LOGINLyra terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Grey. Memang benar, secara teknis Grey adalah adik iparnya, tetapi pernikahannya dengan Neilson hanyalah kontrak, sesuatu yang seharusnya tidak dianggap sebagai ikatan keluarga sesungguhnya.Pikiran itu membuat hatinya kembali bimbang, seolah ia berdiri di antara peluang besar dan batasan yang tak berani ia lewati. Neilson yang sejak tadi hanya memilih diam mengamati Lyra dengan saksama. Ia bisa melihat jelas keraguan di wajah gadis itu, juga kegelisahan yang belum sepenuhnya terurai.Akhirnya, Neilson memutuskan untuk angkat bicara dengan nada datar. “Kamu tidak perlu menjawab sekarang,” katanya. “Pertimbangkan saja dulu.”Grey ikut menimpali ucapan Neilson dengan senyum santai. Ia tak ingin Lyra merasa tertekan oleh tawaran sebesar itu. Baginya, keputusan besar memang tak seharusnya diambil dalam keadaan terburu-buru.“Tenang saja,” ujar Grey. “Pikirkan baik-baik. Kakak ipar tidak perlu memutuskan langsung hari ini.”Mendengar itu
Lyra terdiam, jelas terkejut oleh ucapan Neilson barusan. Seingatnya, ia tak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan perusahaan mana pun, bahkan soal magang pun belum pernah ia pikirkan. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang datang secara tiba-tiba.Theo tersenyum tipis melihat kemunculan Neilson. Ia menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu memasukkannya ke saku celana dengan santai sambil menatap pria itu.“Lama tidak bertemu, Neil,” ujarnya ringan. “Kupikir kabar tentangmu mengajar di kampus hanya rumor belaka. Ternyata benar?”Neilson tidak menjawab. Tatapannya dingin dan datar, seolah Theo hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di hadapannya. Sikap itu justru membuat Theo tertawa kecil, suaranya rendah dan mengandung ejekan.“Jadi sekarang kamu sudah tidak bisa menciptakan desain baru lagi?” sindirnya. “Sampai harus menjadi dosen dan sibuk mencari penerus?”Tanpa menunggu respons Neilson, Theo mengalihkan pandangannya ke arah Lyra. Senyumnya melunak, berb
Erina tetap mempertahankan senyuman di wajahnya, meski sorot matanya mulai terlihat gelisah. Ia berusaha terdengar tenang seolah tudingan itu sama sekali tak menggoyahkannya.“Kenapa kamu berkata begitu?” tanyanya lembut, seakan tersinggung. “Kenapa kamu menuduhku?”Tatapan Neilson mengeras. Ia menatap Erina tanpa sedikit pun keraguan, suaranya terdengar tajam dan dingin. “Karena kunci ruang busana ada padamu,” ucapnya singkat, tanpa basa-basi.Senyum Erina meredup, berganti raut wajah sendu yang dibuat-buat. Ia menggeleng pelan, matanya terlihat mulai berkaca-kaca, sedangkan suaranya dibuat serendah mungkin. “Aku tidak tahu apa-apa,” katanya. “Pagi tadi aku bahkan tidak masuk ke ruangan itu. Aku hanya menitipkan kuncinya pada seorang mahasiswa.”Neilson tertawa kecil, namun nadanya terdengar meremehkan. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memutar layar ke arah Erina. “Kamu lupa satu hal,” ujarnya singkat.Di layar ponsel itu terpampang rekaman CCTV. Terlihat jelas Erina berdiri di depan
MC ikut menoleh ke arah tirai dengan raut bingung. Ia kembali mengangkat mikrofon dan mengulang pengumuman."Mahasiswa terakhir, nomor urut lima puluh, Lyra Florency.”Deretan tamu mulai saling berpandangan, beberapa di antaranya berbisik pelan karena tak ada satu pun sosok yang muncul. Suasana yang semula penuh antisipasi perlahan berubah menjadi canggung dan tegang.Di depan panggung, Neilson melirik jam tangannya sekilas. “Sepertinya kamu gagal,” katanya singkat.Tak adanya kehadiran Lyra membuat Neilson menarik kesimpulan sementara. Dalam benaknya, gadis itu mungkin tak sempat bertindak atau tak berhasil menciptakan karya baru tepat waktu.Saat MC hendak membuka suara kembali, tirai panggung tiba-tiba tersibak. Sosok Lyra muncul dari baliknya, berdiri tegak dengan langkah mantap yang langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.Lyra melangkah masuk dengan anggun. Gaun yang semula tampak polos kini berubah menjadi karya baru, garis-garis biru tua menjalar teratur, membentuk motif y
Lyra memasangkan gaunnya ke manekin, lalu segera bergerak cepat. Matanya menelusuri setiap robekan dengan cermat, menyadari potongannya ternyata bersih dan rapi, jelas dipotong menggunakan gunting.Kesadaran itu membuat pikirannya mulai bekerja dan mulai mencari celah.Ia teringat kain biru tua yang dibawanya tadi pagi. Lyra meraih tasnya, mengeluarkan kain itu bersama benang dan manik-manik, lalu menatanya di meja.Di tengah napas yang masih belum sepenuhnya tenang, tekadnya perlahan kembali menguat. Jika gaun ini dirusak, maka ia akan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru.Lyra mengangkat kain biru tua itu dan menyandingkannya dengan gaunnya. Perpaduan warnanya masih serasi, bahkan memberi kesan kontras yang elegan. Ia menatapnya beberapa detik, menimbang kemungkinan ide yang terbentuk di kepalanya.Ide itu datang begitu saja. Kain biru tua itu bisa dijahit mengikuti garis sobekan, ditempelkan dengan sengaja seolah menjadi bagian dari desain. Dengan begitu, robekan itu tak lagi tamp
Lyra berlari menghampiri gaun itu lalu meraihnya dengan tangan gemetar. Kainnya robek di beberapa bagian, bahkan terlihat jelas bekas guntingan yang kasar dan disengaja. Dadanya terasa sesak saat matanya menelusuri setiap kerusakan itu. Ia mendongak menatap seluruh mahasiswa di ruangan dengan mata berair. “Kenapa ... kenapa gaunku bisa seperti ini?” tanyanya dengan suara bergetar, hampir pecah. Seorang mahasiswa melangkah sedikit ke depan dan menjawab dengan hati-hati. “Waktu kami masuk, keadaannya sudah begitu.” Nada suaranya terdengar ragu, seolah takut disalahkan atas apa yang terjadi. “Ruang busana dari tadi masih terkunci,” lanjutnya lagi. “Baru saja dibuka, dan kami langsung melihat gaun itu sudah rusak.” Ia menoleh singkat ke arah yang lain, meminta dukungan tanpa kata. Beberapa mahasiswa mengangguk pelan sebagai saksi. Tidak ada yang berani menatap Lyra terlalu lama, seakan kerusakan gaun itu juga meninggalkan rasa bersalah di wajah mereka. Lyra terduduk kaku sambil memel







