Share

Bab 8

Author: Liazta
last update publish date: 2025-12-05 07:02:33

Alicia terbangun dengan mata berat, rambut kusut, dan kepala yang terasa pusing. Ia melirik jam di samping tempat tidur.

“Jam… tiga siang?”

Alicia mengucek mata.

“Ya Tuhan… aku tidur kayak mayat.”

Perutnya langsung meronta, mengingatkan bahwa ia belum menyentuh makanan sejak pagi.

Ia bahkan belum sarapan, apalagi makan siang.

“Lapar…” gumamnya lirih.

Belum sempat ia bangkit, pintu kamarnya terbuka. Sejumlah pelayan masuk dengan langkah teratur seperti rombongan parade kecil.

Di tangan mereka, tumpukan baju mewah: dress, gaun pesta, mantel, tas-tas branded, sepatu, bahkan… pakaian dalam renda-renda mahal yang bukan gayanya.

Alicia hanya bisa mematung.

Karena ia tahu apa artinya.

Barang-barang Charlotte.

Barang-barang yang Charlotte bosan pakai.

Barang-barang yang akan disumbangkan… ke dia.

Seolah dia ini gudang penampungan.

Tapi Alicia tidak merengut, tidak marah.

Ia hanya diam, duduk di tepi tempat tidur sambil menonton pelayan melipat barang-barang itu rapi seakan semua itu penghormatan.

Padahal… justru sebaliknya.

Bibi Rika masuk paling belakang, membawa kotak kecil berisi aksesoris.

“Nona Licia, Anda sudah bangun?”

Suara wanita itu lembut, hangat, dan satu-satunya suara yang dianggap paling merdu oleh Alicia.

Alicia tersenyum kecil dan mengangguk.

“Iya, Bi.”

Bibi Rika mendekat, wajahnya jelas menyimpan rasa pedih.

“Maaf, Nona… barang-barang ini disuruh Nona Charlotte untuk diberikan ke kamar Anda,” katanya pelan, seolah sedang mengabarkan kabar duka.

Alicia tersenyum lagi, senyum tipis khas orang yang sudah terlalu sering menerima ketidakadilan sampai lupa rasanya marah.

“Ya, Bi. Tidak apa-apa.”

Bibi Rika menghela napas panjang. Hatinya mencubit melihat gadis itu tidak membantah sedikit pun.

Seluruh pelayan di rumah besar ini tahu aturan tidak tertulis:

Charlotte adalah putri.

Alicia adalah penumpang.

Bahkan panggilan mereka pun berbeda.

"Nona Charlotte" dengan penuh hormat.

“Nona Alicia,” tanpa intonasi hangat.

Hanya Bibi Rika yang tidak pernah berubah sejak dulu.

Wanita itu menatap Alicia lama, seolah sedang melihat gadis kecil berusia empat tahun yang dulu pernah ia timang, ia mandikan, ia ajari menyisir rambut.

Dan sekarang—gadis kecil itu telah kembali, tapi tak punya tempat lagi.

“Aduh, Nona…” Bibi Rika memegang tangan Alicia.

“Anda harusnya tidak menerima semua ini begitu saja.”

Alicia mengangkat bahu, mencoba tersenyum.

“Tidak apa-apa bibi, tidak ada doa menolak rezeki. Tapi aku butuh bantuan bibi, untuk_”

Kalimat selanjutnya tidak jadi diucapkan Alicia. Dia tidak ingin menganggu pekerjaan wanita yang sudah paruh baya tersebut. Ia tidak ingin wanita itu dimarahin karena tidak bekerja dengan baik.

Bibi Rika menutup mulutnya, tangannya bergetar menahan emosi.

“Bagaimana bisa… putri kandung Tuan dan Nyonya diperlakukan seperti ini…”

Alicia hendak menjawab, tapi suara langkah tinggi khas Charlotte terdengar di lorong.

Bibi Rika langsung menegakkan badan, sementara Alicia hanya menarik napas pelan.

Charlotte muncul dengan aura seperti baru turun dari runway.

Gaun satin, rambut sempurna, dan ekspresi wajah sangat manis.

Ia melirik ke arah baju-baju yang kini tertumpuk di kamar Alicia.

“Oh. Sudah diantar?”

Nada suaranya seperti bertanya apakah sampah sudah diambil.

Alicia tersenyum ramah, senyum yang Charlotte benci setengah mati.

“Iya, Lotte. Terima kasih.”

Charlotte memicingkan mata—geram mendengar panggilan itu.

“Tolong jangan panggil aku begitu.”

Alicia berkedip polos.

“Kenapa? Kan dari dulu aku panggil kamu Lotte.”

“Karena itu menghina,” Charlotte mendesis.

Alicia mengangkat bahu dengan polosnya.

“Oh… maaf. Sudah kebiasaan.”

Charlotte mendengus, kemudian menatap Alicia dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Sebaiknya kau harus berterima kasih kepada ku, karena aku sudah memberikan kamu barang-barang mahal seperti ini. Kamu pakai saja semua itu. Masih layak kok… untuk kamu.”

Bibi Rika memucat, hendak bicara tapi Alicia menepuk tangannya lembut, menahan.

“Iya, Lotte. Terima kasih,” jawab Alicia dengan sikap dewasa yang justru membuat Charlotte makin jengkel.

Charlotte berbalik sambil menggulung rambutnya dengan gaya manja.

“Oh iya, nanti Papa ingin bicara sama kamu. Penting.”

Alicia membeku sesaat.

Nada itu… terlalu familiar.

Dan biasanya—berarti kabar buruk.

Charlotte tersenyum tipis, bibirnya melengkung penuh kebanggaan.

“Aku harap kamu siap.”

Ia kemudian pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan aroma parfum mahal dan hawa dingin di belakangnya.

Bibi Rika menatap Alicia dengan wajah panik.

“Nona… Anda hati-hati. Kalau Tuan memanggil…”

Alicia menarik napas panjang.

“Aku tahu, Bi.”

Ia menatap tumpukan barang mewah bekas itu.

Hari ini… hidupnya terasa semakin sesak.

Namun sikapnya tetap saja menjengkelkan. Membuat Charlotte emosi. Apa lagi ketika melihat senyum Alicia.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 516

    Ditempat yang berbeda Ada seseorang yang menjalani hari yang sama dalam kesunyian. Tony. Di balik dinding tahanan, pria itu duduk sendirian. Tidak ada suara musik. Tidak ada tawa. Tidak ada bunga. Tidak ada keluarga. Tidak ada pesta. Hanya dinding dingin dan suara langkah petugas yang sesekali terdengar dari kejauhan. Tony menundukkan kepala. Hari ini adalah hari pernikahan Charlotte. Putrinya. Anak yang paling ia sayangi. Anak yang selama bertahun-tahun ia lindungi. Anak yang dulu ia bawa ke dalam kehidupan Sofia. Anak yang bahkan pernah ia harapkan akan lebih dicintai Sofia daripada Alicia. Hari ini, putrinya menikah. Namun Tony tidak ada di sana. Ia tidak bisa melihat Charlotte berjalan menuju pernikahannya. Tidak bisa memegang tangannya. Tidak bisa memberikan nasihat sebagai seorang ayah. Dan yang paling menyakitkan... Ia tidak bisa menjadi wali bagi putrinya sendiri. Tony menutup wajahnya. Tangisnya akhirnya pecah. "Charlotte..." Nama itu keluar dari bi

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 515

    Suasana di ballroom hotel itu perlahan kembali dipenuhi kehangatan.Setelah akad pernikahan Charlotte dan Kevin selesai, para tamu mulai menikmati hidangan.Tawa terdengar di berbagai sudut.Ucapan selamat terus mengalir.Tidak ada lagi suasana tegang seperti beberapa jam sebelumnya.Meskipun rahasia besar tentang kelahiran Charlotte baru saja terbuka, keluarga itu memilih untuk tetap merayakan hari bahagia tersebut.Charlotte telah menjadi seorang istri.Dan hari ini adalah hari yang seharusnya dikenang sebagai hari bahagia.Di tengah keramaian itu, seorang gadis kecil tampak jauh lebih sibuk daripada siapa pun.Arabella.Gadis kecil itu berjalan ke sana kemari dengan langkah cepat.Matanya bahkan tidak pernah benar-benar lepas dari tiga keponakannya dan seorang bayi laki-laki yang saat ini sudah berusia delapan bulan.Arsan.Adik kecilnya itu benar-benar tidak bisa diam.Bayi laki-laki itu baru saja berhasil duduk dengan tegak, tetapi seolah-olah tidak pernah puas berada di satu tem

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 514

    Hari pernikahan Charlotte dan Kevin akhirnya tiba.Sejak pagi, hotel dipenuhi kesibukan.Bunga-bunga putih menghiasi halaman. Kursi-kursi telah tertata rapi. Para tamu mulai berdatangan, sementara keluarga besar sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk akad yang akan dilangsungkan beberapa jam lagi.Namun di tengah semua kemeriahan itu, Charlotte justru duduk dengan gelisah.Gaun pengantinnya telah dikenakan.Rambutnya ditata dengan indah. Wajahnya dipoles lembut.Hari ini seharusnya menjadi salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya.Namun ada satu orang yang terus memenuhi pikirannya.Tony.Sejak beberapa hari lalu, Charlotte sudah memikirkan satu hal.Ia ingin ayahnya hadir.Bukan sekadar sebagai tamu.Ia ingin Tony melihatnya menikah.Charlotte bahkan sudah meminta bantuan keluarga agar Tony mendapatkan izin keluar untuk sementara.Ia tahu Tony berada di tempat yang seharusnya tidak membuat seorang ayah bisa datang ke pernikahan putrinya.Namun Charlotte tetap ingin mencobanya.

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 513

    Kelahiran Si KembarDevan berada di dalam ruangan operasi. Ia duduk di kursi, tepat di samping Alicia. Wajahnya pucat, tubuhnya basah keringat. Sementara itu telapak tangan dan kaki, dingin.Tangisan bayi pertama akhirnya memecah keheningan ruang operasi.Suara itu begitu nyaring dan jelas.Alicia yang sejak tadi memejamkan mata dengan napas tersengal langsung membuka matanya.“Bayiku…”Suaranya sangat lemah.Dokter yang membantu proses persalinan tersenyum lega.“Selamat, Dokter Alicia. Bayi pertama sudah lahir.”Air mata langsung menggenang di sudut mata Alicia.Di sampingnya, Devan yang sejak tadi menggenggam tangan istrinya erat-erat tampak membeku.Ia menatap bayi mungil yang baru saja diangkat oleh dokter.Seorang bayi laki-laki.Tubuhnya mungil, kulitnya kemerahan, dan tangisannya memenuhi seluruh ruangan.“Itu… anak kita?” bisik Devan.Dokter tersenyum.“Iya. Bayi pertama. Laki-laki.”Devan menelan ludah.Matanya mulai memerah. "Anak kita ternyata sepasang. Yang keluar duluan

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 512

    "Kenapa aku harus mencari penjual?"Ia tersenyum."Kalau tidak ada yang menjual, aku bisa meminta dapur membuatnya."Devan langsung berbalik menuju area dapur.Ia menyalakan lampu.Kemudian memanggil para pelayan."Bangun!"Beberapa menit kemudian, para pelayan dapur yang masih mengantuk berdatangan dengan wajah kebingungan."Maaf, Tuan. Ada apa?"Devan menatap mereka serius."Buatkan bubur kampiun."Para pelayan saling berpandangan."Sekarang, Tuan?""Iya. Sekarang.""Tapi..."Devan langsung mengangkat tangan."Aku tahu ini jam dua pagi."Ia menunjuk jam dinding."Istriku menginginkannya."Para pelayan langsung mengerti.Mereka semua mengangguk."Baik, Tuan."Devan langsung menghela napas lega."Yang lengkap.""Baik.""Ada bubur sumsum.""Kacang hijau, ketan hitam, ketan putih, cenil, delima merah. Dan jangan pelit santannya."Para pelayan tersenyum."Baik, Tuan."Salah seorang pelayan kemudian bertanya,"Berapa banyak, Tuan?"Devan terdiam.Kemudian teringat betapa besar keinginan is

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 511

    Malam telah larut.Jam dinding di kamar utama menunjukkan pukul dua dini hari.Devan tertidur lelap setelah seharian disibukkan oleh pekerjaan di rumah sakit. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat.Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.Tubuh Devan tiba-tiba terguncang pelan.Awalnya hanya sekali. Kemudian sekali lagi. Semakin lama, guncangan itu semakin kuat. Bahkan tubuhnya sampai bergeser di atas kasur.Keningnya berkerut.Dalam kondisi masih setengah sadar, ia membuka mata perlahan.Hal pertama yang dilihatnya adalah Alicia.Istrinya sedang duduk di sampingnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devan.Namun, perhatian Devan justru langsung tertuju pada satu hal. Alicia tidur tanpa mengenakan pakaian.Perut besarnya tampak begitu bulat dan mengilap terkena cahaya lampu tidur.Devan langsung terkejut."Sayang!"Alicia berhenti mengguncang tubuhnya.Devan segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya."Kenapa kamu tidak memakai pakaian lagi?" Ia menghel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status