홈 / Romansa / Dokter Obgyn itu Suamiku / Bab 7 Melawan Takut

공유

Bab 7 Melawan Takut

작가: Nisa Hikaru
last update 게시일: 2026-06-04 16:17:50

Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi.

Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang.

Nabila mengembuskan napas dengan lega saat mendengar jawaban Fahmi. Ini adalah jawaban yang objektif. Siapa pun korban pelecehan, tak peduli itu pasangan, anak, keluarga, maupun orang lain, semuanya harus ditolong.

“Terima kasih, Dok…” ucap Nabila masih dengan suara yang serak dan lirih.

“Sama-sama,” balas Fahmi singkat tapi halus.

Nabila menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Kini, ia merasa cukup baikan. Aroma mobil Fahmi yang lembut terasa menenangkan jiwa dan pikirannya. Rasanya sedikit terkikis trauma dan jijik itu.

Nabila menggerakkan tubuhnya ke belakang, hendak mengambil barangnya. Di saat yang bersamaan, Fahmi melakukan hal yang sama. Pundak mereka bersentuhan. Kedua pasang matanya bertemu. Saling tatap. Manik mata Fahmi yang begitu indah, dilengkapi alis serta bulu mata yang lebat tertata rapi.

Jantung Nabila berdegup kencang. Tubuhnya terasa membeku. Ia dan Fahmi begitu dekat. Bahkan, ia bisa merasakan embusan napas pria tampan itu.

Dalam sekian detik adegan itu bertahan, hingga Nabila menarik pelan dirinya. Ia membiarkan Fahmi yang mengambilkan tasnya itu.

Nabila melihat tasnya yang masih dipegang oleh Fahmi.

“Tunggu sebentar,” ucap Fahmi sembari membuka pintu mobil. Tangannya masih membawa tas milik Nabila.

Nabila memerhatikan Fahmi yang berjalan ke arah pintu mobil di sampingnya. Laki-laki dengan tinggi 180 cm itu, membukakan pintu untuknya.

Melihat hal itu, membuat Nabila sejenak terpaku. Namun, ia langsung tersadar kembali. Ia turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke halaman rumahnya beriringan dengan Fahmi di sebelahnya.

Nabila menekan bel yang menempel di sebelah pintu masuk. Tak lama dari itu, Farida muncul dari balik pintu. Saat melihat anak gadisnya pulang bersama sang calon menantu, senyum merekah di wajah wanita paruh baya itu. Namun, sebuah pertanyaan muncul juga di kepalanya.

“Assalamu’alaikum…” ucap Fahmi sopan.

“Wa’alaikumussalam, masuk dulu, Dok,” balas Farida ramah. Gestur tubuhnya mempersilakan untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian, matanya menelisik ke sekitar seperti mencari sesuatu.

Nabila menoleh pada Fahmi, lalu pria itu memberikan tas miliknya.

“Terima kasih, Dokter…” desis Nabila pelan sekali, bahkan nyaris tak terdengar.

Walaupun hampir tak terdengar, namun Fahmi tahu apa yang dikatakan Nabila. Ia mengangguk merespon perkataan calon istrinya itu.

Setelah itu, Nabila masuk ke dalam rumahnya, ia langsung menuju ruang pribadinya. Ia tidak tahu, apakah Fahmi langsung pulang atau justru sebaliknya.

Setiba di kamar, ia langsung membersihkan diri. Melepas penat, jijik, dan berharap dapat mengurangi rasa trauma.

Air dingin yang mengaliri kepala hingga kaki, memberikan sensasi yang berbeda. Tubuh Nabila merasa lebih rileks setelah mandi, lalu ia merebahkan diri di atas kasur empuk.

Tangannya meraih ponsel pintar yang berada di atas nakas. Di dalam benda pipih yang canggih itu, terdapat banyak notifikasi pesan, baik pribadi maupun grup. Isinya rata-rata membahas kejadian yang menimpa Nabila tadi.

Nabila mendesah, ia mengembalikan ponselnya ke nakas.

Pintu kamarnya terbuka, datanglah Farida yang langsung menghampiri putrinya.

Farida duduk di sisi kasur, tangannya dengan penuh kasih sayang mengelus puncak kepala Nabila.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Farida khawatir.

Nabila tak menjawab, ia hanya menatap ibunya, lalu semakin mengeratkan pelukannya pada bantal guling.

“Tadi Dokter Fahmi cerita sama Mama soal kejadian itu. Beruntung kamu cepat ditolong,” ucap Farida pelan.

Air mata Nabila perlahan mengalir. Ia teringat lagi dengan kejadian itu. Sebetulnya, ia tidak mau membahasnya lagi. Hanya membuatnya semakin tidak nyaman dan trauma.

Farida mengusap pelan punggung Nabila. “Kalo kamu belum siap cerita, nggak apa-apa. Kamu tenangin diri dulu, ya. Oh iya, Dokter Fahmi bilang, kamu nggak usah khawatir soal pekerjaan.”

Nabila hanya mengangguk pelan.

Mendengar perkataan Fahmi yang dititipkan melalui ibunya, membuat perasaan Nabila terasa hangat. Isi kepalanya pun memutar memori saat ia dan Fahmi tak sengaja bersentuhan, lalu tatapan yang begitu dekat, serta embusan napas yang sangat terasa.

Rasa hangat itu membuatnya merasa tenang, hingga datang kantuk menenggelamkan dirinya dalam mimpi.

***

Pagi telah menggantikan malam. Nabila sudah siap berangkat bekerja. Tubuhnya sudah berbalut scrub, sedangkan kepalanya tertutupi oleh hijab dengan warna senada.

Peristiwa menjijikkan itu sudah berlalu, tapi tetap meninggalkan kenangan buruk bagi korbannya. Nabila ingat dengan pesan dari Fahmi kemarin, namun ia memilih untuk masuk bekerja. Ia tahu, rasa takut itu harus dilawan, walaupun tidaklah mudah.

Sebelum berangkat, kedua orang tuanya menanyakan dirinya dulu, apakah baik-baik saja. Dengan anggukan dan senyum yang sangat tipis, Nabila meyakinkan Khairul dan Farida, bahwa dirinya mampu.

Nabila berangkat menuju rumah sakit bersama motor kesayangannya. Beberapa belas menit kemudian, ia sudah dekat dengan tujuan. Namun, tiba-tiba ia memperlambat laju motornya. Hingga benar-benar berhenti di tepi jalan.

Telapak tangannya tiba-tiba dingin. Jantungnya berdebar lebih cepat. Napasnya agak tercekat. Semampu mungkin Nabila berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan, berulang kali.

Tin!

Suara klakson mobil memecah fokus Nabila. Ia menoleh ke belakang. Dilihatnya sebuah mobil yang tak asing berhenti berada tepat di belakang kendaraannya.

Ya, itu mobil Fahmi.

Si empunya kendaraan roda empat itu turun, berjalan menghampiri Nabila.

“Mau lanjut jalan?” tanya Fahmi. Laki-laki ini seperti tahu apa yang tengah melanda calon istrinya itu.

Nabila menelan ludahnya, lalu mengangguk pelan.

“Ayo, aku di belakang kamu,” balas Fahmi.

Perkataannya seperti menyiratkan bahwa semuanya aman.

Kemunculan Fahmi di tengah kegugupannya menghadapi trauma, membangkitkan setitik keberanian untuk melanjutkan perjalanan yang sudah dekat dengan tujuan ini.

Nabila menyalakan motornya, lalu lanjut mengemudi. Di belakangnya ada Fahmi bersama mobilnya yang mengiringi.

Setiba di rumah sakit, setelah memarkirkan kendaraan masing-masing. Nabila sempat tertegun, ia kembali dihadapkan dengan rasa takut.

Fahmi melihatnya yang tengah terpaku, lalu laki-laki berhidung mancung itu memberinya isyarat untuk sama-sama masuk ke gedung rumah sakit.

Nabila mendekat perlahan.

Fahmi menyamakan jalannya dengan Nabila. Mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit melalui jalan lain. Jalan yang sepi dari pengunjung dan tenaga kesehatan maupun karyawan.

Semua ini dilakukan, agar Nabila terhindar dari sorot mata dan pertanyaan orang-orang yang tentu saja membuatnya kembali teringat kejadian traumatis itu.

Langkah kaki keduanya sudah tiba di depan ruang poli kebidanan dan kandungan yang juga menjadi ruang kerja Fahmi.

“Kamu masuk duluan, aku mau ke bagian registrasi dulu. Konfirmasi jumlah pasien hari ini,” ucap Fahmi halus sembari memberikan kunci kartu pintu ruangannya.

Nabila menerima benda tipis tersebut. Bibirnya bergetar hendak mengatakan sesuatu.

“Absen kamu, biar aku yang urus.” Fahmi mengatakan itu dengan tenang, lalu ia langsung pergi menuju area registrasi.

Nabila menatap punggung Fahmi yang telah berjalan cukup jauh. Ia tertegun sejenak, hal yang ingin ia katakan adalah apa yang baru saja diucapkan Fahmi.

Laki-laki itu seperti bisa menebak apa yang tengah dipikirkannya.

Kemudian, Nabila sedikit menunduk menatap kunci kartu tersebut. Tangannya bergerak menempelkan benda tipis itu pada mesin yang menempel di pintu, namun seketika benda itu jatuh.

Nabila terperanjat. Ia spontan menoleh sampai tubuhnya menabrak pintu. Sebuah tepukan di pundak membuatnya terkejut dan sukses membangkitkan rasa takut.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Manissss
siapa yang bikin nabila kaget tuh
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
duhh... kasian Nabila...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 138 Hujan Pertama

    Sore waktu yang dinanti Fahmi sudah tiba, lelaki itu memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Setelah menyelesaikan praktik di rumah sakit lain pada siang hari, Fahmi bergegas kembali ke rumah sakit milik keluarganya untuk menjemput pujaan hati. Pesan singkat yang mengabarkan dirinya sudah berada di jalan telah dikirim pada sang istri. Tak perlu menunggu lama, pesan itu dibalas dengan segera. Senyum manis merekah di wajah tampan itu. Sepekan lebih setelah pernikahan, ia mereguk nikmatnya jatuh cinta setelah cukup lama memendam rasa. Nabila membereskan barang bawaannya, ia bersiap menunggu sang suami tiba menjemputnya. Pekerjaannya di hari pertama bekerja setelah menikah hanya berbeda sedikit, yaitu status yang berubah. Data rekam medis yang ia masukkan ke dalam laptop cukup banyak seperti biasa. Laptop dan map berisi dokumen tertulis telah tersimpan rapi di dalam tas ransel. Nabila berdiri, ia memasangkan ransel ke punggungnya, terasa

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 137 Cinta atau...?

    Dengan senyum hangat Nabila mengantarkan sang suami yang akan berangkat ke rumah sakit lain dari area parkir ini. Fahmi yang sedang kecintaan sekali dengan sang istri, rasanya tak mau jauh-jauh dari wanitanya itu. Kaca mobil telah ditutup, Fahmi menjalankan mobilnya keluar dari area rumah sakit yang cukup besar itu. Dari kaca spion, mata Fahmi masih mendapati istrinya berdiri di tempat parkir, arah pandangannya juga tertuju pada mobilnya. Kini, roda mobil yang bergerak berputar itu telah membawa Fahmi keluar dari area rumah sakit. Sosok istrinya sudah tak tertangkap lagi dari kaca spion. Fahmi harus bersabar, sore nanti ia akan bertemu lagi dengan sang istri. Mobil Fahmi sudah tak ada lagi di area parkir, Nabila memutar balik tubuhnya, lalu berjalan masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit. Tingkah sang suami yang tak mau berpisah dengannya sungguh menggemaskan. Kalau, tidak menikah dengan atasannya itu, ia tak akan tahu sisi lain seorang dr. Fahmi Ibr

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 136 Termotivasi

    Mata Fahmi melirik sang istri yang terkejut dengan jawabannya. Ia tersenyum menggoda, jawaban itu memang benar adanya. Ia tidak keceplosan sama sekali. “Beneran, Mas?” Nabila berharap suaminya bercanda. Fahmi mengganti senyumnya menjadi hangat sembari menatap sang istri. “Maaf, ya, mau nyebut nama kamu langsung, rasanya lidah agak kaku,” jelasnya. “Iya, tapi…” Nabila menatap suaminya. “Kalo lagi kerja, kan nggak enak, nanti dikira nggak profesional,” lanjutnya. Fahmi paham, ia juga sudah tahu arah pembicaraan sang istri. Besok-besok saat sedang bekerja ia tidak akan memanggil istrinya dengan sebutan ‘sayang’ lagi. “Iya, Sayang…” ucapnya paham. Nabila tersenyum hangat, lalu Fahmi beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dari balik meja mengulurkan tangan pada istrinya. Uluran tangan itu disambut, mereka berjalan keluar dari ruang poli menuju kantin rumah sakit. Sembari berjalan melewati koridor yang menghubungkan antara ru

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 135 Panggilan Sayang

    “Sayang, HPHT Ibu Marisa tanggal berapa tadi?” suara Fahmi yang tenang dan santai terdengar menggema di telinga Nabila. Seolah mulutnya sudah terbiasa dengan panggilan tersebut. Begitu juga dengan pasien dan pendamping yang turut terkejut pada panggilan yang diucapkan dokter obgyn tersebut. Tanga Fahmi memegang doppler, ia sudah siap untuk melakukan pemeriksaan USG pada pasiennya. Ia duduk di hadapan layar dan mesin USG, serta di samping pasiennya yang sudah terbaring. Nabila belum menjawab, ia memeriksa dokumen berisi rekam medis pasien. “12 September, Dok,” jawabnya. Sebetulnya ia ingin tertawa saat sang suami keceplosan memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’, namun di satu sisi juga, ia merasa bahagia. “Nah iya tanggal itu, Dok,” timpal pasien dengan senyum nyengir masih terbawa kaget saat dokter yang hendak memeriksanya ini mengucap kata ‘sayang’. Pasien ini bingung panggilan itu ditujukan ke siapa, namun dijawab langsung oleh bidan asistennya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 134 Hari Pertama Bekerja

    Langkah kaki Nabila dan Fahmi sudah sampai di Instalasi Kebidanan dan Kandungan. Nabila segera mengisi daftar hadir di mesin pemindai jari. Kehadirannya di sini belum mencuri perhatian, di koridor mereka hanya berpapasan dan menyapa saja. “Udah absennya,” ucap Nabila saat selesai melakukan absen. Ia hendak berbalik badan mengajak suaminya kembali ke ruang poli. Niat hatinya mau masuk ke ruang jaga, namun rasanya maju mundur. “Nggak masuk dulu? Menyapa teman-teman,” ucap Fahmi menawarkan istrinya untuk menyapa rekan-rekan kerjanya. Nabila tersenyum kikuk. “Eh, iya ya, tapi…” Fahmi tersenyum, ia mengerti maksud istrinya. Wanitanya itu pasti merasa tidak enak hati. “Aku tunggu di sini aja,” ucapnya. Fahmi memberikan ruang untuk Nabila agar merasa lebih leluasa menyapa rekan-rekannya. Ia juga paham, kehadirannya di sini mungkin akan dianggap berlebihan. Nabila mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya, ia pun berjalan masuk ke dalam rua

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 133 Tingkah Lucu

    Gedung rumah sakit yang berdiri gagah, halaman parkirnya yang luas, pohon-pohon rindang teduh tertanam di sekitarnya, taman yang terletak di samping kiri, dan hamparan rumput hijau lapangan sepak bola tepat di belakang. Pintu lobby yang terbuka tutup otomatis, pengunjung, karyawan, tenaga kesehatan, dan tenaga medis silih berganti keluar masuk. Suasana pagi ini cukup sibuk seperti biasanya dipenuhi oleh pasien rawat jalan, sedangkan di IGD nampak tenang. Aroma rumah sakit yang khas, suara derap langkah perawat dan dokter, roda brankar dan kursi roda yang berdecit melawan lantai keramik. Aroma dan suara-suara itulah yang ternyata membuat rindu. Langkah Fahmi dan Nabila sudah jauh meninggalkan mobilnya yang terparkir di area khusus dokter. Pintu lobby terbuka otomatis saat keduanya hendak masuk, senyum sapa ramah dari sekuriti menyambut kedatangan mereka. Dengan hal yang sama pula, Fahmi dan Nabila membalas. Banyak mata yang terpaku pada kedatan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 4 Pemberian Perempuan Lain

    ‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 6 Tolong

    Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 5 Insiden

    Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status