LOGINSetengah jam duduk di ruang tengah bersama Giorgio, Vivi bangkit dari sofa. "Gio." Suara Vivi memecah keheningan, sedikit serak. "Aku ... ke kamar duluan ya. Udah ngantuk."
Giorgio hanya bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. "Hm, oke. Tidur aja."Vivi berdiri. Jauh di dalam hatinya, ia berharap suaminya akan bertanya lebih jauh, mungkin menawarkan pijatan atau sekadar pelukan. Namun, tidak ada.Ia melangkah ke kamar tidur. Rasa lega menyelimutinya begitu pintu tertutup, memisahkan dirinya dari keberadaan Giorgio. Sebelum membaringkan tubuh, Vivi meraih ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat, merangkai sebuah kebohongan yang sudah ia siapkan.Vivi: La, besok aku jam sembilan sudah di pool travel.Ia menekan kirim, merasakan sensasi getir di tenggorokannya. Tak butuh waktu lama, balasan dari Lala, masuk.Lala: Ok, Vi. Besok aku nyusul ke pool travel.Vivi tidak membalas lagi. Ia hanya menatap layar poSuasana rumah di Ciumbuleuit yang tenang menjadi saksi bisu perjuangan Vivi. Di ruang belajar yang menghadap langsung ke taman, cahaya lampu meja berpendar hangat, menyinari tumpukan diktat dan buku tebal yang terbuka lebar. Vivi membetulkan posisi duduknya. Punggungnya mulai sering terasa pegal, dan gerakan janin di dalam rahimnya semakin aktif seolah ikut membaca barisan materi Teori Ekonomi Makro di depannya. Ada sedikit rasa sesal di hatinya, seandainya ia tidak hamil, mungkin gelar sarjana itu sudah di depan mata dalam dua tahun. Namun, menatap perutnya yang membuncit, Vivi sadar bahwa menunda satu tahun adalah pengorbanan kecil demi kebahagiaan yang jauh lebih besar.Terdengar ketukan pintu pelan sebelum Giorgio masuk membawa nampan kecil. Di atasnya terdapat segelas air putih hangat dan sepiring potongan buah naga serta melon yang sudah dikupas. "Makan buahnya yang banyak ya, Vi. Vitamin alaminya bagus buat stamina kamu dan si Kecil," ujar Giorgio sambil meletakkan nampan
Pagi berikutnya, suasana rumah baru di Ciumbuleuit itu berubah menjadi sangat ramai. Suara mesin mobil yang menderu di depan pagar menandakan tamu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bukan hanya satu, tapi dua mobil mewah sekaligus memasuki halaman luas rumah tersebut."Vi, Pak Gio! Orang tua kalian datang barengan!" seru Lala yang sejak tadi sudah standby di ruang tamu sambil menikmati udara pagi.Vivi yang sedang duduk santai di ruang belajar barunya langsung bangkit perlahan. Giorgio dengan sigap merangkul pinggang istrinya, membantu Vivi berjalan menuju pintu depan.Begitu pintu terbuka, pemandangan hangat menyambut mereka. Papa Giorgio turun dari mobil pertama bersama istrinya, sementara dari mobil kedua, Ayah dan Ibu Vivi keluar dengan wajah yang tak kalah sumringah."Ya ampun, ini dia penghuni rumah barunya!" seru Ibu Vivi sambil setengah berlari kecil memeluk putrinya. Ia langsung mengusap perut Vivi yang besar. "Sehat, Nak? Cucuku nggak rewel kan pindahan kemarin?""Sehat,
Pagi itu, suasana di apartemen lama tampak sibuk. Giorgio tidak ingin Vivi kelelahan, jadi ia menyewa jasa pindah rumah profesional ang menangani segalanya. Mulai dari membungkus barang pecah belah hingga mengangkut furnitur. Sementara para petugas hilir mudik, Giorgio terus memastikan Vivi duduk tenang sambil sesekali meminum air putihnya.Satu jam kemudian, mobil mereka membelah jalanan Bandung yang sejuk. Begitu gerbang kayu jati otomatis rumah baru itu terbuka, sebuah bangunan bergaya minimalis tropis dengan jendela-jendela kaca besar menyambut mereka."Kita sampai," ujar Giorgio lembut sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.Vivi melangkah keluar, menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan sisa embun yang masih tertinggal di deduk. Begitu pintu utama dibuka, Vivi terpana. Interior rumah itu sudah tertata sempurna. Sofa beludru berwarna krem yang empuk, pencahayaan warm white yang menenangkan, hingga karpet bulu yang tebal di ruang keluarga. Semuanya dirancang untuk ken
Giorgio mengajak Vivi pulang ke rumah orang tuanya. Papa Giorgio ingin membuat syukuran atas kehamilan Vivi di sebuah hotel mewah. Lampu-lampu kristal di koridor hotel bintang lima itu berpendar mewah, tapi suasana di dalam suite pribadi tempat Vivi bersiap terasa jauh lebih tenang dan intim. Giorgio, suaminya, tidak tanggung-tanggung dalam mewujudkan keinginan sang Papa. Alih-alih syukuran sederhana di rumah, sebuah acara megah telah disiapkan di ballroom utama untuk menyambut calon pewaris keluarga mereka.Vivi duduk tegak di depan cermin besar berbingkai emas. Jemari terampil penata rias baru saja memulaskan sentuhan akhir pada bibirnya. Gaun hamil berbahan satin sutra dengan aksen brokat halus itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan perutnya yang kini kian membuncit namun tetap terlihat anggun.Giorgio yang sejak tadi berdiri di dekat jendela, tak mampu mengalihkan pandangannya. Ia melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di belakang kursi Vivi. Matanya menatap baya
Sinar matahari siang itu menembus celah-celah pepohonan mahoni di depan kantin, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di atas meja kayu. Vivi menghela napas panjang, sebelah tangannya mengusap lembut perutnya yang kini terasa semakin berat di bawah tunik longgar yang ia kenakan. Meski napasnya mulai sering terasa pendek, semangatnya untuk menyelesaikan semester genap ini tidak surut sedikit pun. Ia bertekad, sebelum tangisan bayi itu pecah, ia sudah harus menuntaskan semua tugas kuliahnya.Lala, sepupunya yang selalu ceria, baru saja meletakkan dua mangkuk bakso yang uapnya masih mengepul. Ia memperhatikan gerakan tangan Vivi di atas perutnya dengan mata berbinar."Vi, serius deh, jenis kelamin si Kecil apa?" tanya Lala tiba-tiba, hampir tersedak kerupuk karena rasa penasaran yang sudah di ujung lidah.Vivi hanya tersenyum simpul, menyendok kuah baksonya pelan. "Rahasia," jawabnya pendek, membuat Lala mengerucutkan bibir."Ih, pelit banget! Emang dok
Raungan mesin motor Antonio membelah jalanan kota, namun bising knalpotnya tak mampu meredam suara percakapan di kelas tadi yang terus bergema di kepalanya. Kata-kata Giorgio bukan sekadar gertakan, itu adalah pernyataan dari seorang pria yang telah memenangkan segalanya. Bukan dengan paksaan, tapi dengan komitmen yang tak tergoyahkan.Antonio memarkirkan motornya di tepi danau yang sepi, tempat yang dulu sering ia bayangkan akan ia datangi bersama Vivi suatu hari nanti. Ia turun dan duduk di atas kap motor, menatap riak air yang tenang.Pikirannya kembali ke momen di kelas tadi. Ia mengingat bagaimana cara Giorgio menatap Vivi. Bukan sekadar tatapan posesif, melainkan tatapan penuh pemujaan dan tanggung jawab yang dalam. Dan Vivi, Antonio tidak bisa membohongi dirinya sendiri lagi. Binar di mata Vivi saat menyebut nama Giorgio, caranya mengusap perutnya dengan penuh kasih, itu bukan raut wajah wanita yang tertekan. Itu adalah raut wajah wanita yang merasa u







