Share

Bab 9

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2025-12-05 10:32:24

Alicia melangkah pelan masuk ke ruangan tamu. Wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak lemah. Perutnya kosong sejak pagi, tapi ia terlalu lelah untuk mengeluh.

Di dalam, Tonny, Sofia, Charlotte, dan Jerry sudah menunggu. Suasana hening sejenak ketika mereka melihat keadaan Alicia. Ada kekhawatiran yang tak terucap.

Sofia berdiri lebih dulu, mendekati Alicia dengan senyum yang tampak sangat lebar. Senyum yang jarang sekali diberikan pada putrinya selama ini.

“Sayang, ini ada hadiah untuk kamu.”

Nada suaranya penuh semangat, seolah ingin menebus sesuatu.

Ia memberikan beberapa kantong berisi pakaian mewah dan sepatu. Alicia tertegun. Ia tidak terbiasa menerima perhatian sebesar ini. Bahkan rasanya agak aneh… dan menyesakkan.

Tapi ia tetap tersenyum kecil, menerima semuanya dengan hati-hati.

Ia mengeluarkan satu pasang sepatu. Warnanya merah mengkilap, model yang bukan dirinya sukai sama sekali. Alicia menyukai hal-hal sederhana, bukan sesuatu yang terasa seperti sorotan lampu.

Namun ia tetap mengangguk pelan, hanya mencoba menghargai usaha ibunya.

Untuk momen seperti ini… dia terlalu takut kalau menolak justru menyakiti.

Alicia memeriksa ukurannya.

Empat puluh.

Sementara ukuran kakinya tiga puluh tujuh.

Ada jeda kecil.

Alicia menelan ludah, lalu memaksakan senyum.

Walau dalam hati ia tahu, ukuran itu tak mungkin cocok, ia tetap mencoba memasukkannya ke kaki. Gerakannya pelan, wajahnya tetap ramah meski rasa sakit menusuk hatinya. Tapi ya sudahlah, ia hanya sedang mengikuti peranan nya.

Sofia terlihat sangat bahagia ketika melihat Alicia mencoba sepatu itu. Senyumnya begitu tulus, tulus dengan cara yang membuat Alicia terdiam sejenak.

Tonny berdiri memperhatikan dari jauh. Jujur, ia tampak tidak tahu harus berkata apa. Charlotte menunduk, entah menyembunyikan kegugupan atau ketidaksukaannya. Jerry hanya melirik sekilas, terlihat canggung.

Alicia berdiri tegak, mencoba menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.

“Terima kasih, Mami, sepatu ini sangat bagus dan juga harganya mahal sekali,” ucap Alicia lembut.

Sederhana, tapi terdengar seperti kata yang berat untuk dilepaskan.

Dan Sofia tersenyum semakin hangat, seolah kalimat itu adalah hal paling berharga yang pernah ia dengar dari putrinya.

Alicia meletakkan sepatu merah itu perlahan, lalu meraih paperbag kedua. Ia membuka lipatannya dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang bukan miliknya.

Di dalamnya ada atasan mewah dan celana mahal. Bahannya lembut, elegan… tapi ukurannya jelas bukan untuknya. Celananya sangat panjang, potongan khas Charlotte. Begitu juga bajunya, bahu yang terlalu lebar, lengan yang terlalu panjang.

Alicia menghela napas tipis, tapi tetap tersenyum. Senyuman kecil yang tampak dipaksakan, tapi tidak ingin menyakiti perasaan siapa pun.

Ia mengangkat celana itu ke depan tubuhnya. Panjangnya saja sudah terlihat, Alicia memposisikan celana itu di atas dadanya, barulah celana itu pas semata kaki.

Namun yang membuat dadanya seperti diremas, ketika melihat ekspresi wajah Sofia yang seperti orang bodoh dan bahkan tertawa bahagia.

Yang menjadi pertanyaan, siapa yang menjadi badut lucu. Apakah Alicia, atau justru Sofia?

Meskipun sudah seperti ini, Alicia tetap tersenyum manis memandang Sofia yang tampak sangat bahagia. Bahkan wanita yang terlihat elegan dan berkelas itu, bertepuk tangan karena senang.

“Bagus sekali…” katanya lembut.

Sofia tersenyum bangga, matanya berbinar.

Charlotte memutar bola mata diam-diam.

Tonny hanya meraba dagunya, tak terlalu mengerti soal ukuran baju wanita.

Jerry berpura-pura sibuk memainkan jam tangannya.

Alicia masih memegang celana panjang yang jelas-jelas bukan ukurannya. Senyum pucatnya mulai memudar. Ia menatap pakaian itu lama, lalu menatap Sofia dan Tonny bergantian.

Alicia menahan celana itu, lalu bicara pelan.

“Mi… ini ukuran Lotte, kan?”

Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana.

Tidak ada nada menyindir, tidak ada maksud buruk.

Tapi di telinga Sofia, yang sedang berusaha keras menebus kesalahan di masa lalu, kata-kata itu terdengar seperti tamparan.

Senyumnya hilang seketika.

Matanya melebar.

Suasana berubah hening.

Darah Sofia seolah mendidih dalam sekejap.

“Alicia.” Suaranya turun satu oktaf, dingin, tajam. “Kenapa kamu bilang begitu?”

"Kaki kecil, ukuran 37, ini 40. Tubuhku rendah, tinggi 155, sedang celana ini, bukankah cocoknya untuk si Lotte? Begitu juga dengan baju ini."

Alicia berkata sambil menunjukkan barang-barang yang di pegangnya. Kemudian ia melihat dengan sangat hati-hati, ke dalam paperbag.

Wajah Sofia merah padam mendengar perkataan dari Alicia.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 508

    Thomas menjawab singkat, seolah-olah itu sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.Kemudian ia menoleh kepada Alicia, Rayan, Devan, dan Rebecca."Kalian tolong ikut dengan perawat ini mengantarkan adik kalian ke ruang perawatan bayi."Thomas menunjuk boks kecil itu."Tapi setelah itu, kalian tetap harus kembali ke sini. Papi masih ingin bersama Mami kalian. Setelah operasi, Mami akan menjalani observasi, dan Papi tidak ingin meninggalkannya."Alicia langsung mengangguk cepat."Baik, Papi."Rayan juga mengangguk."Tenang saja. Biar kami yang mengantarkan adik."Thomas menatap mereka satu per satu."Jangan terlalu lama di sana."Alicia mengerutkan kening."Papi, kami hanya ingin melihat ruangan perawatannya.""Aku tahu.""Dan melihat adik tidur.""Aku juga tahu.""Kalau begitu, kenapa Papi masih mengingatkan?"Thomas tersenyum."Karena kalian semua terlalu bersemangat."Devan langsung menunjuk Alicia dan Rebecca."Itu benar."Alicia dan Rebecca kembali menggelengkan kepala."Kami hanya i

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 507

    Sementara itu, Thomas akhirnya keluar dari ruang operasi.Wajahnya masih mengenakan masker, tetapi sorot matanya jauh lebih lega. Ketika melihat keluarga yang berkumpul di dekat boks bayi, ia langsung menghampiri mereka."Bagaimana?" tanya Rayan.Thomas mengangguk."Sofia masih berada di dalam. Operasinya sudah selesai, tetapi setelah ini dia akan menjalani observasi."Alicia segera mendekati ayahnya."Papi, Mami baik-baik saja, kan?"Thomas tersenyum."Baik, Sayang. Dokter bilang semuanya berjalan lancar."Alicia mengembuskan napas lega."Alhamdulillah."Rebecca ikut tersenyum."Syukurlah."Thomas kemudian mengalihkan pandangan kepada boks bayi.Seketika, wajahnya berubah lembut.Ia melangkah mendekat.Bayi mungil itu sedang terbaring dengan mata terpejam. Kedua tangannya bergerak-gerak kecil di bawah selimut.Thomas menunduk dan tersenyum."Hai, Jagoan..."Suaranya begitu lembut, jauh berbeda dari suara tegasnya ketika berada di ruang rapat."Papi sudah di sini."Bayi itu menggerakk

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 506

    Pintu otomatis ruang operasi perlahan bergeser terbuka.Seorang perawat keluar sambil mendorong sebuah boks bayi transparan beroda. Di dalamnya, terbaring seorang bayi laki-laki mungil yang baru saja melihat dunia untuk pertama kalinya.Tubuhnya dibungkus selimut putih bersih. Sebuah topi kecil menutupi kepalanya, menyisakan wajah mungil dengan pipi kemerahan dan bibir merah yang sesekali bergerak-gerak.Tangisan yang tadi terdengar nyaring kini telah mereda menjadi rengekan kecil.Alicia yang berdiri paling dekat dengan pintu langsung membelalakkan mata."Itu adik bayi?"Perawat tersebut tersenyum."Iya, dokter Alicia. Ini putra Nyonya Sofia."Alicia spontan melangkah mendekat."Ya ampun..."Kedua tangannya terangkat menutupi mulut."Adikku! Bagaimana dengan kondisi mami?""Nyonya Sofia sangat baik."Rayan yang berdiri di samping Rebecca juga segera mendekati boks tersebut. Devan dan Rebecca tidak mau ketinggalan.Dalam sekejap, keempat orang itu mengelilingi boks bayi.Mereka semua

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 505

    Pintu ruangan operasi tertutup rapat.Sofia menarik napas panjang.Thomas menggenggam tangannya."Sebentar lagi kita bertemu dengan putra kita."Sofia tersenyum."Iya."Thomas menunduk dan mengecup keningnya."Semangat.""Kamu juga."Thomas mengernyit."Aku?"Sofia tertawa kecil."Iya. Kamu yang dari tadi paling pucat."Semua orang tertawa.Bahkan salah seorang perawat ikut tersenyum melihat pasangan itu..Dan untuk beberapa saat, dunia di luar terasa sunyi.Di dalam ruang operasi, suasananya jauh berbeda.Semua tenaga medis bergerak dengan tenang dan profesional.Sofia telah dipersiapkan untuk menjalani operasi. Sementara Thomas duduk setia di sisi kepala istrinya.Pria itu sama sekali tidak berani melihat ke arah tirai pembatas.Matanya hanya tertuju pada wajah Sofia.Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia merasa seluruh tubuhnya ikut bergetar.Sofia justru tampak lebih tenang."Kenapa wajahmu seperti itu?"Thomas mencoba tersenyum."Aku baik-baik saja.""Kamu pucat.""Aku mem

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 504

    Suasana di lorong VIP menuju ruang operasi hari itu terasa begitu hangat, menegangkan, sekaligus menggemaskan.Sofia telah berbaring nyaman di atas ranjang dorong dengan perutnya yang sudah membuncit besar. Setelah menunggu begitu lama, akhirnya hari yang dinanti-nantikan tiba.Hari ini, ia akan menyambut kehadiran putra kecilnya melalui operasi caesar.Di sekelilingnya, garda terdepan keluarga Dominic bukan hanya para pria tegap yang biasanya mengenakan setelan jas.Kali ini, barisan paling depan justru didominasi para wanita berbadan dua.Rebecca yang usia kehamilannya telah memasuki tujuh bulan tampak terus mengelus perut besarnya. Sementara Alicia, yang baru memasuki bulan keempat kehamilannya, justru terlihat paling lincah dan bersemangat.Tak jauh dari sana, Rayan, Devan, dan tentu saja Thomas berdiri mendampingi Sofia.Namun, dari ketiganya, Thomas-lah yang tampak paling sulit menyembunyikan kegelisahannya.Alicia menggenggam lembut jemari ibu kandungnya."Mami, bagaimana? Mami

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 503

    Usia kandungan Alicia kini resmi memasuki bulan keempat. Pagi yang cerah ini menjadi pagi paling membahagiakan dan ajaib dalam hidup Devan.Saat membuka mata, Devan tidak mendapati dirinya ditendang turun dari tempat tidur atau disambut jeritan histeris. Justru sebaliknya—Alicia sudah terbangun lebih dulu, bersandar manis di dadanya, melingkarkan kedua lengan halus itu di leher Devan, lalu berbisik lembut, "Aku kangen kamu..."Mata Devan seketika berkaca-kaca menatap wajah cantik istrinya. "K-kamu... tidak memarahiku? Kamu tidak mual? Tidak benci melihat mukaku lagi?"Alicia menggelengkan kepala pelan dengan wajah polosnya. "Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku rindu sekali, Devan... Tapi tiap kali kamu dekat, perutku mendadak mual dan mau muntah, jadi aku terpaksa mengusirmu."Rasa bersalah dan iba mendadak menggeledak di dada Devan. Pria itu langsung merengkuh tubuh Alicia ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Jemari besarnya bergerak lembut, mengusa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status