LOGINMobil yang membawa Soraya dan Sanjaya menuju bandara baru saja menghilang di balik gerbang saat lembayung sore di luar jendela perlahan berganti menjadi malam yang pekat. Di dalam rumah yang kini mendadak hening, Raka menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa sesak yang selama ini menghimpit dadanya mendadak runtuh, berganti dengan gelombang kelegaan yang begitu membuncah. Ia menatap Raya yang masih menyeka sisa air mata penyesalan dan haru di pipinya."Kak..." panggil Raka dengan suara serak namun tegas.Raya menoleh, menatap adiknya dengan alis bertaut. "Kenapa, Raka?""Malam ini juga. Antar aku ke rumah Alya," ujar Raka tanpa ragu sedikit pun. Matanya berkilat mantap. "Mama dan Papa sudah merestui kita sepenuhnya. Mereka sudah pergi, dan aku tidak mau menunda ini bahkan untuk satu jam saja. Aku mau Kak Raya ikut, jadi saksi kalau aku melamar Alya malam ini."Raya mengikis jarak di antara mereka, lalu tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. Sebagai kakak kandung Raka seka
Baru pukul dua siang, dan Raka sudah melangkah masuk ke rumahnya. Hari itu ia meninggalkan kantor lebih awal. Tubuhnya terasa remuk, sarat oleh rasa frustrasi yang membuatnya merasa bahwa hidup tidak lagi menyisakan ruang untuk bernapas lega.Saat ia duduk di kursi meja makan setelah menenggak air dingin langsung dari kulkas, Soraya muncul dari arah ruang tengah. Perempuan paruh baya itu mengerutkan kening begitu mendapati anak bungsunya sudah berada di rumah pada jam kerja."Raka? Kamu sudah pulang?" tanya Soraya cemas.Tanpa menatap sang ibu, Raka menjawab dengan suara serak, "Aku mau mundur saja dari perusahaan, Ma."Soraya tertegun, langkahnya terhenti. "Kenapa? Kamu sakit?" tanyanya lagi, ketakutan utamanya tetap pada kondisi fisik anaknya.Raka menggeleng pelan. "Aku capek. Aku nggak ada semangat apa pun. Aku mau tidur saja, mau istirahat yang lama."Soraya menatap punggung putranya dengan perasaan getir. Sikap lesu itu mendadak memantik ketus di hatinya. "Ini cara kamu protes?
Siang itu, udara di dalam kafe berpendingin ruangan terasa jauh lebih pengap ketimbang terik matahari yang memanggang jalanan di luar. Raka duduk di sudut yang agak tersembunyi, menatap cangkir kopi hitamnya yang kini telah mendingin. Di seberangnya, Raya baru saja menutup agenda laporan bulanan salon yang menjadi alasan utama pertemuan mereka hari ini. Sebagai investor utama, Raka biasanya akan meneliti setiap angka dengan cermat, namun hari ini pikirannya entah melayang ke mana."Apa?" tanya Raya setengah berseru, nada suaranya mendadak melengking di antara deru mesin espresso dan alunan musik latar yang lembut. Tanpa sengaja ia menarik perhatian beberapa pengunjung di meja sebelah, tapi Raya tidak peduli. Laporan keuangan yang sedari tadi dipegangnya mendadak terasa tidak penting setelah ia mendengar kalimat pembuka dari adiknya. "Kamu serius?" tanyanya sekali lagi, menuntut kejelasan dengan mata membelalak tak percaya.Raka mengangguk pelan, gerakannya lemah tanpa tenaga. "Zahira
Pagi itu, suasana kediaman Sanjaya terasa aneh. Alih-alih berada di kantor, Zahira justru melangkah masuk ke ruang tamu rumah tersebut atas undangan langsung Sanjaya. Pria paruh baya itu berniat meminta kejelasan mutlak mengenai kelanjutan hubungan antara Zahira dan Raka. Keduanya kompak mangkir dari pekerjaan hari itu demi menyelesaikan urusan pelik di antara mereka."Selamat pagi, Om, Tante," sapa Zahira dengan senyum ramah yang tetap terjaga di wajahnya.Soraya menyambutnya dengan anggukan tenang. Sementara itu, Sanjaya menatap tajam dengan wajah tertekuk sempurna."Kamu tahu kan maksud dan tujuan Om mengundang kamu untuk datang ke sini jam segini?" tanya Sanjaya tanpa basa-basi.Zahira mengangguk, lalu melirik sekilas ke arah Raka yang duduk tenang di seberangnya. "Om sama tante pasti sudah dikasih tahu Raka soal keputusanku untuk mundur dari perjodohan kami.""Apa maksudmu dengan memilih untuk mundur, Zahira? Kamu sendiri yang menginginkan perjodohan ini sejak awal, bukan?" prote
Suara dentingan sendok dan piring beradu tipis, menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan di meja makan itu. Suasana sarapan pagi terasa begitu canggung dan dingin. Hanya ada tiga orang di sana, Sanjaya, Soraya, dan Raka. Raya tidak kelihatan batang hidungnya sejak kemarin, menambah kekosongan di ruang makan yang terlalu luas itu."Raya nggak pulang?" tanya Sanjaya datar, akhirnya memecah kesunyian sembari merapikan napkin di pangkuannya.Soraya hanya menggeleng pelan tanpa bersuara. Wanita itu mengaduk teh hangatnya dengan gerakan lambat, pikirannya berkelana ke tempat lain. Kerutan samar di dahinya menyiratkan beban pikiran yang berat. Soraya terus bertanya-tanya dalam hati, haruskah ia menceritakan pertemuannya dengan Zahira kemarin di depan suaminya? Itu karena Sanjaya sama sekali tidak tahu-menahu mengenai niatnya untuk membatalkan perjodohan Raka dan Zahira secara sepihak.Di sisi lain meja, Raka duduk dalam bungkam. Tatapannya tertuju kosong pada sisa makanan di piring
"Ada apa?" tanya Raka sinis begitu melabuhkan duduknya di kursi restoran mewah pilihan Zahira. Suaranya terdengar datar, menyiratkan keengganan untuk berada di sana malam itu.Sementara itu, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Alya dan Raya tengah menghabiskan malam dalam pelukan kehangatan persahabatan. Namun di sini, di bawah temaram lampu restoran, Zahira memilih menuntaskan sisa-sisa benang kusut yang selama ini mengikat hidupnya.Zahira menatap pria di hadapannya. Malam ini, ia tidak berdandan tebal seperti biasanya. Ia hanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana, tanpa polesan berlebihan yang justru menonjolkan kecantikan alaminya, itu adalah pemandangan yang terasa asing di mata Raka."Selamat malam, Raka," sapa Zahira lembut.Sapaan itu lolos begitu tenang, terdengar janggal sekaligus menggelitik sudut hati Raka. Ada nada yang berbeda dari biasanya, melunturkan sedikit saja ketus di dada pria itu. "Kenapa? Ada apa?" tanyanya, nadanya tak lagi sesinis tadi.Zahira men
Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.
Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu
Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang







