LOGINSeusai menerima telepon, William kembali ke ruang belakang dan berdiri tepat di sebelah Kenneth. Pandangannya lurus ke dalam ruang interogasi dan melihat Eva yang masih mengobrol dengan Ibu Ruth."Telepon penting?" tanya Kenneth tanpa menoleh sedikit pun.William mengangguk. "Hm. Aku dapat kabar kalau mereka sudah mulai bergerak."Kenneth mengerutkan dahinya. "Mereka? Maksudmu...""Ya. Sesuai yang kau pikirkan."Kenneth mendecak kesal. "Mereka bergerak di saat seperti ini? Sepertinya kita nggak punya banyak waktu lagi."William menghembuskan napas panjang. "Santai saja, kita nggak usah terlalu terburu-buru. Toh, cepat atau lambat, aku akan menghadapi mereka juga.""Kita," kata Kenneth, membenarkan. Ia melirik William sekilas. "Jangan lupa kalau pertarungan ini bukan hanya tentang kau sendiri. Ada banyak orang yang akan mendukungmu."William memicingkan matanya. "Sebenarnya ini semua kan urusan keluargaku. Kenapa kamu selalu ber
Di hari yang sama dengan pertemuan Sophia dan Amelia, Surya sedang menghadiri pertemuan antardosen di restoran tersebut. Dosen yang hadir semuanya berasal dari Fakultas Kedokteran. Hanya ada satu atau dua dosen yang berasal dari fakultas lain.Mereka menempati sebuah meja besar yang terletak di dekat dinding dan tidak begitu jauh dari ruang VIP. Surya sedang menikmati santapannya sambil memperhatikan gerak-gerik para dosen yang lain. Di kala mereka semua memesan minuman yang bersoda dan beralkohol, hanya Surya saja yang memesan minuman teh."Ayo dong, Pak Surya. Kita puaskan hari ini dengan minum-minum," ucap seorang dosen."Benar itu, Pak Surya. Kapan lagi kita bisa menikmati waktu yang langka seperti ini? Jarang-jarang lho kita bisa diberikan kesempatan untuk makan di luar saat jam kerja."Surya mengangguk sopan. "Terima kasih atas tawarannya, tapi tidak usah karena saya tidak bisa minum alkohol. Teh atau kopi saja sudah cukup.""Cih, nggak
Eva mengerjap pelan, lalu memiringkan kepalanya. "Apa yang membuat Ibu berpikir seperti itu? Apakah saya terlihat seperti seseorang yang datang hanya demi kepentingan?"Ibu Ruth mendengus kecil, berusaha menahan tawanya. "Oh, Eva… kamu memang benar-benar anak yang menarik, ya. Tentu saja kamu bukan orang yang seperti itu. Bahkan dari percakapan-percakapan kita sebelumnya saja, saya bisa merasakan kalau kamu memang orang yang baik."Ibu Ruth menyilangkan kedua tangannya di atas meja. "Hanya saja… kamu juga bukan tipe orang yang datang hanya untuk mengobrol saja, kan? Orang secerdas kamu pasti tidak akan membuang-buang waktu untuk berbasa-basi di sini.""Karena masih ada banyak hal yang bisa kamu lakukan di luar sana. Seperti… latihan bermain MoLa dengan satu timmu. Benar, bukan?"Eva menelan ludahnya. Sesuai dugaannya, Ibu Ruth memang tajam seperti biasanya. Padahal ia ingin mengulur waktu sedikit lagi untuk membuat wanita yang ada di
Di dalam kantor polisi, Kenneth sudah menanti kedatangan mereka ditemani oleh beberapa polisi. Kenneth berjalan menghampiri William dan Eva."Akhirnya kalian datang juga. Aku sudah menunggu kalian sampai lumutan di sini." Kenneth mengulurkan tangannya.William mendengus kasar sebelum menerima salamannya. "Nggak usah berlebihan. Kami hanya datang terlambat dua menit dari waktu yang dijanjikan."Kenneth terkekeh kecil. "Apa kamu tahu kalau waktu dua menit itu sangatlah berharga bagi seseorang sepertiku? Bahkan bagiku, datang tepat waktu saja sudah dianggap terlambat, apalagi kalau telat dua menit?""Sungguh, aturanmu yang seperti inilah yang sering membuatku jengkel. Sekali-kali bersikaplah santai sedikit."Kenneth menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Memangnya kamu tipe orang yang suka bersantai?""Kamu—" Ucapan William terhenti, lalu ia menghembuskan napas panjang. "Sudahlah, langsung saja kita ke intinya."Kenneth te
"Hanya itu?"Sophia mengangkat kedua alisnya. "Oh? Sepertinya sudah menemukan caranya, ya?"Amelia mengangkat dagunya. "Hmph. Tentu saja, lagipula ini adalah perkara yang mudah."Sebelumnya, Amelia hampir berhasil menjatuhkan Eva sepenuhnya. Reputasinya kini sudah hancur sehingga gadis itu dipandang rendah oleh banyak orang. Apalagi dengan fisiknya yang serba kekurangan, bisa dipastikan kalau dia tidak akan bertahan lama di dunia yang kejam ini.Sayangnya, terdapat seseorang yang telah membantunya keluar dari kekacauan ini. Sebelum ia sempat mengetahui siapa orang itu, Ibu Ruth sudah lebih dulu ditangkap. Sejak saat itu, ia sama sekali belum mendengar kabar apa pun tentang dirinya. Semua kontaknya benar-benar tidak bisa dihubungi."Baguslah kalau kamu sudah menemukan cara untuk menghadapinya. Tapi jangan lupa kalau rencana ini harus dilakukan secara diam-diam. Kamu bisa melindungi dirimu sendiri, kan, Amelia?"Amelia mengangguk tegas. "Tentu
"Halo, Amelia. Akhirnya kita bisa berjumpa." Sophia mengulurkan tangannya ke arah Amelia.Sedangkan Amelia menatap tangan tersebut sejenak sebelum bersalaman dengan Sophia. Dua hari yang lalu, Amelia mendapat pesan dari Michael untuk mengajaknya makan-makan bersama di sebuah restoran yang tertera. Kebetulan, Amelia juga sedang berusaha mencari cara untuk bertemu dengan mereka sehingga ia menyetujuinya.Namun, ia mengira bahwa Michael lah yang akan bertemu secara langsung dengannya. Tak disangka, orang yang datang hanyalah seorang wanita berumur yang mengaku sebagai istri dari Michael. Sebelumnya ia merasa sangat curiga terhadap Sophia, takut kalau dirinya sedang ditipu oleh pengirim pesan tersebut. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Amelia mau mempercayai perkataannya.Saat ini mereka sedang berada di ruang restoran VIP yang memiliki lima meja besar. Sophia, Amelia dan Chloe sedang duduk di meja yang berada di tengah-tengah ruangan. Ruang VIP tersebut tampak sepi dan hanya ada me
William menyeringai lebar, ia merasa sangat puas ketika melihat wajah terkejut mereka. "Kalian semua pasti sangat terkejut, 'kan? Kalau aku sih sama sekali nggak kaget, karena istriku itu ... bukanlah wanita lemah yang mau diinjak begitu saja oleh kalian. Dia sangat kuat."Eva mengulum bib
Caroline buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tentu saja, aku cinta karena dirimu, William. Aku sama sekali nggak peduli, kamu berasal dari keluarga mana, aku cinta kamu karena kamu sangat lah keren bagiku. Aku sudah hidup berkecukupan, jadi untuk apa aku mengincar hartamu?""Hmph. Ternyata
Pelayan rumah membantu membukakan pintu, begitu mereka masuk ke dalam, raut wajah William langsung berubah menjadi masam, saat ia melihat keluarganya berkumpul di ruang tamu. William berbisik kepada pelayan rumah yang mengikuti mereka."Begitu mereka pulang, tolong bersihkan sofa-sofanya s
Beberapa saat kemudian, semua makanan yang dipesan sudah datang. Menu yang dipesan oleh William, semuanya makanan kesukaan Eva, sehingga ia menyantapnya dengan sangat lahap. William mengunyah makanan dengan perlahan sambil menatap sang istri yang sangat menikmati makanannya. Melihat wajahnya yang







