Share

Bab 5 Insiden

Author: Nisa Hikaru
last update publish date: 2026-06-02 16:35:43

Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila.

Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu bergerak.

Kepala Nabila berpikir keras, ia harus menjawab apa atas pertanyaan calon suaminya itu. Pikirnya, pasti Fahmi menganggapnya lucu atau bahkan bodoh.

Ujung scurbnya ia pelintir-pelintir.

“Itu …” Nabila benar-benar tak tahu harus menjawab apa.

Di kepala dan hatinya jelas menjawab, ia tak membolehkan suaminya menerima pemberian perempuan lain.

“Nabila,” panggil Fahmi halus dan pelan, tapi suaranya malah terdengar menyeramkan di telinga Nabila.

Nabila mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Fahmi.

“Jika sudah menikah, saya nggak akan menerima pemberian perempuan lain. Ada perasaan istri yang harus dijaga dan dihargai,” ujar Fahmi lugas dan tenang.

Sebuah rasa lega menyeruak dada Nabila, ketika mendengar jawaban tersebut. Jawaban yang sesuai dengan keinginannya.

Nabila mengangguk-angguk. “Syukurlah…” desisnya nyaris tak terdengar.

Fahmi meraih dan membuka goodie bag pemberian Vera tadi. Isinya adalah soto ayam lengkap dengan perkedel, emping dan sambal. Kemudian, ia mengeluarkan bekal miliknya juga.

Nabila heran dengan apa yang dilakukan Fahmi. Apa mungkin calon suaminya itu mau menghabiskan semuanya.

“Duduk, Nabila. Kita makan sama-sama, saya nggak mau makan pemberian perempuan lain ini sendirian,” ucap Fahmi dengan penekanan pada kalimat ‘pemberian perempuan lain’.

Diam-diam, Fahmi tersenyum jahil.

Mendengar ucapan Fahmi membuat Nabila kesal dengan dirinya sendiri. Ucapan tersebut terlihat seperti huruf yang ditebalkan dan digarisbawahi.

Nabila menarik kursi di hadapan Fahmi, lalu ia mendudukinya.

Keduanya mulai makan dengan bekal bawaan Fahmi yang dibagi dua, serta soto ayam tersebut.

“Enak sotonya,” ucap Fahmi jahil sambil melirik Nabila.

Nabila hanya mendengus sebal, lalu lanjut makan. Tapi, ngomong-ngomong, sotonya memang enak sih.

Semua makanan sudah habis, yang tersisa hanyalah tempat makannya saja. Bahkan empingnya juga. Nabila sangat menikmati makanan tersebut, selain itu ia juga lapar. Cemburu membuatnya banyak kehabisan energi.

“Terima kasih atas makanannya, Dok,” ucap Nabila sopan, lalu matanya melirik Fahmi yang tengah merapikan wadah bekalnya.

“Sama-sama,” balas Fahmi singkat.

“Kalau begitu, saya mau balik ke ruang jaga,” ucap Nabila lalu berbalik badan meraih tasnya.

“Nabila, nanti ikut saya visit jam satu siang.” Ucapan Fahmi seketika menghentikan gerakan Nabila.

Nabila menatap Fahmi dan mengangguk.

“Siap, Dok,” balasnya.

Kini, Nabila sudah berada di koridor. Perutnya sudah kenyang, walaupun tadi rasanya malu setengah mati, akibat pertanyaan bodoh itu.

Setiba di ruang jaga, Nabila langsung meletakkan tasnya di meja.

“Nab, makan bareng yuk,” ajak Isti.

“Sorry, nih, aku udah makan tadi,” tolak Nabila.

“Tumben udah makan duluan. Kamu makan di kantin?” tanya Isti seperti penuh selidik.

“Iya, di kantin,” jawab Nabila singkat, padat, dan bohong. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa heboh nanti.

“Hmm… ya udah deh, makan sendirian aja.” Isti berlalu dari hadapan Nabila. Bidan itu berjalan menuju kantin rumah sakit.

Sebetulnya Nabila mau menawarkan menemani Isti makan, tapi sebentar lagi ia akan ikut Fahmi visit pasien.

15 menit sudah berlalu, Nabila baru saja selesai melaksanakan salat Zuhur. Ponselnya berdenting, sebuah pesan dari atasannya itu masuk.

Setelah membaca pesan tersebut, Nabila bergegas berangkat menuju ruang poli.

Setiba di sana, Fahmi berdiri dan sedikit bersandar di mejanya. Kedua tangannya dilipat di dada.

“Ayo,” ucap Fahmi, ia berjalan keluar dari ruangannya.

Langkah kaki Nabila terasa ringan sekaligus lelah saat mengikuti Fahmi menuju lift. Aroma khas rumah sakit memenuhi indra penciumannya, bercampur suara roda ranjang pasien yang sesekali melintas di koridor.

Nabila berdiri di samping Fahmi ketika pintu lift terbuka. Keduanya masuk terlebih dahulu, lalu berdiri agak di pojok belakang.

“Lantai lima,” ujar Fahmi singkat sambil menekan tombol.

Nabila hanya mengangguk kecil. Pikirannya masih dipenuhi pekerjaan sejak pagi tadi.

Lift mulai bergerak naik. Namun saat tiba di lantai tiga, pintu kembali terbuka. Enam pengunjung masuk bersamaan, diikuti dua perawat yang membawa map pasien. Ruangan sempit itu langsung terasa sesak dan pengap.

Tubuh Nabila otomatis mundur beberapa langkah hingga punggungnya nyaris menyentuh dinding lift. Namun, bahunya sedikit menegang ketika seorang pria bertubuh besar berdiri terlalu dekat di sampingnya.

Padahal masih ada sedikit ruang, tapi pria itu seolah sengaja berdiri menempel.

“M–maaf,” lirih Nabila sambil bergeser sedikit dan menunduk. Jantungnya mulai terasa tidak nyaman.

Namun, lagi-lagi pria itu ikut bergeser menempel padanya.

Napas Nabila tercekat.

“Permisi…” ucapnya lirih, nyaris tidak terdengar.

Pria itu tidak menjawab.

Hingga detik berikutnya, tubuh Nabila langsung membeku. Ada sesuatu menyentuh bagian belakang tubuhnya.

Tubuh Nabila menegang seketika. Otaknya kosong. Ia bahkan tidak bisa langsung memahami apa yang sedang terjadi. Sentuhan itu bergerak lagi, membuat darahnya terasa dingin.

Nabila menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia ingin berteriak, tapi takut sekaligus malu. Ia ingin menjauh, tapi tubuh-tubuh di dalam lift membuatnya sulit bergerak. Suara mesin lift mendadak terdengar begitu bising di telinganya.

Tangannya mulai gemetar.

“Tolong…” suaranya hanya berupa bisikan kecil yang bahkan nyaris tidak keluar.

Sentuhan menjijikkan itu kembali terasa.

Nabila menunduk, napasnya mulai tidak beraturan. Kepalanya penuh kepanikan. Ia takut semua orang melihatnya. Takut dianggap berlebihan, sekaligus takut membuat keributan. Air matanya hampir jatuh.

Sampai tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya ke belakang.

Brak.

Tubuhnya menabrak dada Fahmi.

“Jauhkan tanganmu darinya!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Manissss
ckckck......
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
siapa tuh yang menyentuhnya... tolongin dong dokter Fahmi..
goodnovel comment avatar
Pengabdi Uji
cie bang pahmii wkwk melelehh atu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 137 Cinta atau...?

    Dengan senyum hangat Nabila mengantarkan sang suami yang akan berangkat ke rumah sakit lain dari area parkir ini. Fahmi yang sedang kecintaan sekali dengan sang istri, rasanya tak mau jauh-jauh dari wanitanya itu. Kaca mobil telah ditutup, Fahmi menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit yang cukup besar itu. Dari kaca spion, mata Fahmi masih mendapati istrinya berdiri di tempat parkir, arah pandangannya juga tertuju pada mobilnya. Kini, roda mobil yang bergerak berputar itu telah membawa Fahmi keluar dari area rumah sakit. Sosok istrinya sudah tak tertangkap lagi dari kaca spion. Fahmi harus bersabar, sore nanti ia akan bertemu lagi dengan sang istri. Mobil Fahmi sudah tak ada lagi di area parkir, Nabila memutar balik tubuhnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Tingkah sang suami yang tak mau berpisah dengannya sungguh menggemaskan. Kalau, tidak menikah dengan atasannya itu, ia tak akan tahu sisi lain seorang dr. Fahmi Ibr

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 136 Termotivasi

    Mata Fahmi melirik sang istri yang terkejut dengan jawabannya. Ia tersenyum menggoda, jawaban itu memang benar adanya. Ia tidak keceplosan sama sekali. “Beneran, Mas?” Nabila berharap suaminya bercanda. Fahmi mengganti senyumnya menjadi hangat sembari menatap sang istri. “Maaf, ya, mau nyebut nama kamu langsung, rasanya lidah agak kaku,” jelasnya. “Iya, tapi…” Nabila menatap suaminya. “Kalo lagi kerja, kan nggak enak, nanti dikira nggak profesional,” lanjutnya. Fahmi paham, ia juga sudah tahu arah pembicaraan sang istri. Besok-besok saat sedang bekerja ia tidak akan memanggil istrinya dengan sebutan ‘sayang’ lagi. “Iya, Sayang…” ucapnya paham. Nabila tersenyum hangat, lalu Fahmi beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari balik meja mengulurkan tangan pada istrinya. Uluran tangan itu disambut, mereka berjalan keluar dari ruang poli menuju kantin rumah sakit. Sembari berjalan melewati koridor yang menghubungkan antara ru

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 135 Panggilan Sayang

    “Sayang, HPHT Ibu Marisa tanggal berapa tadi?” suara Fahmi yang tenang dan santai terdengar menggema di telinga Nabila. Seolah mulutnya sudah terbiasa dengan panggilan tersebut. Begitu juga dengan pasien dan pendamping yang turut terkejut pada panggilan yang diucapkan dokter obgyn tersebut. Tanga Fahmi memegang doppler, ia sudah siap untuk melakukan pemeriksaan USG pada pasiennya. Ia duduk di hadapan layar dan mesin USG, serta di samping pasiennya yang sudah terbaring. Nabila belum menjawab, ia memeriksa dokumen berisi rekam medis pasien. “12 September, Dok,” jawabnya. Sebetulnya ia ingin tertawa saat sang suami keceplosan memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’, namun di satu sisi juga, ia merasa bahagia. “Nah iya tanggal itu, Dok,” timpal pasien dengan senyum nyengir masih terbawa kaget saat dokter yang hendak memeriksanya ini mengucap kata ‘sayang’. Pasien ini bingung panggilan itu ditujukan ke siapa, namun dijawab langsung oleh bidan asistennya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 134 Hari Pertama Bekerja

    Langkah kaki Nabila dan Fahmi sudah sampai di Instalasi Kebidanan dan Kandungan. Nabila segera mengisi daftar hadir di mesin pemindai jari. Kehadirannya di sini belum mencuri perhatian, di koridor mereka hanya berpapasan dan menyapa saja. “Udah absennya,” ucap Nabila saat selesai melakukan absen. Ia hendak berbalik badan mengajak suaminya kembali ke ruang poli. Niat hatinya mau masuk ke ruang jaga, namun rasanya maju mundur. “Nggak masuk dulu? Menyapa teman-teman,” ucap Fahmi menawarkan istrinya untuk menyapa rekan-rekan kerjanya. Nabila tersenyum kikuk. “Eh, iya ya, tapi…” Fahmi tersenyum, ia mengerti maksud istrinya. Wanitanya itu pasti merasa tidak enak hati. “Aku tunggu di sini aja,” ucapnya. Fahmi memberikan ruang untuk Nabila agar merasa lebih leluasa menyapa rekan-rekannya. Ia juga paham, kehadirannya di sini mungkin akan dianggap berlebihan. Nabila mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya, ia pun berjalan masuk ke dalam rua

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 133 Tingkah Lucu

    Gedung rumah sakit yang berdiri gagah, halaman parkirnya yang luas, pohon-pohon rindang teduh tertanam di sekitarnya, taman yang terletak di samping kiri, dan hamparan rumput hijau lapangan sepak bola tepat di belakang. Pintu lobby yang terbuka tutup otomatis, pengunjung, karyawan, tenaga kesehatan, dan tenaga medis silih berganti keluar masuk. Suasana pagi ini cukup sibuk seperti biasanya dipenuhi oleh pasien rawat jalan, sedangkan di IGD nampak tenang. Aroma rumah sakit yang khas, suara derap langkah perawat dan dokter, roda brankar dan kursi roda yang berdecit melawan lantai keramik. Aroma dan suara-suara itulah yang ternyata membuat rindu. Langkah Fahmi dan Nabila sudah jauh meninggalkan mobilnya yang terparkir di area khusus dokter. Pintu lobby terbuka otomatis saat keduanya hendak masuk, senyum sapa ramah dari sekuriti menyambut kedatangan mereka. Dengan hal yang sama pula, Fahmi dan Nabila membalas. Banyak mata yang terpaku pada kedatan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 132 Berangkat Bekerja Bersama

    Sarapan sederhana yang sehat itu sudah habis disantap oleh Fahmi dan Nabila. Kini, keduanya bersiap berangkat menuju tempat kerja, aroma-aroma rumah sakit sudah sampai di hidung mereka. Tak dapat dipungkiri, ada kerinduan pada gedung yang telah menyatu dengan jiwa mereka berdua. Gedung rumah sakit dan nyawanya yang mengisi hari-hari Fahmi dan Nabila. Rasanya sudah seperti mendarah-daging. Nabila membawakan snelli suaminya ke dalam mobil, jas putih itu habis dicuci di binatu beberapa hari yang lalu. Sebetulnya, Fahmi ingin membawa benda itu dengan tangannya sendiri, namun sang istri dengan halus dan tulus mau membawakannya. “Mas, aku juga mau melayani suami seperti ini, bukan hanya di ranjang,” ucap Nabila halus. Ia menatap lekat wajah tampan suaminya. Fahmi tersenyum tipis yang manis. Ia senang juga diperlakukan seperti ini. “Terima kasih, ya…” ucapnya lembut. Nabila mengerling manja, lalu ia berjalan menuju mobil yang sedang dipanas

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 4 Pemberian Perempuan Lain

    ‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status