MasukKayla datang ke kediaman Mataya bersama Jingga. Kali ini hanya Kavira yang ikut menemani mereka, sementara si kembar sedang bermain golf bersama Daddy dan Opanya.Begitu melihat bayi mungil itu berada dalam gendongan Kayla, wajah Mataya langsung berbinar. Dia mendekat dan mengambil Kavira dengan hati-hati dari pelukan sang ibu.âYa ampun, cantiknya anak Mama!âMataya langsung menciumi kedua pipi gembul Kavira berkali-kali. Bayi itu hanya mengerjapkan mata, lalu menggerakkan tangan kecilnya ingin meraih wajah Mataya.âLihat, dia sudah kenal Mamanya,â ujar Jingga sambil terkekeh.Mataya semakin gemas. Dia mengusap pipi Kavira yang lembut, kemudian kembali mengecupnya.âPipi siapa ini? Kok gembul banget?âKayla menjawab mewakili putri kecilnya, âMochi itu, Mama. Tapi jangan digigit, ya.âMataya pun langsung tergelak.Lantas Kayla dan Jingga meninggalkan bumil dan si anak bayi⊠menuju dapur untuk menyapa Bu Nindi, Bu Safa, dan Bu Binar.Ketiganya sedang sibuk menyiapkan berbagai keperluan
Dante memeluk Mataya dari belakang, dagunya bertumpu santai di bahu sang istri. Dia mendengarkan dengan tenang saat Mataya menceritakan sanksi yang akhirnya dijatuhkan pihak yayasan kepada Kesya.Sesekali Dante mengusap lengan istrinya, sementara Mataya terus bercerita tentang keputusan tersebut dan bagaimana suasana di sekolah setelah kejadian yang sempat menghebohkan.âMasak iya, Bang? Miss Kesya tuh nggak merasa bersalah sama sekali waktu disidang sama pihak yayasan?â ungkap Mataya heran. Kalau dirinya berada di posisi itu, mungkin sudah pingsan duluan karena malu.Ah, tapi mana mungkin Mataya menjadi pelakor?Pikiran itu buru-buru disingkirkannya. Lalu dia kembali melanjutkan ceritanya.âIni tuh ceritanya Rina, lho. Dia kan selalu tahu segala macam gosip di sekolah.âDante belum menanggapi. Bukan karena tidak mendengarkan, tetapi memang tidak tahu harus memberikan respons seperti apa. Toh, dia juga tidak terlalu peduli dengan gosip yang beredar di sekolah tempat istrinya mengajar.
Sesampainya di mall, Mataya, Siska, dan Rina seperti anak-anak yang baru diajak ayahnya jalan-jalan di akhir pekan. Begitu turun dari mobil, ketiganya langsung berjalan menuju lantai tiga, tempat bioskop berada.Begitu sampai, mereka langsung menuju antrian pembelian tiket. Tanpa banyak berdebat, mereka memilih satu film dan memesan empat tiket dengan kursi yang berjejer.Urusan pembayaran tentu saja langsung diambil alih Dante. Sementara itu, Mataya, Siska, dan Rina sudah berpindah ke stan popcorn dan minuman. Mereka sibuk memilih camilan masing-masing.Setelah semua pesanan selesai, lagi-lagi Dante yang maju membayar. Sementara tiga wanita itu berdiri menunggu dengan wajah bahagia, seolah memang tugas mereka hanya memilih film, makanan, dan menikmati jalan-jalan.Setelah membayar, Dante mengambil alih makanan dan minuman yang sejak tadi dibawa Mataya.âUdah, sini Abang yang bawa. Kalian tunggu di sofa sana.âNamun, Mataya justru menggeleng. âNggak perlu duduk. Filmnya sebentar lagi
Jam pulang sekolah tiba, tetapi suasana di lobby justru semakin ricuh. Siswi SMA yang sejak tadi menunggu Kesya ternyata tidak datang sendirian. Kedua orang tuanya juga sudah berada di sana dan tengah terlibat cekcok dengan pihak keamanan sekolah.Suara perdebatan terdengar cukup keras hingga sampai ke lorong. Beberapa guru dan murid yang hendak pulang pun memilih memperlambat langkah, penasaran dengan keributan yang terjadi.Mataya berjalan pelan dari arah ruang guru dengan satu tangan menopang perut besarnya. Dia sebenarnya tidak ingin segera keluar karena Dante masih dalam perjalanan menuju sekolah untuk menjemputnya. Namun, melihat suasana lobby yang ramai, langkahnya tanpa sadar semakin cepat.Dari arah lorong tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari. Siska dan Rina yang sebelumnya sudah berpamitan karena hendak menonton film ternyata kembali berlari menuju lobi.âTaya!âKeduanya memanggil hampir bersamaan, membuat Mataya refleks menoleh.Siska dan Rina berhenti di hadapan
Jam istirahat akhirnya tiba. Para guru mulai berkumpul di ruang guru, menikmati waktu senggang sebelum kembali mengajar.Di tengah suasana santai itu, dua orang petugas keamanan masuk ke ruangan. Salah satunya langsung menghampiri Kesya yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.âMiss Kesya, ada tamu yang masih menunggu di lobby. Katanya mau bertemu sama Miss.âKesya bahkan tidak mengangkat wajahnya.âNggak mau. Saya nggak kenal sama dia.âSatpam itu tampak ragu. âTapi dari tadi dia masih menunggu, Miss. Katanya ada urusan penting yang mau dibicarakan.ââYa biarin aja,â jawab Kesya ketus. âSaya malas meladeni gadis gila.âBeberapa guru yang mendengar ucapan itu saling pandang. Suasana ruang guru yang tadinya santai mendadak terasa canggung.Satpam pun akhirnya mengangguk dan memilih kembali ke lobby. Sementara Kesya kembali sibuk dengan ponselnya, seolah kedatangan gadis itu tak penting baginya.Siska perlahan menggeser kursinya mendekat ke Mataya. Setelah memastikan guru-guru lain
Tak terasa, acara tujuh bulanan kehamilan Mataya akan dilangsungkan akhir pekan ini. Kedua orang tuanya pun sudah berada di Solo dan ikut membantu sang besan mempersiapkan segala kebutuhan acara yang, menurut Dante, akan digelar sangat mewah dan meriah.Berbeda dengan keluarga yang sibuk mempersiapkan acara, Mataya justru tetap santai menjalani kegiatan sehari-harinya. Dia tidak diijinkan terlalu memikirkan persiapan hingga membuat dirinya kelelahan.Pagi ini, Mataya sudah berada di sekolah. Dari tepi lapangan, dia memperhatikan murid-muridnya yang sedang mengikuti pelajaran olahraga. Pandangannya sesekali tertuju pada Rendra dan Dipta yang ikut berolahraga bersama Siska.Melihat kedua bocah itu berlarian dengan penuh semangat, Mataya tersenyum lebar. Rasanya baru kemarin mereka masih sibuk bermain di rumah Opanya, dan sekarang sudah kembali membuat suasana sekolah menjadi ramai.Siska akhirnya meninggalkan murid-muridnya yang kini sudah diambil alih oleh guru olahraga. Dia berjalan k







