Share

Bab 104

Penulis: Zhar
last update Tanggal publikasi: 2026-03-14 08:20:15

———————————— 21+ konten (boleh diskip) ————————

Gluk-gluk Gluk-gluk

Dimas mengepalkan rahangnya saat dia menatap Anin, yang bibirnya melilit kemaluannya seperti sarung yang sempurna. Dimas mencengkeram rambut hitamnya erat-erat saat dia membuatnya menelan kemaluannya sampai ke pangkal.

Dia mengendalikan diri agar tidak mengerang keras saat merasakan sensasi luar biasa dari mulut Anin yang panas dan basah. Tapi saat menatap matanya, dia tahu ini bel
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 151

    Dimas bangun keesokan paginya dengan perasaan segar, langkahnya terasa ringan. Tidur yang nyenyak dan latihan singkat sehari sebelumnya telah sepenuhnya menjernihkan pikirannya, membuatnya tenang, fokus, dan siap menghadapi apa pun yang menantinya. Ia berbaring sejenak, mendengarkan dengungan halus AC hotel dan suara kota yang samar-samar hidup di balik jendela. Perlahan, ia meregangkan tubuh di bawah seprai lembut, memutar bahu dan melengkungkan punggung hingga setiap otot terasa benar-benar rileks. Saat akhirnya duduk, ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur dan mengetuk layar. Tak lama kemudian, nampan berisi telur orak-arik lembut, roti panggang keemasan, buah segar, dan segelas besar jus dingin diantarkan ke dalam suite. Dimas makan dengan tenang, menikmati hangatnya telur dan segarnya jus sambil menyusun rencana hari itu di kepalanya. Kenikmatan sederhana dari makanan yang enak mengingatkannya bahwa detail kecil sering kali justru paling berarti.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 150

    Dimas melihat Jack yang tampak terkejut, lalu tersenyum tipis. Ia sendiri tidak terlalu kaget. Menjadi pengguna sistem membuatnya terbiasa menghadapi kejadian-kejadian di luar nalar tanpa banyak reaksi. Sepertinya sistemnya memang lebih kuat dariku? Dimas tidak berlama-lama memikirkan hal itu. Ia keluar dari toko dan melihat Yaho berdiri sendirian di luar. Pria itu langsung tersenyum lebar. “Perempuan itu memberiku gelang. Menurutku kelihatan keren.” Yaho mengangkat pergelangan tangannya, memamerkan gelang pemberian Emma. Kesan mewahnya langsung terasa. Dimas sampai harus mengertakkan gigi. Ia tahu persis benda itu Cartier, desain masa depan, elegan dan mahal. Jadi, apa dia datang ke sini hanya untuk mengingatkanku pada kesempatan yang kulewatkan? Atau ada maksud lain? Dimas kembali ke mobil dan duduk tanpa banyak bicara. Ia ingin sendirian, menenangkan pikiran, dan memikirkan semuanya dengan m

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 149

    Dimas memberinya uang, lalu memintanya pergi dan menghubunginya lagi saat waktu makan siang tiba. Yaho langsung setuju. Ia justru senang “dipecat” sementara waktu dan segera menelepon ayahnya untuk menanyakan kondisi ibunya. Kabar baiknya, sang ibu sudah pulih dengan baik dan akan segera pulang begitu dokter mengizinkan. “Baiklah, terus Andi di mana?” Dimas bertanya tentang adiknya. Ia ingin bicara empat mata, jadi ia menanyakannya pada ayah mereka. “Andi? Dia ke hotel. Kamu bisa telepon dia langsung,” jawab Pak Roy. Pak Roy terdengar batuk kecil, lalu setelah beberapa kalimat dengan Dimas, ia menutup panggilan. Dimas mengangguk. Mendengar yang bersama ayahnya bukan Andi, ia langsung menelepon adiknya. Ada satu hal penting yang ingin ia tanyakan tentang tugas yang pernah ia titipkan sebelum meninggalkan rumah. Tu… tu… “Halo, Mas Dimas. Iya, aku nggak bareng Ayah. K

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 148

    “Tentu, kami memiliki banyak agen, jadi kami bisa mencairkan cek itu dalam satu atau dua hari. Berapa yang ingin Anda tukarkan, Pak?” Ichigo bertanya sambil tersenyum. Ia bahkan tidak menyuruh Yaho duduk. Orang Jepang memang dikenal sangat sopan dan berbudaya, kadang terasa berlebihan. “Bagaimana kalau dua ratus juta rupiah?” Dimas bertanya. Ia ingin membeli oleh-oleh untuk seluruh keluarga dan teman-temannya. Selain itu, ia juga punya dua teman baru dari kampus, jadi rasanya tak pantas jika pulang tanpa membawa suvenir. “Pak? Itu setara dengan sekitar sebelas juta yen. Saya bisa memberikannya secara tunai atau langsung memasukkannya ke rekening bank rekan Anda, jadi bisa digunakan ke mana pun kalian pergi.” Ichigo berkata sambil dengan cepat menuliskan sesuatu. Bahkan sebelum Dimas menandatangani cek, Ichigo sudah yakin dengan identitas dan dana miliknya. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Dimas bermain, dan

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 147

    Setelah mengunjungi tempat itu, Yaho membawa Dimas ke samping dan memberinya sesuatu untuk dimakan camilan manis dan kenyal yang disebut mochi. Dimas merasa rasanya enak sekali. Setelah itu, Yaho menyuruh sopirnya menyiapkan mobil. Ia ingin membawa Dimas ke tempat lain. Dimas mengangguk setuju. Ia memang tidak terlalu tertarik pada shogun Jepang, tapi kalau sampai dihadiahi istana seperti ini, itu urusan lain lagipula, pria mana yang tidak ingin punya kastil? Yaho membawa Dimas ke area parit. Tempat itu sangat indah. Dimas menyukai betapa artistiknya hasil karya orang-orang di abad pertengahan. Tak lama kemudian, mobil tiba di jalan terdekat untuk menjemput mereka. Yaho mengatakan sesuatu pada sopir dalam bahasa Jepang, dan sopir itu hanya mengangguk. “Kita bisa pergi minum teh sekarang. Teh yang sehat dan autentik, di Taman Hama-Rikyu,” kata Yaho. Lalu ia membawa Dimas ke tepi sungai, di mana

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 146

    “Eh! Aku kan nggak bilang apa-apa.” Dimas berkata sambil tersenyum, lalu menggaruk kepalanya dengan agak canggung. Kalau dipikir-pikir, situasinya memang sedikit memalukan. “Nama saya Nakayama Yaho.” Ia membungkuk cukup dalam, lalu berkata, “Mari kita berangkat. Saya akan mengantar Anda ke hotel sekarang. Barang bawaannya juga bisa saya bawakan.” Sambil berkata begitu, Yaho mencoba mengambil koper dari tangan Dimas. Namun Dimas menggeleng dan mengatakan kalau dia bisa membawanya sendiri. Yaho mengangguk sopan. Ia tidak memaksakan kehendaknya pada tamu. Setelah itu, ia berjalan di depan, dan Dimas mengikutinya dari belakang. Beberapa orang di bandara menoleh ke arah mereka ketika tiba-tiba empat petugas keamanan muncul entah dari mana dan langsung memberikan pengawalan khusus untuk Dimas. “Ini paket yang Anda pilih. Paket Anda adalah Ultra VIP.” Yaho berkata sambil memperhatikan e

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 15

    Dia adalah bintang masa depan! Dimas tersenyum lebar. Ia tahu, suatu hari nanti, dia akan jadi bintang besar. “Jadi, aku akan pergi dan memberikan apa yang pantas dia dapatkan dengan uang itu,” kata Dimas. Meski masih terpikir tentang wanita itu, ia sadar ini bukan s

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 14

    Dimas kemudian, sambil meraih tangan Karin, mendatangi petugas polisi yang baru saja datang dan menyerahkannya kepada mereka. Saat dia diserahkan ke polisi, tangisan Karin tiba-tiba berhenti. Senyum aneh muncul di wajahnya, lalu ia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 13

    "Ini mobilku, keren, kan?" tanya Karin sambil memamerkan mobilnya kepada Dimas. Itu adalah Nissan sentra berwarna hitam mengilap. Dimas melihat senyum puas di wajah Karin, lalu mengangguk sambil berkata seperti yang diharapkan darinya, “Wah, mobil ini memang cocok ba

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 12

    Dimas menyantap makanannya sambil menonton pertandingan di televisi. Meski dalam hatinya ada keinginan untuk membalas dendam, pandangannya sempat teralihkan ke kaca bening di sampingnya yang memantulkan bayangan dirinya. Lihat aku ini… masih saja berpikir soal balas dendam, padahal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status