Mag-log inMataya sedang menunggu jemputan Dante di ruang guru. Malam ini mereka akan makan malam di rumah Bu Nindi, sementara Rina menemaninya sambil membereskan beberapa berkas.Rina tiba-tiba melirik ponsel Mataya yang tergeletak di meja, lalu menyenggol lengannya pelan.“Tumben bikin status Wh4tsApp. Mana statusnya gemas banget lagi. Dokter Dante lagi ngajak calon anak kalian ngobrol.”Mataya langsung menoleh, lalu berbisik pelan agar tidak terdengar guru-guru lain.“Biar ada yang lihat.”Rina mengernyit penasaran. “Siapa… siapa?”Mataya mengangguk. “Miss Kesya.”Rina langsung menutup mulutnya, menahan tawa. “Oh... jadi ini namanya perang dingin?”“Aku kan hanya posting foto kegiatan Abang setiap malam.”“Fotonya bikin hati membara.” Rina terkikik. “Kamu sengaja banget, Taya.”“Biar dia tahu posisi Abang sekarang.”“Wah, bumil ternyata mulai berani juga.”Mataya hanya mengulum senyum. “Harus berani dong…”Beberapa guru yang masih berada di ruang guru mulai berpamitan kepada Mataya dan Rina.
Infus yang terpasang di tangan Dante akhirnya dilepas. Kondisinya sudah jauh lebih baik setelah beristirahat dan mendapatkan perawatan. Rencana cuti tiga hari pun akhirnya dibatalkan karena besok Dante sudah harus kembali bekerja. Si kembar juga sudah pulang. Mereka mendapat kabar bahwa Opa Kais jatuh dari motor saat sedang touring bersama teman-temannya. Memang, si balita paling sibuk di keluarga mereka. Baru saja menemani Dante yang sedang sakit, sekarang bergantian menemani Opa-nya. Dante kembali ke kamar dengan mengenakan pakaian yang cukup tebal. Kondisinya memang sudah membaik, tetapi dia masih belum tahan dengan udara dingin. Sementara itu, Mataya sedang duduk di diatas ranjang sambil bertelepon dengan ayahnya. Percakapan mereka beralih pada rencana acara tujuh bulanan kehamilannya. “Jadi, Bapak sama Ibu datang awal bulan, ya?” tanya Mataya. “Iya, Nak. Bapak sama Ibu rencananya datang awal bulan. Biar bisa bantu persiapan acara tujuh bulanan kamu.” “Wah, kalau begitu Tay
Mendengar Papa Dante-nya sedang sakit, si kembar pun menolak pergi ke sekolah karena ingin menemani papanya. Jingga yang dibuat pusing dengan rengekan putranya akhirnya mengalah dan memutuskan membawa mereka ke kediaman Dante dan Mataya.Kini, Rendra dan Dipta sedang berada di atas ranjang, berceloteh ria sambil menemani Dante.Sementara itu, Jingga dan Mataya membiarkan ketiganya menghabiskan waktu bersama. Mereka tahu, setelah PS dipasang di kamar tamu, ketiga laki-laki itu pasti akan semakin sibuk bermain dan tidak membutuhkan kehadiran mereka.Keduanya pun memilih meninggalkan mereka di kamar, sambil sesekali memastikan Dante tidak terlalu banyak bergerak karena masih demam.“Oh, iya, Taya,” ujar Jingga sembari membantu Mataya duduk. “Tadi aku kan udah sampai di sekolah, eh, ada salah satu guru si kembar yang nanyain keadaan Kak Dante. Aku kok merasa aneh, ya.”“Siapa nama gurunya, Jin?”“Kalau nggak salah ingat, Kesya...”Mataya langsung terdiam.Nama itu kembali terlintas di kep
“Mas Dante, kamu ini dokter, loh! Susah banget mau diinfus!” omel Bu Nindi sambil berkacak pinggang.Suster dari Rumah Sakit Arfmed sudah siap di sebelah Dante untuk memasang infus. Namun, yang sedang sakit itu malah susah sekali diatur.Sejak bangun, Dante terus merengek karena kepalanya berputar-putar. Giliran disuruh makan dan minum obat, susahnya minta ampun.Terpaksa Bu Nindi memanggil suster untuk merawat putranya, tetapi Dante tetap saja menolak.“Dokter Dante ini nggak kasihan sama saya, ya? Sudah berumur, masih saja dikasih ujian hidup serumit ini,” keluh suster senior yang menjadi asisten Bu Nindi.“Jewer aja telinganya, Sus. Udah mau jadi bapak, kelakuannya kayak bayi aja,” sahut Bu Nindi.Aksi ngambek Dante masih berlanjut. Semalam dia tidur ditemani Pak Pandu, sementara Mataya tidur bersama Bu Nindi di kamar mereka.Hal itu membuat Dante merasa semakin tidak beruntung. Sudah demam, kepalanya pusing, harus di infus, sekarang istrinya pun tidak berada di sisinya.Pagi ini,
Selesai mandi, Dante keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk. Namun, baru beberapa langkah menuju ranjang, tiba-tiba dia bersin beberapa kali.“Hacih! Hacih!”Mataya yang sedang duduk di depan meja rias langsung menoleh.“Abang kenapa?”Dante menggeleng sambil mengusap hidung. Tubuhnya mulai menggigil karena pendingin di kamarnya diturunkan sebab bumil merasa gerah.“Kayaknya kedinginan, Sayang.”Mataya langsung bergegas mengambilkan segelas air hangat yang baru diantar oleh Bibi untuknya. Dia menghampiri Dante dan menyerahkannya.“Minum dulu. Jangan sampai masuk angin.”Dante menerima gelas itu dengan kedua tangan. “Makasih, Sayang.”Mataya kemudian mengambil selimut dan menyampirkannya ke bahu sang suami.“Tadi kan Abang udah aku bilangin jangan mandi.”Dante hanya tersenyum kecil sambil menyesap air hangat yang diberikan istrinya. Setelah habis, dia meletakkan kembali gelas di atas meja, lalu meringkuk di sofa.Biasanya, Dante sangat tahan terhadap dingin. B
“Duh, repot banget sih, Abang?! Kenapa nggak ditaruh aja di belakang buketnya.”Mataya mengomel sambil berusaha mengatur posisi duduk senyaman mungkin. Buket bunga berukuran besar pemberian Dante kini memenuhi hampir separuh kursi belakang.Perutnya yang sudah membuncit membuat ruang geraknya semakin sempit. Di satu sisi ada buket bunga, di sisi lain ada suaminya yang menempel padanya.“Geser dikit, dong, Bang.”“Nggak bisa, Sayang.”“Kenapa nggak bisa?” Matanya melirik sekilas, padahal tempat duduk disebelah Dante masih luas. “Buruan geser, Abang…”“Sayang kita gak boleh berpisah.”Mataya langsung memutar mata. “Pisah apa sih, Bang? Orang aku cuma minta geser sedikit aja loh.”Bukannya membantu memindahkan buket, Dante malah menyandarkan kepalanya di lengan Mataya sambil tersenyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas.“Abang ini bikin gerah, tahu.”“Biarin.”“Buketnya gede, perut aku gede, terus Abang ikut nempel.”Dante justru semakin nyaman menyandarkan kepalanya.“Hidup Abang le







