Share

Bab 120

Author: Zhar
last update publish date: 2026-04-04 08:30:01

Dimas tercengang melihat tangisan Bella, tapi lebih dari itu, dia justru semakin terangsang. Darahnya langsung mengalir deras ke selangkangannya. Tanpa buang waktu lagi, dia melangkah mendekati Bella.

Saat sudah berdiri di depannya, pandangan panas Dimas menyapu seluruh tubuh Bella dari atas sampai bawah. Bella menggigit bibirnya sendiri, menatapnya dengan mata memelas, seolah memohon agar Dimas tidak terlalu menggoda atau menggertaknya.

Dimas mengangkat dagu Bella agak kasa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 173

    Mobil Henry meluncur masuk ke area parkir tepat saat bel terakhir berbunyi di kampus Universitas Indonesia. Matahari sudah tenggelam di ufuk barat, mewarnai bangunan-bangunan bergaya Gotik dengan cahaya keemasan yang lembut. Para mahasiswa berbondong-bondong keluar dari ruang kuliah, dipenuhi obrolan dan rencana akhir pekan. Namun, Dimas dan Lana, seperti biasa, tampak menonjol. Cerdas dan tenang, mereka berjalan berdampingan, map dan kertas terselip rapi di bawah lengan. Lana mengenakan mantel biru tua di atas blus krem, sementara Dimas tampil santai dengan sweater dan celana panjang gelap. Mereka baru saja menyelesaikan seminar ekonomi tingkat lanjut, di mana keduanya mendominasi diskusi. Para dosen mengagumi wawasan mereka, sementara teman-teman sekelas memandang dengan iri sekaligus hormat. Sebuah SUV Mercedes berwarna perak berhenti di dekat gerbang utama. Kacanya diturunkan, memperlihatkan Henry dengan kemeja polo khasnya dan kacamata hitam di waj

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 172

    Dimas menyeringai. “Tenang saja. Rahasiamu aman sama aku.” Henry terdiam sejenak, suasana berubah. “Dan… Dimas, dengar. Aku bukan mau sok jadi ayahmu atau apa pun, tapi… Anin dan Bella? Mereka gadis baik. Itu seharusnya sudah cukup, kan?” Dimas bersandar di kursinya. “Kenapa aku merasa ada cerita di balik ini?” Henry tertawa kecil, terdengar agak kering. “Anggap saja dulu aku masih muda, bodoh, dan mikir punya banyak itu berarti lebih baik. Ternyata, kebanyakan cuma bikin pusing.” Dimas mengangguk pelan. “Sekarang aku punya Lusi,” lanjut Henry. “Umurnya tiga tahun. Pintar banget. Sudah sering negur aku kalau lupa sikat gigi atau pakai kaus kaki kebalik. Kamu pernah ngomong sama dia, kan? Waktu kamu nelpon, dia yang angkat.” Dimas tersenyum. “Iya, aku ingat. Dia bilang namanya Lusi. Terus ngambek karena aku nggak bawain coklat.” Henry tertawa hangat. “Sampai sekarang masih diungki

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 171

    Dimas mencatat secepat mungkin, tangannya hampir tidak berhenti bergerak. Namun di tengah penjelasan, Lana mengangkat tangan. “Pak, tapi bukankah penerapan model NAIRU bisa jadi kurang relevan kalau kita memperhitungkan pola inflasi hibrida yang muncul setelah 2022?” tanyanya. Profesor Ernest tersenyum tipis. “Pertanyaan yang sangat bagus. Itulah detail yang sering dilewatkan mahasiswa,” katanya. “Model itu memang bisa gagal kecuali kalau ekspektasi inflasi disesuaikan secara dinamis. Sangat sedikit teori yang bisa menjelaskan hal itu dengan tepat. Karena itu, Saudari Lana, minggu depan kamu yang presentasi.” Lana berkedip sebentar, lalu mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya mengerti.” Dimas menatapnya dari bangkunya. Dia… mengintimidasi. Pintar. Luar biasa. Saat kelas berakhir, buku catatan Dimas sudah seperti medan perang penuh coretan, rumus, panah,

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 170

    Matahari sudah mulai condong ketika Johan melakukan panggilan keduanya hari itu. Saat itu sore menjelang petang, dan sinar matahari yang hangat perlahan melembut, membentuk garis-garis keemasan di langit Dakarta. Dimas, yang masih santai di kamar hotelnya, tanpa sadar memindah-mindah saluran TV ketika ponselnya kembali bergetar. Melihat nama Johan muncul di layar, dia langsung mengangkat telepon. “Pak Johan? Ada apa? Semua aman?” “Iya, Pak Dimas,” jawab Johan dengan nada jauh lebih santai dari sebelumnya. “Saya cuma mau kasih kabar lanjutan. Tim back office kami sudah menyelesaikan proses verifikasi. Semua dana dari deposit Anda sudah bersih.” Dimas langsung duduk tegak. “Jadi semuanya sudah beres?” “Iya, Pak. Setelah perhitungan akhir, saldo Anda sekarang berada di Rp1.016.600.000.000. Kredit sebelumnya juga sudah lunas sepenuhnya. Secara resmi, Anda sudah bebas dari utang.” Dim

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 169

    Dimas perlahan berdiri, brosur itu masih berada di tangannya. Ia berjalan mendekati jendela tinggi suite di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan, memandangi cakrawala Jakarta yang mulai berkilau oleh lampu-lampu malam. Kota itu padat dan sibuk, sementara di benaknya Depok terbayang lebih hijau dan tenang. Istana itu terasa seperti sesuatu dari dunia lain. “Aku ingin melihatnya,” katanya akhirnya. Henry mengangkat wajahnya. “Yakin? Perlu pengaturan khusus. Properti seperti itu tidak dibuka untuk semua orang.” Dimas menoleh. Suaranya tenang namun tegas. “Kalau begitu, beri tahu mereka aku bukan semua orang.” Henry tersenyum kecil. Ia pernah melihat tatapan itu sebelumnya tatapan kepastian. “Baik,” katanya sambil menyalakan ponselnya. “Aku atur.” Dimas merapikan kembali brosur-brosur rumah di Depok yang lebih sederhana dan realistis. Namun brosur istana itu tetap b

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 168

    Dimas kembali ke The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan menjelang sore. Cahaya matahari Jakarta yang mulai redup memantul di kaca gedung-gedung tinggi kawasan Kuningan. Perjalanan pulang terasa hening. Bahkan Jay dan Ray, yang biasanya ramai bercanda atau berdebat soal musik, ikut diam setelah kunjungan ke panti asuhan tadi pagi. Ada sesuatu dari momen itu yang mengubah suasana hati mereka. Begitu masuk ke suite-nya, Dimas meletakkan jaket dan sepatu di dekat pintu. Ia menarik napas panjang, meregangkan badan, lalu duduk di sofa. Televisi tidak dinyalakan, ponsel pun dibiarkan begitu saja. Ketenangan dari gereja kecil tadi masih terasa di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia benar-benar membiarkan dirinya beristirahat. Beberapa jam kemudian, bel pintu berbunyi. Masih mengenakan celana training, Dimas berjalan membuka pintu. Di sana sudah berdiri Henry coach volly-nya memegang beberapa map dan d

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 55

    “Intinya Dewa tampan, masa nggak?” celetuk si pramuniaga wanita sambil melirik Dimas. Jelas sekali ia ingin ngobrol lebih lama dengan pria itu. “Yah… harusnya dewa itu gemuk, bawa palu juga,” jawab Dimas santai. Ia membalikkan badan saat penjahit tua masih mengukur lengannya.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 54

    Setelah mengemudi lagi, Dimas melirik meteran bensin mobilnya jarumnya sudah hampir mentok di merah. Ia langsung membelokkan mobil sportnya menuju pom bensin terdekat. Tapi setelah lewat satu, ia mengerutkan kening. “Wah, oktannya jelek amat… nanti malah ngedetek,” gumamnya, lalu n

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 53

    Dimas terkejut melihat dirinya di cermin. Ia hampir tidak mengenali wajahnya sendiri fiturnya memang sama, tapi keseluruhan dirinya tampak sangat berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat lebih tinggi, jauh lebih tinggi bahkan. Wajahnya, meskipun tidak berubah bentuk, tampak seperti ses

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 49

    Anin menahan napas saat Dimas masuk ke mobil itu. Meski penampilan Dimas biasa saja dan bahkan terkesan cuek, tetap saja ada sesuatu yang membuat Anin terpukau ketika melihatnya duduk di dalam mobil paling seksi yang pernah ia lihat. Saat Dimas masuk, hal pertama yang ia perhatikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status