Share

Bab 6 Tolong

Author: Nisa Hikaru
last update publish date: 2026-06-03 22:14:14

Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.

Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.

Wajah Fahmi terlihat tenang, tapi sorot matanya berubah tajam mengerikan.

“Lepasin gue!” bentak pria itu, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Fahmi.

Namun Fahmi justru mencengkeram lebih kuat.

“Kamu pikir saya nggak lihat?” katanya pelan.

Belum sempat pria itu bersuara, pintu lift terbuka. Semua orang langsung keluar, tapi tatapannya tak lepas dari Fahmi dan pria itu.

BUG!

Tinju pria itu melayang, tapi Fahmi berhasil menahannya dengan cepat. Penumpang lain langsung panik.

“Ya Allah … dokter Fahmi kenapa?”

“Apa yang terjadi?”

Suara-suara di sekitar terdengar lebih jelas di telinga Nabila, membuatnya semakin gemetar. Kepalanya menunduk dalam, sementara tangannya masih memegang baju Fahmi seperti satu-satunya tempat aman. Sampai akhirnya pegangan itu terlepas ketika Fahmi mendorong pria itu keluar lift.

BRAK!

“Hanya laki-laki sampah yang bisa melecehkan wanita,” ujar Fahmi dingin, tatapannya menusuk ke arah pria itu.

Seketika, semua mata kembali tertuju pada Nabila yang juga telah berdiri di depan lift dengan tangan gemetar.

“Pelecehan?”

“Suster itu yang dilecehin? Ya Tuhan kasian.”

“Laki-laki gak tahu malu!”

Nabila semakin menundukkan kepalanya, takut dan malu.

Saat itu juga, Fahmi langsung menarik pria itu, mencengkram kuat tangannya. Namun pria brengsek itu masih memberontak.

“Lepasin, sialan!” pekik pria itu.

Fahmi mendorong Nabila sedikit ke belakang tubuhnya, seperti melindunginya dari pandangan siapa pun.

Gerakan kecil itu justru membuat dada Nabila terasa semakin hangat sekaligus ingin menangis.

Untuk pertama kalinya sejak tadi… ia merasa aman.

“Sus, panggil sekuriti.” Nada suara Fahmi tetap tenang.

Tapi justru itu yang membuat semua orang diam. Karena dibalik ketenangannya, emosi pria itu terasa begitu jelas.

Dua perawat yang tadi turut naik lift, bergegas memanggil sekuriti. Hanya hitungan detik, dua sekuriti sudah datang. Keduanya langsung mengamankan pria brengsek itu.

Pelaku pelecehan itu masih melakukan perlawanan. Mata Fahmi tak lepas menatapnya dengan tajam, hingga manusia rendahan itu hilang dari hadapan.

Orang-orang masih berkumpul di area lift, tangan Fahmi menekan tombol menutup pintu dan bergerak turun menuju lantai satu.

Fahmi sedikit bergeser, memberi ruang pada Nabila. Gadis itu masih menunduk, kedua tangannya meremas ujung scrub. Rasa malu, jijik, takut, dan marah, jadi satu.

Rencana visit pasien, Fahmi batalkan.

Pintu lift terbuka, sudah tiba di lantai satu. Nabila masih diam terpaku di tempat. Tatapannya terlihat kosong. Ia seperti sedang mengalami disosiasi.

Fahmi yang sudah berada di luar lift, berdiri menunggu Nabila berjalan ke luar. Namun, gadis itu masih bergeming.

“Sudah aman,” ucap Fahmi dengan suara yang dalam, tapi terasa menenangkan.

Nabila menaikkan sedikit wajahnya. Ia menatap Fahmi dengan datar. Telinganya mendengar, namun pikirannya belum bisa fokus.

Fahmi sedikit mengangguk, memberikan isyarat bahwa memang situasi sudah aman.

“Ayo, ikuti aku…” ucap Fahmi pelan dan lembut.

Perlahan Nabila bergerak, ia keluar dari ruang sempit yang baru saja memberinya kejadian traumatis itu. Ia melangkah mengikuti Fahmi yang berada di depannya.

Calon suaminya itu membawanya ke ruang poli. Di ruang kerja ini sepi, tak ada orang lain, hanya mereka berdua.

Nabila menduduki kursi yang ditarikkan Fahmi untuknya. Ia masih tetap seperti tadi, tatapannya kosong, jiwanya seperti mengambang.

Dengan sedikit gemetar, tangan Nabila menerima air minum yang diberikan Fahmi. Berharap dengan meminum air, dapat sedikit menenangkan.

Tangan Nabila bergerak hendak mengarahkan gelas itu ke mulutnya, namun tak kuat. Getaran tubuhnya membuat air itu malah sedikit tumpah membasahi hijabnya.

Melihat hal itu, dengan sigap dan tenang, Fahmi mengambil tisu, lalu mengelap air yang menumpahi hijab Nabila.

Tatapan Nabila jatuh pada Fahmi yang tengah membersihkan hijabnya. Dadanya terasa hangat. Rasa aman itu muncul lagi. Setitik air mata jatuh tanpa permisi.

Setelah membersihkan hijab Nabila, Fahmi beranjak keluar tanpa sepatah kata. Nabila tak tahu, mau pergi ke mana sosok penyelamatnya itu.

Kedua netra Nabila menatap langit-langit ruang poli yang setiap hari membersamainya. Ia mengembuskan napas berat. Sungguh di luar sangkaan, sesuatu dapat terjadi begitu saja. Ia masih tak percaya, bahwa sudah menjadi korban pelecehan.

Di kepalanya terekam jelas adegan menjijikkan itu.

Nabila menunduk. Kedua matanya terpejam dengan dahi yang berkerut. Ia berusaha menepis dan membuang memori itu, namun tidak bisa.

Kini, Fahmi sudah kembali ke ruang poli. Ia datang membawa barang bawaan milik Nabila. Ia sengaja mengambilkannya di ruang jaga instalasi kebidanan dan kandungan. Kedatangannya tadi pun seperti biasa, mencuri atensi bidan-bidan di sana.

Fahmi meletakkan tas ransel dan map folder milik Nabila di atas meja kerjanya.

“Kalo kamu sudah siap mau pulang, bilang aja. Nanti aku yang antar, motor biar sekuriti yang urus,” ucap Fahmi datar, namun dalam.

Nabila tak mengangguk atau menanggapi dengan hal lain. Ia hanya menatap Fahmi dengan datar dan selama beberapa detik itu pula keduanya saling menatap. Kemudian, Nabila mengalihkan pandangannya pada sudut lain di ruangan ini.

Fahmi duduk di kursi kerjanya, ia diam dalam tenang.

Ruangan ini hening, hanya deru mesin pendingin ruangan yang mengisi kekosongan di antara keduanya. Hingga beberapa jam berlalu, tiba saatnya pulang.

Nabila melirik jam dinding, ia sudah merasa sedikit baikan sekarang. Matanya lalu melihat ke arah barang-barang miliknya. Tanpa sengaja, matanya bertemu pandang dengan milik Fahmi. Keduanya saling tatap untuk yang ke sekian kali.

“Mau pulang?” tanya Fahmi pelan.

Nabila mengangguk lemah.

Fahmi berdiri, ia memakai ranselnya di punggung, sedangkan kedua tangannya membawa barang milik Nabila. Awalnya, Nabila hendak membawa sendiri, namun ia membiarkan Fahmi yang membawakan barang-barangnya.

Fahmi melangkah meninggalkan ruang poli, Nabila berada di belakangnya. Lelaki tampan ini memilih jalan lain untuk keluar dari gedung rumah sakit. Jalan yang sepi dari pengunjung maupun tenaga kesehatan lain. Memastikan semuanya aman.

Jantung Nabila berdebar. Ia masih takut apabila berjumpa lagi dengan pelaku itu tadi. Saat melintas di depan lift, tengkuknya langsung meremang mengingat kejadian itu. Langkahnya hati-hati sekali. Ia mengikuti ke mana Fahmi pergi, hingga keduanya tiba di parkiran mobil khusus dokter.

Nabila berdiri di depan mobil Fahmi. Baru kali ini ia berada dekat sekali dengan kendaraan milik orang yang dipuja-puji kaum hawa di rumah sakit ini. Mobil ini juga yang nantinya akan selalu ia naiki saat sudah menikah dengan atasannya itu.

Nabila masih berdiri tertegun. Ia menatap datar sama seperti sebelumnya, lalu ia melihat Fahmi membukakan pintu kursi penumpang sebelah kemudi.

Pintu itu dibukakan untuknya.

Kini, Nabila sudah duduk di sebelah Fahmi yang tengah mengemudi mobilnya. Hening.

Nabila menatap kosong jalanan demi jalanan yang dilalui menuju rumahnya. Hingga tibalah di sana.

Mobil Fahmi sudah berhenti tepat di depan pagar rumah Nabila. Gadis di sebelahnya itu nampak bergeming. Tatapannya masih lurus ke depan. Mulutnya terkunci rapat, rasanya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Beberapa menit Nabila tak bergerak sedikit pun. Kemudian, dengan kaku, ia menoleh pada Fahmi yang juga langsung membalas tatapannya.

“Kenapa… nolongin saya?” tanya Nabila dengan suara serak dan lirih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Manissss
ditolongin lah Nabila...
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
duhhh Nabila ini. gimana sih kamu. kan calon istri, gimana gak di tolong...
goodnovel comment avatar
Pengabdi Uji
Di tolongin krn sukaa ama kamuuu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 147 Kabar Bahagia

    Mata Nabila berbinar-binar dan langsung berembun saat melihat hasil yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan tersebut. Ia menutup mulutnya dengan tangan kiri, dadanya terasa hangat. Rasanya ia tak percaya pada apa yang disaksikan oleh netranya sekarang. Garis dua yang ditampilkan oleh alat itu sungguh mengejutkannya di pagi ini. Rasanya ia ingin segera memberi tahu sang suami yang masih terlelap, karena sekarang memang belum waktunya pria itu bangun seperti biasa. Nabila menyeka air matanya yang mengalir di pipi. Air mata kebahagiaan yang tumpah. Ia mengandung benih cinta yang ditanamkan oleh suami dan dirinya. Pernikahan ini terasa sangat membahagiakan dan lengkap dengan kabar baik ini. Sisa urin yang ada di dalam wadah, Nabila buang ke dalam kloset. Alat tes kehamilan tersebut ia simpan rapi di dalam sebuah amplop putih. Nanti ia akan berikan amplop tersebut pada sang suami. Rasanya tak sabar untuk segera memberikan benda itu pada belahan jiwa.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 146 Jangan Muncul Lagi

    Ketika nama Fahmi disebut, Lili mundur selangkah. Wajahnya nampak pucat pasi. Gertakan tersebut langsung membuatnya takut. “Ja—jangan…” ucapnya terbata. Nabila menatap Lili. Ia tadi sengaja tak langsung menggunakan kekuatan sang suami. Ia ingin meyelesaikannya dengan sendiri, namun ternyata Lili begitu memaksa dan cukup kuat. “Dih, langsung takut kan kamu,” ucap Merina kesal. Lili tak membalas, ia terdiam. “Nab, bentar lagi poli mulai kan?” tanya Merina. Nabila mengangguk. “Iya, Kak,” jawabnya. “Buruan balik gih,” ucap Merina menyarankan Nabila untuk segera kembali ke ruang poli. Nabila mengangguk lagi. “Makasih, ya, Kak,” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan toilet. “Nab,” panggil Lili lirih menahan langkah kaki Nabila yang baru saja bergerak. Nabila menoleh dengan kaki yang siap akan melangkah lagi, tiba-tiba Lili langsung berlutut di hadapannya. “Maafin aku. Aku benar-benar

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 145 Kejadian di Toilet

    Seisi toilet semuanya berubah menjadi gelap. Tak ada cahaya remang-remang, karena memang tak ada ventilasi, sirkulasi udara dibantu dengan kipas. Tubuh Nabila seketika membeku. Pikirannya teringat dengan saat ia dikerjai oleh Lili waktu itu. Nabila berusaha untuk tenang. Ia mengatur napasnya sebaik mungkin. Di ruang sempit ini, ia merasa seperti dicekik. Selain gelap, toilet terasa sunyi sekali, tak ada orang lain yang sedang menggunakan ruangan ini. Perlahan, setelah napas yang teratur, tangan Nabila bergerak merogoh saku scrubnya. Beruntung sekali ponsel ia bawa. Fitur senter dinyalakan, cahayanya menembus gelap gulita. Tangan Nabila membuka grendel pintu bilik toilet, ia melangkah keluar. Kakinya sudah mencapai di depan wastafel, lampu toilet kembali menyala. Mata Nabila mengerjap saat cahaya lampu kembali menguasai ruangan tersebut. Cukup silau, namun perasaannya lega. Gelap sungguh mengundang rasa traumanya. Ia melihat ke sekitar, toilet benar-bena

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 144 Tentang Kebaikan

    Sebuah sentuhan halus mendarat di kening Nabila, ia merasakannya, namun matanya berat sekali. Sentuhan itu terasa antara seperti mimpi, namun juga nyata. Telinganya sayup-sayup mendengar suara lembut memanggilnya dengan sebutan spesial.“Sayang…” sebutan itu mengalun di telinga Nabila, menjadikannya terus-terusan ingin mendengarnya. Nabila sedikit mengerang. Kelopak matanya seperti ditimpa batu dan lem super, dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk membukanya. “Sayang…” kali ini panggilan itu bersamaan dengan sentuhan lembut di kepalanya. Nabila masih terpejam, sentuhan itu sedang ia cerna, juga kenapa ia bisa tertidur. Perlahan meskipun terasa begitu berat, kelopak matanya terangkat sedikit. Sinar remang-remang lampu putih yang hangat menyusup ke dalam matanya. Mata Nabila mengerjap, kelopaknya menyapu sinar-sinar yang mengejutkan indra penglihatan. Beberapa kali mata itu membuka tutup, lalu menangkap sosok tampan di hadapannya tengah

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 143 Tertidur

    Jarum jam terus bergerak, mata Nabila masih cukup kuat. Ia duduk di tepi tempat tidur memperhatikan jam dinding yang ada di kamar, waktu operasi caesar tidak begitu lama, namun setidaknya suaminya akan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di luar rumah. Nabila mengecek ponselnya, tak ada pesan dari sang suami, itu menandakan bahwa operasi masih berlangsung. Sendirian di rumah baru ini ternyata cukup membosankan, Nabila bingung mau melakukan apa. Tak ada pekerjaan rumah yang belum terjamah, setiap sudut rumah rapi dan bersih. Mau memasak, tapi mau membuat apa, ia tak ada ide, dan lagi pula ini sudah larut malam.“Mas Fahmi kayaknya masih lama ya…” gumam Nabila sendiri. Kemudian, ia beranjak dari duduk, berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Tangannya meraih remote televisi. Nabila mengarahkan remote itu pada aplikasi menonton berbayar. Dari beranda muncul berbagai rekomendasi film dan series yang terlihat menarik. Ada juga genre horor dengan post

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 142 Kebaikan yang Dikenang

    “Lanjutkan…” ucap Fahmi. Operasi berjalan dengan lancar, Fahmi telah menyelesaikan tugasnya, sisanya akan diteruskan oleh tim. Ia berjalan keluar dari ruang operasi, melepas sarung tangan, masker, jubah, dan penutup kepala. Ia mencuci tangan di wastafel, dari cermin terdapat pantulan dirinya, Fahmi melihat sekilas, lalu kembali fokus membersihkan tangan hingga ke siku. Koridor rumah sakit pada malam hari terasa lebih sepi, hanya ada satu atau dua orang yang lewat. Fahmi melangkah dengan santai, ia teringat dengan rumor yang biasa terjadi di rumah sakit. Rumor-rumor berbau horor itu juga dialami oleh rumah sakit milik keluarganya, hanya saja mereka tak begitu menanggapi. Bicara soal horor, Fahmi belum tahu apakah istrinya takut atau tidak pada hal semacam itu. Ia melirik jam tangannya, waktu semakin larut, ponselnya juga hening. Tak ada Nabila menghubunginya via pesan atau pun panggilan. Fahmi menghela nafasnya pelan, sepertinya Nabila sudah ti

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 8 Bukan Hari yang Tenang

    Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 7 Melawan Takut

    Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 5 Insiden

    Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b

  • Dokter Obgyn itu Suamiku   Bab 4 Pemberian Perempuan Lain

    ‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status