Share

Bab 55

Penulis: Zhar
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-11 08:20:16

“Intinya Dewa tampan, masa nggak?” celetuk si pramuniaga wanita sambil melirik Dimas. Jelas sekali ia ingin ngobrol lebih lama dengan pria itu.

“Yah… harusnya dewa itu gemuk, bawa palu juga,” jawab Dimas santai. Ia membalikkan badan saat penjahit tua masih mengukur lengannya.

“Gemuk?”

Pramuniaga itu langsung ngakak. Ia sebenarnya sedang membandingkan Dimas dengan dewa tampan berotot bukan pria gemuk pemegang palu.

“Kayaknya Bapak mak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 79

    “Apa maksudmu?” tanya Dimas, masih belum yakin dengan rencana apa yang sedang disiapkan Henry untuknya. “Maksudku, aku mau nunjukin langsung. Ikut aku,” kata Henry, lalu berjalan lebih dulu. Dimas mengikuti dari belakang. Ia sempat menoleh ke belakang untuk memastikan apakah dua pengawal itu ikut, dan benar saja, mereka masih terlihat berjalan agak jauh di belakang. “Mereka itu tipe pendiam. Aku habiskan hampir seharian bareng mereka, dan sejauh ini yang bisa kukatakan cuma satu mereka orangnya santai dan nggak ribet,” ujar Henry sambil tertawa, seolah heran karena si kembar itu hampir tidak pernah bicara. “Ya nggak masalah sih kalau mereka jago bela diri, itu aja,” kata Dimas. Dalam kehidupan sebelumnya, dia sudah terlalu sering melihat selebritas dihajar massa. Dia sama sekali nggak mau mengalami hal yang sama. “Bela diri? Emangnya kamu lagi syuting film Jackie Chan?” Henry menjawab dengan nada datar sambil

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 78

    “Itu baik banget dari anak Bapak mau bantu,” kata Dimas sambil mengelap keringatnya. “Gimana kalau kita makan malam bareng? Pilih restoran mana saja,” lanjutnya sambil mengambil handuk baru dari tangan Arif. Saat itu juga, panel transparan muncul di hadapannya. [Misi Selesai Peringkat: S Servis tercatat: 499 kali Hadiah: Rp100.000.000] Dimas membeku. Astaga... Wajahnya langsung berubah masam. Dia kesal bukan karena uangnya, tapi karena sadar satu hal. “Kurang satu…” gumamnya pelan. Kalau saja dia menghitung dari awal, satu servis lagi sudah cukup untuk tembus 500. Arif tertawa kecil melihat ekspresi Dimas. “Sebenarnya saya juga mau sekali makan bareng,” kata Arif jujur, “tapi istri saya sudah nunggu di rumah. Lagipula, kamu juga harus tidur cepat.” Ia menepuk bahu Dimas. “Beso

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 77

    “Baiklah, saya belum tahu apa-apa soal kamu,” kata Coach Bisma sambil menyilangkan tangan. “Saya cuma tahu satu hal servismu barusan jauh lebih keras dari yang saya duga. Sekarang, ambil bolanya dan ulangi lagi.” Bisma mengambil bola voli yang baru saja digunakan Dimas. Ia memutarnya pelan di telapak tangan, menekannya sebentar untuk memastikan tekanan udaranya pas, lalu mengangguk puas. Setelah itu, bola dikembalikan ke Dimas, dan Bisma memberi isyarat agar dia mengikutinya ke dalam lapangan. “Barang-barang kamu taruh di mana? Dompet sama HP?” tanya Bisma sambil berjalan menuju sisi lapangan. “Saya titipkan ke Manajer Arif. Dia lagi di belakang, ngurus administrasi,” jawab Dimas jujur. Sejujurnya, dia sendiri masih bingung harus ke mana dan apa yang harus dilakukan. Untung saja Arif manajer staf tim tiba-tiba muncul dan langsung membantunya. Arif bahkan membawa Dimas ke ruang ganti resmi pemain, lalu menyimpan dompet dan p

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 76

    Dimas sebenarnya senang mendengar bahwa ia dipersilakan duduk bersama kapten di kokpit. Namun ia cukup bijak untuk tahu batasan. Ia tidak ingin terlihat memanfaatkan perlakuan khusus, jadi ia memilih tetap duduk tenang di dalam kabin. Sekitar lima menit kemudian, semuanya siap. Dimas sudah duduk di kursi pertama yang ditunjukkan kepadanya. Beberapa staf wanita melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum, namun ia hanya membalas dengan anggukan sopan, lalu kembali duduk diam. Kursi itu, jika di pesawat komersial, setara dengan kelas bisnis. Ruang kakinya lega, sangat nyaman untuk tubuhnya yang tinggi. Dimas menyandarkan punggung dan berharap penerbangan singkat ini berjalan mulus. Seorang pramugari yang sangat cantik mendekat. Ia mengenakan seragam kasual tim penerbangan dan berdiri cukup dekat dengan Dimas terlalu dekat menurutnya. “Pak, saya bantu pasangkan sabuk pengamannya ya, sebentar lagi kita lepas landas,” katanya

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 75

    Dimas keluar dari lift bersama manajer. Sebuah taksi sudah menunggu di depan. Manajer berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk Dimas. Sopir taksi terlihat profesional dan serius dengan pekerjaannya. Dimas duduk di dalam, lalu mengangguk ke arah manajer dan berkata, “Aku rasa aku tidak akan menggunakan layanan gratis. Itu bukan gayaku. Aku akan membayar jasanya, jadi sampaikan terima kasihku pada ketua, dan kembalikan cek uang tunainya. Kalau nanti butuh cek lagi, bilang saja padaku.” Manajer tersenyum, mengangguk, lalu berjalan ke arah sopir dan berkata, “Antar dia ke Bandara Soekarno-Hatta. Jangan berhenti sebelum sampai. Jangan berhenti untuk siapa pun.” Setelah itu, dia mengetuk pintu taksi dua kali dan pergi dengan senyum di wajahnya. Sopir mengangguk, lalu turun untuk mengunci semua pintu taksi mobil ini masih manual. Setelah itu, ia memutar jendela di sisi Dimas dan menyalakan AC.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 74

    Dimas membawa Anin yang masih tidak sadarkan diri ke kamar kecil. Setelah membersihkannya dengan sisa kesadarannya, ia membaringkan Anin di tempat tidur. Ranjang itu terlalu besar jika hanya dipakai berdua. Dimas mengecek jam hampir tengah malam. Ia menghela napas. Tubuhnya lelah, tapi hatinya terasa ringan. Ia memilih duduk di kursi goyang di ruang tamu, lalu menuangkan segelas anggur Vosne-Romanée Premier Cru yang tadi sempat mereka buka namun belum habis. Sambil menyesap pelan, pandangannya menatap kota di bawah sana. Meski berasal dari masa depan, ia merasa hidup seperti ini justru lebih baik. Di kehidupan sebelumnya, ia selalu cemas soal makan dan hidup terlalu egois, sampai lupa bahwa keluarganya juga membutuhkannya. Hidup memang lucu. Kalau semuanya memang berakhir seperti ini, aku bahkan tak tahu akan sampai di mana. Sambil bergumam begitu, Dimas memutar gelas anggurnya, menenggaknya dalam satu tegukan, lalu kembali

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status