Home / Romansa / Dokter, Sentuh Aku Lagi / Bab 5. Sandiwara

Share

Bab 5. Sandiwara

Author: Els Arrow
last update Last Updated: 2025-10-09 12:12:43

"Aku mau pulang," ujar Avrisha lirih.

Elvareno menoleh dari balik jendela besar, menatap wanita di belakangnya yang kini tampak lebih tenang meski matanya masih sembab.

"Aku antar," sahut pria itu singkat.

Avrisha menggeleng pelan. "Nggak usah. Aku sendiri aja. Makasih, ya, atas bantuannya."

Elvareno menatapnya beberapa detik, tak menjawab langsung. Wajahnya tetap datar, tapi ada sesuatu di sorot matanya yang membuat Avrisha sedikit gelisah.

"Aku bisa jaga jarak," gumam Elvareno.

"Jangan, El. Aku masih istri orang," sahut Avrisha pelan, tetapi mampu membuat Elvareno terhentak.

Beberapa detik berlalu tanpa satu suara apa pun. Lalu Elvareno mengangguk kecil. Ia berjalan perlahan ke arah pintu dan membukakannya.

Avrisha berdiri, tubuhnya masih terasa lemas, tapi ia memaksakan langkahnya tetap tegak.

"Sekali lagi makasih untuk semuanya," katanya, pelan, sebelum melangkah pergi.

"Hubungi aku, Av".

Avrisha menunduk, memejamkan mata dan lantas menggeleng pelan. "Maaf, aku nggak bisa janji. Kita sekarang asing, nggak seharusnya menjalin hubungan diam-diam. Sebaiknya ... lupakan juga ucapanmu untuk membantuku tadi, aku bisa selesaikan sendiri. Lanjutkan hidupmu, El ... biar aku juga tenang."

Elvareno tak menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap sendu pada Avrisha yang berjalan menuju lift. Saat pintu lift hampir tertutup, pandangan mereka bertemu sekali lagi. Elvareno masih dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, pandangannya terus mengikuti hingga pintu logam itu benar-benar menutup.

***

Di luar gedung apartemen, Avrisha mencegat taksi. Ia meminta sopir mengarah ke pasar. Ia tahu betul apa yang harus ia lakukan. Kalau langsung pulang dalam kondisi seperti ini, takut mengundang banyak pertanyaan.

Setibanya di pasar, ia turun dan membeli beberapa bahan makanan dengan cepat. Wajahnya tetap pucat, tapi kini tak ada air mata lagi.

Setelah kantong belanjaan terkumpul, ia kembali naik taksi dan menuju rumah. Begitu mobil berhenti di depan gerbang, Avrisha menarik napas panjang. Jemarinya menggenggam tas belanja erat, mencoba menyiapkan diri.

Langkahnya perlahan menapaki halaman depan. Matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat hatinya nyaris meluap lagi.

Arion duduk santai di kursi teras, bersandar seolah tak ada beban hidup. Di depannya, secangkir kopi hangat baru saja disuguhkan Kirana, yang mengenakan daster super seksi berwarna merah marun, belahan dadanya terbuka cukup dalam.

Avrisha nyaris kehilangan kontrol. Namun, ia menunduk sejenak, lalu tersenyum. Ia memilih menyimpan amarahnya.

"Sayang!" Arion langsung berdiri dan menghampirinya dengan cepat. "Dari mana aja? Aku nyariin kamu tadi di kamar. Panik banget."

Avrisha menatap pria itu dengan senyum kecut yang ditahan mati-matian agar tak tampak terlalu menusuk. "Aku tadi ke pasar. Sekalian belanja, di kulkas udah kosong."

"Kenapa nggak bilang dulu? Aku bangun-bangun kamu nggak ada," ucap Arion lagi, nadanya terdengar sangat khawatir, seolah-olah pria itu suami paling perhatian di dunia.

Avrisha hanya mengangguk kecil. "Aku juga tadi nggak lihat kamu di kamar. Kupikir kamu ke mana."

"Oh ... aku tadi sempat jogging bentar, refreshing," jawab Arion cepat.

Jogging?

Avrisha hampir tertawa mendengarnya. Jogging macam apa yang dilakukan tanpa baju dan di kasur bersama wanita lain?

"Ya ... baguslah," sahut Avrisha pelan. Senyumnya tak hilang, meski matanya berkata lain.

Kirana ikut menghampiri, rambutnya dikuncir asal-asalan, wajahnya tanpa makeup-nya tampak manis. "Kok nggak ajak-ajak, Sha? Biasanya kita belanja bareng, lho," ucapnya sambil menautkan tangan ke pinggang, nada manja dibuat-buat.

Avrisha menatap sahabatnya itu. Perempuan yang ia percayai, yang ia tolong dan beri tempat tinggal, dan kini menikamnya dari belakang.

"Aku takut kamu mual. Kan kamu lagi sensitif. Capek dikit aja bisa pusing," jawabnya enteng.

Kirana mendengus kecil. "Iya sih ...," jawabnya, cengengesan.

Avrisha tak kuasa lagi menahan gejolak di hatinya, ia memilih masuk rumah daripada berhadapan dengan dua manusia tidak tahu diri ini.

Namun, saat Avrisha hendak sampai pintu, Arion tiba-tiba memanggil lagi. "Sayang ... tunggu."

Ia berbalik. "Apa, Mas?"

Arion menatap lutut wanita itu. "Itu kenapa diperban?"

Mata pria itu membulat, nadanya seketika berubah panik. "Kamu kenapa? Kamu jatuh? Astaga, kenapa nggak bilang?"

Avrisha tersenyum kecil. Senyum yang menggambarkan muak, kecewa, dan jijik bercampur jadi satu. "Nggak parah, kok. Tadi sempat jatuh waktu turun dari taksi, tapi langsung diobatin. Nggak usah khawatir."

Ia segera membalikkan tubuh dan masuk ke dalam rumah. Suara derap langkahnya terdengar keras, tak peduli lututnya mulai nyeri.

***

Beberapa menit berlalu ....

Di meja makan, sarapan sudah tersaji rapi dan semuanya disiapkan Avrisha seperti biasa.

Arion duduk paling dulu, rambutnya sedikit basah seperti habis keramas, tampak rapi dan wangi.

"Mas, ayo makan," ucap Avrisha sambil meletakkan sendok terakhir di piring.

Arion tersenyum hangat. "Istriku rajin banget, masakannya selalu enak" pujinya dengan nada manja.

Avrisha membalas senyum itu. "Kalau aku nggak rajin, nanti siapa yang urus suami sendiri?" ucapnya, lembut nan penuh sindiran.

Arion tertawa kecil, seolah tak sadar makna ganda dari kalimat itu. Ia menyendok nasi, tapi langsung berhenti dan berkata, "Biar aku aja yang ambilkan untuk kamu, Sayang. Kamu pasti capek habis masak banyak."

Seketika Arion berdiri, mengambilkan nasi, lauk, dan menyusunnya rapi di piring milik Avrisha. Ia bahkan menuangkan air mineral ke gelas dan meletakkannya di sisi kanan istrinya.

"Ini, sayang. Makan yang banyak, ya."

Avrisha mengangkat alis tipis. Ia menatap suaminya sambil tetap memasang senyum manis.

Ia tahu betul pola ini. Beberapa waktu lalu, ia pernah membaca artikel psikologi tentang perilaku pasangan yang berselingkuh. Salah satu ciri yang menonjol, terlalu manis dan perhatian secara tiba-tiba.

Itu bukan cinta, melainkan taktik perlindungan. Selingkuh, tapi takut ketahuan. Maka diperkuatlah topeng 'suami sempurna'.

Dan pagi ini, Arion sedang memerankan peran itu dengan sangat baik.

"Mas ... belakangan, kok, perhatian banget, ya?" ucap Avrisha pelan, sambil mengambil sendok.

Arion menatapnya sambil tersenyum. "Harus, dong. Istriku, kan, satu-satunya wanita yang paling Mas sayang."

Avrisha mengunyah makanan pelan, lalu menatap ke arah kursi seberang, Kirana duduk di sana. Wajahnya datar, matanya sesekali melirik Arion, lalu berpaling cepat.

Cemberut?

Avrisha menatapnya sejenak, kemudian tersenyum simpul.

Kenapa Kirana tampak tidak senang? Kenapa matanya memerah seperti menahan sesuatu?

Cemburu? Avrisha nyaris tertawa dalam hati.

Memangnya siapa Kirana sampai bisa cemburu pada Arion? Hanya selingkuhan dan tidak punya hak apa-apa di mata Avrisha.

Lucu, pikirnya. Benar-benar lucu!

Avrisha menaruh sendoknya, lalu menoleh ke arah Arion. "Mas ...," panggilnya manja.

"Hmm? Iya, Sayang?"

"Buka mulut."

Arion melongo sebentar. "Hah?"

"Cepetan. Aku mau nyuapin," ucap Avrisha sambil tersenyum lembut. "Tangan kamu udah nyuapin aku dari tadi, sekarang gantian aku yang nyuapin."

Arion terkekeh kecil. "Wah ... tumben."

Avrisha menyuapkan sesendok nasi uduk dan telur dadar ke mulut suaminya. Arion mengunyah sambil tersenyum puas.

Di seberang meja, Kirana terlihat mengetatkan rahangnya. Tangannya mengepal di bawah meja.

Avrisha melirik cepat. Ekspresi Kirana berubah semakin jelas, tampak tidak suka, tersinggung, dan ada guratan cemburu.

Avrisha kembali menyuap Arion. Kali ini dengan sepotong tahu bacem.

"Enak, Mas?"

"Enak banget, Sayang. Kamu selalu perhatian dan manjain aku. Makasih, ya," jawab Arion tanpa sadar bahwa dua pasang mata sedang bertempur diam-diam di atas meja makan.

Kirana tiba-tiba berdiri. "Aku ke kamar dulu. Tiba-tiba mual."

Avrisha memandangnya dengan tatapan tenang. "Oh, ya? Jangan lupa minum air hangat, ya. Jangan stress, bisa makin parah mualnya."

Kirana hanya mengangguk tanpa bicara. Bahunya tegang, wajahnya memerah, dan langkahnya cepat seperti ingin melarikan diri.

Begitu pintu kamar tertutup, Avrisha langsung meletakkan sendok. Ia mendesah pelan.

"Kenapa berhenti nyuapin?" tanya Arion, masih tampak santai.

Avrisha tersenyum manis. "Udah cukup. Takut nanti Mas manja."

Arion tertawa, tidak sadar bahwa Avrisha sedang memainkan sandiwara paling kejam dalam hidupnya.

Dalam hati, Avrisha berkata, "Bukan aku yang kalah, Kirana. Kamu yang terlalu cepat merasa menang. Dan aku ... hanya sedang bersabar sampai waktu membalas datang."

Kirana kini bukan lagi sahabatnya, bukan lagi wanita yang bisa ia percaya. Kirana hanyalah wadah biologis untuk anak yang sangat Avrisha nanti-nantikan.

Avrisha menatap sisa nasi di piringnya. Mendadak selera makannya menguap. "Demi calon anakku, aku rela memeluk ular dalam rumahku," batinnya sendu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 106

    “Avrisha, sebelumnya, Tante mau menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Arion.”Avrisha mengangguk sopan. “Terima kasih, Tante.”Bu Ratna menautkan jemari. “Kami semua kaget dengarnya. Bagaimanapun, dia pernah jadi bagian dari hidupmu.” Ia berhenti sejenak, lalu berkata lebih pelan, “Tapi Tante juga bersyukur kamu bisa lepas darinya.”Avrisha menatapnya tenang, tak menyela.“Tante nggak mau menjelekkan orang yang sudah nggak ada,” lanjut Bu Ratna, “tapi Arion itu … ya, kamu tahu sendiri. Tukang selingkuh. Bahkan pernah bawa perempuan itu ke villa ini. Tante lihat sendiri.”Adrian melirik ibunya, sedikit ragu, tapi Bu Ratna tetap melanjutkan, seolah beban lama akhirnya bisa dikeluarkan. “Waktu itu Tante sampai mikir, kasihan kamu, Sha. Kamu terlalu baik.”Avrisha tersenyum tipis. “Tante, bisa nggak kalau nggak usah dibahas lagi?” katanya lembut. “Arion dan Kirana sudah meninggal. Urusan dunia mereka sudah selesai. Kalau terus dibicarakan, saya takut malah bikin mereka nggak tenang

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 105. Ke Villa

    Pintu rumah tertutup agak keras saat Avrisha masuk. Ia melepas sepatu asal, tas diletakkan sembarang di meja, lalu matanya langsung mencari satu hal.“Arel?” panggilnya.Belum sempat Mbok Sumi menjawab, bocah itu sudah berteriak dari arah ruang keluarga.“Aaaaa ...!”Avrisha langsung menghampiri, wajahnya melembut seketika. “Sini, sini ... ke Mama.”Arel tertawa nyaring, Mbok Sumi ikut terkekeh dan langsung menyerahkan pada Nyonya-nya dan Avrisha buru-buru menggendongnya.“Ya ampun, berat banget kamu!” Avrisha memeluk Arel erat dan menciuminya gemas. “Mama baru pulang, Rel, capek banget.”Arel tertawa makin keras, suara cekikikan khas bayi yang membuat perasaan Avrisha ikut bergetar. Bocah itu meraih wajah ibunya, menepuk-nepuk pipinya.“Eh! Jangan mukul Mama,” protes Avrisha, tapi tangannya malah menggelitik perut Arel. “Ini anak, ya … hobinya nyengir doang, nggak tahu Mama lagi kesel.”Arel menjerit kecil kegirangan, kakinya menendang-nendang udara.Avrisha menghela napas, lalu ber

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 104. Salah Paham

    “Dok, ada tamu.” Suara Sinta, asisten klinik Elvareno, terdengar dari balik pintu praktik yang setengah terbuka. Elvareno yang sedang membaca hasil USG di layar monitor menoleh sekilas, alisnya terangkat. “Siapa?” tanyanya singkat. “Katanya namanya Livia.” Nama itu membuat rahang Elvareno mengeras sepersekian detik. Ia menutup berkas di mejanya, lalu menghela napas pendek. “Bilang saya nggak bisa terima tamu non-pasien.” Sinta mengangguk ragu. “Sudah saya sampaikan, Dok. Tapi dia—” Pintu terbuka lebih lebar sebelum kalimat itu selesai. Seorang perempuan melangkah masuk dengan senyum percaya diri, membawa paper bag bertuliskan nama kafe terkenal. Blazer kremnya jatuh pas di bahu, rambutnya ditata rapi, parfum tipis menyusup ke ruangan steril itu. “El,” sapa Livia ringan, bibir merahnya merekah manis. “Kamu selalu begini, susah banget ditemui. Banyak pasien, ya?” Elvareno berdiri, wajahnya datar. “Livia, aku lagi praktik.” “Aku tahu.” Livia menaruh paper bag di meja pra

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 103. Hubungan Dewasa

    “Sayang, kamu yakin besok nggak apa-apa kalau aku nggak bisa ke sini?” Avrisha menoleh dari arah wastafel dapur, tangan masih memegang botol susu yang baru ia cuci. “Kamu ada jadwal di rumah sakit lagi?” Elvareno berdiri di dekat pintu kamar bayi, Arel sudah terlelap tidur sejak tadi. Ia menyandarkan bahu ke kusen. “Ada rapat kecil pagi, lalu operasi siang. Aku takut kamu kesepian kalau nggak ditemenin.” Avrisha menghela napas pelan, lalu mengeringkan tangannya. “El, aku nggak berharap kamu jadi orang yang selalu ada, aku juga tahu resikonya berhubungan sama kamu. Mau bagaimanapun pasien yang utama, di sumpah dokter kamu harus mementingkan mereka. Kalau ada waktu senggang, baru nemenin aku.” Elvareno terdiam. “Aku belajar.” “Belajarnya pelan-pelan aja, aku nggak akan nuntut. Yang penting kamu nggak lupa ngabarin,” jawab lirih Avrisha. Elvareno tersenyum tipis. “Kalau kamu mau marah, marah aja.” Avrisha menatapnya. “Aku capek marah, lebih capek lagi nahan kecewa. Makanya a

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 102. Melangkah Bersama

    “Aku pulang dulu, ya.” Suara Avrisha terdengar dari balik pintu rumah ketika Elvareno mengantarnya turun dari mobil. Sore sudah benar-benar berganti malam. Lampu teras menyala, hangat, menyambut. Elvareno turun, menutup pintu mobil pelan. “Masuk yang cepat. Jangan lupa kunci pintu berlapis.” “Iya, Dokter cerewet,” balas Avrisha setengah menggoda. Elvareno mendekat, suaranya merendah. “Aku ke rumah dulu. Habis magrib, mungkin agak malam aku ke sini.” Avrisha mengangguk. “Aku tunggu.” Ia masuk. Pintu tertutup. Elvareno berdiri sebentar, menatap rumah itu, lalu berbalik menuju mobil. *** Malam turun pelan. Di dalam rumah, Avrisha menidurkan Arel lebih awal. Mbok Sumi sudah siap dengan ritual kecilnya lampu temaram, doa lirih, selimut yang dirapikan hati-hati. Avrisha berdiri di ambang pintu kamar bayi, menatap wajah mungil itu lama. “Papa El nanti ke sini,” bisiknya pelan. “Doain Mama, ya.” Ia menutup pintu perlahan, lalu berjalan ke kamar mandi. Air hangat mengalir

  • Dokter, Sentuh Aku Lagi   Bab 101. Jalan-jalan ke Mall

    Mall tampak ramai, Avrisha berjalan di samping Elvareno, langkahnya pelan, lengannya sesekali menyentuh lengan pria itu tanpa sadar. Pendingin ruangan mall menyapu kulitnya, bahunya terasa lebih ringan. “Kita makan dulu,” kata Elvareno. “Kamu belum makan, kan, dari pagi?” “Aku nggak terlalu lapar,” jawab Avrisha, lalu berhenti sejenak. “Tapi iya juga. Perutku kosong.” Elvareno meliriknya dengan senyum tipis. “Nah.” Mereka masuk ke restoran bernuansa hangat dengan pencahayaan kuning lembut. Kayu terang, tanaman kecil di sudut, dan musik pelan. Seorang pelayan mengantar mereka ke meja dekat jendela. Avrisha duduk, menata tasnya rapi, lalu menghela napas panjang. “Enakan di sini,” gumamnya. Elvareno memesan untuk mereka berdua menu sehat.Avrisha memperhatikannya dari balik menu, ada rasa tenang yang tumbuh pelan. Belum lama mereka duduk, seorang perempuan hamil mendekat, wajahnya berbinar. “Dokter El? Wah, Dokter makan di sini juga? Saya pasien rutin Anda, lho, Dok. Biasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status