MasukTiga tahun kemudian. Di kantor pusat Keluarga Manahan di Kota Ner Kora, ruangan teratas.Aku duduk di kursi yang dulunya milik ayahku, sebuah kesepakatan akuisisi senilai triliunan ada di depanku.Penaku meluncur di atas kertas, menandatangani namaku.Elsa Manahan."Nyonya, kami punya kabar dari Serovo," kata Lukas sambil memasuki ruangan. "Kebun anggur ayahmu mencatat rekor panen tertinggi tahun ini.""Baguslah," kataku tanpa mendongak. "Dia sudah seharusnya menikmati masa pensiun."Di luar jendela, cakrawala Ner Kora berkilauan di bawah matahari terbenam.Dalam tiga tahun, aku telah memperluas kerajaan bisnis Keluarga Manahan ke ketinggian yang belum pernah dicapai sebelumnya.Dari Ner Kora ke Loksar, dari Celion ke Mitisao. Pengaruh kami ada di mana-mana."Ada lagi, Lukas?" tanyaku."Laporan yang Nyonya minta," katanya sambil menyerahkan sebuah berkas kepadaku. "Tentang Celion."Aku mengambilnya.Laporan tentang status Rendi Ferano.Setelah pertemuan terakhir kami tiga tahun lalu, d
Hanya dalam tiga bulan, Rendi menjual semuanya. Rumah besar, kasino, pelabuhan, bahkan perhiasan keluarga.Sebagian besar uangnya digunakan untuk melunasi utang.Dengan sisa uang yang ada, dia melakukan sesuatu yang mengejutkanku.Dia membeli sebidang tanah pemakaman, tepat di sebelah "makamku.""Papa, aku mau nomor itu," kataku."Nomor apa?""Nomor ponsel lamaku. Nomor yang Rendi kira sudah tidak aktif."Ayahku mengerutkan kening. "Kenapa?""Aku mau mendengar apa yang ingin dia katakan."Ayahku memberi sebuah ponsel lama.Layar menunjukkan empat puluh tujuh panggilan tak terjawab.Semuanya dari Rendi. Dan, puluhan pesan suara.Aku memutar pesan suara pertama.Suara Rendi terdengar serak dan parau, memenuhi ruangan."Elsa ... aku tahu kau tidak bisa mendengar ini, tapi aku harus mengatakannya.""Aku sudah tahu yang sebenarnya. Tentang Karin, tentang bayi itu. Tentang apa yang dia lakukan padamu.""Itu salahku. Aku yang sudah membunuhmu."Aku mendengarkan, wajahku tanpa ekspresi seperti
Malam itu, Rendi memanggil orang-orang kepercayaannya."Aku ingin tahu semuanya tentang oksitosin." Suaranya terdengar dingin. "Setiap detailnya.""Bos, kita sudah memastikan kalau Nyonya Karin yang mengambilnya ....""Aku ingin lebih." Rendi memotongnya. "Kenapa dia menginginkannya? Dengan siapa dia bicara? Aku ingin tahu setiap gerak-geriknya."Tiga hari kemudian.Lukas masuk ke ruangan dengan senyum puas."Nyonya, kami punya semua bukti yang kau inginkan."Dia meletakkan sebuah berkas di hadapanku.Foto pertama membuatku merinding.Karin di sebuah kamar motel dengan seorang pria yang bukan kakaknya Rendi.Tubuhnya menempel pada pria itu, bibir mereka berciuman.Keterangan waktu pada foto: [Hamil dua bulan]."Siapa pria itu?" tanyaku."Rudi Surya. Wakil pimpinan kelompok Celion Timur," jawab Lukas. "Musuh bebuyutan Keluarga Ferano."Aku membalik halaman.Sebuah laporan DNA.Subjek: [Putra Karin Romano]Ayah yang Diduga: [Tedy Ferano]Kemungkinan Hubungan: [0%]Aku tertawa dingin. Yan
Aku duduk di tengah pusat komando ayahku di Kediaman Keluarga Manahan.Sebuah peta detail Celion tergantung di dinding, dipenuhi bendera-bendera merah kecil.Setiap bendera menandai kerentanan Keluarga Ferano."Pengiriman pertama telah dicegat," lapor Lukas. "Senjata senilai empat ratus delapan puluh miliar. Orang-orang kita secara anonim memberi info kepada polisi maritim di sana."Aku mengangguk, lalu menggambar tanda X di atas sebuah titik di peta."Bagaimana dengan kasino?""Dinas pajak sudah menggerebek tiga titik terbesar mereka tadi pagi," lapor pria lain. "Mereka menyita buku kas, semuanya. Rendi menghadapi kerugian sekitar delapan ratus miliar. Mudah saja."Satu lagi tanda X."Kalau pelabuhan?""Pelabuhan sisi Timur dan Selatan sudah punya pemilik baru. Mitra kita dengan senang hati mengambil alih bisnis itu."Aku terus menggambar tanda X di peta.Satu bulan.Kerajaan bisnis Keluarga Ferano yang sudah dibangun selama beberapa dekade, akhirnya runtuh sedikit demi sedikit."Baga
Di sebuah gereja kecil di Kediaman Keluarga Ferano. Lilin berkelap-kelip, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari.Rendi sendiri yang membawa peti mati kecil yang terbungkus itu. Dia meletakkannya di depan altar.Dia pun mengusir semua orang."Bos, kau perlu istirahat ...." Salah satu anak buahnya berkata."Keluar." Suara Rendi dingin. "Kalian semua, keluar."Pintu tertutup, meninggalkannya sendirian dengan peti mati itu.Aku mengamati semuanya melalui kamera tersembunyi.Rendi berlutut di depan peti mati, diam tak bergerak.Jam demi jam berlalu. Langit di luar semakin gelap, namun dia tetap tidak bergerak."Apa yang dia lakukan?" Ayahku bertanya dari belakang."Pertunjukan," jawabku datar.Keesokan harinya, dan hari berikutnya, Rendi masih di sana.Tidak ada makanan. Tidak ada air. Dia bahkan tidak berdiri.Jasnya kusut berantakan. Wajahnya ditumbuhi janggut tipis, matanya cekung.Pada malam ketiga, Karin akhirnya muncul.Dia menggendong bayinya, mengenakan gaun berkabung hitam
Di kediaman Keluarga Manahan, Kota Serovo.Aku duduk di ruang kerja ayahku, menatap deretan monitor.Layar-layar itu menampilkan setiap sudut rumah sakit swasta di Kota Celion itu."Jenazahnya sudah ada di kamar mayat," lapor Lukas dari belakang. "Orang kita sudah memastikan tidak ada yang terlewat."Aku mengangguk, mataku terpaku pada layar.Monitor ketiga menampilkan pesta di lantai atas.Rendi berdiri di sana dengan setelan jas yang rapi, menggendong bayi itu.Putranya Karin. Sang ahli waris.Anggota Keluarga Ferano mengerumuni mereka, wajah mereka berseri-seri.Dentingan gelas sampanye, suara tawa, ucapan selamat yang tak henti-hentinya."Selamat, Bos!""Masa depan keluarga!""Tedy pasti akan sangat bangga jika bisa melihat ini!"Aku menyaksikan semuanya dalam diam.Tidak ada yang menyebut namaku. Tidak ada yang bertanya di mana aku berada.Seolah-olah aku tidak pernah ada."Bajingan-bajingan itu." Lukas meludah. "Saat kau berjuang untuk hidupmu, mereka malah bersulang."Aku jadi p







