Share

Menanam Benih

Author: Kaya Raya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-08 14:54:17
Suasana koridor rumah sakit itu sibuk sekali. para petugas medis mondar-mandir mengurus pasien, sementara beberapa orang juga berlarian mengejar waktu.

Bau antiseptik khas rumah sakit terasa menusuk hidung, membuat Philia menegang bukan main.

Gadis itu berjalan pelan di samping Timur, langkahnya masih limbung. Matanya sembap, namun ia berusaha terlihat tenang untuk menghadapi situasi ini.

Mereka berhenti di depan pintu bertuliskan:

Unit Fertilitas dan Program Bayi Tabung.

Timur menat
Kaya Raya

Makasih ya yang udah baca ❤️‍🔥🫰

| 3
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dosen Penyewa Rahimku   Ngidam

    Mendengar pengakuan Philia, Timur tentu saja merasa sangat bahagia. Ada kelegaan yang sulit digambarkan karena akhirnya kehamilan yang selama ini mereka bicarakan benar-benar terjadi. Namun, kebahagiaan itu rupanya tidak dirasakan oleh Philia. Setelah mengakui kehamilannya, gadis itu justru semakin menjaga jarak. Bahkan, membujuknya untuk sekadar berbicara baik-baik saja sudah menjadi pekerjaan yang sulit bagi Timur. Lelaki itu mulai kehabisan cara untuk meluluhkan hati perempuan yang dicintainya. Seperti hari ini, Philia kembali mengalami muntah-muntah. Tubuhnya terlihat lemah, wajahnya pucat, bahkan untuk beraktivitas seperti biasa saja gadis itu tampak kesulitan. Timur yang melihat keadaan tersebut tentu tidak bisa tinggal diam. "Kita periksa ke dokter ya, Phi?" ajaknya. "Biar nanti kamu diperiksa dan dikasih vitamin. Aku gak mau kamu lemas begini terus." Philia mendengus. Tentu saja Timur akan memprioritaskan kehamilan ini. Lelaki itu menginginkan janin yang dikandungnya tumbu

  • Dosen Penyewa Rahimku   Mual

    "Hoek!!!!" Suara muntahan itu menggema di toilet apartemen milik Timur. Philia berpegangan pada tepian wastafel, sementara tangan satunya menekan perut yang terasa tidak nyaman. Rasa mual itu kembali menyerangnya, padahal sejak pagi ia sudah beberapa kali mengeluarkan isi perutnya. Tiga bulan berlalu sejak pertengkaran hebat mereka di belakang kampus. Namun, hubungan Philia dan Timur masih jauh dari kata membaik. Keduanya memang tinggal di bawah atap yang sama, tetapi komunikasi di antara mereka nyaris tidak ada. Philia enggan mengajak lelaki itu bicara, bahkan sebisa mungkin menghindari pertemuan yang tidak perlu. Awalnya, Philia berniat mengakhiri kontrak konyol tersebut dan menerima segala risiko yang mungkin muncul setelahnya. Ia sudah lelah terikat dalam hubungan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Sayangnya, keadaan justru semakin rumit karena dirinya telanjur hamil. Ya, Philia sudah mengetahui kehamilannya. Ia bahkan sudah memeriksakan diri dan memastikan bahwa a

  • Dosen Penyewa Rahimku   Apa Kamu Suka?

    "TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em

  • Dosen Penyewa Rahimku   Dia Milikku!

    Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun

  • Dosen Penyewa Rahimku   Aku Cemburu, Philia

    "Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g

  • Dosen Penyewa Rahimku   Harapan Timur vs Kekecewaan Philia

    "Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph

  • Dosen Penyewa Rahimku   Takdir yang Lucu

    Perkuliahan berjalan seperti biasanya, mahasiswa fokus menyimak dan dosen fokus menjelaskan. Meskipun ada beberapa perbedaan cara pandang terhadap materi, dan ada sekali dua kali debat kecil antara dosen dan mahasiswa itu namun semuanya masih berjalan mulus. Suara gesekan spidol di papan tulis, t

  • Dosen Penyewa Rahimku   Ternyata, Dosenku

    "Saya mau masuk, saya harus bertemu orang di atas!" Philia meronta, mencoba menghalau pagar betis yang dibuat dua sekuriti di depan Amore Bar. "Maaf, anda tidak diperkenankan masuk, apapun alasannya." Ucap si sekuriti berambut plontos itu datar, membuat Philia menggeleng kencang. "Tapi saya per

  • Dosen Penyewa Rahimku   Dia Masa Laluku

    "Lo tau nama gue? Lo kenal sama gue?" Tatapan Timur menusuk, penuh keraguan yang perlahan berubah jadi kejutan. "Tunggu, nama lo siapa tadi?" Pemuda itu mengangkat wajah Philia yang menunduk dengan jari telunjuknya. "Philia, kan?" Ia mengamati wajah itu dengan seksama. Mata yang bulat seperti

  • Dosen Penyewa Rahimku   Saling Mengenal

    Pintu apartemen tertutup, menandai dimulainya malam panjang yang mungkin akan penuh tantangan. Philia berdiri di ambang pintu meremas jemarinya sendiri dengan perasaan gusar. Ia masih berdiri di sana, kaku sekali. "Masuk." Titah Timur. Dengan gerakan canggung, Philia beranjak dari ambang pint

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status