เข้าสู่ระบบ❣️❣️❤️❤️😍🫶🫶
“Ayo, Kai. Aku sudah nggak sabar mau lihat itu Papa beneran atau bukan,” bisik Kayla setengah mengontrol napasnya yang tersengal memburu tak sabar. Kaisar melirik jam digital di atas nakas yang menunjukkan angka sebelas malam. “Pelan-pelan, jangan sampai ketahuan. Tante Yuna pasti sedang menemani Mama di kamar. Jangan sampai buat suara sekecil apa pun.” Kayla mengangguk cepat sambil menekan rapat bibirnya. Kaisar meraih iPad milik mereka, menggeser layarnya dengan sigap. Tangannya bergerak lincah meretas sistem kamera keamanan di rumah sebelah, mematikan jalur rekaman area pekarangan selama beberapa menit agar pergerakan mereka tidak terpantau. Sementara itu, Kayla sibuk memasukkan paser stun gun mini dan semprotan merica ke dalam kantong celananya untuk berjaga-jaga. Tak lupa ada ular mainnya dan ada robot tikus, ular mainan yang sejak siang mereka sudah siapkan. “Sistem CCTV mereka sudah mati,” cicit Kaisar menatap Kayla. “Ayo jalan.” Keduanya menggeser pintu kamar perlahan. S
Kayla menahan tangis sampai bibirnya gemetar parah. “Tapi aku mau lihat Papa, Kai! Kamu lihat sendiri kan kalau dia pakai kursi roda? Pasti dia lagi kesakitan!” “Aku tahu!” Kaisar setengah berbisik, matanya menatap Kayla tajam. “Tapi kita juga harus paham situasi. Kita harus merencanakan semuanya dengan rapi. Papa menyembunyikan semua ini dari kita pasti alasannya nggak sederhana. Atau ... itu bahkan bisa saja Papa palsu! Pokoknya kita harus cari tahu sendiri. Kita harus jadi detektif dulu untuk masalah ini.” Kayla menyapu air matanya kasar, lalu mengangguk lambat. Pandangannya mendadak teralih ke arah samping, ke balkon tempat mama mereka berdiri. “Kai, lihat Mama,” cicit Kayla, suaranya makin pecah. “Kasihan Mama. Kita harus cepat bergerak.” Di ujung sana, mereka menyaksikan sendiri bagaimana mamanya meronta-ronta histeris di pelukan Yuna, menangis meraung-raung sampai hampir melompat melewati pembatas balkon demi mengejar bayangan suaminya. Hati si kembar serasa teriris meliha
Arga tak terima, matanya nyalang menatap David. “Tutup mulut konyolmu itu, Vid! Hati Anna itu seputih salju. Dia tidak akan pernah menyimpan dendam busuk seperti yang ada di pikiran licikmu itu!”David mendecih keras sambil menepuk jidatnya sendiri. “Salju kepala otakmu! Ingat ya, salju kalau diinjak-injak terus juga bakal ambyar! Kamu pikir Anna itu malaikat tanpa emosi? Kalau nanti dia tahu kamu masih hidup dan membohongi satu dunia, salju seputih apa pun bakal berubah jadi gunung berapi yang siap meledakkan kepalamu!”Arga diam malas menjawab.Di balkon sebelah.Anna memeluk kedua bahunya sendiri. Hatinya begitu hampa. benar-benar terasa hampa. Matanya menatap kosong.‘Bagaimana bisa setelah kamu tidak ada saja, masih ada yang menginginkan jasadmu, Arga? Siapa yang tega mencuri jasadmu? Kami bahkan sempat mengucapkan selamat tinggal?’ batin Anna, rasa sesak menekan dadanya sampai rasanya sulit bernapas.Langkah kaki terdengar dari dalam. Yuna keluar membawa baju hangat tebal, lalu
“Kenapa dia tidak muncul-muncul juga, Vid? Apa yang sedang dilakukan istriku sekarang? Apa dia masih menangisiku? Astaga, kenapa aku semakin jahat padanya? Aku nggak sanggup membayangkan dia menangis sendirian tanpa tahu kalau aku masih bernapas”Arga bergumam pelan dari atas kursi roda. Matanya terus tertuju pada pintu balkon rumah sebelah yang masih tertutup rapat. David yang duduk di sebelah kursi roda mendecih pelan. “Lalu kalau dia keluar dan lihat kamu di sini, kamu mau apa? Mau lari? Terbang menyeberangi balkon? Kamu sudah siap menjelaskan ke dia kalau nanti dia marah besar dan kecewa karena merasa ditipu selama ini? Berita kematian soal orang yang dicintainya itu bukan lelucon. Bahkan ada yang sampai frustasi Dan depresi karena sudah siap kehilangan.”Arga terdiam sesaat. Tatapannya meredup, sendu. “Akan kuterima. Biarlah dia marah, biarlah dia memukulku sampai puas. Tapi setelah emosinya reda, aku yakin dia pasti bisa mengerti. Setiap detik jauh dari dia dan anak-anak, rasan
“Katakan di mana anak kandungku! Sudah kamu apakan dia, hah?!” Profesor Handoko kembali membentak dengan urat leher yang menegang, suaranya menggelegar. Emosinya membakar habis sisa rasa kemanusiaan yang ada di dadanya. Pria tua itu mengguncang bahu Nadia dengan cengkeraman kasar. “Belasan tahun aku merawat iblis seperti kamu! Di mana anakku?! Kamu apakan bayi itu? Jawab, Nadia!” Nadia makin bersimpuh di atas lantai. Tangannya yang terborgol bergetar hebat. “Aku nggak tahu … aku nggak tahu!” raung Nadia sambil menggelengkan kepala, napasnya tersengal-sengal. “Nadia cuma kasih orang ... Nadia nggak tahu anak itu dibuang ke mana! Maafin Nadia, Ayah ... Maafin Nadia ... Tolong keluarkan Nadia dari sini!” Profesor Handoko melangkah mundur dengan napas memburu. Sorot matanya muak dan kecewa. Pria tua itu memalingkan wajah, tidak mau lagi melihat paras wanita yang telah menghancurkan hidupnya. “Polisi!” teriak Profesor Handoko ke arah pintu besi. “Bawa wanita ini! Masukkan dia ke sel pal
“Dia masih bernapas, Berengsek!” ceplos David akhirnya dengan suara serak yang tertahan di tenggorokan. “Saat ini dia sedang dibawa ke helipad dan ke rumah sakit swasta untuk pemulihan!” Regan terdiam seketika. Sorot mata sinisnya perlahan memudar. “Arga nggak jadi mati?” “Iya! Puas kamu sekarang?!” semprot David dengan wajah kesal, menunjuk dada Regan. “Sekarang tugasmu. Pulang, jaga Anna dan si kembar, pastikan mereka tidak membuat gerakan mencurigakan yang bisa memicu kecurigaan Hary. Dan ingat kata-kataku ....” David memajukan wajahnya, menatap Regan tajam, tapi terselip rasa percaya yang enggan dia akui. “Kalau kamu sampai berani memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Anna lagi ... aku sendiri yang akan mematahkan lehermu sebelum Arga bangun.” Regan menyunggingkan senyum tipis, merapikan kerah jasnya. “Tergantung seberapa cepat saudaramu itu bisa bangun dari tidurnya.” — “Bagaimana pergerakannya?! Jenazah anakku sudah ketemu atau belum?!” Bentakan Hary menggelegar
“Dokter Arga, IGD sedang kekurangan dokter. Ada pasien banyak kecelakaan. Mohon Anda segera datang ke ruangan. Karena juga ada anak kecil yang terluka akibat terkena pecahan kaca cukup dalam.”Arga menutup panggilan, lalu menyambar masker medis dan memakainya sambil berjalan cepat keluar dari ruang
Anna yang wajahnya sudah lelah terpaku heran menatap suaminya.“Apa maksudmu?” Arga tak menjawab. Pria itu justru melangkah lebar mendekatinya, lalu tanpa peringatan menarik pergelangan tangan Anna dan mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh ke atas ranjang.“Arga!” Anna terbelalak kaget.Berus
“Arga, ayo kita urus perceraian.” Sontak mata Arga menegang dan pelan kepalanya terangkat, menatap manik mata Anna. “Cerai?” Dahi Arga berkerut dengan senyum miring tipis. Anna mengangguk lambat. “Ya, kita bercerai saja.” Wajahnya tampak begitu datar, tidak ada gurat kesedihan atau ragu. Arga
“Tiga ratus juta, kamu harus bercerai dan pergi dari hidup anakku.” Manda mendorong selembar cek di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya dengan senyum kecut.Mata Anna menatap angka di kertas itu. Di bawah meja, jemarinya menggenggam lembar sonogram makin erat. Ada denyut kehidupan kecil yang







