分享

Bab 86

作者: Sherlys01
last update publish date: 2025-11-08 19:03:05

Keesokan harinya, Eva dan William bersiap-siap untuk pulang. William memesan tiket pesawat lalu mereka pergi ke Bandara dan pulang dengan pesawat. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam lebih, kemudian mereka akhirnya tiba di rumah.

Sesampainya di rumah, Eva memutuskan untuk membuat surat izin tidak masuk kuliah selama beberapa hari. Karena William masih harus beristirahat, jadi ia ingin menjaga dan merawatnya hingga tubuhnya benar-benar pulih.

Di siang hari, William sedang tidur di kamar. Seda
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 252

    Beberapa hari sebelum pertemuan dengan investor di perusahaan Vander Corp., William berada di sebuah ruangan VIP di restoran yang terkenal akan kemewahannya. Ia sedang duduk di meja yang tidak terlalu besar yang terletak di dekat pintu. Ia sedang mengetik laporan penelitian di laptopnya. Pandangannya lurus ke arah layar laptop dan ia juga mengenakan sebuah kacamata yang dilengkapi dengan pelindung sinar UV.Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. William melirik ke arahnya sekilas, lalu pandangannya beralih kembali ke arah layar laptopnya. Seseorang datang mendekat ke mejanya."Aku sudah datang, Kakak. Kau sudah lama menungguku?"William tidak langsung menjawab. Ia menekan tombol sleep pada laptopnya, kemudian menutupnya. "Nggak juga. Aku juga baru sampai di sini sekitar 10 menit yang lalu.""Baru sampai tapi sudah sibuk dengan penelitianmu, eh?"William melepaskan kacamatanya. "Kenapa masih berdiri? Kamu mau kita ngobrol sambil berdiri

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 251

    Di depan ruang meeting, Michael merapikan jasnya. Senyuman tipis terlihat di wajahnya. Setelah sekian lama, akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba. Hari di mana semua rencananya akan berjalan dengan lancar dan hanya memerlukan satu langkah lagi."Kalau semua berjalan dengan lancar, akan kupastikan kamu juga akan mendapatkan bonus tambahan dariku. Jadi, kamu juga bekerjalah dengan baik," ucap Michael, sambil menoleh ke belakang dari balik bahu.Seorang asisten yang berdiri di belakang Michael hanya mengangguk dan tersenyum kecut. Entah apa yang ada di pikirannya, ia hanya menatap Michael dengan datar saja. Tidak ada ekspresi senang ataupun semangat karena bosnya akan memberinya bonus.Namun, Michael tidak memedulikan hal itu. Ia sudah terbiasa dengan sifat pendiam sang asisten. Selama asistennya sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik, baginya itu sudah cukup. Ia tidak peduli pada hal-hal yang ada di luar pekerjaannya."Ayo, kita masuk."

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 250

    "Sial! Apa anak itu sama sekali belum melakukan pergerakan apa pun?"Michael melempar tablet miliknya ke atas meja kerjanya, merasa kesal karena ia masih belum menemukan tanda-tanda pergerakan dari William. Sudah beberapa hari ini ia terus mengawasi William secara diam-diam. Namun, hal-hal yang ia temukan hanyalah kepergiannya ke pasar, mal, maupun tempat-tempat umum lainnya.Michael menoleh ke arah lain. "Atau jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sedang mengawasi gerak-geriknya?"Di detik berikutnya, Michael menggelengkan kepalanya. "Nggak. Itu nggak mungkin. Dia itu hanyalah anak yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang lain.""Bisa dipastikan kalau dia nggak punya kenalan yang memiliki kemampuan intel yang hebat. Hanya seorang dosen biasa saja… pasti kenalannya juga nggak jauh-jauh dari seorang profesor, kan?"Michael bangkit berdiri dan hendak keluar dari ruang kantornya. Begitu ia hampir sampai di dekat pintu, pintu itu tiba-tib

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 249

    Di tengah malam, William sedang tertidur di meja kerjanya. Ia terbangun karena mendengar suara petir yang menyambar dengan kencang. Ia mengerjapkan matanya, lalu melihat ke sekeliling. William mengernyitkan dahinya, lalu memegang kepalanya yang mulai berdenyut."Sepertinya… aku ketiduran dalam waktu yang cukup lama," gumamnya pelan.William menoleh ke arah meja kerjanya yang penuh dengan lembaran kertas penelitian ataupun jurnal. Laptopnya pun masih menyala dan menampilkan penulisan-penulisannya tentang penelitiannya yang hendak dilakukan di masa yang akan datang. Ia merapikan mejanya dan menekan tombol sleep mode pada laptopnya karena ia masih memerlukannya ketika hari sudah pagi nanti.Seusai membereskan meja, William masuk ke dalam kamar. Begitu pintu kamar terbuka, alangkah terkejutnya dirinya saat melihat Eva tidak ada di kasurnya, melainkan ada di sudut kamar—sebelah kasur— sambil memeluk bantal dengan erat. Napasnya terengah-engah. Mata

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 248

    Di kediaman keluarga Brown, Chloe sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia sedang menunggu kabar dari sang ibu. Apakah ibunya berhasil membujuk ayahnya untuk mempertemukan mereka dengan seorang pewaris keluarga Vanderbilt?Chloe menggoyangkan kakinya. Ia sesekali juga melirik ke arah arlojinya yang terbalut di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. Ia mendengus kecil."Sudah jam segini, kenapa Ibu masih belum pulang juga, sih?"Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu rumah terbuka. Chloe langsung menoleh ke belakang dari balik bahunya. Terlihat Amelia sedang menaruh sepatu hak tingginya di rak sepatu. Chloe, yang merasa senang akan kepulangan ibunya, langsung menghampirinya."Ibu! Akhirnya Ibu pulang juga. Bagaimana keadaannya di sana? Ayah mau membantu kita, kan?"Amelia melirik sekilas ke arah Chloe. Ekspresinya terlihat datar, tetapi terdapat kekesalan dalam sorot matanya. Ia menghembuskan napas panjang."Nanti saja ki

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 247

    "Ayah, kenapa kamu nggak bisa memenuhi keinginan kita? Apa maksudmu sebenarnya?"Di ruang kantor, Mason sedang duduk di meja kerjanya sambil menatap layar komputernya dengan serius. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Amelia."Untuk apa kamu ingin bertemu dengannya? Apa kamu nggak tahu kalau pewaris itu sudah menjadi orang besar yang sulit untuk didekati?"Amelia menumpukan kedua tangannya di meja kerja Mason. "Tentu saja, untuk menarik dia ke dalam keluarga kita. Selama keluarga Vanderbilt mau menjadi bagian dari keluarga besar kita, sudah pasti nggak akan ada orang lain yang berani mengganggu kita."Mason mendecak kesal. "Dengar ya, perusahaan kita saat ini juga sudah mendapatkan investasi besar dari keluarga Vanderbilt. Ini juga sudah termasuk keuntungan yang sangat besar bagi kita. Jadi, jangan sampai tindakanmu ini bisa mengakibatkan kita kehilangan kerja sama dengannya."Amelia menyilangkan kedua tangannya di depan. "Cuma investasi doang, ap

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 224

    Eva mengerjap pelan. "Kenapa kamu bertanya padaku? Kan warisan itu kamu yang dapat."William terkekeh kecil. "Kita. Bukan aku. Di dalam lembaran kertas itu tertulis nama kita berdua, kan?""Hm? Apa iya?" Eva mencoba mengingatnya kembali. Kedua alisnya langsung terangkat begitu ia te

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 223

    Di kamar Kakek, Eva sedang memainkan laptopnya sambil menjaga Kakek yang sedang tertidur. Sebenarnya kakek sudah menolak untuk dijaga, tetapi Eva tetap memaksa. Karena ia khawatir dengan kondisi kakek saat ini, apalagi ia juga sudah berjanji kepada William untuk menjaga kakek.Eva mengetik

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 222

    Di sebuah rumah yang letaknya tidak begitu jauh dari Vila Vanderbilt, Michael dan Sophia sedang duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Michael duduk dengan menyilangkan satu kakinya, sedangkan tangannya menggulir layar tablet.Sophia menuangkan teh ke dalam gelas milik Michael. Matanya s

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 221

    Di ruang kerja, William dan Kenneth sedang berbincang. William bersandar di depan meja dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya. Tatapannya tajam dan lurus ke depan."Hei, kamu dengar yang aku katakan tadi nggak? Kamu ini lagi ngelamun apa, sih?"William mendengus ke

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status