap.Sofia yang sedang menyiram tanaman, refleks menoleh.Dan jantungnya seketika berdegup lebih cepat.Thomas.Pria itu turun dengan setelan rapi, wajahnya tenang. Terlalu tenang.“Selamat sore, Bu Sofia.”Suaranya lembut. Santun. Bahkan sedikit menunduk memberi hormat.Sikap yang sempurna.Justru itu yang membuat Sofia takut.“Sore…” jawabnya pelan, berusaha tidak menunjukkan getaran di suaranya. “Silakan masuk.”Thomas melangkah masuk ke ruang tamu. Tatapannya berkeliling sebentar—tidak mencurigakan, tidak kasar. Hanya sekilas. Tapi Sofia tahu pria seperti dia tidak pernah melihat tanpa menghitung.“Apa Ibu sehat?” tanyanya duduk dengan tenang.“Ya aku sangat sehat.”Thomas tersenyum tipis. “Saya minta maaf mengganggu. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”Sofia menggenggam ujung bajunya tanpa sadar. “Tentang Alicia?”Thomas mengangguk pe







