LOGINSparks fly, secrets are revealed, and perilous adventures begin when Chloe helps Tristan escape. While on mission from inner-earth to the earth's surface, the evil subterranean meta-naturals intercepted Tristan's vessel. Taken to a laboratory run by a mad scientist, he is sedated and forced to participate in testing on himself and genetic experimentation. In the meantime... Private Investigator, Chloe Kennsington, in filtrates the laboratory while on a missing persons' case. When she discovers Tristan, the chemistry between them is profound.
View More“Nyonya Lisa, Tuan Abraham mabuk berat. Bisakah Anda menjemputnya di club biasa?”
Wajah Melisa Anderson, nama panjang Lisa langsung tersentak panik. Jason Abraham adalah suaminya, langsung mengiyakan permintaan panggilan telepon tersebut. Lisa langsung bergegas meraih tas tangannya dan segera menuju club tempat suaminya menghabiskan malam setelah pulang bekerja.
Untunglah jalanan kota tak terlalu ramai, taksi yang dikendarainya hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke tempat tersebut. Segera ia berlari dengan wajah panik menuju ruangan tempat suaminya berada, sesuai informasi dari penelepon tadi. Akan tetapi, tubuhnya langsung mematung saat tangannya hendak meraih handle pintu.
“Jason, apa lagi yang kamu tunggu? Chatrina sudah datang dengan sederet prestasi sebagai model internasional, hanya untuk meraih cintamu. Apa yang kamu harapkan dari istri cacatmu itu!”
“Benar, Jason. Lihatlah wanita cantik di sampingmu! Model hebat dan cantik, tubuhnya seksi ... tak sepadan dengan istri cacatmu yang kurus kering seperti tripleks.”
Celetukan dari dalam ruangan terdengar jelas dalam indera pendengaran Lisa. Hatinya panas perih dan terasa terbakar, hingga tangannya bergetar terlepas dari handle pintu. Tiba-tiba pintu terbuka lebar.
“Oh, Nyonya Lisa? Sejak kapan Anda di sana?” seru seseorang yang membuka pintu tadi.
Suaranya keras dan lantang, hingga membuat semua orang yang berada di dalam menoleh padanya. Lisa terkejut, tetapi ia langsung menatap suaminya. Jason tampak sehat dan tak terlihat mabuk.
Lisa bahkan bisa melihat wanita cantik dan seksi duduk menggelayut manja di tangan suaminya. Alih-alih cemas karena ketahuan sang istri, Jason justru menatapnya marah.
“Maaf, aku mendapatkan telepon kalau kau mabuk berat dan diminta untuk menjemput. Sepertinya kamu baik-baik saja,” ucap Lisa sambil meremas ujung kardigan miliknya, menahan amarah.
Tatapan Lisa lantas berpindah pada Alex yang duduk di samping Jason. Alex tersenyum puas dan penuh kemenangan, lalu menunjukkan ponselnya. Sebuah isyarat jika itu adalah jebakan untuknya.
Alex memang membenci Lisa, tetapi sebisa mungkin ia bersikap baik karena menganggapnya sepupu Jason. Namun, yang membuat wanita itu bertambah marah adalah kehadiran Tina nama pendek Katrina Wilde. Lisa tak tahu jika Tina sudah pulang dan menemani Jason, bahkan suaminya tak keberatan dia merangkul dan bersandar di pundak Jason.
Lisa tahu benar tak ada yang menyukai keberadaannya, termasuk Jason. Hatinya menjerit perih merasa tak dihargai, tetapi tak ada yang bisa dilakukannya. Kemudian ia menundukkan kepalanya beberapa derajat, sadar Jason masih menatapnya marah.
Jason tak suka jika Lisa menunjukkan diri di depan karyawan dan anak buahnya, serta teman-temannya. Dia malu memiliki istri cacat seperti Lisa. “Maaf sudah mengganggu kesenangan kalian. Silakan lanjutkan!” ucap Lisa.
“Tunggu, Lisa!” seru Tina seraya bangkit dan langsung meraih tangan Lisa dan membawanya masuk.
“Kenapa kamu sepertinya menghindariku? Apa kamu tidak senang aku pulang?” tanya Tina membuat wajah Lisa merah padam.
Namun, hal itu semakin membuat Jason bertambah marah. “Biarkan dia pulang! Dia sudah mengganggu kesenanganku!” perintahnya.
“Jason, kenapa kamu berkata seperti itu? Lisa adalah saudara tiriku dan juga istrimu,” kata Tina melirik Lisa dengan ejekan.
Lisa ingin marah. Tahu Tina sengaja membuatnya malu, tetapi tak berani. Ia pun menurunkan tangan Tina. “Nikmati saja keseruanmu, Tina!” ucap Lisa tegas.
Tubuhnya langsung berbalik dan berjalan cepat dengan rasa sakit hati yang mendalam. Sebisa mungkin Lisa tak mengeluarkan air matanya. Jason bahkan tampak acuh tak merasa bersalah memperlakukan istrinya seperti tadi.
Sementara Lisa langsung menghentikan taksi. Lisa duduk bersandar menatap lampu-lampu gedung tinggi dengan tatapan kosong. Tak tahu lagi seperti apa bentuk hatinya saat ini.
“Ada apa, Nyonya? Sepertinya Anda sedang bersedih?” Sopir taksi bertanya, menyadari ekspresi Lisa yang murung.
“Mau saya putarkan lagu agar bisa menghibur suasana hati Anda?”
“Tidak perlu, Pak! Saya lebih suka sunyi.”
“Baiklah jika itu keinginan Anda.”
Kedua tangan Lisa menyentuh lubang telinganya dan mengeluarkan benda kecil yang terpasang di sana. Seketika suasana terasa hening, tak ada suara. Benar, itu adalah alat bantu dengar.
Itulah alasannya mereka menamai Lisa, istri cacat. 10 tahun yang lalu, Lisa mengalami kecelakaan mobil bersama Adam Anderson, ayahnya dan adiknya Fedro Anderson. Kecelakaan itu menyebabkan Adam dan Fedro meninggal. Lisa mengalami kerusakan pada indera pendengarannya.
Karena kecelakaan itu, Lisa dijauhi keluarganya, dianggap sebagai penyebab kematian Adam dan Fedro. Lisa dikatakan sebagai anak cacat pembawa sial. Dia pun diasingkan dan tinggal di panti asuhan.
Lisa hanya bisa menerimanya, padahal ia pun sedih kehilangan ayah dan adil lelakinya. Setelah 5 tahun kepergian kecelakaan itu Nania, ibunya Lisa menikah dengan Mike Wilde. Dia adalah ayahnya Tina.
Nania begitu menyayangi Tina seperti anak kandungnya sendiri dan lupa Lisa yang dititipkan di panti asuhan. Tina dan Jason yang sudah lama berpacaran memutuskan untuk menikah, tetapi di hari pernikahan tersebut Tina pergi dan memilih mengejar cita-citanya menjdi seorang model internasional.
Keluarga Nania tak ingin malu dan membuat malu keluarga Jason, akhirnya dia menjemput Lisa dan memintanya untuk menggantikan Tina. Jason pun tak diberi kesempatan untuk menolak sebab pernikahan sudah digelar meriah, keluarganya memaksa menikahi Lisa.
Tak ada kesempatan untuk Lisa menolak juga. Namun saat Lisa tahu calon suaminya adalah Jason Abraham, ia menerimanya dengan senang hari. Keluarga Abraham adalah donatur tetap di panti asuhan tempat Lisa dititipkan.
Beberapa kali keluarga besar Abraham mengunjungi panti asuhan, termasuk Jason. Lisa sudah jatuh hati padanya. Lisa pun bertekad akan mengobati luka di hati Jason setelah menikah. Sayangnya, justru hinaan dan cacian dari Jason untuknya.
“Aku tak sudi memiliki istri cacat sepertimu. Keluargamu sudah membuatku malu,”
“Sungguh sial, aku harus menikahi wanita cacat tak tahu malu sepertimu!”
Lisa beranggapan Jason pasti masih sakit hari karena Tina dan belum siap membuka hatinya. Sebisa mungkin Lisa menjalankan perannya sebagai istri, memasak, membersihkan rumah dan menyiapkan segala keperluan suaminya, meskipun mereka harus tidur di kamar berbeda. Hingga tak terasa semua rutinitas itu berjalan selama tiga tahun dan Lisa masih belum bisa menaklukkan hati suaminya.
Bagi Lisa, Jason adalah suami yang dingin. Tak masalah dia dipandang hina dan diejek seluruh karyawan serta keluarga besar Jason, tetapi kejadian tadi seolah membuka pikirannya. Semua pengorbanannya sia-sia.
“Maaf, Nyonya. Anda belum mengatakan alamat tujuan Anda.”
Lisa tak mendengar ucapan sopir taksi. Lisa terlena dengan pikirannya dan alat bantu dengarnya tak terpasang. Berkali-kali sopir taksi itu bertanya, tetapi tak direspons. Akhirnya ia menepikan kendaraannya dan Lisa langsung tersadar.
“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Lisa kaget.
Sopir taksi bertanya, tetapi tak terdengar. Lisa lupa, dia segera memasangkan alat bantu dengarnya. “Maafkan saya.”
“Alamat tujuan Nyonya ke mana?”
“Alamat? Saya lupa!”
Lisa terdiam. Tiba-tiba kepalanya berdenyut keras hingga Lisa memekik kesakitan. Tak lama, ia langsung tersadar, tetapi Lisa seperti orang linglung.
“Di mana ini?” tanya Lisa bingung. Ia lupa di mana dirinya berada.
“Nyonya, sepertinya Anda sakit? Haruskan saya mengantarkan Anda ke rumah sakit?”
Their return to Manthella was bittersweet. Their hearts were heavy over the loss of four good soldiers while they were light with the joy in the fact that Chloe and Lizzy were returning with them.After extensive conversation where Lizzy informed the remaining Manthellans about the true origin of herself and Chloe and a good deal of deliberation as to whether they should remain on the surface of earth or go to Manthella, Myriana went through the proper channels and received permission to bring them, should they wish to go.It took little convincing to get Chloe to agree and even less for Lizzy, who wanted to stay close to Chloe to monitor her pregnancy and also who had no desire to part company with Jepson.With a good deal of the vampires and hybrids having perished along with their maker, the trip back to their vessel was far less perilous than when they arrived. Eager to get home, they wasted no time setting the course.Baqman and Mar
Lizzy had to search down several corridors before she found the room with the remaining soldiers locked up in a glass cage similar to the one Tristan and the other soldiers were in. She rushed up to the intercom and explained who she was and what was happening. Unlike the soldiers who were locked up with Tristan, they were grateful for her help and eager to cooperate.One of the soldiers was Jepson. Like Tristan, he possessed the ability to pull the code to unlock the cell from the energy thought cloud hovering over the keypad. He did it quickly and precisely. When he stepped out of the cell, the chemistry between him and Lizzy hit both of them like a thunderbolt to the point where they both stepped back in surprise.After taking a moment to regain her composure, she said, “Tristan is doing his best to battle the vampires. I had enough antidote for the serum in you for one. He’s in dragon form.”“
They made it through the back door with no mishap, but their luck wasn’t to hold up. In their search for the rest of the team, the soldiers who were locked in with Tristan were discovered and an alarm was sounded. They had their size on their side, but their opponents had fangs and venom.Whether a victim of a vampire bite survived was totally in the hands of the vampire. A little bit of venom would turn the victim, while a lot would take him to the point of no return. Chloe watched in horror as vampires sank their fangs into the Manthellan soldiers. The soldiers tried to shake them off but they clung with all of their mite while they deposited their venom into the muscular flesh. She wasn’t sure how much was needed to take down the Manthellan soldiers. They were clearly slowing down and weakening.The thought that the goal was to turn them instead of killing them came to mind and she gasped with horror. What a leth
Lizzy smiled as she watched the emotional reunion between her beautiful niece and the handsome giant. Even though there was a definite size difference, she didn’t think it was so substantial as to make a big deal of it. She’d seen many surface humans with the same height encumberments who managed to have long and lasting relationships. It was only size, after all.When Tristan finally pulled his attention from Chloe, he looked at Lizzy with both curiosity and mistrust.Seeing this, Chloe reassured him that she was on their side and convinced him to let Lizzy inject him with the much-needed antidote. Even though it wasn’t tried and true, Chloe believed it would work and that was good enough for Tristan. Unfortunately, there was only enough antidote for two of them. A brief conference was held amongst the others to determine who was willing to risk being injected with a serum that wasn’t tried and true that was brough
It was official. She was pregnant. Once the infectious joy that Lizzy emanated calmed down, the worry over Tristan’s well-being took over. Even Lizzy was concerned about him surviving the attack on the laboratory without their ability to shift.They labored with the
The anti-venom barely entered her bloodstream before she felt its cleansing effect. A surge of energy rushed through her and a sense of well-being swept over her. “I feel wonderful.”Lizzy busied herself repacking the satchel with her medical supplies. “I imagine you do.&r
She was back in her apartment at the lab. How odd to be placed there instead of with the other breeders. Chloe could only think that the risk of her turning was too high to chance having her in close quarters with the other women; many of them being pregnant.She couldn’t
Chloe was surprised to see them turn into her aunt’s driveway. “How did you know where she lived?”Jim chuckled. “You’re only just asking?”She shrugged. “I guess I was so engrossed in talking that I didn’t realize you drove here w
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.