LOGINMakan malam untuk merayakan ulang tahun Rendra dan Dipta akhirnya selesai. Suasana rumah masih ramai karena para tamu belum berniat pulang.Di ruang billiard, para opa dan papa memilih menghabiskan waktu bersama. Opa Kais, Opa Pandu, dan Opa Rayyan sedang bermain billiard bersama Sagara, Bhargava, dan Dante. Sesekali terdengar suara bola billiard beradu, disusul obrolan dan tawa mereka.Sementara itu, para oma memilih suasana yang lebih tenang. Oma Binar, Oma Safa, dan Oma Nindi duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati teh dan berbagai camilan.Di dapur, para mama juga tak kalah sibuk. Jingga, Kayla, dan Mataya masih berada di sana sambil membereskan beberapa piring. Namun, pekerjaan itu justru membuat mereka semakin asyik mengobrol.Mulai dari cerita pekerjaan, kesibukan masing-masing, sampai tingkah anak-anak mereka yang semakin besar.Sementara para orang tua sibuk dengan kegiatan masing-masing, para abege pun punya kesibukan sendiri.Rendra mengajak Kavira dan Javendra naik
Kayla ternyata tidak datang hanya bersama Kavira. Beberapa staf dari florist miliknya ikut dibawa untuk membantu mengangkut bunga-bunga segar pemberian para penggemar Rendra.Begitu sampai, mereka langsung sibuk memindahkan bunga dari halaman menuju mobil pengangkut. Jingga pun ikut membantu memilah satu per satu bunga yang masih layak digunakan. Bunga yang sudah layu karena terkena panas matahari atau rusak akibat tergesek keranjang langsung dipisahkan.Sementara itu, Kavira memilih menghabiskan waktunya bersama si kembar. Gadis itu duduk nyaman sambil menikmati cookies, sementara Rendra dan Dipta sibuk bermain PS bersamanya.Sagara pun ikut menemani mereka atas perintah Jingga.Mereka trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu. Pelipis Kavira sampai terluka gara-gara lemparan stik PS.Bukan karena Rendra dan Dipta sengaja melemparkannya pada Kavira. Saat itu, Dipta melempar stik ke arah Rendra, tetapi Rendra berhasil mengelak. Alhasil, stik tersebut justru melayang dan mengenai peli
Sepuluh Tahun KemudianJingga baru saja pulang bekerja. Hari ini ada sedikit masalah di kantor yang cukup membuat kepalanya pusing. Dia bahkan sudah membayangkan ingin segera mandi, makan, lalu beristirahat di kamar.Namun, begitu keluar dari mobil, langkah Jingga langsung terhenti.Matanya membulat melihat pemandangan di depan rumah.“Ini rumah apa pasar buah?”Hampir di seluruh halaman terdapat buah rambutan dan durian yang tersusun dalam beberapa keranjang besar.Jingga mengusap wajahnya. Kepalanya yang sejak dari kantor sudah pusing, kini terasa semakin berdenyut.Tak lama kemudian, Bi Yanti, kepala ART di kediaman mereka, keluar dari rumah. Wanita paruh baya itu mengenakan masker hingga berlapis-lapis. Bahkan, dari cara jalannya saja sudah terlihat dia berusaha menjauh dari sumber bau durian.Begitu mendekati Jingga, Bi Yanti langsung menunjuk ke arah tumpukan buah. “Dari penggemar Den Dipta, Non Jingga.”Jingga mengernyit. “Penggemar?”Bi Yanti mengangguk. Matanya menyipit, seda
Acara aqiqah putra pertama Dante dan Mataya, Javendra Adhikara Srinarendra, akhirnya digelar. Sejak pagi, kediaman mereka sudah dipenuhi kerabat dekat dan beberapa tetangga yang datang untuk mengikuti pengajian sekaligus mendoakan si kecil.Suasana berlangsung hangat dan penuh kebahagiaan. Setelah rangkaian pengajian selesai, para tamu menikmati hidangan yang sudah disiapkan.Memasuki siang hari, acara dilanjutkan dengan berbagi kebahagiaan bersama anak-anak panti. Berbagai makanan, bingkisan, dan kebutuhan lainnya telah disiapkan untuk mereka.Seluruh rangkaian acara berjalan dengan sangat lancar. Tidak ada kendala berarti, dan keluarga pun merasa lega karena hari yang sudah mereka persiapkan dengan singkat akhirnya dapat dilalui dengan penuh kebahagiaan.Sore harinya, Mataya sedang bersiap untuk acara berikutnya. Acara kali ini hanya diperuntukkan bagi keluarga inti dan sahabat-sahabat dekat mereka, sehingga suasananya jauh lebih santai dibandingkan acara pagi dan siang tadi.Sement
Setelah kembali ke kediaman, Dante sangat menikmati perannya sebagai papa baru. Hampir semua kebutuhan putranya dia urus sendiri. Mulai dari memandikan, mengganti popok, menggendong, hingga menidurkan si kecil, semuanya dilakukan dengan penuh cinta.Hanya satu yang tidak bisa dia ambil alih—menyusui. Untuk urusan itu, Dante menyerahkannya pada Mataya.Selebihnya, dia tidak ingin melewatkan satu pun momen bersama putra pertamanya. Bahkan ketika si kecil hanya menguap atau menggeliat dalam tidurnya, Dante langsung sibuk memperhatikan.Mataya sampai dibuat kagum dengan sang suami. Dia tak menyangka Dante akan sesibuk itu mengurus putra mereka. Melihat suaminya begitu telaten dan menikmati setiap momen bersama si kecil membuat hatinya terasa hangat.Baginya, Dante bukan hanya suami yang selalu menjaganya, tetapi juga papa yang begitu menikmati peran barunya.Bu Nindi baru saja masuk ke kamar cucunya. Di sana, Mataya sedang sibuk pumping, sementara Dante baru selesai memandikan putra kecil
Ruang perawatan Mataya semakin ramai setelah Rendra dan Dipta datang bersama kedua orangtuanya. Begitu melihat bayi mungil yang berada dalam gendongan Dante, mata kedua bocah itu langsung berbinar.Keduanya bahkan langsung mendekat dan berebut ingin melihat adik bayi mereka dari dekat.“Aku dulu yang gendong!”“Enggak! Aku dulu!”Mataya yang mendengar keributan itu langsung terkekeh. Namun, ketika keduanya mulai meminta izin untuk menggendong, dia buru-buru menggeleng.“Belum boleh, Sayang. Adek masih kecil banget.”Rendra langsung memasang wajah kecewa. “Tapi aku mau gendong, Mama Taya...”“Aku juga!” timpal Dipta.“Nanti kalau Adek sudah lebih besar dan kalian sudah bisa duduk anteng, baru boleh,” jawab Mataya sambil tersenyum.Kedua bocah itu akhirnya hanya bisa saling pandang. Meski kecewa, rasa penasaran mereka terhadap adik bayi tetap tak berkurang.Mereka kembali mendekat, kali ini hanya berani mengintip wajah mungil sang adik dari balik Dante.Jingga yang melihat tingkah kedua







