Home / Romansa / Dosen Penyewa Rahimku / Takdir yang Lucu

Share

Takdir yang Lucu

Author: Kaya Raya
last update Last Updated: 2025-12-20 19:22:05

Perkuliahan berjalan seperti biasanya, mahasiswa fokus menyimak dan dosen fokus menjelaskan. Meskipun ada beberapa perbedaan cara pandang terhadap materi, dan ada sekali dua kali debat kecil antara dosen dan mahasiswa itu namun semuanya masih berjalan mulus.

Suara gesekan spidol di papan tulis, terasa begitu nyaring di telinga Philia. Gadis itu terkadang memejamkan mata, terkadang juga menutup telinga.

Semua ucapan dan kata yang keluar dari bibir lelaki itu seperti serangan peluru yang tidak memberi jeda bagi Philia untuk menghindar.

"Jadi, bisnis itu bukan hanya transaksi jual beli. Melainkan proses bertahan hidup juga untuk sebagian besar pelaku usaha."

"Ada yang bisa memberikan contoh?" Suara Timur memenuhi seisi kelas, disambut gumaman para mahasiswa yang sibuk mencari jawaban.

Adapun Philia, gadis itu masih menunduk, menutup sebagian wajah dengan rambutnya agar tidak terperhatikan. Yah, meskipun ia tahu lambat laun Timur akan menyadari keberadaanya lewat absensi. Tapi setidaknya tidak sekarang, tidak secepat ini.

"Yang di pojok." Suara Timur tiba-tiba terasa dekat

"Coba beri contoh." Ujarnya dingin.

Philia mengangkat wajahnya, dan..

PRANK!!!

Pena yang ia genggam meluncur ke lantai, keras sekali sampai membuat seisi kelas menengok padanya.

"Bisa berikan contoh dari materi yang saya paparkan?" Tanya Timur, dingin dan datar.

Philia menelan ludah, lalu berdehem pelan.

"Bi..bisa." Gadis itu menegakkan duduknya, menarik napas beberapa saat sebelum mengemukakan pendapat.

"Bisnis sebagai proses bertahan hidup itu.." Philia sempat melirik Timur sejenak, namun buru-buru membuang pandangan ke arah lain.

"Biasa dilakukan industri kecil, UMKM atau perorangan."

"Biasanya dengan skala kecil, terbatas dan.. tanpa modal yang besar." Jawabnya.

Timur berjongkok, memungut pena yang Philia jatuhkan lalu membawanya pergi sembari berjalan ke depan kelas.

"Betul, industri skala kecil atau perorangan biasa melakukan bisnis untuk tujuan personal, bukan ekonomi. Biasanya mereka melakukan bisnis secara impulsif, tanpa pikir panjang resikonya." Dosen itu terus menjelaskan, seolah benar tengah memberikan contoh dari materi yang ia bahas.

Namun lain di telinga Philia, ia merasa Timur sedang menyindir dirinya.

Bisnis skala kecil? Perorangan? Alasan personal? Apa itu? Bukankah semuanya terlalu menohok dirinya?

"Untuk teman-teman ketahui, bisnis dengan alasan personal kurang dianjurkan karena bisa menciptakan bias dan kekacauan. Bisnis yang benar itu dilandasi perkiraan, perhitungan dan permintaan pasar." Timur terus menjelaskan, sembari mengetuk-ngetuk pena Philia di atas meja.

"Jangan sembarangan memulai bisnis, apalagi tanpa perhitungan dan untung rugi yang jelas."

"Baik, pertemuan kali ini dicukupkan." Pungkas Timur, menyadari waktu sudah berlalu tanpa terasa.

"Silahkan pindai kontak saya, agar memudahkan konsultasi untuk tugas dan ujian." Pemuda itu menampilkan kode aplikasi chatnya melalui proyektor kelas.

Semua mahasiswa apalagi para gadis langsung mengeluarkan ponsel, memindai kode aplikasi bincang dosen tampan itu.

Mereka tentu tidak mau ketinggalan, mengingat Timur ini dosen muda yang tampan. Usianya saja tidak jauh beda, mungkin hanya terpaut 5-6 tahun dari mereka.

Jika semua gadis antusias, maka ada satu gadis yang hanya diam saja di pojok. Siapa lagi kalau bukan Philia? Gadis itu hanya menunduk, kedua tangannya merapikan buku-buku dan alat tulis tanpa berminat untuk memindai kode itu sama sekali.

Baginya, Timur hanyalah masa lalu yang tidak perlu hadir lagi di hidupnya.

Meskipun kini Timur adalah dosennya, namun Philia juga tidak memerlukan komunikasi apapun dengannya. Toh, ia akan mengajukan cuti esok karena tidak punya uang untuk membayar iuran semesteran.

**

Tuk..Tuk...Tuk..

Timur mengetuk-ngetuk pena di atas meja, sembari memperhatikan mahasiswi satu-satunya yang masih tersisa di ruangan kelas ini.

Philia bukan sengaja ingin berduaan dengan Timur, namun ia memang terbiasa seperti ini. Masuk belakangan, pulang juga belakangan.

Ia selalu menghindari kontak dengan siapapun, termasuk teman sekelasnya.

Setelah semuanya pergi, Philia barulah beranjak dari kursinya. Sial, ruangan ini hanya punya satu pintu saja. Mau tidak mau Philia harus jalan ke depan dan melewati Timur untuk keluar dari kelas.

Gadis itu sempat ragu, terlebih ketika dosen itu masih duduk bersandar di tepian meja sambil menatap ke arahnya.

Ada rasa enggan, malas, juga malu.

Ya, malu. Bagaimana mungkin Philia bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Padahal semalam ia dicumbu seperti seorang perempuan yang paling Timur cintai.

Tapi, semalam adalah proses transaksi seksual yang sudah berlalu. Kini mereka dipertemukan lagi dalam kondisi lain, yakni dosen dan mahasiswa.

Baiklah, Philia tidak akan menghindar. Untuk apa juga? Toh, Minggu depan mereka akan bertemu lagi.

Dengan dada busung dan wajah yang terangkat penuh percaya diri, Philia mulai berjalan, matanya menatap lurus ke arah depan tanpa takut.

Netra mereka sempat beradu beberapa detik, sampai akhirnya Philia yang memutuskan untuk membuang pandangan terlebih dahulu.

Sedikit lagi, nyaris saja Philia sampai di ambang pintu sampai suara itu menghentikan langkahnya.

"Pulpennya? Gak butuh?" Tanyanya.

Philia tertegun, lalu berbalik perlahan.

"Buat Bapak saja, sepertinya Bapak sangat perlu." Sahutnya datar.

Timur tersenyum miring, lalu melemparkan pena itu ke arah Philia, tentu saja gadis itu menangkapnya dengan sedikit gelagapan karena kaget.

"Terimakasih, mari Pak." Pamitnya seraya berbalik.

Timur tidak menjawab, ia malah menghela napas dalam dan berat.

"Setelah berhasil menjadi pelacur buat saya, sekarang kamu menjelma jadi mahasiswi saya."

"Sebegitunya kamu berusaha buat nyari perhatian saya, Philia." Ujar Timur, pelan namun cukup kencang untuk masuk ke telinganya.

"Saya sudah lulus S2, semua temen-temen kamu juga sama. Kenapa kamu masih semester tiga? Berapa kali kamu mengulang?" Tanyanya.

Philia tidak menjawab, ia masih membelakangi Timur tanpa berniat untuk menyahut.

"Hidup kamu memperihatinkan, itu semua karena kamu kena karma."

Philia meremas tali tasnya dengan kesal.

Karma? Apa karma yang ia terima? Selama ini, ia tidak pernah berbuat jahat kok!

"Hidup menyedihkan, menjual keperawanan yang gak seberapa, gagal kuliah berulang kali, sampai akhirnya kamu ada di titik ini."

"Menyedihkan." Timur terkekeh, lalu dengan sengaja berjalan dan menubruk pundak Philia.

Gadis itu terhuyung, nyaris jatuh mencium lantai. Namun kedua kakinya sigap menahan agar dirinya tidak semakin menyedihkan.

"Sampai ketemu minggu depan, mahasiswiku." Timur menunduk, menyamakan posisinya dengan Philia sampai wajah mereka sejajar.

Netra keduanya saling temu, menyampaikan banyak perasaan yang lama terpendam.

Ada benci, kesal, kecewa, dan marah.

"Baik, sampai bertemu Pak Timur." Sahut Philia, tidak kalah berani.

Lantas ia berjalan duluan, mengabaikan Timur yang masih menatap dirinya dengan tajam.

Sepanjang jalan, langkah Philia terasa seperti gempa bumi. Ada getaran yang berasal dari rasa benci dan kecewa, karena takdir begitu lucu di hidupnya.

Kurang lebih tujuh tahun Philia menghilang, menjauh dari Timur dan semua teman-temannya semasa SMA. Susah payah ia bersembunyi, tidak berinteraksi sama sekali.

Namun sialnya, kini ia malah kembali terhubung dengan Timur, lelaki yang sudah mengolok-olok dirinya dan menolak cintanya di hadapan ratusan murid dan guru sekolah.

Padahal dulu, mereka adalah dua sejoli yang begitu dekat. Mereka duduk di kelas yang sama sejak kelas satu SMA, bahkan mereka duduk sebangku selama tiga tahun itu.

Kedekatan mereka bak legenda, banyak orang yang tahu bahwa pasangan jenius SMA tersebut saling menyukai.

Philia si jenius Kimia, dan Timur si jenius Matematika.

Mereka kerap ikut olimpiade bersama, mewakili sekolah untuk lomba-lomba penting, dan aneka kegiatan lain.

Semua murid tahu kedekatan mereka, guru juga tahu dan mewanti-wanti mereka untuk berpacaran setelah lulus saja.

Dan, Philia hendak mewujudkan itu. Tepat saat hari perpisahan sekolah tiba, gadis itu dengan berani menyatakan cintanya di hadapan umum.

Di atas panggung, dengan mikrofon ia berkata bahwa Timur Alendra Tirta adalah cinta pertamanya.

Philia mengajaknya berpacaran, Philia membawakan sebuket bunga mawar yang indah, dan Philia juga yang secara berani meminta status kejelasan.

Ia yakin cintanya bersambut, ia yakin hubungan mereka akan bermuara. Akan tetapi, nasib berkata lain.

Saat Timur naik ke panggung, ia menerima buket itu dan.. melemparnya ke hadapan Philia.

Buket yang indah, wangi, dan cantik itu berhamburan hancur.. berbarengan dengan hati Philia yang terluka.

Timur menolaknya, Timur berkata ia sudah punya kekasih, dan Timur berkata akan menikah dengan.. Alana.

Ia primadona sekolah, cantik dan digemari banyak lelaki.

Namun, Philia tidak pernah tahu sejak kapan mereka dekat? Bukankah.. Timur hanya dekat dengan dirinya saja?

**

DUK!!!

Tubuh Philia menubruk salah satu mahasiswa yang tengah berjalan di depannya. Gadis itu meringis, menyentuh dahinya yang sakit.

"Jalan liat-liat dong, nunduk mulu!" Tegur mahasiswa yang Philia juga tidak kenal.

Gadis itu menunduk, mengucapkan maaf karena terlalu asyik melamun sampai tidak melihat jalan.

Semua ini karena Timur, jika pemuda itu tidak mengusiknya mungkin Philia juga sudah lupa dengan kisah kelam semasa remajanya.

Tapi benarkah ia akan lupa jika Timur menghilang? Nyatanya, setiap malam Philia selalu dibayang-bayangi sosok pemuda itu. Cinta pertamanya, yang mungkin akan menjadi cinta terakhirnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosen Penyewa Rahimku   Apa Kamu Suka?

    "TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em

  • Dosen Penyewa Rahimku   Dia Milikku!

    Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun

  • Dosen Penyewa Rahimku   Aku Cemburu, Philia

    "Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g

  • Dosen Penyewa Rahimku   Harapan Timur vs Kekecewaan Philia

    "Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph

  • Dosen Penyewa Rahimku   Mulai Jatuh Cinta

    Ting.. tong!!! Suara bel terdengar nyaring di telinga. Timur yang baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya itu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah empat sahabatnya. Bryan, Martin, Tiara dan Yura yang datang berkunjung ke apartemen Timur. Bukan tanpa alasan mereka berkumpul, tapi karena semuanya ingin bertemu Philia. Apalagi Tiara dan Yura, dua perempuan yang dulu sangat dekat dengan Philia. "Mana si Philia?" tanya Yura, mengabaikan Timur yang membukakan pintu. "Sapa gue dulu bisa kali," sungutnya. Teman-temannya itu memang sudah mengetahui kehadiran Philia di apartemen ini, mereka juga sudah mengetahui kerja sama gila di antara keduanya. Sebenarnya mereka ingin sekali menasehati Timur agar tidak bertindak gila begitu, namun mereka tidak mau ikut campur terlalu jauh. Biarlah itu menjadi urusan mereka saja, untuk saat ini bisa bertemu dengan Philia lagi adalah hal yang jauh lebih penting. "Tujuan gue ke sini mau ketemu si Phili, kalau ketemu

  • Dosen Penyewa Rahimku   (++)Melepas Kesucian

    Timur menggeleng pelan, lalu membuang pandangan menghindari sorot mata Philia yang tidak bisa ia lawan. Jujur saja, dadanya juga berdegup kencang saat manik cantik gadis itu menatapnya. Seperti ada pedang tajam yang menusuk-nusuk kewarasannya. "Phi, kita ngomong besok lagi, kita sama-sama capek." Timur berusaha bangun, namun Philia menahannya. Sorot mata gadis itu masih sama tajamnya, seolah tekadnya sudah bulat. "PHILIA.. Ayo tidur, kamu gak bisa mikir jernih, Phi." Timur berusaha melepaskan tangan Philia. Namun hal gila justru Philia lakukan, gadis itu meninggikan posisi tubuhnya dan melayangkan sebuah kecupan singkat dan tipis di bibir Timur. Netra mereka beradu, saling tatap dalam dan lama. "Phi, jangan mancing-mancing." Timur jelas masih mencoba membentengi diri, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis ini lah yang belakangan kerap hadir di lamunannya. "Aku pernah nikah, Phi. Kamu tahu siapa yang ada di depan kamu," tegas Timur. Namun, Philia juga tidak takut dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status