Masuk"Kamu... masih perawan?"
Philia mengangguk pelan. Jemarinya mencengkram ujung kaus yang ia pakai dengan gemetaran. Tubuhnya menggigil karena rintik hujan sepanjang malam yang menghajar tubuhnya sejak tadi, membuatnya yang sudah rapuh semakin runtuh. Julian, mucikari kelas kakap di Amore Bar dimana Philia berada tersenyum miring, seperti baru saja menemukan berlian di tumpukan debu. "Mau dilepas berapa?" Tanyanya, dengan seringai kecil mengerikan. Philia tak menjawab. Matanya kosong, tapi sorotnya menyimpan badai yang bergemuruh. Di dalam kepalanya hanya ada dua alasan untuk melakukan semua ini. Yakni bayangan sosok ibunya yang terbaring di kasur rumah sakit, serta bayangan ayahnya yang tengah meringkuk di penjara tanpa mampu mengajukan banding apalagi menyewa pengacara untuk meringankan kasusnya. Philia tidak boleh gentar, tidak boleh menyerah. dengan yakin ia merogoh saku tasnya lalu mengeluarkan sebuah lembar tagihan rumah sakit. Ia membuka kertas itu, lalu membacanya. "20.585.500." Jawabnya, sesuai angka tagihan pengobatan ibunya. Mucikari itu tersenyum miring, sebuah angka yang murah bagi "ikan segar" seperti dirinya. "Boleh tambah 2.500.000? Saya bisa kerja lebih banyak." "Karena saya butuh uang." Lirihnya. Julian mengangguk, sembari menjilat bibirnya dengan rakus. "Jangankan nambah segitu, lebih juga boleh kalo kerja kamu oke." "Tapi sebelumnya, saya tes dulu. Takutnya kamu perawan bodong." Julian maju, dan membuat Philia mundur ketakutan. "EEh, gak usah takut." "Yang meriksa si Mamih, cuma diraba. Semua harus jelas, kalo ternyata kamu janda ngaku gadis gimana?" Julian mengode Maya, "Mamih" di sana untuk memeriksa keperawanan Philia. Mamih sendiri ditujukan kepada seseorang yang bertugas mengurus para tunasusila ini, dari mulai mengatur pakaian, riasan, sampai cara kerja yang baik dan benar. Dan, meskipun takut namun Philia menurut. Ia dibawa ke ruangan lain, untuk diperiksa luar oleh Maya. Pemeriksaanya juga hanya diraba dan didorong dengan satu jari, saat sempit dan ada penghalang, tandanya benar selaput itu masih tersegel. "Aman." Ujar Maya kepada Julian, mereka mengode dengan jempol tanda barang ini bagus sekali. "Mulus, bersih, kasih naik harga aja boss." Bisik Maya. Julian mengangguk paham. "Oke..langsung dandanin dan kasih dia baju paling bagus. Saya tawarin malam ini juga, mumpung lagi rame." Titahnya yakin. Dan, di ruangan inilah Philia kini berada. Sebuah kamar kecil dengan deretan gaun malam yang seksi dan mencolok mata. Sepertinya, ini adalah ruang ganti untuk para pekerja di sini. "Pakai baju ini, cepetan ya. Tamu lagi rame, Mamih banyak kerjaan." Maya menyerahkan sebuah gaun tanpa lengan yang bagian punggungnya terbuka. Gaun itu lembut, harum dan berkilauan. Philia menyentuh gaun itu ragu. Seterbuka ini? Jujur, ia malu. "Hey, buruan! Mami mau kerja lagi, kamu ganti baju dulu sana!" Titahnya, nada bicaranya agak meninggi dan membuat Philia takut. Tidak mau membuat orang-orang ini marah, akhirnya Philia bergegas mengganti pakaiannya di ruangan tersebut. Satu persatu baju lusuhnya ditanggalkan, berganti dengan dres hitam berkilau ini. Sesaat ada rasa malu, namun detik berikutnya Philia kembali tegar dan yakin dengan pilihan hidupnya. Demi ayah dan ibunya, dan demi menyelesaikan masalah yang menyergap kebahagiaannya. Hitungan menit, riasan mencolok sudah bercokol di wajahnya. Alis yang melengkung tebal, bulu mata yang lentik dan panjang, eyeshadow berkilauan, serta bibir yang merah ranum nampak asing di mata Philia. Gadis itu menatap cermin, menatap sosok manusia putus asa yang sangat hina. Benarkah malam ini ia akan menyerahkan kesuciannya? Benarkah malam ini adalah hari terakhir ia menjaga marwahnya? "Gak usah takut, diperawanin gak sesakit kelaparan karena gak punya uang." Ujar Maya, menyadari bahwa Philia sempat ragu dengan pilihannya. "Kalo ada yang mau beli perawan kamu dengan harga mahal, bagus. Karena jaman sekarang, perawan itu murah-murah. Gratis juga banyak." "Semoga kamu laku besar, enak kok.. tinggal tidur doang bisa dapet duit." Ujarnya sembari berlalu. Philia termenung, meresapi kalimat Maya yang ada benarnya. Sesakit-sakitnya kehilangan keperawanan.. lebih sakit lagi hidup miskin tanpa uang sama sekali. Lagipula untuk apa mempertahankan kesuciannya? Toh Philia tidak pernah berminat untuk menikah suatu hari nanti. Daripada sia-sia, lebih baik ia jual saja. CKLIK!! Pintu ruangan saat itu terbuka, berbarengan dengan Julian yang masuk sembari bertelepon. "Barang bagus boss, masih muda.. yah 20 tahunan lah. Masih kuliah dia, cuma nunggak..makanya mau jual perawan." Julian bertelepon, sembari masuk dan memeriksa kondisi Philia. Apakah kondisinya sudah siap jual atau belum. Ternyata, sudah siap. Gadis itu nampak cantik dan pangling, berbeda sekali dengan kondisinya saat pertama kali datang ke sini. "Wah, kalo barang sih dijamin ORI pabrikan, boss." "Masih gress, pulen, barang bagus ini.. saya gak pernah nawarin yang begini, biasanya langsung diambil pejabat." "Gimana? 35 juta angkut ya? Garansi lima hari, bebas pakai asal bayar di muka." Philia membelalak, mendengar angka yang disebutkan sangat jauh dari harga yang ia sebutkan. "Gimana? Angkut gak? Kalo deal, saya bawa sekarang juga nih." Julian menatap Philia, lalu mengangkat alis tanda bahwa ia punya kabar bagus. "Gimana boss? Hah? mau tanya dulu? Ah.. jangan lama-lama boss, cepet laku nih. Kalo boss gak ambil sekarang, saya jual sama yang lain ya?" Ancam Julian. Sebuah trik murahan. Pria kurus itu terus menawar, mencoba memberikan banyak penawaran yang menguntungkan dua belah pihak. Namun sepertinya keputusan pihak sana masih sama yakni ingin diskusi dulu. Dengan kesal, Julian mematikan panggilan tersebut. "Hah, dasar cowok miskin. Duit segitu doang pake mikir-mikir. Padahal ini kan barang bagus!" Julian bersungut-sungut kesal, karena kesepakatan di depan mata justru harus tertunda. Ia duduk di atas kursi, membakar rokok dan menghembuskan asapnya ke udara untuk mengusir kesal. Malam itu, hujan di luar terasa makin deras. Dan di tengah dinginnya udara, ada seorang gadis yang gelisah menunggu hasil kesepakatan yang dijanjikan calon pembelinya. Dan, entah doa siapa yang dikabulkan, ponsel Julian kembali berdering. Dengan gerakan cepat, pria itu langsung mengangkat panggilan. "Boss, gimana? Deal gak?" Tanya Julian, tidak sabar. Netranya berbinar, lidahnya menjulur, ujung bibirnya basah dan wajahnya sumringah ketika mendengar jawaban dari seberang sana. "45 juta? Pemakaian seminggu?" "DEAL!!!" Ucapnya, membuat Philia sontak menegang. Jadi, ia sudah laku? Ia benar-benar akan menyerahkan kesuciannya? Siapa orang itu? Bagaimana perangainya dan.. apakah Philia mampu melewati malam ini dengan baik-baik saja?"TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em
Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun
"Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g
"Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph
Ting.. tong!!! Suara bel terdengar nyaring di telinga. Timur yang baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya itu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah empat sahabatnya. Bryan, Martin, Tiara dan Yura yang datang berkunjung ke apartemen Timur. Bukan tanpa alasan mereka berkumpul, tapi karena semuanya ingin bertemu Philia. Apalagi Tiara dan Yura, dua perempuan yang dulu sangat dekat dengan Philia. "Mana si Philia?" tanya Yura, mengabaikan Timur yang membukakan pintu. "Sapa gue dulu bisa kali," sungutnya. Teman-temannya itu memang sudah mengetahui kehadiran Philia di apartemen ini, mereka juga sudah mengetahui kerja sama gila di antara keduanya. Sebenarnya mereka ingin sekali menasehati Timur agar tidak bertindak gila begitu, namun mereka tidak mau ikut campur terlalu jauh. Biarlah itu menjadi urusan mereka saja, untuk saat ini bisa bertemu dengan Philia lagi adalah hal yang jauh lebih penting. "Tujuan gue ke sini mau ketemu si Phili, kalau ketemu
Timur menggeleng pelan, lalu membuang pandangan menghindari sorot mata Philia yang tidak bisa ia lawan. Jujur saja, dadanya juga berdegup kencang saat manik cantik gadis itu menatapnya. Seperti ada pedang tajam yang menusuk-nusuk kewarasannya. "Phi, kita ngomong besok lagi, kita sama-sama capek." Timur berusaha bangun, namun Philia menahannya. Sorot mata gadis itu masih sama tajamnya, seolah tekadnya sudah bulat. "PHILIA.. Ayo tidur, kamu gak bisa mikir jernih, Phi." Timur berusaha melepaskan tangan Philia. Namun hal gila justru Philia lakukan, gadis itu meninggikan posisi tubuhnya dan melayangkan sebuah kecupan singkat dan tipis di bibir Timur. Netra mereka beradu, saling tatap dalam dan lama. "Phi, jangan mancing-mancing." Timur jelas masih mencoba membentengi diri, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis ini lah yang belakangan kerap hadir di lamunannya. "Aku pernah nikah, Phi. Kamu tahu siapa yang ada di depan kamu," tegas Timur. Namun, Philia juga tidak takut dengan







