MasukDi lantai bawah, kedua pengawal mengamankan Eva di sebuah ruangan khusus VIP. Ini adalah permintaan tuannya sendiri agar Eva bisa terhindar dari masalah yang tidak diinginkan.
"Jadi, Caroline ada disini?"
Pengawal tersebut mengangguk. "Benar, Nona. Itulah kenapa kami membawa anda pergi."
Eva menyandarkan tubuhnya. "Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia tahu kalau William lagi ada rapat di sini?"
"Sepertinya begitu. Tapi entah bagaimana dia bisa menemukan lokasinya,
Eva tidak langsung menjawab. Ia menatap Ibu Ruth selama beberapa detik. Wajahnya datar, tetapi terlihat kesedihan dari sorot matanya. Eva merasa prihatin setelah mendengar perkataan Ibu Ruth yang jarang mendapatkan pujian.Dari awal, Eva memang sudah curiga dengan Ibu Ruth bahwa ada cerita di balik tindakannya itu. Namun, ia masih bingung harus memulai semuanya dari mana dan bagaimana cara untuk membuat Ibu Ruth mau terbuka dengannya."Ada apa, Eva? Kenapa kamu diam saja? Waktu terus berjalan, lho."Lamunan Eva terpecah, lalu ia menghembuskan napas panjangnya. "Tidak ada kok, Bu. Selain itu, saya yakin kalau kita masih punya banyak waktu di sini. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir."Dahi Ibu Ruth berkerut samar, tetapi ia tidak mengatakan sepatah kata pun."Sebenarnya..." Eva menelan ludahnya. "Belakangan ini saya sempat kepikiran sesuatu. Melihat Ibu Ruth yang memiliki sifat membantu orang tanpa cuma-cuma, pasti punya sebuah alasan di balik tindakan,
"Sudah satu minggu lebih sejak pemberian hak waris keluarga. Tapi kenapa aku nggak merasakan sedikit pun pergerakan dari anak itu, ya?" gumam Michael, sambil menyeruput segelas kopi.Michael mengetuk meja kantornya dengan perlahan. Ada perasaan gelisah yang tidak dapat ia jelaskan di dalam hatinya. Saat ini pertarungan antara ayah dan anak untuk memperebutkan harta warisan sudah dimulai. Bukanlah hal yang aneh jika masing-masing di antara mereka sedang mempersiapkan rencana untuk melakukan pergerakan selanjutnya.Namun, saat ini semuanya terasa sunyi. Benar-benar sunyi. Ibarat sebuah ketenangan sebelum datangnya badai. Michael sangat tidak menyukai kesunyian ini karena hanya akan memberikan firasat buruk terhadap dirinya.Ketukan meja itu semakin lama semakin cepat hingga akhirnya ia bangkit berdiri dengan kasar dan berjalan menuju jendela besar di sampingnya. "Sialan! Bikin aku nggak bisa tenang saja!"Michael menatap ke arah luar jendela. Tatapann
"Bukankah seperti itu? Ibu Ruth?"Ibu Ruth menarik napasnya dalam-dalam. Kedua tangannya perlahan-lahan mulai mengepal. Ia merasa bingung harus menggunakan kata-kata apa lagi untuk merespons fakta itu.Beberapa detik kemudian, Ibu Ruth menampilkan wajahnya yang tenang dan tersenyum tipis. "Oh? Kenapa kamu bisa berasumsi seperti itu? Padahal yang namanya konseling itu, tentu saja seorang konselor memerlukan beberapa informasi, bukan?""Kalau tidak mengorek informasi, lalu bagaimana cara kita bisa mengetahui penyebab traumamu dari akarnya?" Ibu Ruth menegakkan tubuhnya. "Berbicara tentang trauma, Ibu yakin kalau awal mula traumamu itu pasti bukan dari kecelakaan itu, kan?"Eva mengerjap pelan. Dahinya mulai berkerut samar. "Apa maksud Ibu?""Dari awal pertemuan kita, saya tahu kalau kamu memperlihatkan sedikit gejala PTSD. Kamu pasti sudah mempelajari hal itu di perkuliahan, bukan? Menurut Ibu, sepertinya kecelakaan yang terjadi padamu hanya memicu g
Seusai menerima telepon, William kembali ke ruang belakang dan berdiri tepat di sebelah Kenneth. Pandangannya lurus ke dalam ruang interogasi dan melihat Eva yang masih mengobrol dengan Ibu Ruth."Telepon penting?" tanya Kenneth tanpa menoleh sedikit pun.William mengangguk. "Hm. Aku dapat kabar kalau mereka sudah mulai bergerak."Kenneth mengerutkan dahinya. "Mereka? Maksudmu...""Ya. Sesuai yang kau pikirkan."Kenneth mendecak kesal. "Mereka bergerak di saat seperti ini? Sepertinya kita nggak punya banyak waktu lagi."William menghembuskan napas panjang. "Santai saja, kita nggak usah terlalu terburu-buru. Toh, cepat atau lambat, aku akan menghadapi mereka juga.""Kita," kata Kenneth, membenarkan. Ia melirik William sekilas. "Jangan lupa kalau pertarungan ini bukan hanya tentang kau sendiri. Ada banyak orang yang akan mendukungmu."William memicingkan matanya. "Sebenarnya ini semua kan urusan keluargaku. Kenapa kamu selalu ber
Di hari yang sama dengan pertemuan Sophia dan Amelia, Surya sedang menghadiri pertemuan antardosen di restoran tersebut. Dosen yang hadir semuanya berasal dari Fakultas Kedokteran. Hanya ada satu atau dua dosen yang berasal dari fakultas lain.Mereka menempati sebuah meja besar yang terletak di dekat dinding dan tidak begitu jauh dari ruang VIP. Surya sedang menikmati santapannya sambil memperhatikan gerak-gerik para dosen yang lain. Di kala mereka semua memesan minuman yang bersoda dan beralkohol, hanya Surya saja yang memesan minuman teh."Ayo dong, Pak Surya. Kita puaskan hari ini dengan minum-minum," ucap seorang dosen."Benar itu, Pak Surya. Kapan lagi kita bisa menikmati waktu yang langka seperti ini? Jarang-jarang lho kita bisa diberikan kesempatan untuk makan di luar saat jam kerja."Surya mengangguk sopan. "Terima kasih atas tawarannya, tapi tidak usah karena saya tidak bisa minum alkohol. Teh atau kopi saja sudah cukup.""Cih, nggak
Eva mengerjap pelan, lalu memiringkan kepalanya. "Apa yang membuat Ibu berpikir seperti itu? Apakah saya terlihat seperti seseorang yang datang hanya demi kepentingan?"Ibu Ruth mendengus kecil, berusaha menahan tawanya. "Oh, Eva… kamu memang benar-benar anak yang menarik, ya. Tentu saja kamu bukan orang yang seperti itu. Bahkan dari percakapan-percakapan kita sebelumnya saja, saya bisa merasakan kalau kamu memang orang yang baik."Ibu Ruth menyilangkan kedua tangannya di atas meja. "Hanya saja… kamu juga bukan tipe orang yang datang hanya untuk mengobrol saja, kan? Orang secerdas kamu pasti tidak akan membuang-buang waktu untuk berbasa-basi di sini.""Karena masih ada banyak hal yang bisa kamu lakukan di luar sana. Seperti… latihan bermain MoLa dengan satu timmu. Benar, bukan?"Eva menelan ludahnya. Sesuai dugaannya, Ibu Ruth memang tajam seperti biasanya. Padahal ia ingin mengulur waktu sedikit lagi untuk membuat wanita yang ada di
Setelah Eva mengemukakan perasaan kecewanya kepada Clara, Eva meninggalkan Clara sendirian dan masuk ke dalam ruang dosen. Sedangkan Clara, ia masih berdiam diri di tempat, merenungi semua perkataan Eva tadi. Di lubuk hatinya yang terdalam, muncul perasaan sedih dan juga perasaan bersalah. Mau ba
Di ruang dosen, meja Fakultas Psikologi. Ibu Anna sedang mengerjakan Jurnal Penelitian miliknya, jari tangannya mengetik dengan sangat cepat dan matanya sangat terfokus pada layar komputernya. Bahkan, ia juga tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan dari jauh.Tangan bu Anna m
Mata Eva membelalak saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar."Nenek?! Kok nenek bisa tahu nomor HP ku?"Terdengar suara ketawa khas nenek-nenek dari telepon seberang. 'Tentu saja tahu. Nenek yang minta nomormu dari cucu nenek yang keras kepala itu.'Eva menghembus
"Kamu nggak apa-apa kalau aku tinggal kerja?" ucap William sambil berlutut di depan Eva.Eva menggelengkan kepalanya. "Aku nggak apa-apa, kok. Sekarang kondisinya cukup berbeda dibanding kamu pergi dinas dulu, aku nggak akan ke mana-mana."Pandangan William beralih ke arah lain, ia







