LOGINmakasih ya yang udah baca ❤️🔥🫰
"TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em
Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun
"Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g
"Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph
Ting.. tong!!! Suara bel terdengar nyaring di telinga. Timur yang baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya itu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah empat sahabatnya. Bryan, Martin, Tiara dan Yura yang datang berkunjung ke apartemen Timur. Bukan tanpa alasan mereka berkumpul, tapi karena semuanya ingin bertemu Philia. Apalagi Tiara dan Yura, dua perempuan yang dulu sangat dekat dengan Philia. "Mana si Philia?" tanya Yura, mengabaikan Timur yang membukakan pintu. "Sapa gue dulu bisa kali," sungutnya. Teman-temannya itu memang sudah mengetahui kehadiran Philia di apartemen ini, mereka juga sudah mengetahui kerja sama gila di antara keduanya. Sebenarnya mereka ingin sekali menasehati Timur agar tidak bertindak gila begitu, namun mereka tidak mau ikut campur terlalu jauh. Biarlah itu menjadi urusan mereka saja, untuk saat ini bisa bertemu dengan Philia lagi adalah hal yang jauh lebih penting. "Tujuan gue ke sini mau ketemu si Phili, kalau ketemu
Timur menggeleng pelan, lalu membuang pandangan menghindari sorot mata Philia yang tidak bisa ia lawan. Jujur saja, dadanya juga berdegup kencang saat manik cantik gadis itu menatapnya. Seperti ada pedang tajam yang menusuk-nusuk kewarasannya. "Phi, kita ngomong besok lagi, kita sama-sama capek." Timur berusaha bangun, namun Philia menahannya. Sorot mata gadis itu masih sama tajamnya, seolah tekadnya sudah bulat. "PHILIA.. Ayo tidur, kamu gak bisa mikir jernih, Phi." Timur berusaha melepaskan tangan Philia. Namun hal gila justru Philia lakukan, gadis itu meninggikan posisi tubuhnya dan melayangkan sebuah kecupan singkat dan tipis di bibir Timur. Netra mereka beradu, saling tatap dalam dan lama. "Phi, jangan mancing-mancing." Timur jelas masih mencoba membentengi diri, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis ini lah yang belakangan kerap hadir di lamunannya. "Aku pernah nikah, Phi. Kamu tahu siapa yang ada di depan kamu," tegas Timur. Namun, Philia juga tidak takut dengan







