LOGINSuara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.
Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit. Wajah Fahmi terlihat tenang, tapi sorot matanya berubah tajam mengerikan. “Lepasin gue!” bentak pria itu, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Fahmi. Namun Fahmi justru mencengkeram lebih kuat. “Kamu pikir saya nggak lihat?” katanya pelan. Belum sempat pria itu bersuara, pintu lift terbuka. Semua orang langsung keluar, tapi tatapannya tak lepas dari Fahmi dan pria itu. BUG! Tinju pria itu melayang, tapi Fahmi berhasil menahannya dengan cepat. Penumpang lain langsung panik. “Ya Allah … dokter Fahmi kenapa?” “Apa yang terjadi?” Suara-suara di sekitar terdengar lebih jelas di telinga Nabila, membuatnya semakin gemetar. Kepalanya menunduk dalam, sementara tangannya masih memegang baju Fahmi seperti satu-satunya tempat aman. Sampai akhirnya pegangan itu terlepas ketika Fahmi mendorong pria itu keluar lift. BRAK! “Hanya laki-laki sampah yang bisa melecehkan wanita,” ujar Fahmi dingin, tatapannya menusuk ke arah pria itu. Seketika, semua mata kembali tertuju pada Nabila yang juga telah berdiri di depan lift dengan tangan gemetar. “Pelecehan?” “Suster itu yang dilecehin? Ya Tuhan kasian.” “Laki-laki gak tahu malu!” Nabila semakin menundukkan kepalanya, takut dan malu. Saat itu juga, Fahmi langsung menarik pria itu, mencengkram kuat tangannya. Namun pria brengsek itu masih memberontak. “Lepasin, sialan!” pekik pria itu. Fahmi mendorong Nabila sedikit ke belakang tubuhnya, seperti melindunginya dari pandangan siapa pun. Gerakan kecil itu justru membuat dada Nabila terasa semakin hangat sekaligus ingin menangis. Untuk pertama kalinya sejak tadi… ia merasa aman. “Sus, panggil sekuriti.” Nada suara Fahmi tetap tenang. Tapi justru itu yang membuat semua orang diam. Karena dibalik ketenangannya, emosi pria itu terasa begitu jelas. Dua perawat yang tadi turut naik lift, bergegas memanggil sekuriti. Hanya hitungan detik, dua sekuriti sudah datang. Keduanya langsung mengamankan pria brengsek itu. Pelaku pelecehan itu masih melakukan perlawanan. Mata Fahmi tak lepas menatapnya dengan tajam, hingga manusia rendahan itu hilang dari hadapan. Orang-orang masih berkumpul di area lift, tangan Fahmi menekan tombol menutup pintu dan bergerak turun menuju lantai satu. Fahmi sedikit bergeser, memberi ruang pada Nabila. Gadis itu masih menunduk, kedua tangannya meremas ujung scrub. Rasa malu, jijik, takut, dan marah, jadi satu. Rencana visit pasien, Fahmi batalkan. Pintu lift terbuka, sudah tiba di lantai satu. Nabila masih diam terpaku di tempat. Tatapannya terlihat kosong. Ia seperti sedang mengalami disosiasi. Fahmi yang sudah berada di luar lift, berdiri menunggu Nabila berjalan ke luar. Namun, gadis itu masih bergeming. “Sudah aman,” ucap Fahmi dengan suara yang dalam, tapi terasa menenangkan. Nabila menaikkan sedikit wajahnya. Ia menatap Fahmi dengan datar. Telinganya mendengar, namun pikirannya belum bisa fokus. Fahmi sedikit mengangguk, memberikan isyarat bahwa memang situasi sudah aman. “Ayo, ikuti aku…” ucap Fahmi pelan dan lembut. Perlahan Nabila bergerak, ia keluar dari ruang sempit yang baru saja memberinya kejadian traumatis itu. Ia melangkah mengikuti Fahmi yang berada di depannya. Calon suaminya itu membawanya ke ruang poli. Di ruang kerja ini sepi, tak ada orang lain, hanya mereka berdua. Nabila menduduki kursi yang ditarikkan Fahmi untuknya. Ia masih tetap seperti tadi, tatapannya kosong, jiwanya seperti mengambang. Dengan sedikit gemetar, tangan Nabila menerima air minum yang diberikan Fahmi. Berharap dengan meminum air, dapat sedikit menenangkan. Tangan Nabila bergerak hendak mengarahkan gelas itu ke mulutnya, namun tak kuat. Getaran tubuhnya membuat air itu malah sedikit tumpah membasahi hijabnya. Melihat hal itu, dengan sigap dan tenang, Fahmi mengambil tisu, lalu mengelap air yang menumpahi hijab Nabila. Tatapan Nabila jatuh pada Fahmi yang tengah membersihkan hijabnya. Dadanya terasa hangat. Rasa aman itu muncul lagi. Setitik air mata jatuh tanpa permisi. Setelah membersihkan hijab Nabila, Fahmi beranjak keluar tanpa sepatah kata. Nabila tak tahu, mau pergi ke mana sosok penyelamatnya itu. Kedua netra Nabila menatap langit-langit ruang poli yang setiap hari membersamainya. Ia mengembuskan napas berat. Sungguh di luar sangkaan, sesuatu dapat terjadi begitu saja. Ia masih tak percaya, bahwa sudah menjadi korban pelecehan. Di kepalanya terekam jelas adegan menjijikkan itu. Nabila menunduk. Kedua matanya terpejam dengan dahi yang berkerut. Ia berusaha menepis dan membuang memori itu, namun tidak bisa. Kini, Fahmi sudah kembali ke ruang poli. Ia datang membawa barang bawaan milik Nabila. Ia sengaja mengambilkannya di ruang jaga instalasi kebidanan dan kandungan. Kedatangannya tadi pun seperti biasa, mencuri atensi bidan-bidan di sana. Fahmi meletakkan tas ransel dan map folder milik Nabila di atas meja kerjanya. “Kalo kamu sudah siap mau pulang, bilang aja. Nanti aku yang antar, motor biar sekuriti yang urus,” ucap Fahmi datar, namun dalam. Nabila tak mengangguk atau menanggapi dengan hal lain. Ia hanya menatap Fahmi dengan datar dan selama beberapa detik itu pula keduanya saling menatap. Kemudian, Nabila mengalihkan pandangannya pada sudut lain di ruangan ini. Fahmi duduk di kursi kerjanya, ia diam dalam tenang. Ruangan ini hening, hanya deru mesin pendingin ruangan yang mengisi kekosongan di antara keduanya. Hingga beberapa jam berlalu, tiba saatnya pulang. Nabila melirik jam dinding, ia sudah merasa sedikit baikan sekarang. Matanya lalu melihat ke arah barang-barang miliknya. Tanpa sengaja, matanya bertemu pandang dengan milik Fahmi. Keduanya saling tatap untuk yang ke sekian kali. “Mau pulang?” tanya Fahmi pelan. Nabila mengangguk lemah. Fahmi berdiri, ia memakai ranselnya di punggung, sedangkan kedua tangannya membawa barang milik Nabila. Awalnya, Nabila hendak membawa sendiri, namun ia membiarkan Fahmi yang membawakan barang-barangnya. Fahmi melangkah meninggalkan ruang poli, Nabila berada di belakangnya. Lelaki tampan ini memilih jalan lain untuk keluar dari gedung rumah sakit. Jalan yang sepi dari pengunjung maupun tenaga kesehatan lain. Memastikan semuanya aman. Jantung Nabila berdebar. Ia masih takut apabila berjumpa lagi dengan pelaku itu tadi. Saat melintas di depan lift, tengkuknya langsung meremang mengingat kejadian itu. Langkahnya hati-hati sekali. Ia mengikuti ke mana Fahmi pergi, hingga keduanya tiba di parkiran mobil khusus dokter. Nabila berdiri di depan mobil Fahmi. Baru kali ini ia berada dekat sekali dengan kendaraan milik orang yang dipuja-puji kaum hawa di rumah sakit ini. Mobil ini juga yang nantinya akan selalu ia naiki saat sudah menikah dengan atasannya itu. Nabila masih berdiri tertegun. Ia menatap datar sama seperti sebelumnya, lalu ia melihat Fahmi membukakan pintu kursi penumpang sebelah kemudi. Pintu itu dibukakan untuknya. Kini, Nabila sudah duduk di sebelah Fahmi yang tengah mengemudi mobilnya. Hening. Nabila menatap kosong jalanan demi jalanan yang dilalui menuju rumahnya. Hingga tibalah di sana. Mobil Fahmi sudah berhenti tepat di depan pagar rumah Nabila. Gadis di sebelahnya itu nampak bergeming. Tatapannya masih lurus ke depan. Mulutnya terkunci rapat, rasanya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa menit Nabila tak bergerak sedikit pun. Kemudian, dengan kaku, ia menoleh pada Fahmi yang juga langsung membalas tatapannya. “Kenapa… nolongin saya?” tanya Nabila dengan suara serak dan lirih.“Aamiin…” Nabila mengaminkan ucapan yang berisi harapan tersebut. Ia tak menyanggah dengan pertanyaan, kenapa tidak melakukan ANC sendiri saja, toh bisa menghemat biaya, tidak perlu ke dokter obgyn lain. Namun, ia mengerti maksud sang suami. Fahmi mengubah sudut pandangnya sebagai pasien. Ia ingin merasakan hal itu bersama sang istri. Bagaimana rasanya melakukan pemeriksaan kehamilan, mendengar penjelasan dokter tentang kesehatan ibu dan janin. Meskipun, nanti ia juga tahu penjelasan tersebut. Sebuah pemikiran pun terlintas di benak Nabila. “Mas, apa nggak bakalan grogi, dokter obgyn periksa kehamilan istrinya ke obgyn lain?” Fahmi tersenyum tipis. Ada benarnya pertanyaan sang istri. Juga terkesan seperti mengetes kemampuan sesama sejawat. “Betul juga pertanyaan kamu, nanti Mas pertimbangkan lagi, mau ANC sendiri atau ke dokter lain,” jawabnya dengan tenang. Nabila mengangguk. Ia mengikuti saja apa yang dikatakan sang suami. “Mas mau
Nabila menyadari gerak-gerik sang suami yang terlihat tidak seperti biasa. Tiba-tiba sekali, padahal baru saja mereka berlaku seperti biasanya, bercanda, mengobrol, dan saling menggoda. Dokter obgyn tampan itu nampak berhenti sejenak, matanya tertuju pada sebuah meja yang ditempati oleh dua orang perempuan. Letak meja itu tak jauh dari tempat yang dipilih Nabila. Satu perempuan tersebut Nabila kenali, namun satunya lagi terasa familiar. Kania duduk berhadapan dengan Marsha, posisinya pas sekali untuk dapat bertemu pandang dengan Fahmi yang tengah berdiri tak jauh darinya. Matanya pun langsung tertuju pada teman suaminya itu, sama-sama saling berpandangan. Fahmi tak dapat menghindar dari pandangan Kania, namun ia bisa bersikap seolah tak peduli dengan kehadiran dua perempuan yang sama-sama mencintai Rafli. Setelah antara mata Fahmi dan Kania saling bertemu, Fahmi langsung bergerak lagi seolah tak terjadi apa-apa. Ia langsung meletakkan piringnya di atas
Antara rumah sakit dan diri sendiri seperti sudah memiliki ikatan. Kehidupan Fahmi sedari kecil sudah terbiasa dengan gedung tersebut beserta aktivitas di dalamnya. Memiliki orang tua dengan latar belakang seorang tenaga medis tentu saja membuatnya turut menyelam dalam dunia tersebut. Begitu juga dengan Nabila, meskipun berbeda latar belakang dengan keluarga sang suami, ia sendiri juga sudah memiliki ikatan batin pada dunia kesehatan. Meski kedalaman jarak yang ia selami di dunia ini, tak sedalam Fahmi, di dalam hatinya pekerjaan sebagai tenaga kesehatan sudah menyatu dengan jiwa. Saat pertanyaan perawat senior tersebut terdengar oleh telinga mereka, tentu mengundang rasa geli. Tapi, memang diakui, ada rasa rindu pada dunia tersebut. “Ya, dibilang nggak rindu, gimana ya Pak. Antara saya sama rumah sakit itu sudah mendarah daging,” jawab Fahmi dengan tenang. Perawat tersebut tersenyum. Ia sendiri tahu bagaimana anak dari pemilik rumah sakit ini
Marsha telah berlalu, ia berjalan tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Pandangannya lurus ke depan. Langkahnya pun terkesan buru-buru, seperti ada yang sedang ditunggunya. Pandangan Fahmi tertuju pada temannya itu, dilihat dari belakang pun ia mengenali sosok tersebut. Matanya kini beralih pandang pada dr. Reza yang berada di hadapannya. Dokter anestesi itu nampak agak bingung dengan tatapan Fahmi. “Jangan sama beliau, Dok.” Ternyata dr. Reza mengerti maksud pandangan Fahmi. Tangannya pun bergerak melambai pertanda ia menolak untuk dijodohkan dengan Marsha. Fahmi tersenyum pada dr. Reza. “Nggak kok, mungkin bisa tanya sama istri saya.” Ia menoleh pada Nabila. “Sayang, kayaknya temen-temen kamu di instalasi banyak yang belum menikah,” ucap Fahmi. Nabila tak begitu mempedulikan ucapan sang suami, ia justru terpaku pada panggilan ‘sayang’ tersebut. Sebetulnya ia sudah cukup terbiasa dengan panggilan itu, namun karena diucapkan di depan orang lain ia
Lift mulai bergerak, tangan Nabila bergelayut pada lengan Fahmi. Lelaki yang lebih tua 10 tahun darinya itu merasa sangat bahagia. Pada lengannya itu, dapat memberikan kenyamanan pada sang istri. Kemudian, beriringan dengan lift yang terus bergerak turun, terdengar ada suara yang mendayu di telinga. Suara yang syahdu menyentuh relung hati. Suara itu mengalun pelan, namun masih dapat ia dengar. “Mas Fahmi, ana uhibbuka fillah…” begitulah kalimat yang terucap. Kalimat yang terdengar mengalun menyentuh jiwa. Kalimat yang ditunggu-tunggunya. Fahmi menoleh pada sang istri. Mata mereka bertemu saling beradu pandang. Sebuah senyum hangat terbit di wajahnya. “Boleh dengar lagi?” tanyanya dengan nada yang sangat lembut, namun tersisip permohonan. Nabila merasa tersipu. Ia sebetulnya ingin berkata diam-diam saja, namun ternyata suaranya justru terdengar oleh telinga sang suami. Seharusnya, ia tadi mengatakannya dalam hati saja. Bibir Nabila be
Rumah baru. Dua kata itu terus terngiang di telinga Nabila. Sebelumnya ia tak pernah membayangkan akan secepat itu pindah rumah. Ia hanya mengira, dirinya dan suami akan terus tinggal sementara di rumah sang mertua. Suaminya pun belum pernah membahas soal rumah baru tersebut. Jujur saja, Nabila kaget, sekaligus senang mendengar dua kata tersebut. Namun, seperti terlalu tiba-tiba. Apakah ini memang direncanakan menjadi sebuah kejutan? Ah, entahlah. Di kepala Nabila sekarang tengah membayangkan bagaimana rupa bangunan tersebut. Nabila penasaran sekali, seperti apa rumah baru tersebut. Apakah di dalam komplek perumahan cluster seperti rumah mertuanya atau di perkampungan biasa. Yang jelas, pasti keluarga suaminya memilihkan tempat yang terbaik versi mereka. Hari sudah beranjak siang, Farida—mama Nabila—sudah sadarkan diri. Wanita paruh baya itu nampak masih belum stabil. Matanya yang sayu melihat ke sekeliling ruang rawat inap, dan juga ia menemukan tiga s
"Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asist
“Enak ya jadi Nabila, bisa deket-deket terus sama dokter Fahmi,” ujar salah satu perawat di ruang jaga.“Bagi tipsnya dong, Bu Bidan Nabila,” sahut perawat lain.Nabila, gadis yang tengah memakai scrub dan kerudung berwarna merah muda itu hanya menggelengkan kepalanya sambil ter
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan







