ログインAqiqah Kavira Alesha Varesh, putri cantik Kayla dan Bhargava, berjalan dengan lancar dan penuh kebahagiaan. Acara yang digelar sederhana namun hangat itu dihadiri keluarga serta orang-orang terdekat mereka.Setelah rangkaian acara selesai, para tamu undangan mulai menikmati berbagai hidangan yang telah disiapkan. Suasana pun semakin meriah dengan alunan musik live yang mengisi area acara.Tawa dan obrolan terdengar di berbagai sudut, sementara Kavira yang masih mungil menjadi pusat perhatian keluarga. Aqiqah itu menjadi salah satu momen bahagia yang akan selalu dikenang oleh Kayla dan Bhargava sebagai orang tua baru.Mataya yang sedang memangku Kavira menatap Jingga yang sudah masuk mode mommy tantrum. Wajah sahabatnya itu terlihat kusut setelah Dipta baru saja menarik taplak meja hingga cake di atasnya jatuh ke lantai."Ya ampun, Adek! Kenapa sih kamu tarik-tarik taplak meja?"Dipta yang berdiri tak jauh dari sana langsung meringis lucu. "Aku mau ambil kuenya, Mommy.""Ambil kue buka
Dante dibuat kaget dengan keputusan Bu Aisha yang tiba-tiba memilih memperpanjang tinggal di Solo. Sementara Pak Hasan tetap pulang ke Klaten karena harus kembali bekerja.Bukan karena tidak suka. Dante justru senang jika ibu mertuanya tinggal lebih lama. Hanya saja, perubahan mendadak itu membuatnya heran. Biasanya Bu Aisha akan pulang bersama Pak Hasan, tetapi kali ini dia memilih tetap di Solo tanpa menjelaskan alasannya.Yang membuat Dante semakin heran, Bu Nindi juga tiba-tiba mengambil cuti. Padahal, meski bagian dari keluarga pemilik rumah sakit, Bu Nindi hampir tak pernah mengambil cuti mendadak.Dante dibuat penasaran. Sebenarnya ada apa?Namun, tak satupun dari mereka memberikan jawaban. Semua hanya tersenyum… seperti sedang menyimpan sebuah rahasia besar.Hingga malam tiba.Setelah bersiap untuk tidur, Dante naik ke atas ranjang. Mataya sudah lebih dulu berbaring dengan wajah pucat, masih sesekali mengeluh karena kepalanya terasa pusing.Dante langsung mendekat dan memeluk
Bu Aisha mengoleskan minyak kayu putih pada tengkuk Mataya yang masih terlihat lemas setelah muntah beberapa kali. Wajahnya tampak pucat, membuat sang ibu terus memperhatikan putrinya dengan cemas.Bu Nindi langsung di hubungi ART. Dia kini sedang dalam perjalanan bersama Senada menuju rumah Mataya untuk melihat keadaan sang menantu.Sementara itu, Dante sengaja tidak diberi tahu. Mataya sendiri yang meminta agar suaminya tidak dihubungi terlebih dahulu. Dia tidak ingin Dante khawatir dan meninggalkan kesibukannya menemani Pak Hasan membeli perlengkapan memancing.Meski tubuhnya terasa tidak nyaman, Mataya berusaha meyakinkan dirinya bahwa rasa mual itu hanya karena kelelahan. Dia sama sekali belum menyadari bahwa tubuhnya mungkin sedang memberikan sebuah tanda ."Kepalaku muter lagi, Bu."Bu Aisha langsung menggeser duduknya lebih dekat. Tangannya perlahan memijat kepala putrinya. "Ibu pijat pelan-pelan, ya, Nak. Pejamkan mata dulu. Jangan banyak bergerak."Mataya mengangguk lemah. "
Begitu sampai di kediaman Bhargava, Dante langsung menghampiri mobil yang sudah menunggu di depan rumah. Mataya sudah duduk di kursi penumpang, sementara sopir Dante berada di balik kemudi.Dante membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil. Setelah duduk di samping sang istri, dia langsung menatap wajah Mataya dengan khawatir. Dia sengaja memeriksa keadaan Mataya di dalam mobil karena di dalam rumah cukup banyak orang."Masih pusing, Sayang?"Mataya menggeleng. "Udah nggak, Bang. Tadi cuma sebentar pusingnya."Dante masih memperhatikan wajahnya beberapa detik, memastikan sendiri bahwa Mataya benar-benar baik-baik saja.Setelah merasa lega, dia mendekat dan mengecup lembut bibir sang istri. Mataya tersenyum malu."Kalau gitu kita jemput Bapak dulu.”“Bapak di rumah apa di toko buku?”"Di rumah,” jawab Dante. “Ke toko bukunya udah tadi pagi. Soalnya beliau takut kalau cari sore waktunya gak cukup. Nanti malam beliau kan pulang ke Klaten."Mataya mengangguk memahami. "Terus aku ikut
Sepanjang rapat bersama jajaran direksi rumah sakit, Dante terlihat beberapa kali melirik ponselnya. Hal yang nyaris tidak pernah dilakukannya selama rapat.Meski begitu, Dante tetap fokus mengikuti pembahasan. Dia masih memberikan pendapat dan mengambil keputusan seperti biasa. Hanya saja, sesekali tangannya meraih ponsel untuk memeriksa layar.Sagara yang hari ini ikut dalam rapat mulai merasa heran melihat tingkah aneh sang kakak sepupu.Begitu rapat selesai, Dante tidak langsung beranjak. Dia kembali mengambil ponselnya dan mengecek pesan yang masuk.Tidak ada balasan dari Mataya.Dante menghela nafas pelan, lalu menatap layar beberapa detik lebih lama.Sagara yang penasaran akhirnya melongokkan kepala, mencoba melihat isi ponsel Dante."Ada apa, Kak?"Dante langsung mengunci layar ponselnya. "Nggak ada apa-apa."Sagara mengernyit. "Terus kenapa dari tadi ponsel di cek terus? Setahuku Kak Dante paling anti buka ponsel kalau lagi rapat."Dante hanya memasukkan ponselnya ke saku, te
Setelah si kembar selesai cuci muka, gosok gigi, dan cuci kaki bersama Mataya, kini giliran Dante yang membantu mengganti pakaian Rendra dan Dipta.Namun, bukannya tenang, kedua bocah itu malah kembali ribut."Aku mau yang itu!""Enggak! Itu unya aku!"Dante yang sedang mencari minyak telon dalam tas si kembar langsung menoleh."Loh, kok rebutan lagi?"Ternyata keduanya sedang memperebutkan satu set piyama yang sama, padahal Jingga sudah membawakan piyama dengan motif yang persis sama untuk kedua putranya."Kan Mommy udah bawain dua. Sama persis," ujar Dante sambil menunjukkan piyama satunya."Api aku mau yang itu!""Aku uga!"Dante menghela nafas panjang.Mataya yang sedang memakai skincare malam hanya bisa menahan tawa melihat tingkah kedua bocah itu."Rendra, Dipta. Kalian itu kembar, piyamanya juga sama. Kenapa masih diperebutkan?"Keduanya saling pandang, lalu kembali menunjuk piyama yang sama."Kalena yang itu yebih agus!"Dante akhirnya jongkok di hadapan kedua keponakannya. Di







