แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Liazta
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-04 23:48:31

Wajah Devan langsung berubah masam begitu melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

Seakan-akan seluruh energi hidupnya tersedot habis hanya dengan satu panggilan.

Dengan gerakan paling malas sedunia, ia menggeser tombol hijau.

“Halo, Mi…”

Nada suaranya datar. Sangat datar.

“Kamu di mana?”

Suara wanita itu terdengar tajam—tajam seperti pisau dapur baru diasah.

Nada bicara yang tidak hanya bertanya… tapi juga menuntut, mengadili, dan memvonis sekaligus.

Devan memejamkan mata sejenak.

“Di rumah,” jawabnya akhirnya.

Tut.

Telepon langsung terputus.

Devan menatap layar ponselnya tidak percaya.

“Ah, kenapa tadi aku harus jujur…” gumamnya sambil mencengkeram rambut sendiri.

Ia bisa menebak apa yang akan terjadi nanti:

keributan, ceramah, dan mungkin—kalau apes—surat undangan pertemuan keluarga dadakan.

“Mi selalu begini…” Devan mengusap wajahnya. “Belum apa-apa sudah marah dulu.”

Devan memijat pelipisnya lama, seolah berharap rasa pusingnya bisa ikut menguap bersama napasnya.

Hari ini… sungguh hari yang berhasil menguji kesabaran yang sedari tadi sudah setipis tisu murah.

Istri yang egois.

Dokter yang terlalu ceroboh.

Dan sekarang—muncul lagi ras terkuat di muka bumi…

Siapa lagi kalau bukan maminya, Luna.

Devan meletakkan ponsel ke meja, menatap keatas, seakan minta bantuan pada malaikat mana pun yang kebetulan lewat.

“Aku salah apa hari ini, coba…” keluhnya lirih.

Setelah telepon tadi terputus, firasatnya berubah jadi sangat-sangat tidak enak.

Firasat yang hanya dimiliki anak lelaki yang seumur hidupnya sudah kenyang menghadapi amarah mami sendiri.

“Aku yakin Mami lagi di jalan menuju sini. Aku yakin.”

Devan menutup wajah dengan bantal.

“Kalau mami sudah tanya ‘kamu di mana?’, itu artinya Mami lagi siap-siap ke sini.”

“Kenapa dokter itu harus muncul pas hidupku lagi rumit?”

Devan berseru lirih sambil memegangi pinggulnya yang masih nyut-nyutan.

“Dan kenapa si Otong harus ikut-ikutan beraksi seperti ini?! Rasanya hidupku seperti sedang diuji cobakan yang sangat berat!”

Devan merasa jenuh karena sejak tadi hanya berbaring. Ia berdiri sambil menahan rasa perih dan berdenyut di bagian panggul. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu.

“Tolong… siapapun… jangan biarkan Mi masuk ke rumah ini sekarang.”

Devan merapatkan kedua telapak tangan, seperti berdoa meminta pengampunan.

Namun siapa yang berani melarang wanita tersebut?

---

Pintu kamar didorong keras, hingga Devan yang sedang tertidur, langsung terkejut. Wajah sang ibu, muncul di ambang pintu.

Mata tajam Luna, langsung menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Devan… yang sedang terbaring sendirian sambil menahan sakit.

Wajah Luna berubah, dari marah menjadi…tetap marah, tapi ada sedikit iba ketika memandang wajah putranya

Ia mendekat cepat, langkahnya mantap, suaranya ketus.

“Bagaimana kondisi kamu?”

“Baik, Mi…”

Jawaban Devan pendek, hambar, dan jelas banget bohong.

Luna mengangkat alis.

“Bukannya kamu cedera karena olahraga?”

“Gak parah, Mi.”

Jawaban yang semakin mencurigakan.

Padahal jelas-jelas wajah Devan pucat.

Luna menghela napas panjang—napas khas ibu yang sudah lelah menghadapi anak laki-laki keras kepala.

Ia duduk di pinggir tempat tidur, memandangi putranya lebih seksama.

Setipis apa pun usaha Devan menutupi rasa sakit, Luna bisa membaca semuanya seperti membaca buku menu.

“Lalu… mana perempuan yang sudah kamu nikahi enam bulan lalu?”

Devan menelan ludah.

“Vivian sedang melakukan shooting di Bali, Mi.”

Luna mengerjap—pelan, tapi berbahaya.

Ia menatap Devan seperti singa betina yang siap menikam mangsanya.

Devan Diam.

Suhu ruangan naik beberapa derajat. Tiba-tiba saja ruangan terasa panas.

Meskipun tahu akan memicu badai, ia tetap jujur. Karena untu apa bohong pada Luna?

Berbohong pada maminya sama saja berusaha membungkus matahari dengan plastik, meleleh sebelum berhasil.

“Lalu…”

Nada suara Luna turun, pelan tapi penuh ancaman.

“Kamu cedera, tidak bisa bergerak, dan istri kamu malah nggak ada di rumah?”

Devan menutup mata.

Ini dia… awal bencana.

“Mi…”

Devan mencoba tersenyum canggung.

“Vivian sibuk kerja…”

“Kerja?!”

Luna membalas dengan suara naik satu oktaf.

“Sibuk kerja ketika suaminya cedera?! Devan, kamu ini manusia, bukan furnitur!”

Devan ingin membalas, tapi Luna tidak memberi kesempatan.

“Kamu itu suaminya. Bukan properti pajangan yang cuma dilihat jika butuh!”

Devan sambil menyimak perkataan Luna. Entah darimana pula sang mami dapat istilah furniture.

"Kami dengan mami?"

Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Rasa nyut-nyutan di pinggulnya makin menjadi.

“Mi, jangan marah… Ini bukan salah—”

“Salah siapa kalau bukan dia?”

Luna menyambar cepat.

“Mami tanya, selama enam bulan ini, apa Vivian pernah mengurus kamu? Pernah masak untuk kamu? Pernah peduli kamu suka makan apa? Pernah ada di rumah lebih dari dua hari?!”

Diam.

Devan cuma bisa menghela napas.

Luna berdiri, memegang pinggangnya, matanya menatap langit-langit seperti berusaha menahan diri.

“Sudahlah. Aku sudah muak lihat kamu menderita.”

Devan memicingkan mata.

“Mi… jangan bilang Mami mau—”

“Aku mau bicara sama Vivian.”

Nada Luna tegas.

“Dan dia harus pulang hari ini.”

Devan langsung duduk, menyesal karena pinggulnya nyeri, tapi ia tetap memaksa.

“Mi, jangan… Vivian bisa marah kalau Mami—”

“Bagus,” potong Luna.

“Suruh dia marah sekalian. Biar mami lihat seberapa besar keberaniannya melawan mertuanya.”

Devan menepuk wajahnya sendiri.

“Aku benar-benar butuh hari tenang… Kenapa semua orang datang menyerangku bersamaan begini…”

Luna memandang putranya yang merana.

“Sudah. Kamu diam saja.”

Ia menepuk tangan Devan.

“Mami yang urus semuanya.”

Bulu kuduk Davin merinding. Devan hanya bisa menelan ludah.

Kalau Luna sudah bilang begitu…

---

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 457

    Rebecca menatap Rayan dengan mata berkaca-kaca. Perjuangan gila, rusuh, dan bikin sesak napas selama tiga hari terakhir akhirnya bermuara indah di titik ini.Rayan memutar tubuhnya, meraih jemari Rebecca untuk disalami, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat nan dalam di dahi istrinya di hadapan ribuan pasang mata.Jujur saja, meskipun hanya kecupan di kening, namun jantungnya sudah berdebar dengan kencang. "Terima kasih sudah tidak pingsan, Istriku," bisik Rayan terkekeh halus di telinga Rebecca, membuat pipi sang pengantin wanita seketika memerah sempurna.Rebecca tersenyum tipis di sela-sela matanya yang mulai basah. "Terima kasih sudah memilihku, Rayan."Di tengah riuh rendah ucapan selamat dari para tamu undangan, Rayan menggenggam tangan Rebecca erat-erat. Di barisan keluarga, Sofia masih terus menyeka air matanya, sesekali tertawa kecil saat melihat putranya yang biasanya kaku dan dingin, kini tampak begitu lembut memperlakukan istrinya. Sebuah hari baru, sebuah lembaran baru,

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 456

    Pukul delapan pagi tepat. Gedung pernikahan yang megah itu sudah dipenuhi hiruk-pikuk manusia. Sirine pengawalan polisi meraung-raung di luar, menandakan kedatangan rombongan pejabat tinggi negara dan jajaran perwira TNI.Di ruang tunggu pengantin pria, Rayan berdiri di depan cermin besar. Matanya merah, bayangan hitam di bawah matanya tercetak cukup jelas. Namun, setelan jas hitam buatan perancang kenamaan Italia yang melekat di tubuh tegapnya membuat pria itu tetap tampak gagah dan dominan secara intimidatif.Klek.Thomas masuk dengan napas terengah-engah, dasinya bahkan belum terikat rapi. "Rayan! Kotak mahar emas 2.026 gram sudah dipegang tim pengaman. Pihak KUA sudah duduk di meja akad. Kamu... kamu beneran kuat, kan? Muka kamu pucat sekali!"Rayan menelan salivanya yang terasa kering, merapikan kerah jasnya dengan jemari yang sedikit gemetar bukan karena gugup, tapi karena efek kelelahan fisik usai maraton administrasi dan uji fisik kemarin."Cepat makan dulu roti ini, biar kamu

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 455

    Pukul tiga pagi di hari H pernikahan, dan atmosfer di kedua kediaman tidak ada bedanya dengan barak militer yang baru saja dihantam serangan udara.Jangan bayangkan suasana haru nan syahdu menyelimuti calon pengantin. Yang ada hanyalah mata merah dengan lingkaran hitam pekat, napas terengah-engah, dan saraf yang nyaris putus! Selama dua hari dua malam terakhir, baik keluarga Soedirja maupun keluarga Thomas hanya sempat memejamkan mata paling banyak dua hingga tiga jam. Tidur pun tidak tenang, karena setiap lima menit sekali ponsel mereka terus melolong menyuarakan panggilan darurat dari ribuan vendor.Di kediaman Soedirja, aroma kopi hitam pekat menyengat bercampur dengan baunya minyak kayu putih.Hartono yang merupakan seorang pensiunan Jenderal militer, kini terkulai lemas di atas sofa dengan kain kompres menempel di jidatnya. Jempol tangannya kram total gara-gara menyetujui ribuan balasan pesan tamu. Di sebelahnya, Danu dan Arya tergeletak terlentang di atas karpet tanpa alas, masi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 454

    Jika di rumah Thomas kesibukan dipenuhi urusan berkas dan perhiasan, maka di kediaman Soedirja pertempurannya tak kalah menegangkan. Mode darurat militer resmi diberlakukan sejak fajar!Seluruh anggota keluarga Soedirja duduk melingkar di ruang tengah dengan ponsel masing-masing yang menempel di telapak tangan. Baterai powerbank berderet di atas meja bagaikan amunisi perang. jangankan sempat minum teh santai, untuk sekadar melangkah ke kamar mandi saja mereka tidak punya waktu!"Papa! Ini daftar kolega jenderal purnawirawan sudah di-WhatsApp semua belum?!" teriak Danu dengan mata merah menatap layar ponselnya yang tak berhenti berdenting. Jemarinya menari-nari di atas papan ketik secara brutal, mengirimkan ratusan surat undangan digital."Sudah! Tapi grup mantan alumni AKABRI belum!" sahut Hartono tak kalah heboh. Sang Jenderal yang biasanya tampil rapi, kini hanya mengenakan kaos singlet putih dan sarung yang terikat melenceng. Rambutnya acak-acakan, kacamata bacanya melorot di ujung

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 453

    “Apaan sih, Rayan?! Jangan teriak-teriak!” sahut Rebecca dari seberang telepon. Suaranya tak kalah panik, bahkan napasnya terdengar memburu. “Aku baru selesai pakai riasan tipis! Ini Bang Danu sama Bang Arya dari tadi mondar-mandir kayak satpam kompleks, ngawasin setiap langkahku!”“Bagus! Suruh abang-abangmu itu minggir sedikit. Aku sudah sampai di depan gerbang rumahmu dua menit lagi!”Rayan langsung memutuskan sambungan.CKIIIIEEEK!Ban mobil sport itu berdecit keras saat berhenti tepat di depan gerbang megah kediaman Soedirja.Tanpa mematikan mesin, Rayan langsung melompat keluar. Kemeja yang sebelumnya baru terkancing separuh kini sudah tertata rapi. Namun, gurat kelelahan dan ketegangan masih terlihat jelas di wajah tampannya.Di teras rumah, Danu dan Arya berdiri tegap sedangkan tangan mereka sibuk dengan ponselnya. Tatapan mereka tertuju pada Rayan dengan sorot mata tajam.“Apa kau ingin mengatakan bahwa pernikahan dadakan ini batal?” celetuk Danu dingin sambil melirik jam tan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 452

    Sejak fajar bahkan belum menyingsing sempurna, suasana di kediaman keluarga Thomas sudah seperti medan perang yang kacau balau. Kesibukan tingkat tinggi terjadi secara mendadak, semuanya berpacu gila dengan waktu hanya gara-gara keputusannya yang terlampau nekat: mempercepat tanggal pernikahan menjadi sangat mendesak!Rayan sendiri bolak-balik di ruang tamu dengan ponsel menempel di telinga, kemejanya bahkan belum terkancing rapi. "Halo! Apakah berkas dari kelurahan sudah selesai?! Saya butuh surat rekomendasi nikah itu ditandatangani jam delapan pagi ini juga! Tidak ada kata esok!" gertak Rayan dengan napas memburu sebelum mematikan telepon secara sepihak."Rayan! Kamu ini benar-benar bikin aku senam jantung pagi-pagi!" omel Thomas yang baru saja keluar dari ruang kerja dengan tumpukan dokumen legal dan map tebal di tangannya."Papi harus sabar, tidak boleh emosi," kata Rayan menenangkan. "Sabar katamu?" Thomas memandang Rayan dengan kesal.Thomas terpaksa mengandalkan seluruh konek

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status