แชร์

Dosen Penyewa Rahimku
Dosen Penyewa Rahimku
ผู้แต่ง: Kaya Raya

Gadis Putus Asa

ผู้เขียน: Kaya Raya
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-05 16:41:00

Tes...tes...tes...

Hujan di malam itu belum reda, justru rintiknya semakin deras menghantam aspal jalanan.

Dari atas jembatan, seorang gadis pecundang memandang nanar kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana.

Entah akan kemana tujuan mereka semua, yang jelas sama seperti dirinya yang juga punya tujuan.

Tapi, bedanya tujuan gadis ini adalah sebuah kematian. Ia mencengkeram kencang pagar pembatas, merasakan dinginnya besi lengkap dengan baunya yang khas.

Philia Diana Miska, gadis berusia 24 tahun itu harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia tercipta sebagai manusia gagal segalanya.

Ayahnya dipenjara, namun bukan karena kesalahannya sendiri. Tapi karena membela dirinya yang hampir dirudapaksa oleh seseorang, preman pasar yang mabuk di malam sial itu.

Pria itu dibunuh di depan matanya sendiri, oleh sosok pria yang selama ini mengayomi dan menyayangi dirinya. Tak main-main, Ayahnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti melakukan tindakan pembunuhan berencana.

Sementara Ibunya, sakit jantung dan stroke paska kejadian itu. Ia terbaring kaku di rumah sakit, tanpa ada solusi konkrit dari sakit yang mengurung raganya.

Dan kini, Philia harus menanggung semuanya sendiri. Ia dikucilkan keluarga besar, dijauhi dan diomongi tetangga, masa depan yang berantakkan dan statusnya sebagai mahasiswi aktif terancam dihapuskan karena menunggak uang semesteran.

Philia sudah tidak sanggup, terlalu banyak beban mental yang harus ia pikul sendiri. Padahal dulu hidupnya lancar-lancar saja. Ia adalah gadis yang jenius, masuk sekolah dasar usia lima tahun dan menghabiskan bangku SMP dalam dua tahun saja.

Ia juga masuk kuliah jalur prestasi, begitu mudah dan mulus.

Sayang semua itu berubah ketika preman itu menyantroninya di rumah dan akhirnya membuat semuanya berantakkan.

Keluarga yang hancur, ekonomi rusak, pendidikan tertinggal, dan kini ia begitu lelah.

Akhirnya, di sini lah ia berada. Sebuah jembatan penyeberangan orang yang mulai sepi di tengah malam.

Baginya, hidup atau mati tiada bedanya. Sama-sama sakit dan menderita.

Namun jika mati, mungkin semuanya akan senang. Tidak ada gadis pembawa sial, tidak ada lagi anak gagal, dan juga manusia pecundang seperti dirinya.

Philia menaiki pagar besi jembatan dengan yakin, tangannya bergetar menggenggam tiang yang licin oleh air.

Sekali lompat, selesai sudah semuanya. Tidak ada lagi tagihan rumah sakit, tidak ada lagi tangis ibunya, tidak ada lagi tatapan jijik teman-teman kampus yang tahu betapa miskinnya ia.

Gadis itu menengadah, air matanya bercampur dengan hujan. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar oleh kebisingan jalanan.

"Ma… maafin Phili." Lirihnya.

Philia menarik napas panjang, dingin hujan menusuk sampai ke paru-paru. Jemarinya yang beku menggenggam tiang yang licin karena air.

Sekilas ia menatap jalanan yang sibuk di bawah, mobil melaju kencang seolah siap menyambutnya yang ingin mati.

Jantungnya berdetak keras, semakin keras, seolah tubuhnya tahu ia akan melakukan hal yang mustahil untuk ditarik kembali.

Sekali lompat, semua selesai. Begitu ia meyakinkan dirinya sendiri.

Ia memejamkan mata, membiarkan hujan membasuh wajahnya untuk terakhir kali. Lalu, dengan sisa keberanian yang rapuh, ia melepaskan genggaman.

SYUNG!!!!!

Tubuh Philia langsung terjun lepas.

Namun bukannya tubuhnya melayang bebas ke udara dan menghantam jalan raya, kakinya justru tersangkut di celah besi pembatas. Sekejap dunia terbalik. Tubuhnya terjerembab, jatuh dengan posisi canggung ke lantai jembatan.

BRAK!

Benturan keras membuat punggungnya nyaris remuk. Udaranya terhempas, napas tersedak di tenggorokan.

"Aaaargh!!! Teriaknya parau.

Sakit yang dahsyat langsung menyambar pergelangan kakinya yang terpelintir tidak wajar. Nyeri itu menjalar cepat ke tulang betis, menusuk sampai ke pangkal pinggang. Tubuhnya menggeliat, tapi setiap gerakan justru membuat rasa sakit bertambah tajam.

Ia tergeletak di lantai basah tengah jalan dengan tubuhnya yang gemetar hebat. Matanya mendelik, mencari langit. Tapi yang ia temukan hanyalah kelabu pekat dengan hujan deras menampar wajahnya tanpa belas kasih.

Air mata bercampur air hujan. Ia terisak, tapi di sela isakan itu justru keluar tawa kecil tawa pahit, getir, menyesakkan.

Kepalanya berdenyut, suaranya serak, tubuhnya gemetar di tengah dingin yang kian menggila.

TIIIN!! Suara klakson mobil itu terdengar nyaring.

"WOY! MINGGIR! GILA YA LO?!" Teriak salah satu pengendara mobil.

Philia terkekeh, menertawakan nasibnya yang sangat amat sial! Bahkan, untuk mati saja ia tidak mampu.

Ironi terasa menggigit nasibnya. Dunia seolah sengaja mempermainkannya dengan cara tak memberinya ruang untuk hidup layak, tapi juga menolak memberinya jalan mati yang ia pilih sendiri.

Ia ingin mengakhiri penderitaan, tapi kini malah terjebak dalam sakit baru yaitu rasa perih fisik yang menyalip keputusasaan batinnya.

Philia menutup wajah dengan lengannya, tangisnya pecah tanpa kendali.

Langit menangis, ia pun ikut menangis. Namun bedanya, langit akan reda. Sedangkan dirinya… tidak tahu kapan akan mengakhiri masa kelamnya.

**

Dengan langkah terseok-seok, Philia berjalan menjauhi tempat dimana ia diolok-olok nasib. Niat ingin bnuh diri, tapi malah berakhir keseleo seperti ini.

Kakinya terkilir, dan punggungnya lebam akibat terhantam aspal jalanan yang tidak mampu mencabut nyawanya.

Gadis itu bukan berjalan tanpa tujuan, ia jelas menuju pusat hiburan malam yang tak jauh dari jembatan penyeberangan tadi.

Tujuannya, bukan untuk mabuk dan bersenang-senang. Tapi untuk, menjual satu-satunya harta yang ia punya yaitu..keperawanan.

Jika memang ada yang mau, Philia rela menjualnya. Tidak perlu mahal, yang penting cukup untuk menebus biaya rumah sakit Ibunya saja.

Sisanya, untuk membayar cicilan utang yang bunganya sudah mekar semerbak mewangi.

Ia tahu, bagi perempuan tak berdaya seperti dirinya hanya badanlah yang bisa dijual dengan cepat dan mahal.

Langkah kaki Philia terus menggiring tubuh ringkihnya masuk ke pusat kota. Jalanan malam Jakarta memang tidak ramah untuk orang yang lapar dan kehilangan seperti dirinya.

Tapi, selalu ada tempat untuk mereka yang mau berusaha meskipun dengan jalan yang salah.

Philia terus berjalan, menyusuri trotoar dengan lampu jalanan yang memancarkan sinar kekuningan.

Langkahnya terus melaju, sampai akhirnya ia masuk ke dalam sebuah daerah hiburan malam yang kian gemerlap di malam gelap.

Lampu-lampu hotel berbintang bersinar seperti bintang yang mustahil dijangkau oleh manusia kecil macam dirinya.

Philia terus berjalan hingga berhenti di depan sebuah tempat hiburan malam. Musik berdentum, lampu berwarna ungu berkedip-kedip menyilaukan mata.

Tempat yang awalnya hanya ia lihat di berita kriminal, kini menjadi satu-satunya tempat yang menerima orang seperti dirinya. Orang yang putus asa, miskin, dan sendirian.

Ia menatap papan nama tempat tersebut.

AMORE...BAR...

Philia menelan ludah. Dengan langkah yang diseret, gadis itu masuk ke salam dan langsung menuju meja resepsionis. Didekatinya resepsionis dengan pakaian seksi tersebut.

"Permisi..."

"Saya..." Philia menelan ludah, sembari memilin jari jemarinya gelisah.

Resepsionis tersebut nampak menunjukkan ekpresi tidak ramah. Mungkin, karena tampilan Philia yang menyedihkan.

"Maaf, pengemis dilarang masuk." Tegurnya.

Philia tergagap, lalu cepat-cepat merapikan pakaian dan rambutnya yang berantakan.

"Saya bukan pengemis..."

"Tapi...saya... mau...kerja." Lirihnya.

Resepsionis tersebut mengerutkan alisnya.

"Kerja? Tapi kami lagi gak buka lowongan."

"Maaf, silahkan keluar." Titahnya.

Philia buru-buru menyela. "Saya masih virgin, dan saya mau menjualnya."

"Malam ini juga." Ucap Philia, cepat dan berani.

Resepsionis bernama Tabita itu menatap Philia lekat-lekat, dari atas sampai bawah.

"Ukuran dada?" Tanyanya langsung, seolah sedang menginterview calon karyawan.

"38." Jawab Philia.

"Ada penyakit kelamin?" Lanjutnya.

Philia menggeleng.

"Sedang datang bulan?"

Philia juga menggeleng.

"Bau badan? Penyakit kulit? Bau mulut?"

Philia terus menggeleng.

"Orang-orang bilang saya cantik dan tubuh saya bagus."

"Jadi, saya memberanikan diri melamar kemari."

"Saya hanya miskin, jadi terlihat menyedihkan." Ujar Philia, mencoba meyakinkan bahwa dirinya layak untuk bekerja di sini.

Tabita mengulas dagu.

"Hmmm."

"Yasudah."

"Lanjut ke dalam, nanti kamu diinterview lagi sama bos."

Perempuan itu menunjuk sebuah ruangan lain di belakang ruangan resepsionis.

Philia mengangguk, lalu masuk ke dalam sana. Setelah ini ia tahu, bahwa hidupnya...tak akan pernah sama lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Bintang Marshall
penasaran banget sama lanjutannya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dosen Penyewa Rahimku   Apa Kamu Suka?

    "TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em

  • Dosen Penyewa Rahimku   Dia Milikku!

    Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun

  • Dosen Penyewa Rahimku   Aku Cemburu, Philia

    "Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g

  • Dosen Penyewa Rahimku   Harapan Timur vs Kekecewaan Philia

    "Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph

  • Dosen Penyewa Rahimku   Mulai Jatuh Cinta

    Ting.. tong!!! Suara bel terdengar nyaring di telinga. Timur yang baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya itu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah empat sahabatnya. Bryan, Martin, Tiara dan Yura yang datang berkunjung ke apartemen Timur. Bukan tanpa alasan mereka berkumpul, tapi karena semuanya ingin bertemu Philia. Apalagi Tiara dan Yura, dua perempuan yang dulu sangat dekat dengan Philia. "Mana si Philia?" tanya Yura, mengabaikan Timur yang membukakan pintu. "Sapa gue dulu bisa kali," sungutnya. Teman-temannya itu memang sudah mengetahui kehadiran Philia di apartemen ini, mereka juga sudah mengetahui kerja sama gila di antara keduanya. Sebenarnya mereka ingin sekali menasehati Timur agar tidak bertindak gila begitu, namun mereka tidak mau ikut campur terlalu jauh. Biarlah itu menjadi urusan mereka saja, untuk saat ini bisa bertemu dengan Philia lagi adalah hal yang jauh lebih penting. "Tujuan gue ke sini mau ketemu si Phili, kalau ketemu

  • Dosen Penyewa Rahimku   (++)Melepas Kesucian

    Timur menggeleng pelan, lalu membuang pandangan menghindari sorot mata Philia yang tidak bisa ia lawan. Jujur saja, dadanya juga berdegup kencang saat manik cantik gadis itu menatapnya. Seperti ada pedang tajam yang menusuk-nusuk kewarasannya. "Phi, kita ngomong besok lagi, kita sama-sama capek." Timur berusaha bangun, namun Philia menahannya. Sorot mata gadis itu masih sama tajamnya, seolah tekadnya sudah bulat. "PHILIA.. Ayo tidur, kamu gak bisa mikir jernih, Phi." Timur berusaha melepaskan tangan Philia. Namun hal gila justru Philia lakukan, gadis itu meninggikan posisi tubuhnya dan melayangkan sebuah kecupan singkat dan tipis di bibir Timur. Netra mereka beradu, saling tatap dalam dan lama. "Phi, jangan mancing-mancing." Timur jelas masih mencoba membentengi diri, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis ini lah yang belakangan kerap hadir di lamunannya. "Aku pernah nikah, Phi. Kamu tahu siapa yang ada di depan kamu," tegas Timur. Namun, Philia juga tidak takut dengan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status