LOGINWilliam menepuk-nepuk punggung Eva. "Sayang ... ayo, bangun, yuk. Kita makan malam dulu ya, habis itu kamu bisa lanjut tidur lagi."
Dahi Eva berkerut, ia menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya. "Heemmm ..."
William menghela nafas pasrah. Ia menoleh ke arah layar monitor dan terlihat sebuah jendela mengambang lain di belakang jendela game MoLa. Karena penasaran, William mencoba untuk membuka jendela itu dan menampilkan sebuah catatan kemampuan setiap tim anggota Aetherion, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya.
Tidak hanya itu, jendela mengambang Google Chrome juga menampilkan halaman website yang berisi tentang tim MoLa terkenal yang ada di luar negeri beserta video gameplay mereka. William yang melihat semua itu, matanya seketika melebar, mulutnya sedikit terbuka.
William tersenyum tipis dan melirik ke arah Eva. "Jadi, sudah memutuskan untuk nggak menyerah, hm?"
William mengelus kepala Eva dengan lembut. Terkadang, ia juga merasa takjub
Di kelas, Eva sedang mencatat beberapa poin penting yang baru saja ia pelajari. Catatan itu ia buat dengan serapi mungkin agar ia bisa dengan mudah memahaminya. Di catatan tersebut, terdapat beberapa poin yang diwarnai menggunakan stabilo, lalu terdapat beberapa tulisan yang diberi kotak.Saat sedang mencatat, Eva sesekali melirik ke arah Clara yang ada di sebelahnya. Clara menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya. Semenjak mereka dipanggil ke ruang meeting, sikap Clara yang awalnya ceria dan juga cerewet, berubah menjadi pendiam. Bahkan, saat mereka berdua bertemu saja, Clara hanya menyapanya dengan senyuman saja.Eva hendak melanjutkan mencatat lagi, tetapi ia masih tidak terbiasa dengan sikap Clara yang seperti ini. Tubuhnnya berputar hingga menghadap Clara. "Clara, kamu nggak apa-apa?" Eva menggoyangkan tangannya."Hmm ..." Clara hanya menjawab tanpa melirik sedikit pun."Kamu mau pergi ke kantin, nggak? Kita beli makanan kesukaanmu."Clar
Di sebuah kamar yang diterangi oleh lampu, William mengoleskan obat salep ke tangan Eva yang terkena pukulan. Ujung jarinya menyentuh kulit tangan sang istri dengan lembut dan hati-hati, memastikan agar tidak menimbulkan rasa nyeri.Eva tidak berkata apa-apa, ia hanya diam saja sambil menatap wajah William yang sangat serius. Alisnya sedikit menurun dan terlihat kerutan samar di dahinya. Tetapi, Eva memilih diam sambil menikmati pemandangan ini. Padahal pria ini baru saja meluapkan emosinya, tapi ia masih bisa merawat lukanya seperti ini.Terdengar sebuah suara berat yang memecah keheningan. "Kenapa kamu begitu ceroboh sampai membuat dirimu terluka, hm?"Eva menghela nafas kecil. "Aku cuman nggak mau kamu kena pukul ayahmu. Itu saja."William setengah melirik ke arah Eva, menatapnya sejenak. "Seharusnya kamu nggak perlu melakukan itu ... aku sendiri juga masih bisa menghindar, kok. Kamu lupa dengan janjimu padaku?""Aku masih ingat dengan janjiku untuk menjaga diri, tapi yang tadi itu
William menyeringai lebar, ia merasa sangat puas ketika melihat wajah terkejut mereka. "Kalian semua pasti sangat terkejut, 'kan? Kalau aku sih sama sekali nggak kaget, karena istriku itu ... bukanlah wanita lemah yang mau diinjak begitu saja oleh kalian. Dia sangat kuat."Eva mengulum bibirnya, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak ingin terlihat lemah di depan mertua dan juga musuh bebuyutannya itu. Ia ingin bisa menjadi seorang istri yang baik dan juga kuat bagi William, bisa berada di sisinya dan menghadapi banyak rintangan bersama-sama.Itu adalah impiannya.William menoleh ke arah jam tangannya. "Sudah mulai larut malam. Aku rasa percakapan kita cukup sampai di sini saja."Michael mengerutkan dahinya. "Apa?! Jadi kamu berniat mengusir kami?""Maaf, pak Michael. Bukan bermaksud untuk mengusir, tapi ini memang sudah larut malam dan kami harus istirahat. Jika ingin berbincang lagi, kita bisa a
Caroline buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tentu saja, aku cinta karena dirimu, William. Aku sama sekali nggak peduli, kamu berasal dari keluarga mana, aku cinta kamu karena kamu sangat lah keren bagiku. Aku sudah hidup berkecukupan, jadi untuk apa aku mengincar hartamu?""Hmph. Ternyata bukan cuman matre saja, tapi seorang pembual handal."Mata Caroline semakin berkaca-kaca. "William, kamu ngomong apa? Kamu sebegitu bencinya kah padaku? Jadi, kamu nggak percaya dengan perkataanku?""Apa kamu lupa, waktu kita masih kecil, aku sering membantumu? Bahkan waktu aku dengar kamu sakit pun, aku juga sudah berniat untuk menjengukmu, apakah semua yang aku lakukan ini sama sekali nggak ada artinya di matamu?"Pelayan rumah datang dan menyerahkan sebuah kompresan kepada William. William menerimanya dan langsung berjalan menuju sofa. Mereka melewati Caroline begitu saja. Sesampainya di sofa, William menurunkan Eva.Ia berlutut di depan Eva, dan menarik tanga
Pelayan rumah membantu membukakan pintu, begitu mereka masuk ke dalam, raut wajah William langsung berubah menjadi masam, saat ia melihat keluarganya berkumpul di ruang tamu. William berbisik kepada pelayan rumah yang mengikuti mereka."Begitu mereka pulang, tolong bersihkan sofa-sofanya sekalian, ya."Pelayan rumah tersebut mengangguk. "Baik, Tuan."Caroline yang melihat William datang, ia langsung bangkit berdiri dan menghampirinya. "William, akhirnya kamu pulang—"Matanya langsung membelalak ketika melihat Eva yang ada di depannya. Eva memiringkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Halo, kak Caroline. Kita bertemu lagi.""Eva? Kamu lagi ngapain di sini? Kok ... kamu bisa sama William?"Eva menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Lho, kenapa kamu bingung? Ini 'kan rumahku, jadi bukan hal yang aneh 'kan kalau aku ada di sini?""Apa?"Ujung bibir William berkedut, ia menahan senyumnya. Lalu, dua orang lagi muncul dar
Beberapa saat kemudian, semua makanan yang dipesan sudah datang. Menu yang dipesan oleh William, semuanya makanan kesukaan Eva, sehingga ia menyantapnya dengan sangat lahap. William mengunyah makanan dengan perlahan sambil menatap sang istri yang sangat menikmati makanannya. Melihat wajahnya yang senang disertai mata yang berbinar, sudah cukup membuat hati William menjadi tenang dan hangat.Merasa diperhatikan, Eva menoleh ke arah William. "Kamu nggak makan?""Makan, kok."Eva berhenti mengunyah, lalu ia melihat ke piring. "Aku ... makannya berantakan, ya?"William mendengus kecil, ia menahan tawanya. "Nggak, kok. Kamu lanjut makan saja, aku tahu kalau kamu lapar setelah melewati hari yang berat. Karena itulah, aku memesan semua menu favoritmu."Eva mengulum bibirnya, pipinya mulai merona. Ia langsung memalingkan wajahnya. "Ka-kamu ... nggak perlu pesan semua makanan kesukaanku, sekali-kali kamu juga perlu pesan makanan yang kamu suka."Will







