Share

3. Ciuman Paksa

Author: Angsa Kecil
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-11 23:22:38

Anna yang wajahnya sudah lelah terpaku heran menatap suaminya.

“Apa maksudmu?”

Arga tak menjawab. Pria itu justru melangkah lebar mendekatinya, lalu tanpa peringatan menarik pergelangan tangan Anna dan mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh ke atas ranjang.

“Arga!” Anna terbelalak kaget.

Berusaha bangkit, tapi Anna langsung terkunci. Arga sudah mengukungnya dengan dua tangan di sisi.

“Berapa lama? Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan laki-laki itu?” Mata Arga memerah dengan napas berat menerpa wajah Anna.

“Apa maksudmu?” Anna menggeleng lambat, benar-benar tidak paham dengan tuduhan yang dilayangkan suaminya.

Tatapan mata Arga makin gelap, dia lantas menyambar bibir istrinya, kasar. Pria itu menciumnya tanpa kelembutan.

Buliran air mata lolos dari sudut mata Anna.

PLAKKK!

Anna menampar suaminya.

Sontak Arga terpaku, menghentikan gerakannya dengan napas memburu berat. Pria itu menatap wajah istrinya dengan tatapan tak percaya.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, ini pertama kalinya Anna menolak dan melawannya.

Di bawah kungkungan itu, Anna menatap sepasang manik mata Arga. “Aku lelah, Arga. Kita pisah saja.”

Mendengar kalimat itu meluncur lagi dari bibir Anna, dada Arga mendadak terasa sesak bergemuruh. Rahangnya mengeras.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, dia langsung bangkit berdiri, berbalik, dan melangkah keluar dari kamar.

Anna perlahan bangkit, merangkup wajahnya, lalu tangisnya pecah.

Karena penolakan itu, Arga sama sekali tidak pulang ke rumah ataupun memberikan kabar.

Hingga sore hari itu.

Anna harus mengabaikan seluruh rasa sakit yang mendera hatinya, dia terpaksa harus pergi kediaman utama keluarga Atmaja.

Manda menyuruhnya mengambil kue pesanan di toko bakery langganan dan membawanya ke rumah besar karena akan ada tamu spesial yang datang berkunjung.

Tapi Anna tahu, tujuan Manda tak sekedar itu.

Sepanjang perjalanan, Anna hanya duduk diam dengan tatapan kosong menatap jalanan. Pikirannya terus berputar pada kejadian malam itu, memikirkan bagaimana kasarnya Arga.

Kedatangannya kali ini, jelas untuk yang terakhir kalinya. Anna mau mengatakan kalau dia ingin bercerai dengan Arga.

Anna masih mencoba bercerai dan mundur dengan cara baik.

Mobil memasuki pekarangan rumah utama Atmaja, Anna turun sambil menjinjing kotak kue berukuran besar. Dia melangkah masuk melewati pintu depan yang terbuka.

Saat hendak ke arah dapur, Anna melihat tamu spesial itu di ruang tengah, dan ada suaminya di sana. Rasa penasaran membuat kaki Anna mendekat.

“Aku senang kamu kembali, Nadia. Arga masih menunggumu sampai sekarang. Lihat, dia usianya yang sekarang dia belum menemukan wanita penggantimu, apalagi menikah.” Ibu mertuanya tampak tersenyum saat mengatakannya.

Anna menarik napas dalam. Suaminya yang pergi setelah malam itu, ternyata ada di sini dengan cinta pertamanya.

“Aku pergi juga untuk masa depan kami, Tante. Aku mau jadi istri yang pantas untuk Arga yang hebat.”

Nadia, wanita cantik itu, mungkin belum tahu kalau Arga telah menikah. Pikir Anna.

Anna meremas kotak kue itu. Sayangnya, dia tak bisa melihat bagaimana reaksi suaminya karena memunggunginya.

Lalu, berbalik ke dapur. Anna tak jadi menemui siapa pun, hanya ingin meletakkan kue dan pergi.

Ternyata, ini yang diinginkan mertuanya. Melihat langsung suaminya dan cinta pertamanya bersama.

Saat Anna termangu di dapur, Nadia datang.

“Ehm, kamu pembantu di rumah ini?” Nadia menyapa dengan senyum lembut. Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap penampilan Anna yang hanya mengenakan dress simple panjang polos berlengan pendek, sangat sederhana menurutnya.

Anna menatap wanita di depannnya itu sekian saat. Tidak ada niat sedikit pun untuk menjelaskan status aslinya. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Aku mau buat jus tomat untuk Arga dan Tante Manda.” Nadia tersenyum manis, melangkah anggun mendekati meja dapur.

Anna mengangguk pelan. Dia bergerak membuka lemari es, mengambil beberapa buah tomat segar, lalu meletakkannya di dekat juser. Setelah itu, dia hanya berdiri diam.

Nadia mulai memotong tomat sambil terus bicara, “Kamu sudah berapa lama bekerja jadi pembantu di sini?”

“Tiga tahun,” jawab Anna singkat tanpa ekspresi.

Nadia menghentikan potongannya sebentar, menoleh pada Anna. “Wah, lama juga ya. Tapi kalau dilihat-lihat, kamu ini punya wajah yang cantik. Sayang sekali kalau cuma jadi pembantu di rumah besar seperti ini.”

Anna hanya menyunggingkan senyum tipis, tidak berniat menanggapi. Dia menatap Nadia lekat-lekat, wanita yang dicintai suaminya itu sangat cantik, lembut, elegan, pintar, punya karir bagus, dan dari keluarga kaya. Dibanding dirinya, begitu sangat jauh.

“Bagaimana Arga selama tiga tahun ini? Selama aku tidak ada, apa dia pernah membawa wanita lain ke rumah ini? Kurasa tidak. Aku sangat paham siapa dia. Tapi yang benar-benar tidak menyangka, dia sesetia itu menungguku kembali. Dulu saat aku memutuskan pergi ke luar negeri, dia sangat marah dan langsung memutuskan hubungan kami. Tapi aku tahu, kalau hatinya tidak akan pernah berubah. Dia masih mencintaiku. Arga manis sekali, bukan? Dan kamu tahu? Tante Manda bahkan langsung ingin menetapkan tanggal pernikahan kami secepatnya. Arga juga nggak sabar mau menikah denganku.” Nadia tertawa kecil saat bicara panjang.

Anna yang berdiri di sisi meja seketika membeku. Dia meremas jemarinya sendiri, berusaha keras menahan denyut-denyut nyeri di dadanya.

Di sela obrolannya, tangan Nadia menyenggol sebuah sendok hingga terjatuh ke lantai. “Oh, maaf, aku ceroboh sekali.”

Wanita itu langsung menunduk untuk mengambil sendok yang tergeletak di dekat kaki meja kotak kecil di tengah dapur. Agak lama.

Anna tetap berdiri di posisinya. Menatap kosong, dengan pikiran kacau.

Jus tomat selesai dibuat. “Makasih bantuannya.” Wanita itu berlalu dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman tersebut.

Lalu, Anna menghembuskan napas berat. Dia tidak ingin berlama-lama di rumah ini dan menambah rasa sakit di hatinya.

Anna memutar tubuhnya, mengayunkan kaki hendak melangkah keluar dari dapur. Namun, baru saja dia menggerakkan kakinya, ujung dress panjangnya tertahan kuat di bawah salah satu kaki meja kotak.

Kenapa bisa dress-nya tiba-tiba terkunci di kaki meja?

Gerakan kaki Anna yang mendadak terkunci itu membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Dia tersungkur ke lantai dengan keras.

“Akh!”

Kedua tangannya langsung memegang perutnya yang terasa nyeri. Lalu, dia merasakan ada sesuatu yang basah dan hangat mulai mengalir di bawah sana.

Jangan-jangan?

Anna membeliak dan gemetar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cici
lanjuttttttt .....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   133. HAPPY ENDING

    Udara dingin Puncak malam itu terasa hangat oleh tawa riuh. Di halaman vila mewah milik Arga, lampu-lampu hias menggantung menerangi area memanggang. Bau harum daging panggang dan bumbu barbecue menyeruak membuat si kembar makin tak sabar. Kaisar dan Kayla berlarian di atas rumput hijau sambil tertawa lepas, melompat-lompat mengelilingi meja pembakaran. “Papa! Daging milik Kaisar jangan sampai gosong, ya!” seru Kaisar menunjuk daging potong di atas panggangan. “Milik Kayla juga, Papa! Kasih bumbu yang banyak supaya manis seperti Kayla!” timpal Kayla tak mau kalah sambil melempar senyum menggemaskan. Arga yang memegang penjepit daging hanya terkekeh pelan. Pria itu tampil santai dengan baju polos dan celana kasual, tapi aura dominan dan tampannya tetap memikat. “Tenang saja. Masakan Papa tidak pernah gagal.” Anna melangkah mendekat sambil membawa wadah berisi jagung bakar dan saus tambahan. Mengenakan sweter longgar. Lalu, berdiri di samping suaminya, menyapukan tisu halus ke dah

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   132

    Di kediaman Atmaja. Hary dan Manda duduk di sofa melihat live pesta pernikahan Arga dan Anna. Acara megah itu sengaja ditayangkan secara eksklusif di salah satu kanal media sosial milik David. Manda menangis terisak, jemarinya meremas-remas ujung bajunya. “Lihat itu! Kamu puas sekarang? Ini semua gara-gara kamu yang terus keras kepala! Sampai kita tidak dapat undangan ke sana!” “Jangan menyalahkan aku! Arga yang anak durhaka! Dia yang memutus hubungan dan mempermalukan orang tuanya sendiri di depan publik! ”Hary langsung membentak, mukanya memerah menahan malu dan emosi. “Terus saja begitu! Salahkan orang lain terus!” potong Manda kesal, menyapu air matanya kasar. “Nanti kalau sudah tua, kita lihat siapa yang mau merawatmu! Kalau kamu terus membanggakan semua hartamu itu, jangan lupa simpan yang banyak dari sekarang untuk bayar panti jompo nanti! Aku sudah tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku mau pergi mendapatkan maaf dari Arga dan Anna!” “Jangan mimpi mereka akan p

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   131

    Gelap! Ballroom itu mendadak gelap. Suara bisik-bisik panik dan seruan kaget bersahutan. Hanya dalam hitungan detik, lampu sorot utama kembali menyala terang benderang. Tepat di tengah-tengah karpet merah, berdiri sosok Regan dengan penampilan yang begitu sempurna dan menawan. Pria itu dibalut tuxedo berpotongan tegas, berdiri tegap memancarkan aura dingin, elegan, dan sangat dominan, hingga seketika menyedot seluruh perhatian di ruangan itu. Mata Anna membulat sempurna. “Regan?” bisiknya tak menyangka pria itu datang. Arga yang berdiri di sampingnya menyunggingkan senyum miring, lalu berbisik pelan tepat di dekat telinga Anna, “Aku sudah menyiapkan ambulans di luar kalau tiba-tiba pria itu pingsan.” Anna mendelik pelan lalu mencubit gemas pinggang suaminya, membuat Arga terkekeh tanpa suara. Regan melangkah maju, berdiri begitu tenang di bawah pendar lampu kristal. “Saat kamu mencintai seseorang, kamu dituntut untuk ikut merasakan apa yang dia rasakan. Saat wanita itu terlu

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   130

    “Papa curang!” protes Kaisar mendongak, menatap Arga protes. “Kenapa cuma Mama yang dipeluk dan dikasih kata-kata manis? Kami kan juga mau!”Kayla ikut mengangguk cepat. “Iya! Kayla sama Kaisar kan ikut bantu Om David dan Tante Yuna pasang lampu. Kenapa Papa cuma bilang cinta sama Mama saja?”Anna tertawa kecil melihat tingkah kedua anak kembarnya, rasa haru di dadanya melebur menjadi kehangatan. Sementara Arga terkekeh pelan, menyunggingkan senyum khasnya lalu berlutut di hadapan Kaisar dan Kayla agar sejajar dengan tinggi mereka.Arga mengusap rambut Kaisar dengan jemari tegapnya. “Siapa bilang Papa cuma sayang Mama? Kamu itu jagoan Papa, Kaisar. Tugas kamu menjaga Mama dan Kayla kalau Papa lagi kerja.”Kaisar langsung tersenyum bangga, menepuk dadanya pelan. “Siap, Papa!”Kemudian Arga beralih menatap Kayla, mencubit lembut pipi putri kecilnya itu. “Dan untuk putri Papa yang paling cantik ini, kamu dan Mama adalah alasan Papa selalu mau cepat-cepat pulang ke rumah. Papa sayang kal

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   129

    Mobil terus melaju menembus jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Setelah menyelesaikan urusan berat di rumah sakit jiwa, Arga sengaja tidak langsung membawa Anna pulang ke rumah. Pria itu memilih mengajak istrinya berkeliling ke beberapa tempat menyenangkan untuk menyegarkan pikiran mereka yang sempat tegang. Anna menopang dagu, memiringkan posisinya sambil menatap wajah Arga dari samping yang fokus menyetir. “Kamu nggak capek seharian menyetir sendiri?” tanya Anna heran. “Lagipula, memangnya ke mana David? Tumben dia nggak mendampingi kamu hari ini.” Arga menyunggingkan senyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. “Hari ini aku cuma mau berdua saja dengan kamu. Kehadiran David cuma bakal merusak pemandangan.” Anna mendengkus pelan, menahan senyum yang hampir terbit. “Sejak kapan kamu jadi pandai cari alasan begini?” “Sejak aku sadar kalau waktu berdua dengan istri cantikku ini terlalu berharga untuk dibagi dengan orang lain,” balas Arga manis, melir

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   128

    Dia tidak langsung merespon raungan mereka. Matanya menajam. Rasa sakit saat dulu dijual atas nama pernikahan, direndahkan, diinjak-injak, dan ditendang keluar seperti sampah, membakar dadanya hingga sesak.“Dulu kalian tidak pernah menganggapku manusia. Kalian menjualku, membuangku dan memperlakukanku lebih rendah dari binatang. Dan sekarang, baru dikurung beberapa hari di sini, kalian menangis memohon ampun seolah paling terzalimi?” teriak Anna tajam, dan penuh penekanan.Cukup keras dan terdengar lewat celah ventilasi.Mendengar penolakan Anna, ketakutan ketiga orang itu makin menjadi-jadi. Mereka sadar akal sehat mereka benar-benar berada di ujung tanduk jika terus dibiarkan di tempat ini.“Anna, Papa mohon! Papa salah, Papa mengaku salah!” Bagas menggedor dengan kedua tangannya yang gemetar. “Papa janji akan menyerahkan seluruh sisa harta asal keluarkan Papa sekarang juga!”“Kami memohon, Anna! Tolong kasihanilah kami!” Dela menempelkan dahi dan dadanya ke pintu kayu tebal itu sa

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   6. Jadi Ayah Mereka

    Elara Art Studio. Tempat ini dibangun Anna dari nol. Sebuah bisnis level menengah di bidang seni lukis yang merangkak dari bawah. Untuk mengenalkan karyanya, Anna masih sering mengikuti pameran bersama, menitipkan lukisan di galeri seni, hingga mengambil proyek mural dan wall printing. Bangunan du

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   5. Anak Haram

    “Bu Anna, lain kali ajari anak Anda untuk bertindak benar. Jangan cari masalah. Anak saya jadi kena mental karena trofinya hancur. Selamat mencari sekolah baru.” Anna menatap tajam. “Mereka bukan anak haram. Dan merekalah pemenang yang sebenarnya. Hanya kalah dengan uang Anda! Lain kali, ajari ana

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   4. Korban Kecelakaan

    Pagi harinya, Arga baru kembali ke rumah dengan penampilan kusut, seperti tidak tidur semalaman. Dia melangkah cepat ke kamarnya, tapi saat memegang handle pintu, dia menahan sebentar. Saat ini dadanya sedang tak karuan dan banyak hal yang ingin dikatakan pada Anna. Masuk kamar, dan sangat yaki

  • Dokter, Jangan Menyentuhku Lagi   2. Karena Dua Miliar

    “Arga, ayo kita urus perceraian.” Sontak mata Arga menegang dan pelan kepalanya terangkat, menatap manik mata Anna. “Cerai?” Dahi Arga berkerut dengan senyum miring tipis. Anna mengangguk lambat. “Ya, kita bercerai saja.” Wajahnya tampak begitu datar, tidak ada gurat kesedihan atau ragu. Arga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status