Share

Bab 29. Dilabrak

Penulis: Els Arrow
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 13:38:01

Dua sosok berdiri di ambang pintu, pria paruh baya dengan jas hitam rapi dan sorot mata tajam, di sampingnya seorang wanita bergaun gelap dengan selendang abu di bahu.

Dua pasang netra sembab itu menatap tajam ke ranjang tempat Avrisha berbaring.

“Kau Avrisha, bukan?” tanya pria itu berat, datar.

Keira spontan berdiri. “Maaf, Bapak siapa ya?”

Namun wanita di sampingnya langsung menjawab dengan nada getir.

“Tidak usah ikut campur, kami nggak kenal kamu dan nggak ada urusannya sama kamu.”

Avrisha membeku. Ia hendak membuka mulut, tapi suaranya tertelan entah ke mana.

Kedua paruh baya itu melangkah pelan mendekati ranjang. Di belakangnya, sang istri, Miranda, menatap Avrisha dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan penuh kebencian.

“Jadi ini perempuan yang jadi penyebab putri kami meninggal,” ucap Miranda datar, suaranya serak tapi setiap katanya menohok. “Tidak kusangka, rupanya wajah yang kelihatannya lembut ini bisa menghancurkan dua keluarga sekaligus.”

“Bu—” Keira henda
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 96

    Sirene meraung memecah malam, memanjang seperti urat tegang yang ditarik paksa. Dua mobil patroli terdepan melesat keluar kompleks, diikuti SUV hitam tak bertanda yang dikendarai Elvareno bersama Kapten Arya. Lampu biru-merah berpendar di aspal basah, memantul di kaca-kaca toko yang sudah tutup.“Plat masih terbaca jelas?” tanya Elvareno, rahangnya mengeras.Arya mengangguk, matanya tak lepas dari tablet. “Masih. Mereka masuk jalur arteri timur, ke arah pintu tol lama. Kecepatan stabil, nggak ngebut. Ini ciri orang yang tahu jalur aman.”“Artinya mereka sudah sering lewat sini,” gumam Elvareno.Radio berderak.“Unit Tiga ke pusat, target melewati lampu merah Jalan Kenari, belok kiri. Ada satu kendaraan pembayang.”“Copy,” jawab Arya cepat. “Jangan terlalu dekat. Biarkan mereka merasa aman.”Mobil-mobil polisi menjaga jarak, bergerak seperti bayangan. Kamera lalu lintas berpindah satu per satu di layar, wajah pengemudi buram, plat tertangkap jelas, waktu bergerak terasa menipis.“Merek

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 95. Lapor Polisi

    “Apa? Tunggu, jelaskan semuanya dari awal, pelan-pelan!” Elvareno menahan panik, mencoba menenangkan diri, meski adrenalin sudah membara di seluruh tubuhnya. “Keir tadi pesan makanan online, aku minta dia ke depan sebentar pas kurirnya udah anterin. Dia juga bawa Arel dinaikin stroller, cuma sebentar, El! Aku nggak tahu, tiba-tiba katanya ada orang nanya alamat. Keira bingung, dia bukan asli situ, niatnya mau balik nanya aku. Tapi pas dia balik , Arel … Arel udah nggak ada! Stroller-nya kosong, El, anakku nggak ada!” Suara Avrisha pecah, tangisnya makin keras. Elvareno langsung menyambar jaketnya dan berlari masuk lagi ke dalam mobil. “Tenang, jangan panik. Aku ke situ sekarang!” sahutnya seraya menyalakan mesin mobil dengan tangan gemetar. Sesampainya di rumah Avrisha, Elvareno melihat Avrisha duduk terkulai di sofa, wajahnya basah penuh air mata, tubuhnya gemetar hebat. Keira berdiri di samping dengan wajah pucat, bibir gemetar, dan tangan terus meremas bajunya sendiri. “Ak

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 94. Dilabrak

    “El, nanti kamu makan dulu,” ujar Raisa sambil melepas sepatu, mereka baru saja sampai rumah. “Mama udah minta maid bikinin sup.” Elvareno mengangguk. “Sebentar lagi, Ma.” Belum sempat melewati pintu, suara klakson panjang terdengar dari depan pagar. Satu mobil sedan abu-abu berhenti kasar, disusul SUV hitam di belakangnya. Alis Hendrik berkerut. “Siapa itu?” Pintu sedan terbuka lebih dulu. Seorang wanita turun dengan gerakan kaku, tubuhnya kurus, bahu tegang, wajahnya pucat dengan matanya menyala penuh amarah. Rambutnya disanggul asal, riasan wajahnya tebal, tetapi retak oleh garis-garis emosi. Raisa membeku. “Livia?” Suaranya tercekat. Livia Santosa, mama mendiang Valeri. Di belakangnya, seorang pria paruh baya turun dengan wajah muram, Anton Santosa, ayah mendiang Valeri. Tatapannya dingin, kosong, seperti abu sisa kebakaran. Belum sempat Raisa melangkah mendekat, Livia sudah lebih dulu menerjang. “Akhirnya kita bertemu lagi, Raisa!” Suara itu memecah udara

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 93

    Hari itu datang tanpa gegap gempita. Tidak ada tenda besar, tidak pula barisan bunga yang berlebihan. Rumah Avrisha hanya dibersihkan lebih rapi dari biasanya. Tirai diganti, meja tamu dilap, vas bunga diisi melati putih sederhana.Avrisha berdiri di depan cermin sejak pagi.Gaun pastel panjang dengan potongan sederhana membalut tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya disematkan jepit kecil di satu sisi. Wajahnya nyaris tanpa riasan tebal, hanya bedak tipis dan lipstik warna alami. Mbok Sumi membantu merapikan selendang di bahu Avrisha.“Tenang, Nyonya,” ucapnya pelan. “Hari baik pasti berjalan lancar.”Avrisha tersenyum kecil. “Doakan, ya, Mbok.”Tak lama kemudian, suara mobil terdengar di halaman.Satu sedan hitam berhenti, disusul mobil lain di belakangnya.Avrisha menarik napas dalam.Keira berdiri di sampingnya, baru tiba dua hari lalu dari luar negeri. Wanita itu mengenakan kebaya modern warna sage, rambutnya disanggul simpel. Matanya sudah berkaca sejak tadi.“Tarik napa

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 92

    Avrisha menatap cincin itu terlalu lama.Kilau beningnya bukan yang membuat dadanya sesak, melainkan tangan Elvareno yang sedikit gemetar, napasnya yang ditahan, dan cara pria itu menunggu tanpa memaksa. Seperti duluDetik berlalu. Lalu, tanpa aba-aba, kenangan itu datang.Bangku kayu di koridor SMA yang catnya terkelupas. Bau kapur tulis dan kertas basah. Sepatu hitam Elvareno yang selalu sedikit kotor di ujungnya karena ia malas menghindari genangan.“El, kamu, tuh, kalau lari jangan nabrak orang.” Suara Avrisha remaja terdengar dengan napasnya terengah.“Kalau aku nabrak kamu, nggak apa-apa,” jawab Elvareno waktu itu sambil terkekeh, keringat menetes di pelipis. “Yang penting ketangkep.”Ia teringat sore-sore sepulang sekolah, ketika mereka duduk berdampingan di halte kecil, berbagi es lilin dua warna. Elvareno selalu menggigit bagian cokelat dulu, lalu menyerahkan sisanya.“Kenapa selalu aku?” protes Avrisha.“Karena kamu paling sabar,” jawabnya ringan. “Kalau nanti hidup susah,

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 91. Maukah Seumur Hidup Denganku?

    Hari-hari setelah kepergian Arion berlalu tanpa benar-benar terasa. Seperti lembaran kalender yang disobek tergesa, tanggal berganti, rutinitas berjalan, dan Avrisha belajar bernapas dengan ritme baru. Pagi diisi tangis Arel yang lembut, siang dengan pekerjaan butik, malam dengan keheningan yang tak lagi menuntut penjelasan.Sore itu, matahari condong ke barat ketika suara mobil berhenti di halaman.Mbok Sumi menengok lewat jendela. “Nyonya, ada tamu.”Avrisha mengintip. Sedan abu-abu dengan nomor plat yang ia hafal.“Elvareno,” gumamnya pelan.Ia menggendong Arel, merapikan selendang tipis di bahunya, lalu melangkah ke teras. Elvareno sudah turun, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung rapi. Di tangannya, sebuah tas kertas berwarna krem, logo toko mainan anak tercetak halus.“Sore,” sapa Elvareno, senyumnya hangat.“Sore, El. Baru banget pulang, nih?” balas Avrisha. “Masuk, masuk.”“Aku mampir sebentar,” katanya, mengangkat tas. “Kangen sama pasien favorit yang baru sebu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status