MasukAlicia melangkah pelan masuk ke ruangan tamu. Wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak lemah. Perutnya kosong sejak pagi, tapi ia terlalu lelah untuk mengeluh.
Di dalam, Tonny, Sofia, Charlotte, dan Jerry sudah menunggu. Suasana hening sejenak ketika mereka melihat keadaan Alicia. Ada kekhawatiran yang tak terucap. Sofia berdiri lebih dulu, mendekati Alicia dengan senyum yang tampak sangat lebar. Senyum yang jarang sekali diberikan pada putrinya selama ini. “Sayang, ini ada hadiah untuk kamu.” Nada suaranya penuh semangat, seolah ingin menebus sesuatu. Ia memberikan beberapa kantong berisi pakaian mewah dan sepatu. Alicia tertegun. Ia tidak terbiasa menerima perhatian sebesar ini. Bahkan rasanya agak aneh… dan menyesakkan. Tapi ia tetap tersenyum kecil, menerima semuanya dengan hati-hati. Ia mengeluarkan satu pasang sepatu. Warnanya merah mengkilap, model yang bukan dirinya sukai sama sekali. Alicia menyukai hal-hal sederhana, bukan sesuatu yang terasa seperti sorotan lampu. Namun ia tetap mengangguk pelan, hanya mencoba menghargai usaha ibunya. Untuk momen seperti ini… dia terlalu takut kalau menolak justru menyakiti. Alicia memeriksa ukurannya. Empat puluh. Sementara ukuran kakinya tiga puluh tujuh. Ada jeda kecil. Alicia menelan ludah, lalu memaksakan senyum. Walau dalam hati ia tahu, ukuran itu tak mungkin cocok, ia tetap mencoba memasukkannya ke kaki. Gerakannya pelan, wajahnya tetap ramah meski rasa sakit menusuk hatinya. Tapi ya sudahlah, ia hanya sedang mengikuti peranan nya. Sofia terlihat sangat bahagia ketika melihat Alicia mencoba sepatu itu. Senyumnya begitu tulus, tulus dengan cara yang membuat Alicia terdiam sejenak. Tonny berdiri memperhatikan dari jauh. Jujur, ia tampak tidak tahu harus berkata apa. Charlotte menunduk, entah menyembunyikan kegugupan atau ketidaksukaannya. Jerry hanya melirik sekilas, terlihat canggung. Alicia berdiri tegak, mencoba menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. “Terima kasih, Mami, sepatu ini sangat bagus dan juga harganya mahal sekali,” ucap Alicia lembut. Sederhana, tapi terdengar seperti kata yang berat untuk dilepaskan. Dan Sofia tersenyum semakin hangat, seolah kalimat itu adalah hal paling berharga yang pernah ia dengar dari putrinya. Alicia meletakkan sepatu merah itu perlahan, lalu meraih paperbag kedua. Ia membuka lipatannya dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang bukan miliknya. Di dalamnya ada atasan mewah dan celana mahal. Bahannya lembut, elegan… tapi ukurannya jelas bukan untuknya. Celananya sangat panjang, potongan khas Charlotte. Begitu juga bajunya, bahu yang terlalu lebar, lengan yang terlalu panjang. Alicia menghela napas tipis, tapi tetap tersenyum. Senyuman kecil yang tampak dipaksakan, tapi tidak ingin menyakiti perasaan siapa pun. Ia mengangkat celana itu ke depan tubuhnya. Panjangnya saja sudah terlihat, Alicia memposisikan celana itu di atas dadanya, barulah celana itu pas semata kaki. Namun yang membuat dadanya seperti diremas, ketika melihat ekspresi wajah Sofia yang seperti orang bodoh dan bahkan tertawa bahagia. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang menjadi badut lucu. Apakah Alicia, atau justru Sofia? Meskipun sudah seperti ini, Alicia tetap tersenyum manis memandang Sofia yang tampak sangat bahagia. Bahkan wanita yang terlihat elegan dan berkelas itu, bertepuk tangan karena senang. “Bagus sekali…” katanya lembut. Sofia tersenyum bangga, matanya berbinar. Charlotte memutar bola mata diam-diam. Tonny hanya meraba dagunya, tak terlalu mengerti soal ukuran baju wanita. Jerry berpura-pura sibuk memainkan jam tangannya. Alicia masih memegang celana panjang yang jelas-jelas bukan ukurannya. Senyum pucatnya mulai memudar. Ia menatap pakaian itu lama, lalu menatap Sofia dan Tonny bergantian. Alicia menahan celana itu, lalu bicara pelan. “Mi… ini ukuran Lotte, kan?” Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Tidak ada nada menyindir, tidak ada maksud buruk. Tapi di telinga Sofia, yang sedang berusaha keras menebus kesalahan di masa lalu, kata-kata itu terdengar seperti tamparan. Senyumnya hilang seketika. Matanya melebar. Suasana berubah hening. Darah Sofia seolah mendidih dalam sekejap. “Alicia.” Suaranya turun satu oktaf, dingin, tajam. “Kenapa kamu bilang begitu?” "Kaki kecil, ukuran 37, ini 40. Tubuhku rendah, tinggi 155, sedang celana ini, bukankah cocoknya untuk si Lotte? Begitu juga dengan baju ini." Alicia berkata sambil menunjukkan barang-barang yang di pegangnya. Kemudian ia melihat dengan sangat hati-hati, ke dalam paperbag. Wajah Sofia merah padam mendengar perkataan dari Alicia. ---Di sudut meja area keluarga yang mulai tenang, Charlotte duduk berhadapan dengan Sofia. Riuk-pikuk pesta, denting dentang piring, dan tawa para tamu seolah mengabur di sekitar mereka. Charlotte menatap paras anggun wanita di hadapannya dengan binar mata yang penuh kerinduan—kerinduan seorang anak pada sosok ibu yang pernah memberinya kehangatan tiada tara."Mami... terima kasih," lirih Charlotte dengan suara bergetar.Sofia yang sedang memegang cangkir tehnya menoleh pelan. "Untuk apa?""Karena... karena Mami tidak mengusirku," bisik Charlotte menundukkan kepala. "Dulu... dulu aku begitu keras kepala, tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Tapi sekarang... sekarang aku sudah bisa menerimanya, Mi."Sofia hanya diam. Pikirannya sempat menerawang ke masa lalu yang penuh luka. Sejujurnya, ia tak lagi berminat untuk mengorek lembaran lama yang telah terkubur rapi bersama bahagianya kehidupan barunya sekarang. Namun melihat ketulusan dan kepasrahan di wajah Charlotte, Sofia memilih tetap
Aroma cairan antiseptik bercampur wangi Bunga Lili yang memenuhi kamar VIP ruang perawatan tak mampu menenangkan gejolak di dada Devan. Pria jangkung itu berbaring dengan posisi miring di atas bangsal dengan dahi berkerut tajam, matanya tak lepas menatap jam dinding yang berdetik dengan sangat lambat.Pukul empat sore lewat sepuluh menit."Lama sekali..." gumam Devan gusar. Ia berbalik miring ke kanan, meringis sebentar karena bahunya yang diperban sedikit tertarik, lalu berbalik miring ke kiri. Gerakannya persis seperti cacing yang kepanasan."Bukankah di sana banyak artis? Itu artinya banyak aktor tampan? Apa ada yang menganggu Alicia?" Devan semakin gelisah. Sangat tidak tenang! Padahal Alicia pamit pergi ke resepsi pernikahan Rayan dan Rebecca cuma untuk menyapa dan menyerahkan kado mewakili dirinya yang masih terbaring. Tapi ini sudah jam berapa? Kenapa gadis itu belum memunculkan batang hidungnya juga?!"Jangan-jangan di sana dia ketemu cowok lain? Atau jalanan macet terus dia
"Bagaimana kehidupanmu sekarang?" tanya Alicia sambil menatap dalam-dalam paras Charlotte yang tampak berbeda dari yang ia ingat.Charlotte menyunggingkan senyum tipis—sebuah ukiran bibir yang dipaksakan demi membungkus rapi kepahitan hidupnya yang kian hancur. "Hidupku sekarang... sudah sangat baik."Padahal, jauh sebelum melangkah ke ballroom ini, Charlotte dipenuhi keraguan besar. Ia sama sekali tak yakin Rayan akan mengizinkannya masuk. Namun, demi mempertahankan sisa harga dirinya di hadapan keluarga yang pernah ia khianati, Charlotte tetap bersiap mati-matian. Perhiasan imitasi berkilau yang melekat di leher dan jemarinya sengaja ia beli, semata-mata agar mereka percaya bahwa kehidupannya baik-baik saja dan tak perlu mengasihaninya.Alicia memandang detail perhiasan itu, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Sebagai wanita, ia mengerti betul apa yang sedang berusaha disembunyikan Charlotte."Alicia... maafkan aku," lirih Charlotte lagi, matanya mulai memerah."Hmm... bukankah tadi
Charlotte berdiri di depan pintu utama ballroom dengan kepala menunduk dalam-dalam. Setiap kali ada tamu penting yang melintas, ia makin merapatkan tubuhnya, tak berani menatap wajah siapa pun. Rasa malu yang teramat sangat menyergap hatinya. Bagaimana jika ada pengunjung klub malam tempatnya bekerja dulu yang mengenalinya di sini? Di tengah orang-orang terpandang ini, ia merasa begitu kecil dan asing.Gadis itu menunggu dengan gelisah. Jantungnya berdegup tak karuan antara harapan kecil dan ketakutan akan diusir. Namun, kalaupun harus diusir... ia sudah siap pasrah.Klek.Pintu kayu berukir megah itu mendadak terbuka lebar. Pria bertubuh tegap yang tadi membawa kadonya berjalan melangkah ke arahnya."Nona Charlotte, Anda diperbolehkan untuk masuk," ujar petugas itu sopan.DEG!Dada Charlotte berdesir hebat. Ia tak menyangka pintunya benar-benar dibukakan. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menatap petugas itu. "T-terima kasih..."Tanpa membuang waktu satu detik pun, Charlotte me
Penjaga keamanan bertubuh tegap itu melangkah cepat menerobos riuhnya para tamu di dalam ballroom mewah. Ia berjalan lurus menuju pelaminan, mendekati Rayan, lalu membisikkan pesan serta menyerahkan kotak kado dari Charlotte.Rayan terdiam sejenak. Tangannya yang menggenggam kotak kado itu terasa begitu berat. Pandangannya bergulir perlahan menatap pintu besar di ujung ballroom yang tertutup rapat. Seketika, dadanya dihantam rasa sesak yang berdenyut nyeri.Bagaimanapun juga... Charlotte adalah adiknya. Di dalam tubuh gadis itu mengalir darah yang sama dari ayah mereka, Tonny. Rayan kembali teringat saat pertama kali melihat Charlotte yang kebingungan di klub malam dulu—seorang gadis muda yang rapuh dan hanya menjadi korban dari keegoisan orang tua mereka."Sayang... aku permisi menemui Mami dan Alicia sebentar, ya?" bisik Rayan lembut pada Rebecca.Rebecca menatap wajah suaminya yang mendadak serius, lalu mengangguk paham sambil tersenyum lembut. "Iya, Mas. Pergilah."Rayan turun dar
Rebecca menatap Rayan dengan mata berkaca-kaca. Perjuangan gila, rusuh, dan bikin sesak napas selama tiga hari terakhir akhirnya bermuara indah di titik ini.Rayan memutar tubuhnya, meraih jemari Rebecca untuk disalami, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat nan dalam di dahi istrinya di hadapan ribuan pasang mata.Jujur saja, meskipun hanya kecupan di kening, namun jantungnya sudah berdebar dengan kencang. "Terima kasih sudah tidak pingsan, Istriku," bisik Rayan terkekeh halus di telinga Rebecca, membuat pipi sang pengantin wanita seketika memerah sempurna.Rebecca tersenyum tipis di sela-sela matanya yang mulai basah. "Terima kasih sudah memilihku, Rayan."Di tengah riuh rendah ucapan selamat dari para tamu undangan, Rayan menggenggam tangan Rebecca erat-erat. Di barisan keluarga, Sofia masih terus menyeka air matanya, sesekali tertawa kecil saat melihat putranya yang biasanya kaku dan dingin, kini tampak begitu lembut memperlakukan istrinya. Sebuah hari baru, sebuah lembaran baru,







