LOGINFahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila.
Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu bergerak. Kepala Nabila berpikir keras, ia harus menjawab apa atas pertanyaan calon suaminya itu. Pikirnya, pasti Fahmi menganggapnya lucu atau bahkan bodoh. Ujung scurbnya ia pelintir-pelintir. “Itu …” Nabila benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Di kepala dan hatinya jelas menjawab, ia tak membolehkan suaminya menerima pemberian perempuan lain. “Nabila,” panggil Fahmi halus dan pelan, tapi suaranya malah terdengar menyeramkan di telinga Nabila. Nabila mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Fahmi. “Jika sudah menikah, saya nggak akan menerima pemberian perempuan lain. Ada perasaan istri yang harus dijaga dan dihargai,” ujar Fahmi lugas dan tenang. Sebuah rasa lega menyeruak dada Nabila, ketika mendengar jawaban tersebut. Jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Nabila mengangguk-angguk. “Syukurlah…” desisnya nyaris tak terdengar. Fahmi meraih dan membuka goodie bag pemberian Vera tadi. Isinya adalah soto ayam lengkap dengan perkedel, emping dan sambal. Kemudian, ia mengeluarkan bekal miliknya juga. Nabila heran dengan apa yang dilakukan Fahmi. Apa mungkin calon suaminya itu mau menghabiskan semuanya. “Duduk, Nabila. Kita makan sama-sama, saya nggak mau makan pemberian perempuan lain ini sendirian,” ucap Fahmi dengan penekanan pada kalimat ‘pemberian perempuan lain’. Diam-diam, Fahmi tersenyum jahil. Mendengar ucapan Fahmi membuat Nabila kesal dengan dirinya sendiri. Ucapan tersebut terlihat seperti huruf yang ditebalkan dan digarisbawahi. Nabila menarik kursi di hadapan Fahmi, lalu ia mendudukinya. Keduanya mulai makan dengan bekal bawaan Fahmi yang dibagi dua, serta soto ayam tersebut. “Enak sotonya,” ucap Fahmi jahil sambil melirik Nabila. Nabila hanya mendengus sebal, lalu lanjut makan. Tapi, ngomong-ngomong, sotonya memang enak sih. Semua makanan sudah habis, yang tersisa hanyalah tempat makannya saja. Bahkan empingnya juga. Nabila sangat menikmati makanan tersebut, selain itu ia juga lapar. Cemburu membuatnya banyak kehabisan energi. “Terima kasih atas makanannya, Dok,” ucap Nabila sopan, lalu matanya melirik Fahmi yang tengah merapikan wadah bekalnya. “Sama-sama,” balas Fahmi singkat. “Kalau begitu, saya mau balik ke ruang jaga,” ucap Nabila lalu berbalik badan meraih tasnya. “Nabila, nanti ikut saya visit jam satu siang.” Ucapan Fahmi seketika menghentikan gerakan Nabila. Nabila menatap Fahmi dan mengangguk. “Siap, Dok,” balasnya. Kini, Nabila sudah berada di koridor. Perutnya sudah kenyang, walaupun tadi rasanya malu setengah mati, akibat pertanyaan bodoh itu. Setiba di ruang jaga, Nabila langsung meletakkan tasnya di meja. “Nab, makan bareng yuk,” ajak Isti. “Sorry, nih, aku udah makan tadi,” tolak Nabila. “Tumben udah makan duluan. Kamu makan di kantin?” tanya Isti seperti penuh selidik. “Iya, di kantin,” jawab Nabila singkat, padat, dan bohong. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa heboh nanti. “Hmm… ya udah deh, makan sendirian aja.” Isti berlalu dari hadapan Nabila. Bidan itu berjalan menuju kantin rumah sakit. Sebetulnya Nabila mau menawarkan menemani Isti makan, tapi sebentar lagi ia akan ikut Fahmi visit pasien. 15 menit sudah berlalu, Nabila baru saja selesai melaksanakan salat Zuhur. Ponselnya berdenting, sebuah pesan dari atasannya itu masuk. Setelah membaca pesan tersebut, Nabila bergegas berangkat menuju ruang poli. Setiba di sana, Fahmi berdiri dan sedikit bersandar di mejanya. Kedua tangannya dilipat di dada. “Ayo,” ucap Fahmi, ia berjalan keluar dari ruangannya. Langkah kaki Nabila terasa ringan sekaligus lelah saat mengikuti Fahmi menuju lift. Aroma khas rumah sakit memenuhi indra penciumannya, bercampur suara roda ranjang pasien yang sesekali melintas di koridor. Nabila berdiri di samping Fahmi ketika pintu lift terbuka. Keduanya masuk terlebih dahulu, lalu berdiri agak di pojok belakang. “Lantai lima,” ujar Fahmi singkat sambil menekan tombol. Nabila hanya mengangguk kecil. Pikirannya masih dipenuhi pekerjaan sejak pagi tadi. Lift mulai bergerak naik. Namun saat tiba di lantai tiga, pintu kembali terbuka. Enam pengunjung masuk bersamaan, diikuti dua perawat yang membawa map pasien. Ruangan sempit itu langsung terasa sesak dan pengap. Tubuh Nabila otomatis mundur beberapa langkah hingga punggungnya nyaris menyentuh dinding lift. Namun, bahunya sedikit menegang ketika seorang pria bertubuh besar berdiri terlalu dekat di sampingnya. Padahal masih ada sedikit ruang, tapi pria itu seolah sengaja berdiri menempel. “M–maaf,” lirih Nabila sambil bergeser sedikit dan menunduk. Jantungnya mulai terasa tidak nyaman. Namun, lagi-lagi pria itu ikut bergeser menempel padanya. Napas Nabila tercekat. “Permisi…” ucapnya lirih, nyaris tidak terdengar. Pria itu tidak menjawab. Hingga detik berikutnya, tubuh Nabila langsung membeku. Ada sesuatu menyentuh bagian belakang tubuhnya. Tubuh Nabila menegang seketika. Otaknya kosong. Ia bahkan tidak bisa langsung memahami apa yang sedang terjadi. Sentuhan itu bergerak lagi, membuat darahnya terasa dingin. Nabila menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia ingin berteriak, tapi takut sekaligus malu. Ia ingin menjauh, tapi tubuh-tubuh di dalam lift membuatnya sulit bergerak. Suara mesin lift mendadak terdengar begitu bising di telinganya. Tangannya mulai gemetar. “Tolong…” suaranya hanya berupa bisikan kecil yang bahkan nyaris tidak keluar. Sentuhan menjijikkan itu kembali terasa. Nabila menunduk, napasnya mulai tidak beraturan. Kepalanya penuh kepanikan. Ia takut semua orang melihatnya. Takut dianggap berlebihan, sekaligus takut membuat keributan. Air matanya hampir jatuh. Sampai tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya ke belakang. Brak. Tubuhnya menabrak dada Fahmi. “Jauhkan tanganmu darinya!”Sebuah amplop putih diberikan kepada Fahmi. Ia menerima benda tersebut dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Apa yang sebenarnya berada di balik amplop tersebut. Jemari Fahmi membuka, lalu merogoh ke dalam amplop. Ia menemukan sebuah alat yang tidak asing, namun rasanya mendebarkan sekali. Dikeluarkannya alat tes kehamilan yang menampilkan dua buah garis. Dua garis yang amat sangat bermakna bagi setiap pasangan yang tengah menantikan kehadiran buah hati. Mata Fahmi berbinar-binar saat mendapati apa yang ada di hadapannya. “Alhamdulillah…” ucap Fahmi penuh rasa syukur dan haru. Ia langsung membawa istrinya ke dalam dekapan, lalu menghujani wanitanya dengan ciuman di wajah. Fahmi menatap Nabila dengan penuh cinta. Sungguh sebuah pagi yang dinaungi sukacita. Dua bulan pernikahan, mereka diberi amanah yang bersemi di rahim sang istri. Fahmi sendiri memang ingin sekali segera memiliki keturunan, namun tak menyangka secepat ini. “Kita mau jadi or
Mata Nabila berbinar-binar dan langsung berembun saat melihat hasil yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan tersebut. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, dadanya terasa hangat. Rasanya ia tak percaya pada apa yang disaksikan oleh netranya sekarang. Garis dua yang ditampilkan oleh alat itu sungguh mengejutkannya di pagi ini. Rasanya ia ingin segera memberi tahu sang suami yang masih terlelap, karena sekarang memang belum waktunya pria itu bangun seperti biasa. Nabila menyeka air matanya yang mengalir di pipi. Air mata kebahagiaan yang tumpah. Ia mengandung benih cinta yang ditanamkan oleh suami dan dirinya. Pernikahan ini terasa sangat membahagiakan dan lengkap dengan kabar baik ini. Sisa urin yang ada di dalam wadah, Nabila buang ke dalam kloset. Alat tes kehamilan tersebut ia simpan rapi di dalam sebuah amplop putih. Nanti ia akan berikan amplop tersebut pada sang suami. Rasanya tak sabar untuk segera memberikan benda itu pada belahan jiwa.
Ketika nama Fahmi disebut, Lili mundur selangkah. Wajahnya nampak pucat pasi. Gertakan tersebut langsung membuatnya takut. “Ja—jangan…” ucapnya terbata. Nabila menatap Lili. Ia tadi sengaja tak langsung menggunakan kekuatan sang suami. Ia ingin meyelesaikannya dengan sendiri, namun ternyata Lili begitu memaksa dan cukup kuat. “Dih, langsung takut kan kamu,” ucap Merina kesal. Lili tak membalas, ia terdiam. “Nab, bentar lagi poli mulai kan?” tanya Merina. Nabila mengangguk. “Iya, Kak,” jawabnya. “Buruan balik gih,” ucap Merina menyarankan Nabila untuk segera kembali ke ruang poli. Nabila mengangguk lagi. “Makasih, ya, Kak,” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan toilet. “Nab,” panggil Lili lirih menahan langkah kaki Nabila yang baru saja bergerak. Nabila menoleh dengan kaki yang siap akan melangkah lagi, tiba-tiba Lili langsung berlutut di hadapannya. “Maafin aku. Aku benar-benar
Seisi toilet semuanya berubah menjadi gelap. Tak ada cahaya remang-remang, karena memang tak ada ventilasi, sirkulasi udara dibantu dengan kipas. Tubuh Nabila seketika membeku. Pikirannya teringat dengan saat ia dikerjai oleh Lili waktu itu. Nabila berusaha untuk tenang. Ia mengatur napasnya sebaik mungkin. Di ruang sempit ini, ia merasa seperti dicekik. Selain gelap, toilet terasa sunyi sekali, tak ada orang lain yang sedang menggunakan ruangan ini. Perlahan, setelah napas yang teratur, tangan Nabila bergerak merogoh saku scrubnya. Beruntung sekali ponsel ia bawa. Fitur senter dinyalakan, cahayanya menembus gelap gulita. Tangan Nabila membuka grendel pintu bilik toilet, ia melangkah keluar. Kakinya sudah mencapai di depan wastafel, lampu toilet kembali menyala. Mata Nabila mengerjap saat cahaya lampu kembali menguasai ruangan tersebut. Cukup silau, namun perasaannya lega. Gelap sungguh mengundang rasa traumanya. Ia melihat ke sekitar, toilet benar-bena
Sebuah sentuhan halus mendarat di kening Nabila, ia merasakannya, namun matanya berat sekali. Sentuhan itu terasa antara seperti mimpi, namun juga nyata. Telinganya sayup-sayup mendengar suara lembut memanggilnya dengan sebutan spesial.“Sayang…” sebutan itu mengalun di telinga Nabila, menjadikannya terus-terusan ingin mendengarnya. Nabila sedikit mengerang. Kelopak matanya seperti ditimpa batu dan lem super, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk membukanya. “Sayang…” kali ini panggilan itu bersamaan dengan sentuhan lembut di kepalanya. Nabila masih terpejam, sentuhan itu sedang ia cerna, juga kenapa ia bisa tertidur. Perlahan meskipun terasa begitu berat, kelopak matanya terangkat sedikit. Sinar remang-remang lampu putih yang hangat menyusup ke dalam matanya. Mata Nabila mengerjap, kelopaknya menyapu sinar-sinar yang mengejutkan indra penglihatan. Beberapa kali mata itu membuka tutup, lalu menangkap sosok tampan di hadapannya tengah
Jarum jam terus bergerak, mata Nabila masih cukup kuat. Ia duduk di tepi tempat tidur memperhatikan jam dinding yang ada di kamar, waktu operasi caesar tidak begitu lama, namun setidaknya suaminya akan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di luar rumah. Nabila mengecek ponselnya, tak ada pesan dari sang suami, itu menandakan bahwa operasi masih berlangsung. Sendirian di rumah baru ini ternyata cukup membosankan, Nabila bingung mau melakukan apa. Tak ada pekerjaan rumah yang belum terjamah, setiap sudut rumah rapi dan bersih. Mau memasak, tapi mau membuat apa, ia tak ada ide, dan lagi pula ini sudah larut malam.“Mas Fahmi kayaknya masih lama ya…” gumam Nabila sendiri. Kemudian, ia beranjak dari duduk, berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Tangannya meraih remote televisi. Nabila mengarahkan remote itu pada aplikasi menonton berbayar. Dari beranda muncul berbagai rekomendasi film dan series yang terlihat menarik. Ada juga genre horor dengan post
‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te







