INICIAR SESIÓNJam menunjukkan pukul dua belas siang ketika suara klakson tajam membelah keheningan rumah. Avrisha yang sedang merapikan meja makan sontak menoleh ke jendela, napasnya tertahan saat melihat mobil yang sangat dikenalnya itu.
“Itu … mobil Mama, ya?” bisiknya gugup, tangannya yang memegang serbet ikut gemetar. Arion berdiri dari sofa, merapikan kerah kausnya. "Iya, tadi Mama sempat nelpon. Katanya mau lihat Kirana." Avrisha hanya mengangguk pelan, menunduk. Ia menarik napas panjang, mencoba bersikap setenang mungkin. Pintu rumah terbuka. Sang Mama, Renata, dalam balutan dress hitam dan sorot matanya tajam seperti pisau, masuk dengan langkah angkuh. Di belakangnya, Pak Gatra, mengikuti tanpa banyak bicara. "Ayo duduk dulu, Pa, Ma, aku sudah masak makan siang buat kita semua nanti,” ujar Avrisha yang berjalan dari ruang makan, sambil mengulas senyum ramah. “Ya,” jawab Gatra datar sambil langsung duduk di sofa. Sementara wanita paruh baya itu hanya menoleh sekilas. “Hmm.” Avrisha menarik napas dalam-dalam. Ia sudah terbiasa tak diacuhkan. Enam tahun, dan tak sedikit pun ada perubahan. “Mana Kirana?” tanya Renata, ketus. Arion menjawab cepat sebelum Avrisha sempat manyahut. “Di kamar, Ma. Tadi katanya mual, jadi istirahat.” Tanpa menunggu, wanita itu langsung melangkah menuju kamar tamu. Tumit sepatunya berdetak keras di lantai marmer. Avrisha sempat berdiri dari sofa, berniat menyusul, tapi langkahnya urung ketika mendengar suara tinggi dari arah lorong. “Arion ..! Cepat ke sini!” Suara Renata menggema panik, berbeda dari nada biasanya. Arion langsung berlari, Avrisha menyusul tergopoh-gopoh di belakang. Pintu kamar terbuka lebar. "Kenapa, Ma? Baru masuk, kok, langsung teriak?!" sergah Arion, kaget. Pandangannya langsung tertuju pada Kirana yang terbaring di ranjang, tubuhnya menggigil hebat. Keningnya basah oleh keringat, wajahnya pucat dan kedua tangannya meremas perutnya. Renata berdiri di samping ranjang, memegang kening Kirana. “Panas banget! Kirana, kamu kenapa, Nak?” “Perutku … sakit … tadi ada flek, Tante …,” ucap Kirana dengan suara lemah, nyaris tak terdengar. Arion terperangah. “Tadi pagi masih baik-baik aja.” “Bisa aja dia kecapekan tanpa kamu tahu, makanya flek!” sergah Renata, matanya menatap Arion tajam. “Kamu seharusnya lebih perhatian! Kirana itu sedang mengandung benih kalian!" Arion diam terpaku, bibirnya kelu tak tahu harus menimpali apalagi, hanya matanya yang kini fokus melihat Kirana kesakitan. Renata mengalihkan tatapan ke Avrisha. "Dan kamu! Masih tega duduk manis di rumah ini sementara perempuan lain mengandung anak suamimu?! Malu, dong! Dasar mandul, cuma bisa nyusahin suami!" Ia menunduk. Mulutnya ingin bergerak, tapi untuk apa? Pembelaan di hadapan Mama Mertuanya seperti membuang air di pasir. "Ayo bawa ke rumah sakit sekarang, Arion! Malah diam saja," bentak Renata lagi, sontak putranya gelagapan seperti baru tersadar dari lamunan. Arion mengangguk cepat. “Maaf, Ma.” Langkahnya maju mengangkat tubuh Kirana, membopongnya hati-hati. Kirana mengerang pelan di pelukan dan perlahan membenamkan wajah di dada bidang Arion. “Sayang, tolong ambilkan tas dan jaket Kirana," bisiknya saat melewati Avrisha, terus melangkah cepat sambil memeluk tubuh Kirana erat-erat. Avrisha hanya mengangguk pelan dan menuruti, setelahnya buru-buru keluar dan masuk mobil untuk ikut ke rumah sakit. *** Arion menyetir cepat dengan wajah panik. Kirana terbaring di kursi belakang, kepalanya bersandar di pangkuan Renata. Avrisha duduk di sampingnya, memeluk tas kecil di pangkuannya. "Mama udah bilang dari awal, proses penanaman benih itu bukan main-main. Itu dilakukan di Singapura, bayar ratusan juta hanya untuk satu kali program. Kalau keguguran, siapa yang tanggung jawab?!" Renata melirik sinis pada Avrisha yang tertunduk lesu di sebelahnya. "Kadang Mama mikir, rahim Kirana kayak diberkati, sementara kamu? Ya … nggak usah dijelasin, lah. Rahim aja rusak, giliran dikasih ibu pengganti malah nggak dijaga dan dibiarkan sakit gini." Avrisha menggigit bibirnya. Tangannya mengepal, tapi ia tak berani melawan. Matanya sudah basah, tapi ia masih menahan agar tak tumpah. Kepalanya terangkat menatap suaminya dengan pilu. Dalam hati kecilnya, ia berharap Arion akan berkata sesuatu, meski satu kalimat saja untuk membelanya. Namun, tidak. Arion hanya diam. Seolah ia tidak keberatan atas semua yang dikatakan ibunya. Hingga tanpa terasa, mobil akhirnya sampai di rumah sakit. Arion dengan sigap turun dan membopong Kirana masuk ke ruang UGD. Beberapa suster langsung menyambut mereka, dan dalam sekejap, pintu ruangan tertutup. Avrisha berdiri di koridor, tubuhnya kaku. Ia menggenggam tangannya sendiri yang terasa dingin, tanpa sadar air matanya jatuh juga. Dalam hening, Avrisha tidak tahu kalau Mama Mertuanya sejak tadi memperhatikannya dengan sinis. Renata mendekat, membisikkan kata, "seharusnya dari dulu Kirana yang jadi istri Arion. Nggak perlu nunggu enam tahun buat nimang cucu." Avrisha menoleh perlahan. Matanya kini basah dan sembab, tapi ia tetap tidak menjawab. Renata tersenyum sinis. "Menyesal aku memberi restu padamu dulu. Andai saja Arion tidak keras kepala untuk menikahimu, hidupnya pasti sudah bahagia dengan adanya anak. Lihat sekarang ke dalam sana ... siapa yang lebih pantas disandingkan dengan Arion." Di balik kaca UGD, Arion tampak berdiri di samping ranjang Kirana, menggenggam tangan wanita itu. Dokter memeriksa cepat, beberapa perawat bergerak sigap. Avrisha menatap mereka dari luar, matanya sayu. Tangannya meremas tas kecil di dada, seolah dengan itu ia bisa menahan hatinya agar tak semakin hancur. *** Tak lama kemudian, Dokter Elvareno datang dan menyapa Kirana dengan ramah. “Selamat siang, saya dokter Elavareno. Saya yang akan menangani Bu Kirana,” ucapnya sambil melihat tablet catatan pasien dari perawat. Renata langsung mendekat. “Iya, Dok, Kirana ini anak kami. Tadi di rumah dia mengeluh perutnya melilit, terus katanya keluar flek. Kami takut itu tanda-tanda keguguran.” Kirana yang masih terbaring dengan infus di tangan, tampak pucat dan diam saja. Avrisha berdiri di samping tempat tidur, menatapnya tanpa suara. Elavareno mengangguk, lalu mengenakan sarung tangan medis. “Baik, saya akan periksa dulu. Kita tenangkan dulu, ya.” Ia mulai memeriksa dengan tensimeter, lalu menekan perlahan bagian bawah perut Kirana dengan telapak tangan. Kirana tampak mengerutkan kening, seolah menahan nyeri. “Bagian ini sakit?” Kirana mengangguk pelan. “Iya, Dok. Melilit banget dari tadi pagi. Terus siangnya keluar flek. Aku panik .…” Elavareno menoleh pada perawat. “Fleknya masih tersisa? Saya butuh lihat sampelnya.” Perawat mengangguk, lalu mengulurkan wadah kecil yang telah berisi tisu medis berlumuran merah kecokelatan. Elavareno mengambilnya, mengangkatnya sedikit ke cahaya dan mengamati seksama. Hening sejenak, alisnya mengerut. “Hmm … ini agak aneh.” Semua orang yang ada di ruangan langsung saling menatap. “Kenapa, Dok?” tanya Arion cemas. “Maaf, saya tidak ingin membuat kesimpulan terlalu dini. Tapi flek ini tidak sepenuhnya tampak seperti darah. Warnanya terlalu pekat dan kental, dan teksturnya agak mirip zat tambahan. Bukan seperti darah murni dari tubuh wanita hamil.” Renata refleks berseru, “Maksud Dokter apa?!” Kirana turut panik. “Aku stres banget tinggal di rumah, ada aja yang bikin nggak nyaman. Jelas itu darah, Dok. Stres bisa bikin keluar flek, kan?!” Elavareno mengerutkan kening, menatap Kirana. “Stres bisa menyebabkan flek, betul. Tapi flek darah akibat stres biasanya ringan dan warnanya lebih merah muda atau coklat, bukan seperti ini. Ini terlihat seperti semacam cairan campuran, bisa saja bahan buatan.” “Buatan?!” ulang Arion, matanya membelalak. Avrisha diam karena malas berdebat, rahangnya mengeras geram. Matanya fokus menatap Kirana dalam-dalam. Ada sorotan curiga di sana. “Kita lakukan USG transabdominal untuk memastikan. Usia kehamilan enam minggu seharusnya sudah terlihat kantung gestasi dan embrio awal, termasuk aktivitas jantung. Kalau semuanya baik, berarti kemungkinan besar tidak ada ancaman keguguran," kata Elvareno. “Baik, Dok,” sahut Arion. Perawat kemudian datang mendorong ranjang Kirana keluar dari UGD. Mereka menuju ke ruang USG yang letaknya satu lantai di atas, menggunakan lift khusus pasien. Avrisha ikut berjalan di belakang, langkahnya tenang. Sesekali melirik Kirana yang sejak tadi sibuk memainkan jarinya sendiri di atas perut, seolah sedang gelisah. Setibanya di ruang USG, Elavareno menyalakan monitor dan menyiapkan alat. Kirana dibaringkan di atas ranjang dengan perut terbuka sebagian. Gel dingin ditekan ke kulitnya, lalu alat transduser digerakkan perlahan. “Usia kehamilan enam minggu,” gumam sang dokter sambil memandang layar. Beberapa detik hening, semua menahan napas. Hingga akhirnya Elavareno mengangguk ringan. “Ini dia. Kantung kehamilan terlihat jelas. Embrio juga sudah terbentuk, dan … ini detak jantung janin.” Bunyi deg-deg halus terdengar samar dari speaker alat. “Semua baik-baik saja?” tanya Arion. Elavareno tersenyum tipis. “Lebih dari baik. Tidak ada tanda-tanda abrupsi plasenta, dinding rahim normal, dan tidak ada perdarahan aktif. Kehamilannya stabil. Saya malah curiga tidak pernah terjadi flek sama sekali.” Avrisha menoleh cepat ke arah dokter. “Maksudnya, Dok?” “Begini. Berdasarkan hasil USG dan pemeriksaan sebelumnya, tidak ada jejak darah yang tersisa di dalam rongga rahim. Biasanya, kalau benar terjadi flek atau perdarahan, akan ada sedikit bekas yang bisa kami lacak, sekecil apa pun itu. Tapi ini bersih, sangat bersih malah.” Kirana tampak menelan ludah, wajahnya mulai kehilangan warna. Elavareno menambahkan, “Dan soal flek tadi, saya sudah kirimkan sampelnya ke lab, tapi dugaan awal saya, itu bukan darah murni. Saya pernah menangani kasus serupa, dan hasil lab menyebutkan bahwa flek seperti itu adalah darah hewan atau replika darah berbahan gelatin atau pewarna.” Ruangan mendadak sunyi. Avrisha menatap Kirana tajam, begitu juga Arion yang kini perlahan menjauhkan diri dari ranjang. Kirana tampak tergagap, mulutnya terbuka hendak bicara, tapi tak ada suara yang keluar. "Dia pura-pura flek buat nyari perhatian? Dih, murahan! Awas aja nanti," batin Avrisha, geram.Satu minggu kemudian, sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat kota disulap menjadi saksi bisu dari puncak penantian panjang dua insan. Ruang dansa utama dipenuhi dekorasi berkonsep classic white botanical, dengan ribuan kelopak mawar putih, juntaian daun ivy, dan pendar lampu gantung kristal yang memancarkan kemewahan.Pernikahan ini tidak digelar secara besar-besaran dengan ribuan undangan, melainkan hanya dihadiri oleh keluarga inti dan sahabat-sahabat terdekat yang benar-benar tulus. Di barisan kursi terdepan sebelah kanan, Raisa duduk di kursi rodanya dengan kebaya beludru berwarna biru dongker yang anggun. Wajah tuanya nampak cantik dengan senyumnya merekah lebar, tangannya terus digenggam oleh Arman yang gagah mengenakan beskap senada.Di sudut lain, Mbok Sumi bersama beberapa ART kepercayaan Avrisha duduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Di pangkuan Mbok Sumi, Arel tampak sangat menggemaskan mengenakan setelan jas tuksedo kecil lengkap dengan dasi kupu-kupu. Mereka se
Hari-hari berikutnya berlalu sangat cepat, menyeret kasus sabotase tersebut ke ranah hukum tanpa penundaan. Karena bukti-bukti digital yang dikumpulkan oleh tim penyidik atas atensi Jenderal Hendro teramat valid dan tak terbantahkan, berkas perkara Livia langsung dinyatakan lengkap dalam waktu singkat.Hari ini, Pengadilan Negeri menggelar sidang pembacaan putusan untuk terdakwa Livia.Suasana ruang sidang tampak tegang meskipun bangku penonton tidak terlalu penuh. Keluarga Elvareno memilih untuk tidak hadir secara fisik, mereka menyerahkan seluruh proses hukum kepada kuasa hukum utama keluarga kepercayaan Arman, yakni Pak Handoko, seorang pengacara senior yang terkenal dingin dan tak kenal ampun di meja hijau.Di kursi pesakitan, Livia duduk dengan kemeja putih dan rompi tahanan merah kejaksaan. Wajahnya yang dulu selalu dipoles riasan mahal kini tampak tirus, pucat, dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.“Di mana Elvareno? Panggil Elvareno ke sini! Saya mau ketemu Elvareno
Elvareno melangkah keluar dari ruangan penyidik dengan sisa amarah yang masih bergemuruh di dada. Ia segera merogoh saku, jemarinya bergerak cepat mencari kontak Avrisha. Begitu nada sambung berganti dengan suara lembut wanita itu, ketegangan di bahu Elvareno sedikit mengendur.“Halo, El? Gimana di kantor polisi?” tanya Avrisha dari seberang telepon terdengar berbisik, kemungkinan sedang berada di dekat kamar Raisa atau Arel.“Av, bajingan itu beneran Livia,” ucap Elvareno langsung. Ia menyugar rambutnya ke belakang, bersandar pada pilar koridor Polres. “CCTV memperlihatkan semuanya dengan jelas. Dia sengaja merusak pipa gas generator belakang. Ini murni sabotase, Av. Dia berniat mencelakai Mama dan Papa.”Di seberang telepon, terdengar helaian napas tercekat dari Avrisha. “Ya Allah, El ... Kok bisa ada orang senekat itu? Terus sekarang Livia di mana?”“Polisi udah lacak posisinya. Tim buru sergap sudah jalan ke lokasi persembunyiannya. Kamu nggak usah takut lagi, ya? Sebentar lagi di
Elvareno tertegun beberapa saat, menatap layar ponselnya yang masih menyala. Genggaman tangannya di pinggang Avrisha perlahan mengendur seiring dengan rahangnya yang kembali mengeras. Hawa hangat yang baru saja melingkupi mereka mendadak menguap, digantikan atmosfer dingin yang menusuk.“Ada apa, El?” Avrisha yang merasakan perubahan gelagat calon suaminya langsung menyentuh lengan Elvareno. “Pesan dari siapa?”Elvareno menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gemuruh di dadanya sebelum menatap Avrisha. “Satpam rumah Papa. Polisi minta aku ke kantor sekarang juga. Mereka butuh konfirmasi terkait rekaman CCTV sejam sebelum kejadian.” Ia sengaja tidak langsung menyebut nama Livia agar Avrisha tidak kembali cemas, tapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Ada amarah besar yang tertahan di sana.Avrisha terdiam sejenak, lalu mengangguk paham. “Ya sudah, kamu berangkat sekarang. Biar aku yang jaga Tante sama Om di sini. Tapi, tolong hati-hati, El. Perasaan aku tiba-tiba nggak enak.”“
“El, ada apa? Tolong ngomong sama aku!” Avrisha langsung memindahkan Arel yang merengek kecil ke dalam gendongan Mbok Sumi yang kebetulan baru masuk ke ruang makan. Dengan cepat, Avrisha menggenggam kedua pundak Elvareno, mencoba menarik kesadaran pria itu kembali.“Rumah Papa kebakaran, Av,” ucap Elvareno terbata-bata, suaranya bergetar hebat. “Ledakan gas. Satpam bilang, Mama sama Papa masih di kamar atas. Mama di kursi roda, Av. Nggak mungkin bisa turun sendiri kalau tangga kebakar.”Jantung Avrisha mencelos. Bayangan Raisa yang terjebak di tengah kobaran api langsung membuat bulu kuduknya meremang. “Kita pulang sekarang. Mbok Sumi, tolong siapin barang-barang Arel, kita balik ke Jakarta detik ini juga!”Tidak ada waktu untuk mengemas baju dengan rapi. Semuanya bergerak dalam kepanikan. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, mobil Elvareno sudah membelah jalanan turun dari dataran tinggi. Elvareno menyetir dengan rahang mengeras, tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hing
“Kamu ngapain di sini, El? Ini udah jam dua pagi.”Avrisha merapatkan kardigan rajutnya, menatap nanar ke arah pria yang berdiri di bawah pendar lampu teras yang temaram.Elvareno berdiri di sana dengan napas yang masih agak memburu. Kemeja kerjanya berantakan, dasinya sudah entah ke mana, dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas betapa lelahnya pria itu. Jarak Jakarta ke villa tempat Avrisha menenangkan diri memakan waktu hampir tiga jam perjalanan, dan Elvareno menempuhnya tepat setelah ia menyelesaikan operasi darurat terakhirnya malam itu.“Aku nggak bisa tenang kalau masalah kita belum selesai, Av,” ucap Elvareno lirih. Suaranya serak. “Sebulan lagi kita nikah. Aku nggak mau sebulan ini kita lewati dengan cara saling diam begini.”Avrisha memalingkan wajah, enggan menatap mata elang Elvareno yang selalu berhasil meluluhkan pertahanannya. “Aku butuh waktu, El. Aku capek ....”“Aku tahu, dan aku minta maaf karena reflek bodohku kemarin.” Elvareno melangkah maju, memangkas







