MasukAlicia terbangun dengan mata berat, rambut kusut, dan kepala yang terasa pusing. Ia melirik jam di samping tempat tidur.
“Jam… tiga siang?” Alicia mengucek mata. “Ya Tuhan… aku tidur kayak mayat.” Perutnya langsung meronta, mengingatkan bahwa ia belum menyentuh makanan sejak pagi. Ia bahkan belum sarapan, apalagi makan siang. “Lapar…” gumamnya lirih. Belum sempat ia bangkit, pintu kamarnya terbuka. Sejumlah pelayan masuk dengan langkah teratur seperti rombongan parade kecil. Di tangan mereka, tumpukan baju mewah: dress, gaun pesta, mantel, tas-tas branded, sepatu, bahkan… pakaian dalam renda-renda mahal yang bukan gayanya. Alicia hanya bisa mematung. Karena ia tahu apa artinya. Barang-barang Charlotte. Barang-barang yang Charlotte bosan pakai. Barang-barang yang akan disumbangkan… ke dia. Seolah dia ini gudang penampungan. Tapi Alicia tidak merengut, tidak marah. Ia hanya diam, duduk di tepi tempat tidur sambil menonton pelayan melipat barang-barang itu rapi seakan semua itu penghormatan. Padahal… justru sebaliknya. Bibi Rika masuk paling belakang, membawa kotak kecil berisi aksesoris. “Nona Licia, Anda sudah bangun?” Suara wanita itu lembut, hangat, dan satu-satunya suara yang dianggap paling merdu oleh Alicia. Alicia tersenyum kecil dan mengangguk. “Iya, Bi.” Bibi Rika mendekat, wajahnya jelas menyimpan rasa pedih. “Maaf, Nona… barang-barang ini disuruh Nona Charlotte untuk diberikan ke kamar Anda,” katanya pelan, seolah sedang mengabarkan kabar duka. Alicia tersenyum lagi, senyum tipis khas orang yang sudah terlalu sering menerima ketidakadilan sampai lupa rasanya marah. “Ya, Bi. Tidak apa-apa.” Bibi Rika menghela napas panjang. Hatinya mencubit melihat gadis itu tidak membantah sedikit pun. Seluruh pelayan di rumah besar ini tahu aturan tidak tertulis: Charlotte adalah putri. Alicia adalah penumpang. Bahkan panggilan mereka pun berbeda. "Nona Charlotte" dengan penuh hormat. “Nona Alicia,” tanpa intonasi hangat. Hanya Bibi Rika yang tidak pernah berubah sejak dulu. Wanita itu menatap Alicia lama, seolah sedang melihat gadis kecil berusia empat tahun yang dulu pernah ia timang, ia mandikan, ia ajari menyisir rambut. Dan sekarang—gadis kecil itu telah kembali, tapi tak punya tempat lagi. “Aduh, Nona…” Bibi Rika memegang tangan Alicia. “Anda harusnya tidak menerima semua ini begitu saja.” Alicia mengangkat bahu, mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa bibi, tidak ada doa menolak rezeki. Tapi aku butuh bantuan bibi, untuk_” Kalimat selanjutnya tidak jadi diucapkan Alicia. Dia tidak ingin menganggu pekerjaan wanita yang sudah paruh baya tersebut. Ia tidak ingin wanita itu dimarahin karena tidak bekerja dengan baik. Bibi Rika menutup mulutnya, tangannya bergetar menahan emosi. “Bagaimana bisa… putri kandung Tuan dan Nyonya diperlakukan seperti ini…” Alicia hendak menjawab, tapi suara langkah tinggi khas Charlotte terdengar di lorong. Bibi Rika langsung menegakkan badan, sementara Alicia hanya menarik napas pelan. Charlotte muncul dengan aura seperti baru turun dari runway. Gaun satin, rambut sempurna, dan ekspresi wajah sangat manis. Ia melirik ke arah baju-baju yang kini tertumpuk di kamar Alicia. “Oh. Sudah diantar?” Nada suaranya seperti bertanya apakah sampah sudah diambil. Alicia tersenyum ramah, senyum yang Charlotte benci setengah mati. “Iya, Lotte. Terima kasih.” Charlotte memicingkan mata—geram mendengar panggilan itu. “Tolong jangan panggil aku begitu.” Alicia berkedip polos. “Kenapa? Kan dari dulu aku panggil kamu Lotte.” “Karena itu menghina,” Charlotte mendesis. Alicia mengangkat bahu dengan polosnya. “Oh… maaf. Sudah kebiasaan.” Charlotte mendengus, kemudian menatap Alicia dari ujung kaki sampai ujung rambut. “Sebaiknya kau harus berterima kasih kepada ku, karena aku sudah memberikan kamu barang-barang mahal seperti ini. Kamu pakai saja semua itu. Masih layak kok… untuk kamu.” Bibi Rika memucat, hendak bicara tapi Alicia menepuk tangannya lembut, menahan. “Iya, Lotte. Terima kasih,” jawab Alicia dengan sikap dewasa yang justru membuat Charlotte makin jengkel. Charlotte berbalik sambil menggulung rambutnya dengan gaya manja. “Oh iya, nanti Papa ingin bicara sama kamu. Penting.” Alicia membeku sesaat. Nada itu… terlalu familiar. Dan biasanya—berarti kabar buruk. Charlotte tersenyum tipis, bibirnya melengkung penuh kebanggaan. “Aku harap kamu siap.” Ia kemudian pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan aroma parfum mahal dan hawa dingin di belakangnya. Bibi Rika menatap Alicia dengan wajah panik. “Nona… Anda hati-hati. Kalau Tuan memanggil…” Alicia menarik napas panjang. “Aku tahu, Bi.” Ia menatap tumpukan barang mewah bekas itu. Hari ini… hidupnya terasa semakin sesak. Namun sikapnya tetap saja menjengkelkan. Membuat Charlotte emosi. Apa lagi ketika melihat senyum Alicia. ---"Bagaimana kehidupanmu sekarang?" tanya Alicia sambil menatap dalam-dalam paras Charlotte yang tampak berbeda dari yang ia ingat.Charlotte menyunggingkan senyum tipis—sebuah ukiran bibir yang dipaksakan demi membungkus rapi kepahitan hidupnya yang kian hancur. "Hidupku sekarang... sudah sangat baik."Padahal, jauh sebelum melangkah ke ballroom ini, Charlotte dipenuhi keraguan besar. Ia sama sekali tak yakin Rayan akan mengizinkannya masuk. Namun, demi mempertahankan sisa harga dirinya di hadapan keluarga yang pernah ia khianati, Charlotte tetap bersiap mati-matian. Perhiasan imitasi berkilau yang melekat di leher dan jemarinya sengaja ia beli, semata-mata agar mereka percaya bahwa kehidupannya baik-baik saja dan tak perlu mengasihaninya.Alicia memandang detail perhiasan itu, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Sebagai wanita, ia mengerti betul apa yang sedang berusaha disembunyikan Charlotte."Alicia... maafkan aku," lirih Charlotte lagi, matanya mulai memerah."Hmm... bukankah tadi
Charlotte berdiri di depan pintu utama ballroom dengan kepala menunduk dalam-dalam. Setiap kali ada tamu penting yang melintas, ia makin merapatkan tubuhnya, tak berani menatap wajah siapa pun. Rasa malu yang teramat sangat menyergap hatinya. Bagaimana jika ada pengunjung klub malam tempatnya bekerja dulu yang mengenalinya di sini? Di tengah orang-orang terpandang ini, ia merasa begitu kecil dan asing.Gadis itu menunggu dengan gelisah. Jantungnya berdegup tak karuan antara harapan kecil dan ketakutan akan diusir. Namun, kalaupun harus diusir... ia sudah siap pasrah.Klek.Pintu kayu berukir megah itu mendadak terbuka lebar. Pria bertubuh tegap yang tadi membawa kadonya berjalan melangkah ke arahnya."Nona Charlotte, Anda diperbolehkan untuk masuk," ujar petugas itu sopan.DEG!Dada Charlotte berdesir hebat. Ia tak menyangka pintunya benar-benar dibukakan. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menatap petugas itu. "T-terima kasih..."Tanpa membuang waktu satu detik pun, Charlotte me
Penjaga keamanan bertubuh tegap itu melangkah cepat menerobos riuhnya para tamu di dalam ballroom mewah. Ia berjalan lurus menuju pelaminan, mendekati Rayan, lalu membisikkan pesan serta menyerahkan kotak kado dari Charlotte.Rayan terdiam sejenak. Tangannya yang menggenggam kotak kado itu terasa begitu berat. Pandangannya bergulir perlahan menatap pintu besar di ujung ballroom yang tertutup rapat. Seketika, dadanya dihantam rasa sesak yang berdenyut nyeri.Bagaimanapun juga... Charlotte adalah adiknya. Di dalam tubuh gadis itu mengalir darah yang sama dari ayah mereka, Tonny. Rayan kembali teringat saat pertama kali melihat Charlotte yang kebingungan di klub malam dulu—seorang gadis muda yang rapuh dan hanya menjadi korban dari keegoisan orang tua mereka."Sayang... aku permisi menemui Mami dan Alicia sebentar, ya?" bisik Rayan lembut pada Rebecca.Rebecca menatap wajah suaminya yang mendadak serius, lalu mengangguk paham sambil tersenyum lembut. "Iya, Mas. Pergilah."Rayan turun dar
Rebecca menatap Rayan dengan mata berkaca-kaca. Perjuangan gila, rusuh, dan bikin sesak napas selama tiga hari terakhir akhirnya bermuara indah di titik ini.Rayan memutar tubuhnya, meraih jemari Rebecca untuk disalami, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat nan dalam di dahi istrinya di hadapan ribuan pasang mata.Jujur saja, meskipun hanya kecupan di kening, namun jantungnya sudah berdebar dengan kencang. "Terima kasih sudah tidak pingsan, Istriku," bisik Rayan terkekeh halus di telinga Rebecca, membuat pipi sang pengantin wanita seketika memerah sempurna.Rebecca tersenyum tipis di sela-sela matanya yang mulai basah. "Terima kasih sudah memilihku, Rayan."Di tengah riuh rendah ucapan selamat dari para tamu undangan, Rayan menggenggam tangan Rebecca erat-erat. Di barisan keluarga, Sofia masih terus menyeka air matanya, sesekali tertawa kecil saat melihat putranya yang biasanya kaku dan dingin, kini tampak begitu lembut memperlakukan istrinya. Sebuah hari baru, sebuah lembaran baru,
Pukul delapan pagi tepat. Gedung pernikahan yang megah itu sudah dipenuhi hiruk-pikuk manusia. Sirine pengawalan polisi meraung-raung di luar, menandakan kedatangan rombongan pejabat tinggi negara dan jajaran perwira TNI.Di ruang tunggu pengantin pria, Rayan berdiri di depan cermin besar. Matanya merah, bayangan hitam di bawah matanya tercetak cukup jelas. Namun, setelan jas hitam buatan perancang kenamaan Italia yang melekat di tubuh tegapnya membuat pria itu tetap tampak gagah dan dominan secara intimidatif.Klek.Thomas masuk dengan napas terengah-engah, dasinya bahkan belum terikat rapi. "Rayan! Kotak mahar emas 2.026 gram sudah dipegang tim pengaman. Pihak KUA sudah duduk di meja akad. Kamu... kamu beneran kuat, kan? Muka kamu pucat sekali!"Rayan menelan salivanya yang terasa kering, merapikan kerah jasnya dengan jemari yang sedikit gemetar bukan karena gugup, tapi karena efek kelelahan fisik usai maraton administrasi dan uji fisik kemarin."Cepat makan dulu roti ini, biar kamu
Pukul tiga pagi di hari H pernikahan, dan atmosfer di kedua kediaman tidak ada bedanya dengan barak militer yang baru saja dihantam serangan udara.Jangan bayangkan suasana haru nan syahdu menyelimuti calon pengantin. Yang ada hanyalah mata merah dengan lingkaran hitam pekat, napas terengah-engah, dan saraf yang nyaris putus! Selama dua hari dua malam terakhir, baik keluarga Soedirja maupun keluarga Thomas hanya sempat memejamkan mata paling banyak dua hingga tiga jam. Tidur pun tidak tenang, karena setiap lima menit sekali ponsel mereka terus melolong menyuarakan panggilan darurat dari ribuan vendor.Di kediaman Soedirja, aroma kopi hitam pekat menyengat bercampur dengan baunya minyak kayu putih.Hartono yang merupakan seorang pensiunan Jenderal militer, kini terkulai lemas di atas sofa dengan kain kompres menempel di jidatnya. Jempol tangannya kram total gara-gara menyetujui ribuan balasan pesan tamu. Di sebelahnya, Danu dan Arya tergeletak terlentang di atas karpet tanpa alas, masi







