แชร์

Drama Ahli Waris Keluarga Mafia
Drama Ahli Waris Keluarga Mafia
ผู้แต่ง: Crispy Coco

Bab 1

ผู้เขียน: Crispy Coco
Kepalaku terasa berputar. Mereka mendorongku ke dalam sebuah gudang bawah tanah rumah sakit. Sebuah sel darurat.

"Kurung dia di sini!"

Aku mengenali suara itu.

Dia adalah Indri Ferano, adik suamiku.

Dia mendekat, lalu sebuah pisau dingin menyentuh pipiku. Saat itulah, aku melihat pisau bedah di tangannya.

"Jangan salahkan Rendi, Elsa," katanya sambil menatapku. "Bayi di perut Karin adalah satu-satunya anak dari almarhum Tedy. Dialah satu-satunya yang pantas menjadi pewaris keluarga ini."

"Aku tidak pernah .... Aku tidak pernah ingin bersaing dengannya ...." bisikku.

Dia menutup mulutku dengan tangannya sebelum aku menyelesaikan ucapanku.

"Aktingmu yang payah ini membuatku muak! Apa kau lupa sudah mendorong Karin sampai jatuh dari tangga bulan lalu? Seorang janda hamil yang baru saja kehilangan suaminya?"

Mataku terbuka lebar. "Aku tidak pernah ...."

"Dia hampir kehilangan bayinya!" Suara Indri melengking. "Kalau saja pelayan itu tidak menemukannya, satu-satunya garis keturunan Tedy akan berakhir karena orang licik sepertimu!"

Rasa sakit yang menusuk seakan merobek perutku hingga membuatku sulit bernapas.

Indri mencibir. Dia menyeret sisi datar pisau bedah itu di pipiku. Logam itu terasa dingin di kulit.

"Aturan keluarga itu mutlak. Siapa yang pertama melahirkan pewaris, dialah yang menang. Jadi, kau dan bajingan kecilmu itu tak akan bisa menang."

Aku memegang perutku. Gelombang kontraksi baru mulai melawan pengaruh obat yang mereka berikan.

Rasa sakitnya begitu hebat hingga pandanganku berubah menjadi gelap.

"Panggilkan dokter. Aku sudah mau melahirkan, beneran ...."

"Melahirkan?" Indri tertawa seolah itu lelucon terlucu yang pernah didengarnya. "Hentikan sandiwaramu ini. Karin sudah jelaskan seluruh permainanmu kepada kakakku. Dia bilang kau akan melakukan aksi seperti ini hari ini."

Indri pun berbalik dan mengangguk kepada dua penjaga besar di luar.

"Awasi dia. Kalau dia berteriak, sumpal saja mulutnya."

Pintu dibanting tertutup.

Sebuah lampu darurat yang redup menerangi ruang bawah tanah itu.

Aku terbaring di lantai, darah sudah merembes membasahi gaunku.

Rendi mengambil ponselku ketika kami sampai di rumah sakit. Dia bilang ingin aku fokus pada persalinan, jadi dia menyimpan ponsel itu.

Sekarang aku tahu alasannya. Dia takut aku akan meminta bantuan.

Aku meringkuk, mencoba bernapas menahan rasa sakit. Yang kulihat hanyalah wajah Rendi ketika dia memerintahkan anak buahnya untuk mengurungku. Tatapan jijik di sorot matanya itu.

Seolah aku adalah musuh, bukan istrinya, bukan wanita yang akan memberinya anak.

Rendi percaya setiap kebohongan yang Karin katakan. Setiap kejahatan yang dia tuduhkan padaku.

Indri pun demikian.

Aku teringat kejadian tujuh bulan yang lalu. Kakaknya yang bernama Tedy, Sang Ketua, seorang bos mafia yang sebelumnya, terbunuh dalam serangan oleh keluarga musuh.

Di pemakaman, saat semua orang tenggelam dalam kesedihan, Karin muntah di depan semua orang.

Dia hamil.

Anak itu menjadi harapan terakhir keluarga.

Aku mencoba menghibur Sang Ketua tua yang sedang berduka. "Jangan khawatir," kataku padanya. "Anakku dan Rendi juga akan tumbuh menjadi kebanggaan keluarga. Mereka akan ada untukmu."

Pria tua itu hanya menatapku, tanpa mengatakan apa pun.

Sekarang aku mengerti. Sejak saat itu, anakku sudah dianggap tidak ada.

Waktu terasa berjalan lambat.

Obat-obatan mulai kehabisan efeknya, dan kontraksi kembali datang.

Setiap kontraksi terasa lebih berat dari sebelumnya, seperti ada seseorang yang sedang memutar isi perutku dengan tang.

Aku bisa merasakan bayi itu akan segera keluar.

Aku mencengkeram telapak tanganku agar tetap terjaga, lalu merangkak ke pintu, meninggalkan jejak darah di belakangku, dan mulai menggedornya.

"Kumohon!" teriakku. "Aku butuh dokter!"

Tidak ada jawaban.

"Kumohon!" Aku membanting pintu dengan sekuat tenaga. "Bayiku sudah mau lahir ...."

Suaraku serak ketika seorang penjaga akhirnya menjawab dengan nada bosan, "Simpan saja tenagamu. Karin sebentar lagi akan melahirkan. Kau bisa menemui dokter setelah dia selesai."

"Tapi bayiku bisa mati ...."

"Kalau begitu, itulah yang pantas kau dapatkan. Utang nyawa diganti nyawa."

Tubuhku ambruk dan terasa membeku.

Ternyata, itulah yang terjadi. Di mata mereka, kematian bayiku adalah pembalasan atas dosa-dosaku.

Tepat ketika aku hampir menyerah, aku mendengar suara Indri di lorong. Dia sedang menelepon tidak jauh dari pintu. Dia sengaja ingin aku mendengarnya.

"Rendi, bagaimana keadaanmu?" Suara Indri terdengar ceria.

Suara Rendi terdengar lelah tapi mantap. "Kontraksi Karin baru saja dimulai. Dokter bilang semuanya baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apa dia patuh?"

"Patuh? Dia berteriak histeris. Benar-benar jago akting."

Indri mencibir. "Kau terlalu lunak, Rendi. Kau tak bisa menunjukkan belas kasihan pada wanita seperti itu. Apa kau sudah lupa kalau dia mencuri oksitosin? Mencoba memaksakan persalinan lebih awal. Jika Karin tidak memergokinya, kita pasti sudah mengubur keturunan Tedy."

Oksitosin? Aku tidak mencuri apa pun!

Bagaimana Rendi bisa berpikir begitu?

Rendi terdiam sejenak. Kemudian suaranya berubah dingin. "Aku belum lupa. Aku juga belum lupa saat dokter memberitahuku bahwa Karin hampir saja kehilangan bayinya setelah jatuh itu. Anak tunggal Tedy .... Aku tidak akan biarkan apa pun terjadi padanya."

"Tepat sekali," kata Indri. "Jadi jangan khawatir, aku akan mengawasinya. Dia tidak bisa melakukan trik apa pun padaku. Apa dosis yang diberikan dokter cukup kuat? Dia tidak akan melahirkan lebih awal, kan?"

"Jangan khawatir." Suara Rendi terdengar tegas. "Dokter menjamin kalau itu hanya menunda persalinan. Dia bilang itu tidak akan membahayakan dia atau bayinya. Sedikit rasa sakit akan memberinya pelajaran agar tidak pernah mencoba menipu lagi. Setelah Karin melahirkan, dia baru boleh melahirkan bayinya."

"Baguslah. Kau fokus saja pada Karin. Aku akan mengurus yang ini."

Panggilan pun berakhir.

Dunia kembali sunyi senyap.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 11

    Tiga tahun kemudian. Di kantor pusat Keluarga Manahan di Kota Ner Kora, ruangan teratas.Aku duduk di kursi yang dulunya milik ayahku, sebuah kesepakatan akuisisi senilai triliunan ada di depanku.Penaku meluncur di atas kertas, menandatangani namaku.Elsa Manahan."Nyonya, kami punya kabar dari Serovo," kata Lukas sambil memasuki ruangan. "Kebun anggur ayahmu mencatat rekor panen tertinggi tahun ini.""Baguslah," kataku tanpa mendongak. "Dia sudah seharusnya menikmati masa pensiun."Di luar jendela, cakrawala Ner Kora berkilauan di bawah matahari terbenam.Dalam tiga tahun, aku telah memperluas kerajaan bisnis Keluarga Manahan ke ketinggian yang belum pernah dicapai sebelumnya.Dari Ner Kora ke Loksar, dari Celion ke Mitisao. Pengaruh kami ada di mana-mana."Ada lagi, Lukas?" tanyaku."Laporan yang Nyonya minta," katanya sambil menyerahkan sebuah berkas kepadaku. "Tentang Celion."Aku mengambilnya.Laporan tentang status Rendi Ferano.Setelah pertemuan terakhir kami tiga tahun lalu, d

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 10

    Hanya dalam tiga bulan, Rendi menjual semuanya. Rumah besar, kasino, pelabuhan, bahkan perhiasan keluarga.Sebagian besar uangnya digunakan untuk melunasi utang.Dengan sisa uang yang ada, dia melakukan sesuatu yang mengejutkanku.Dia membeli sebidang tanah pemakaman, tepat di sebelah "makamku.""Papa, aku mau nomor itu," kataku."Nomor apa?""Nomor ponsel lamaku. Nomor yang Rendi kira sudah tidak aktif."Ayahku mengerutkan kening. "Kenapa?""Aku mau mendengar apa yang ingin dia katakan."Ayahku memberi sebuah ponsel lama.Layar menunjukkan empat puluh tujuh panggilan tak terjawab.Semuanya dari Rendi. Dan, puluhan pesan suara.Aku memutar pesan suara pertama.Suara Rendi terdengar serak dan parau, memenuhi ruangan."Elsa ... aku tahu kau tidak bisa mendengar ini, tapi aku harus mengatakannya.""Aku sudah tahu yang sebenarnya. Tentang Karin, tentang bayi itu. Tentang apa yang dia lakukan padamu.""Itu salahku. Aku yang sudah membunuhmu."Aku mendengarkan, wajahku tanpa ekspresi seperti

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 9

    Malam itu, Rendi memanggil orang-orang kepercayaannya."Aku ingin tahu semuanya tentang oksitosin." Suaranya terdengar dingin. "Setiap detailnya.""Bos, kita sudah memastikan kalau Nyonya Karin yang mengambilnya ....""Aku ingin lebih." Rendi memotongnya. "Kenapa dia menginginkannya? Dengan siapa dia bicara? Aku ingin tahu setiap gerak-geriknya."Tiga hari kemudian.Lukas masuk ke ruangan dengan senyum puas."Nyonya, kami punya semua bukti yang kau inginkan."Dia meletakkan sebuah berkas di hadapanku.Foto pertama membuatku merinding.Karin di sebuah kamar motel dengan seorang pria yang bukan kakaknya Rendi.Tubuhnya menempel pada pria itu, bibir mereka berciuman.Keterangan waktu pada foto: [Hamil dua bulan]."Siapa pria itu?" tanyaku."Rudi Surya. Wakil pimpinan kelompok Celion Timur," jawab Lukas. "Musuh bebuyutan Keluarga Ferano."Aku membalik halaman.Sebuah laporan DNA.Subjek: [Putra Karin Romano]Ayah yang Diduga: [Tedy Ferano]Kemungkinan Hubungan: [0%]Aku tertawa dingin. Yan

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 8

    Aku duduk di tengah pusat komando ayahku di Kediaman Keluarga Manahan.Sebuah peta detail Celion tergantung di dinding, dipenuhi bendera-bendera merah kecil.Setiap bendera menandai kerentanan Keluarga Ferano."Pengiriman pertama telah dicegat," lapor Lukas. "Senjata senilai empat ratus delapan puluh miliar. Orang-orang kita secara anonim memberi info kepada polisi maritim di sana."Aku mengangguk, lalu menggambar tanda X di atas sebuah titik di peta."Bagaimana dengan kasino?""Dinas pajak sudah menggerebek tiga titik terbesar mereka tadi pagi," lapor pria lain. "Mereka menyita buku kas, semuanya. Rendi menghadapi kerugian sekitar delapan ratus miliar. Mudah saja."Satu lagi tanda X."Kalau pelabuhan?""Pelabuhan sisi Timur dan Selatan sudah punya pemilik baru. Mitra kita dengan senang hati mengambil alih bisnis itu."Aku terus menggambar tanda X di peta.Satu bulan.Kerajaan bisnis Keluarga Ferano yang sudah dibangun selama beberapa dekade, akhirnya runtuh sedikit demi sedikit."Baga

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 7

    Di sebuah gereja kecil di Kediaman Keluarga Ferano. Lilin berkelap-kelip, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari.Rendi sendiri yang membawa peti mati kecil yang terbungkus itu. Dia meletakkannya di depan altar.Dia pun mengusir semua orang."Bos, kau perlu istirahat ...." Salah satu anak buahnya berkata."Keluar." Suara Rendi dingin. "Kalian semua, keluar."Pintu tertutup, meninggalkannya sendirian dengan peti mati itu.Aku mengamati semuanya melalui kamera tersembunyi.Rendi berlutut di depan peti mati, diam tak bergerak.Jam demi jam berlalu. Langit di luar semakin gelap, namun dia tetap tidak bergerak."Apa yang dia lakukan?" Ayahku bertanya dari belakang."Pertunjukan," jawabku datar.Keesokan harinya, dan hari berikutnya, Rendi masih di sana.Tidak ada makanan. Tidak ada air. Dia bahkan tidak berdiri.Jasnya kusut berantakan. Wajahnya ditumbuhi janggut tipis, matanya cekung.Pada malam ketiga, Karin akhirnya muncul.Dia menggendong bayinya, mengenakan gaun berkabung hitam

  • Drama Ahli Waris Keluarga Mafia   Bab 6

    Di kediaman Keluarga Manahan, Kota Serovo.Aku duduk di ruang kerja ayahku, menatap deretan monitor.Layar-layar itu menampilkan setiap sudut rumah sakit swasta di Kota Celion itu."Jenazahnya sudah ada di kamar mayat," lapor Lukas dari belakang. "Orang kita sudah memastikan tidak ada yang terlewat."Aku mengangguk, mataku terpaku pada layar.Monitor ketiga menampilkan pesta di lantai atas.Rendi berdiri di sana dengan setelan jas yang rapi, menggendong bayi itu.Putranya Karin. Sang ahli waris.Anggota Keluarga Ferano mengerumuni mereka, wajah mereka berseri-seri.Dentingan gelas sampanye, suara tawa, ucapan selamat yang tak henti-hentinya."Selamat, Bos!""Masa depan keluarga!""Tedy pasti akan sangat bangga jika bisa melihat ini!"Aku menyaksikan semuanya dalam diam.Tidak ada yang menyebut namaku. Tidak ada yang bertanya di mana aku berada.Seolah-olah aku tidak pernah ada."Bajingan-bajingan itu." Lukas meludah. "Saat kau berjuang untuk hidupmu, mereka malah bersulang."Aku jadi p

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status